Rumitnya Cinta Sibungsu

Rumitnya Cinta Sibungsu
Part 17


__ADS_3

Malam itu Hana bertekad untuk pergi ke mini market, Hana ingin membeli camilan kesukaannya. Hana pergi sendiri karena jarak mini market tak jauh dari rumahnya, Hana menggunakan hoodie berwarna pink dan jilbab instan hitam serta sendal jepit. Hana memakai masker karena pada saat itu dia sedang flu, seseorang menabrak Hana dari belakang membuat camilan ditangan Hana terjatuh berserakan dilantai mini market.


"Astaghfirullah," lirih Hana sambil memungut camilan miliknya.


"Maaf gak sengaja," orang yang menabrak Hana membantu memunguti camilannya.


Hana melirik kesamping seseorang yang berjarak cukup dekat dengannya, ternyata itu Zayan Fathurisnin. Jantung Hana berdetak lebih kencang dari pada sebelumnya, bola matanya berbinar menatap Zayan yang sedang sibuk merapikan camilannya. Hingga Zayan membantunya untuk berdiri dengan memegang lengan Hana, tidak bersentuhan dengan kulit kok.


"Ma-makasih kak," balas Hana sambil menerima camilannya.


"Kok makasih sih?" Zayan menatap Hana heran. Sepertinya Zayan tidak tau kalau wanita didepannya itu adalah Hana.


Kemudian Hana melepas maskernya.


"Ya makasih karena kak Zayan udah bantu beresin camilan aku," jawab Hana dengan senyum ramahnya.


"Oh iya," Zayan sedikit terkejut saat mengetahui bahwa wanita itu Hana. Kemudian Zayan tersenyum kikuk dan menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.


"Aku bayar dulu ya permisi," Hana berlalu menuju kasir meninggalkan Zayan yang masih terdiam.


Didepan mini market Zayan masih belum beranjak dengan motornya, ia menunggu seseorang keluar dari sana. Dan orang yang ia nanti pun tiba, Zayan langsung menghampiri orang tersebut.


"Kamu kesini sama siapa?" tanya Zayan kepada Hana.


"Sendiri sih, kenapa emangnya?'' Hana balik bertanya.


"Kesini pake apa?" Zayan malah mengajukan pertanyaan lagi.


"Jalan kaki, rumah Hana gak jauh kok dari sini," jawab Hana.


"Yaudah aku anter kamu pulang ya!" Zayan mengajukan penawaran. Ralat itu bukan penawaran melainkan pemaksaan karena Zayan telah mengambil alih kantong plastik ditangan Hana dan menaiki motornya, ia menunggu sang empu yang punya kantong plastik duduk di jok belakang.

__ADS_1


Hana masih tak percaya akan ajakan Zayan barusan, apa Hana bermimpi. Hana mencubit tangannya sendiri karena masih tak percaya.


"Aargh," erang Hana karena ia terlalu kuat mencubit tangannya.


"Kenapa?" tanya Zayan.


"Tangan kamu sakit?"


"Eh enggak, gak apa-apa kok kak," balas Hana sembari menaiki motor Zayan.


Zayan mengendarai motornya sedikit pelan. Malam seolah memberi restu kepada kedua insan itu untuk berlama-lama menuju jalan pulang, saat belokkan kerumah Hana, Zayan malah lurus dan tak menyadari adanya persimpangan.


"Kak itu tadi seharusnya belok kanan, rumah Hana di komplek itu!" ujar Hana sambil menepuk bahu Zayan.


"Astaghfirullah kok gak bilang dari tadi!" Zayan melirik Hana dari kaca spion motornya.


"Hana juga lupa," balas Hana.


"Yaudah ntar didepan putar balik deh, tapi aku mau beli martabak dulu," jelas Zayan. Kemudian motor Zayan berhenti di depan kedai martabak spesial di pinggir jalan.


"Enggak Hana gak beli martabak," jawab Hana.


"Yaudah kamu suka martabak rasa apa?" tanya pria tinggi itu lagi.


"Rasa keju sih," Hana duduk di kursi yang telah disediakan sang pemilik kedai.


Sementara Zayan pergi memesan martabak, sepertinya kedai martabak ini cukup ramai sehingga Zayan harus mengantri cukup lama. Kemudian Zayan kembali ketempat Hana sambil membawakan dua bungkus martabak.


"Nih!" Zayan menyodorkan salah satu kantong martabak kepada Hana.


''Loh ini apa," tanya Hana kebingungan sambil menerima kantong itu.

__ADS_1


"Itu sate!" jawab Zayan meracau.


"Kenapa jadi sate kan kak Zayan tadi beli martabak?" tanya Hana dengan raut penuh selidik.


Zayan melirik Hana dengan sudut matanya, kenapa Hana begitu polos sekali Tuhan.


"Itu martabak spesial rasa keju buat kamu, udah terima aja yuk buruan pulang," jelas Zayan. Baru kali ini Zayan berbicara cukup panjang kepada Hana.


"Eee.. ta-tapii," Hana tampak berpikir, ia merasa malu saat mendengar penjelasan Zayan. Bukan malu tapi salah tingkah.


"Ayok Hana, nanti keburu malem!"


"Iya kak,"


Kedua remaja itu berputar balik menuju komplek perumahan Hana, dibelakang Zayan Hana tak berhenti mengembangkan senyumnya. Sepertinya keberuntungan berpihak kepadanya malam ini, Zayan yang biasanya dingin sekarang sudah mulai menghangat.


"Makasih ya kak Zayan, udah mau nganterin pulang sama makasih juga martabaknya," Hana turun dari motor Zayan.


"Iya sama-sama, oh iya aku dengar kamu ikut lomba musikalisasi puisi ya?" tanya Zayan.


"Iya, loh kak Zayan tau dari mana?"


"Ada deh, aku balik ya. See you."


"See you too kak," Hana melambaikan tangan kepada motor Zayan yang mulai menjauhi pekarangan rumahnya.


.


.


.

__ADS_1


.


See you Zayan dan Hana🤗..


__ADS_2