
Hari yang di nanti pun tiba, Hana dan anggota pramuka lainnya telah sampai di tempat perkemahan. Namun Hana tampak begitu gelisah setelah kemarin ia diantar Rian pulang dan meninggalkan Zayan begitu saja, Hana merasa bersalah kepada Zayan.
"Baiklah sekarang masuk ke tenda kalian masing-masing, dan beristirahat lah!" suruh seorang pelatih Madrasah Hana.
Setiap anggota pramuka itu pun masuk ketenda mereka. Tenda regu putri berjarak cukup jauh dengan tenda regu putra, namun pemandangan alam di dekat tenda regu putri begitu indah dan mampu menenangkan pikiran.
Keesokkan harinya, beberapa pertandingan pun akan dimulai salah satunya Peraturan Baris Berbaris atau disingkat dengan PBB. Di suatu lapangan dekat bumi perkemahan tampak begitu banyak anggota pramuka sedang bersiap-siap untuk mengikuti perlombaan. Gugus depan Madrasah Hana mendapat urutan tampil terakhir, Hana yang telah siap dengan pakaian pramuka lengkapnya tampak begitu cantik dan mempesona.
"Hana kamu cantik banget," puji Ara sahabatnya.
"Hana gitu loh, hahahaa.." Hana tertawa terbahak-bahak mendengar pujian Ara.
"Halah kamu tuh pantang di puji banget," ujar Ara.
Seorang laki-laki yang memakai topi dan hoddie pun mendekati Hana, lelaki itu tampak membawa gitar di tangannya.
"HANA!" kejut lelaki itu. Ya siapa lagi kalau bukan Adrian Alfarizi.
"Haa," Hana menoleh ke belakang.
"Diih cantik banget sih bikin pangling aja," giliran Rian sekarang yang memuji Hana.
__ADS_1
"Iya doong," balas Hana sambil mengibaskan tangannya.
Sementara Ara yang berdiri disamping Hana tak sedikitpun Rian sapa, Rian hanya fokus kepada Hana. Ara yang telah lama menyimpan perasaan kepada Rian, hanya menekukkan wajahnya tanda kekecewaan.
Dan urutan pun tiba di giliran gudep Hana, anggota PBB mereka tampil begitu memukau dan menakjubkan, hasil dari latihan mereka yang berminggu-minggu lamanya. Setelah perlombaan tiga hari di buper selesai, gudep Hana pulang dengan membawa begitu banyak piala. Salah satu kemenangan yang di dapatnya adalah juara 1 lomba PBB tingkat kota, prestasi yang sangat membanggakan bagi gudep Madrasah itu.
Seminggu pun berlalu, kulit Hana yang waktu itu sedikit belang karena perlombaan di buper telah kembali seperti semula. Pagi itu di sebuah taman, ada dua orang sahabat yang sedang berolahraga. Hari itu hari Minggu jadi wajar saja Hana dan Ara memilih untuk olahraga pagi.
"Raa udahan yuk," kata Hana sambil mengatur nafasnya.
"Yuk lah, tapi sebelum pulang kita sarapan ya!" ajak Ara.
"Naa," sapa kak Uma yang duduk di sofa ruang tamu ketika Hana telah memasuki rumahnya.
"Huum apa kak?" tanya Hana sambil menghampiri kakaknya.
"Mandi sana, setelah itu ikut kakak ke mall kakak mau belanja baju-baju baru nih, mumpung udah gajian," ujar kak Uma.
"Wiih seruu tuh, belanjain Hana juga ya!" Hana menyandarkan kepalanya di bahu kakaknya.
"Iya-iya dek, udah mandi sana bauuk!" suruh kak Uma sambil menghindari senderan Hana.
__ADS_1
Hana berlalu kekamarnya, setelah hampir setengah jam Hana keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi ditemani pashmina yang memilki warna senada dengan gamisnya.
"Cantik," puji ibunda Hana yang melihat sibungsunya keluar dari kamar.
"Hehehe, kan anak ibu!" jawab Hana sambil berlari dan memeluk ibunya.
"Iya bungsuku," balas ibu sambil menerima pelukkan Hana.
Setelah berpamitan dengan ayah dan ibu, Hana dan kak Uma pun pergi dengan mobil kak Uma ke salah satu mall di kota itu. Diperjalanan menuju mall Hana tampak sedang menikmati pemandangan kota dari kaca jendela mobilnya. Tanpa disengaja Hana melihat sosok laki-laki yang ingin sekali ia temui, benar itu Zayan Fathurisnin. Zayan sedang keluar dari suatu minimarket dengan membawa barang belanjaanya, Zayan tampak begitu dewasa karena ia membimbing tangan adik perempuan kecilnya menuju motor matic lalu mendudukinya di bangku motor itu.
(Jadi kak Zayan juga punya adik perempuan, huumm imut banget kayak aku) batin Hana sambil mencubit pipinya sendiri.
"Kamu kenapa dek?" tanya kak Uma melirik Hana yang sedang tersenyum-senyum sendiri.
"Hehehe nggak apa-apa kak," balas Hana sambil memperbaiki posisi duduknya.
Pada pukul 4 sore, Hana dan kak Uma keluar dari suatu mall dengan membawa belanjaan yang memenuhi kedua tangan mereka. Setelah memasukkan barang belanjaan mereka ke mobil, kak Uma pun mengajak Hana pulang kerumah.
Tak terasa hari sudah mulai gelap, mentari berganti bulan malam yang tak di temani bintang-bintang. Hana yang kelelahan setelah seharian menemani kak Uma belanja sedang terbaring di kasur empuk kamarnya. Ia menatap langit-langit kamar yang dihiasi ayahnya dengan beberapa lampu-lampu mungil berwarna-warni, senyum manispun menemani wajah cantik Hana. Ternyata Hana masih membayangkan wajah Zayan yang tampak begitu bijak dan dewasa saat membimbing adiknya tadi, Hana sepertinya naksir kepada seorang Zayan Fathurisnin.
Terkadang sifat dewasa seorang lelaki mampu meluluhkan hati seorang wanita dengan sekejap mata. Wanita tak selamanya menilai seorang laki-laki dari penampilan visualnya saja, namun juga dari sifat dan kedewasaannya.
__ADS_1