
Ketika jam pulang sekolah Hana dan Rian berjalan menuju gerbang sekolah, terkadang ada beberapa siswa melirik mereka, dalam pikiran murid murid itu mereka berdua pacaran.
"Na.. aku mau jemput motor ke parkiran dulu ya kamu tunggu disini dan jangan kemana-mana!" perintah Rian.
"Siap booss.." balas Hana.
"HANA.." seseorang memanggil Hana dengan nada datar dari belakang, dan Hana pun segera menoleh.
"Iya?" tanya Hana.
"Nanti latihan musikalisasi puisinya jam berapa?" tanya sosok itu yang tak lain dan tak bukan adalah Farel.
"Kata Arika jam 4 kak di studio bandnya kak Dimas," jelas Hana.
"Ooh, rumah kamu dimana?" tanya Farel, namun yang heran ketika berbicara dengan Hana, Farel tak berani menatap mata Hana. Raut kegugupan jelas terpancar di wajah Farel, entah apa ini seorang captain basket tak mampu menatap bola mata seorang siswi baru.
"Di jalan Anggrek kak nomor 03, emangnya kenapa ya kak?" tanya Hana penuh selidik.
"Gak kenapa-kenapa." Jawab Farel dengan singkat padat dan jelas lalu berlalu begitu saja.
"Ganteg-ganteng kok aneh," lirih Hana.
__ADS_1
Tiitt..
"Naik buk boss!" suruh Rian.
"Iyaa," angguk Hana.
Setelah sesampainya dirumah Hana merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu rumahnya, hari ini cukup melelahkan bagi Hana. Begitu banyak peristiwa-peristiwa baru yang ia alami, di tambah lagi pukul 4 sore nanti ia akan latihan musikalisasi puisi bersama teman-teman barunya.
Jam dinding kamar sibungsu pun menunjukkan pukul 15.55, jadi lima menit lagi Hana harus sampai di studio Dimas. Setelah selesai bersiap-siap Hana pamit kepada ibunya, lalu ia melangkah keluar rumah.
"ASTAGA!" Hana kaget saat melihat seorang Alfarel Dirgantara duduk di sebuah motor ninja tepat didepan gerbang rumahnya.
"Mau beli seblak!" celetuk singkat Farel.
"Hana gak jualan seblak kak, di komplek perumahan Hana juga gak ada yang jualan seblak, tapi di jalan Cendrawasih ada kak yang deket mini market itu, enak seblaknya Hana suka beli, kalau kakak mau beli Hana nitip ya," jelas Hana panjang lebar tanpa basa basi malah minta nitip pula.
"Hmm," balas Farel dengan ekspresi sangat datar namun tak mengurangi ketampanannya sedikitpun.
"Kenapa kejauhan ya kak?" tanya Hana dengan kepolosan tingkat dewa.
Kemudian Farel mengeluarkan handphonenya, dan membuka chat whatsaapnya dengan Dimas, lalu memperlihatkannya kepada Hana.
__ADS_1
"Rel, lo itu kan raja kita. Jadi lo harus pergi ke studio gw bareng Hana ya si ratu kita, kata Arika Hana gak tau dimana studio gw, jadi lo jemput ratu ya raja.." Hana membaca isi chat mereka.
"Sekarang paham?" tanya Farel sambil menyimpan handphonenya.
"Ooh jadi kak Farel mau jemput Hana, kenapa gak bilang dari tadi sih kak. Pake mau beli seblak segala, kan udah telat nih.." rengek Hana.
"Gak ada yang mau beli seblak, yaudah buruan naik!" suruh Farel dengan nada sedikit tinggi.
"IYAA galak benerr," ujar Hana sambi naik keatas motor Farel. Dan mereka berduapun pergi menuju studio milik keluarga Dimas.
Akhirnya Hana dan Farel sampai di studio itu, Farel membuka helmnya kemudian merapikan rambutnya di kaca spion motor.
"Yang lain mana kak?" tanya Hana.
"Udah pada di dalem!" jawab singkat Farel.
"Ooh," Hana pergi ke dalam studio dan meninggalkan Farel yang masih sibuk dengan rambutnya.
"Gak tau terima kasih, main tinggal-tinggal aja," gerutu Farel menatap kepergian Hana.
Baru kali ini seorang Farel most wanted sekolah di tinggalin, biasanya semua orang menunggu-nunggu kedatangannya bahkan tak beranjak meski Farel telah menghilang dari pandangan mereka, namun lain bener si Hana.
__ADS_1