Rumitnya Cinta Sibungsu

Rumitnya Cinta Sibungsu
Part 3


__ADS_3

Bell istirahat pun berbunyi, Hana dan Ara memilih menghabiskan waktu istirahatnya di kantin sekolah, mereka tampak serius melahap makanan masing-masing. Tiba-tiba seorang pria yang cukup populer di sekolah itu menghampiri mereka.


"Eeh Hana!" seru Rian.


Adrian Alfarizi, siswa most wanted di Madrasah itu, Rian memiliki wajah yang tampan, di tambah lagi dengan sifatnya yang sangat humoris dan mudah bergaul, membuat semua orang kenal padanya. Rian kelas 9 B ia sempat satu kelas ketika kelas 8 dengan Hana, Rian adalah sahabat Firman, Rian lah yang telah banyak membantu dalam hubungan Hana dan Firman. Ketika Rian tau Firman bermain di belakang Hana, Rian sangat geram, ia sangat marah kepada Firman. Dan Rian pun berusaha membantu Hana untuk melupakan pria brengsek itu.


"Iih kaget tau Yan!" ujar Hana sambil menjulurkan sendoknya pada wajah Rian.


"Heheh maafkan aku baby," balas Rian sambil tertawa.


Ara melirik Rian dengan tatapan sinisnya, bagi Ara Rian sama dengan Firman, sama-sama selalu mempermainkan perasaan wanita, karena Ara pernah terjebak akan pesona Rian.


"Eeh lo jangan gangguin Hana ya Yan, lo mau nyakitin Hana juga kayak sobat br*****k lo itu," Ara berdiri dari tempat duduknya, dan menatap tajam pada Rian.


"Santee dong, gua nggak sama kaya dia, lo kenapa Ra marah-marah gitu, apa karena gua nggak pernah nanggepin perasaan lo terus lo seenaknya nyamain gua sama si Firman," Rian pun tersulut emosi mendengar ucapan Ara.

__ADS_1


"Udah-udah Yan, Ara kok jadi ribut sih!" seru Hana sambil ikut berdiri menatap mereka bergantian.


"Hana, pliiesss lo jangan tanggepin ucapan Rian tadi!" balas Ara dan kemudian Ara duduk di tempatnya.


"Iya Ara, Hana tau kok Rian cuman becanda, iya kan Yan?" lirik Hana sambil ikut duduk dan mengembangkan senyum manisnya kepada Rian.


Senyuman Hana yang begitu manis, mampu membuat emosi Rian mereda, Rian pun ikut duduk di hadapan Hana. Kemudian Rian menatap Hana yang sedang makan dengan sangat serius, seperti ada yang mengganjal di pikiran Rian.


"Gak usah lo liat sahabat gua segitunya!" sontak Ara kepada Rian.


Setelah selesai makan Rian menarik tangan Hana dan membawa Hana keluar dari kantin menuju taman belakang sekolah. Hana mengikuti langkah Rian dengan raut penasarannya, dan sampailah mereka di sebuah bangku di bawah pohon randu.


Rian melepaskan tangannya dan kembali menatap Hana.


"Duduk Na!" suruh Rian. Hana duduk di bangku itu, jutaan pertanyaan menghantui benaknya. Kemudian Rian duduk menjongkok di depan Hana.

__ADS_1


"Naa.." panggil Rian.


"Iya," Hana pun menganggukkan kepalanya.


"Masih ada Firman di hati kamu?" tanya Rian dengan tatapan begitu serius. Sontak Hana terpejam mendengar pertanyaan Rian, dadanya begitu sesak.


"Masih kah Naa?" tanya Rian kembali.


"Kalo rasa suka Hana udah lenyap Yan, yang tinggal cuman rasa sakit," Hana mengangkat suaranya.


Rian tersenyum tipis mendengar perkataan Hana, ia tau betapa dalam luka yang di goreskan sahabatnya itu kepada Hana. Sebenarnya ketika Rian tau Hana dan Firman putus, Rian begitu peduli akan keadaan Hana saat itu. Hingga rasa suka kepada Hana pun tak bisa Rian hindarkan.


"Aku paham Naa, aku bantuin kamu ngelupain rasa sakit itu ya," ujar Rian begitu lembut kepada Hana.


"Makasih Yan," balas Hana sambil tersenyum lega.

__ADS_1


Bell tanda masuk pun berbunyi, Rian segera mengantar Hana ke kelasnya.


__ADS_2