Rumitnya Cinta Sibungsu

Rumitnya Cinta Sibungsu
Part 12


__ADS_3

Hana berhenti tepat di tempat motor Rian terparkir, tangis Hana semakin menderas. Hana menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, Hana benar-benar sangat rapuh saat ini. Rian mendekati Hana, kemudian ia duduk di jok motornya tepat di samping Hana.


"Udah-udah Naa, sabaaarr.." geming Rian kepada Hana.


"Kenapa dia harus ada disini," Hana mengangkat suaranya dengan butiran air mata yang jatuh.


"Cuupp..cup..cupp jangan nangis lagi dong," Rian menghapus air mata Hana, kemudian Rian mencangkup kedua pipi Hana.


"Kamu jangan rapuh hanya karena cowok br*****k itu, ingat banyak yang nunggu kamu tersenyum. Banyak yang pengen liat kamu bahagia!" ujar Rian sambil menatap dalam-dalam mata Hana.


"Huumm," Hana memalingkan wajahnya dari tangan Rian.


Kemudian Hana ingat tujuannya datang kesini, Zayan. Hana ingat tadi ketika ia mengakui bahwa Rian pacarnya, disana ada Zayan.


"Astaga!" Hana menepuk jidatnya.


"Kenapa?" tanya Rian.


"Maaf Yan tadi aku ngaku-ngaku jadi pacar kamu!" raut panik memenuhi wajah Hana.


"Hahaha.. iya nggak apa-apa, justru aku seneng kok. Apalagi kalo seandainya emang kejadian," jawab Rian sambil terkekeh, namun tetap tak menghilangkan tatapan tulusnya.


"Apaan sih Yan, ga-je lu," Hana mencibiri kalimat Rian tadi.


"Hehehe.." Rian hanya tertawa meski kalimatnya tadi benar-benar bukan sekedar gurauan.

__ADS_1


"Huum masuk lagi nggak ya?" tanya Hana kepada Rian.


"Ngapain masuk lagi, ntar nangis lagi loh. Mending pulang yuk!" ajak Rian.


"Oke deh," Hana mengikuti ajakkan Rian.


Rian segera menyalakan motornya bersiap-siap melaju dengan kecepatan maksimal, agar bidadari di belakangnya ini nyaman.


(Susah ya, suka sama sahabat sendiri) keluh Rian dalam hatinya.


Sementara Hana menatap teduh gerbang rumah Zayan yang mulai menjauh dari pandangannya. Terpaksa ia urungkan niatnya tadi, agar hatinya tak semakin sakit. Namun seribu pertanyaan muncul di benak Hana, siapakah wanita yang merangkul Zayan tadi?.


Ketika diperjalanan, Rian membelokkan motornya. Ia tak melaju kearah rumah Hana melainkan kearah lain yang entah kemana.


Akhirnya motor Rian berhenti di sebuah taman dekat pantai, deruan ombak menyambut kedatangan mereka.


Setelah mereka duduk, Rian segera membuka pembicaraan.


"Aku cuman pengen kamu nenangin diri disini, entar kalo langsung pulang. Ibu, ayah sama kak Uma liat kamu habis nangis, pasti mereka nyalahin aku," ujar Rian.


"Oooh, yaudah. Thanks Yan kamu yang paling ngertiin aku," Hana tersenyum tipis kearah lelaki yang duduk disampingnya.


"Aku gak pandai buat kamu nangis, jadi tugas aku cuman buat kamu seneng dan selalu tersenyum. Kalo kamu sedih trus nangis, ingat Hana ada laki-laki yang selalu mengharapkan kamu tersenyum," Rian membalas senyuman Hana.


"Huum siapa?" tanya Hana sambil menatap lurus kedepan.

__ADS_1


"Laki-laki itu, aku." Jawab singkat Rian.


Hana kembali memandangi Rian , Hana memang punya firasat jika Rian menyukainya. Tapi ia tak pernah menyangka Rian akan setulus ini.


"Huum thanks again," balas Hana.


"Oo iya, mau nyambung sekolah dimana?" tanya Rian.


"SMA 1 Kota," jawab Hana.


"Udah daftar?" tanya Rian lagi. Hana hanya menggeleng.


"Yaudah kita daftarnya bareng aja!" ajak Rian.


"Kamu mau masuk kesana juga?" tanya Hana, tampak ekspresinya yang sedikit tak percaya.


"Iya, aku bisalah masuk ke situ nilai aku juga gak jelek-jelek amat," ujar Rian.


"Huum oke deh, aku rencananya mau daftar hari Rabu. Bisa kan?" tanya Hana.


"Iya bisa, buat kamu apa sih yang enggak bisa!" seru Rian sambil mencubit hidung Hana.


"Huumm," Hana mengembangkan senyumnya.


"Udah pulang yuk. Wajah kamu udah fresh kok!" ajak Rian sambil bangkit dari tempat duduknya.

__ADS_1


Kemudian mereka berdua pun pergi meninggalkan tempat itu.


__ADS_2