
Diperjalanan pulang kekota, Hana hanya memilih memainkan handphone miliknya. Perjalanan dari desa ke kota memang sangatlah melelahkan, memakan waktu kurang lebih 13 jam. Dan sekarang baru pukul 10 pagi bisa-bisa ia dan keluarganya sampai kekota jam 11 malam bahkan lebih dari itu.
Bkiingg!..
Satu notifikasi whatsaap mengejutkan Hana yang tengah sibuk membaca novel lewat handphonenya.
Via WhatsApp:
A: Assalamualaikum Hana, innalilahi wa inna illahi rojiun , telah berpulang ke rahmatullah ayah dari salah satu anggota pramuka kita, yaitu ayah dari Ramadhan kelas 8B Hana...
Ternyata itu pesan dari Ara, Hana membaca kata demi kata pesan Ara, yang membuat tubuhnya lemas serta membuat air matanya memenuhi ruang mata indahnya.
H: Innalilahi wa inna illahi rojiun..
Balas Hana, jujur Hana terkejut mendengar kabar duka itu. Apalagi orang yang meninggal itu adalah, ayah dari pria yang selama ini ia kagumi, benar ayah dari seorang Zayan Fathurisnin juga.
A: Hana kamu ikut melayat?
H: Huumm aku nggak bisa ikut Ra, aku masih diperjalanan dari desa kekota, dan aku pasti sampainya malam. Kamu sampein turut berduka aku aja ya ke Ramadhan.
A: Ooh... yaudah oke deh Naa.
H: Oo iya Ra, emang sakitnya ayah Ramadhan itu apa?
A: Aku dapat kabar beliau nggak ada sakit apa-apa Na, meninggalnya pun mendadak pagi tadi jam 8 an. Kasian Ramadhan dan keluarganya Na, dia 4 bersaudara. Kakak tertuanya kak Zayan yang baru berusia 17 tahunan, sedangkan adik bungsunya masih berusia 4 tahun.
H: 4 bersaudara, prasaan tiga doang Ra?
A: Iya 4 Hana, yang nomor 3 tuh adiknya cewek baru berumur 6 tahun terus di bawah adiknya itu masih ada yang cowok terakhir.
H: Ooo banyak juga ya..
A: Nah itu yang bikin kasiaan.
H: Iya Ra, pasti berat buat kak Zayan. Dia jadi sosok pengganti ayahnya, yang harus menjaga ibu dan adik-adiknya. Huu sad bad..
A: Ya mau gimana lagi Na, udah takdirnya dia.
H: Pasti dia sedih banget sekarang, semoga kak Zayan kuat ya Ra.
A: Iya Hana, kak Zayan pasti kuat. Liat aja dari caranya memperlakukan adik-adiknya udah terbukti kalau dia tuh sosok kakak yang dewasa dan bertanggung jawab.
H: Iya deh Ra.
__ADS_1
Kemudian Hana menutup handphonenya. Hana mengedarkan pandangan kearah jalanan, awan hitam yang mencekam dari atas sana menambah kesedihan di relung hatinya. Ia tak bisa membayangkan sesedih apa lelaki yang begitu ia kagumi sekarang. Ingin rasanya Hana datang melayat dan melihat kesedihan lelakinya itu, namun jarak membuatnya tak mampu berkutik. Hana hanya mengirimkan al-fatihah dan beberapa do'a penguat untuk sosok Zayan Fathurisnin dan keluarganya.
Pukul menunjukkan 23.30 Wib, hampir tengah malam. Hana dan keluarganya baru sampai di depan istana mungilnya. Setelah memasukkan barang-barang bawaanya, Hana segera menuju kamar mungilnya. Ia merebahkan tubuh yang telah di rasuki rasa kantuk itu di atas tempat tidur, dan ya tak berselang lama Hana pun tertidur pulas.
Keesokkan paginya, ketika Hana membuka mata. Ia mendengar suara bising dari halaman rumah.
"Na..Naa..Naa" benar itu suara ayah yang bersahut-sahut dengan suara musik yang ia nyalakan dari speaker handphonenya.
"Hoooaah.." Hana mengeliat dan mengkucek-kucek matanya.
"Jam 8!" Hana berteriak ketika melihat angka yang di tunjukkan jam dinding saat ini.
Kemudian ia segera berlari menuju kamar mandi, berselang 30 menit Hana keluar dari kamar mandi. Ia memakai gamis berwarna abu-abu sambil mengeringkan rambutnya.
Ceklek..
Pintu kamar Hana dibuka oleh sang ibunda.
"Waah pagi-pagi udah rapi, mau kemana sayang?" tanya ibu sambil membantu mengeringkan rambutnya.
"Hana mau melayat bu," balas Hana yang tengah melihat pantulan ibunya dari cermin.
"Astagfirullah siapa yang meninggal sayang?" tanya ibu dengan raut penasaran.
"Iya nggak apa-apa kok, yaudah ibu siapin sarapan buat kamu ya," ujar ibu sambil keluar dari kamar Hana.
Usai menyantap sarapannya Hana melangkah keluar rumah, Hana memang tak ingin diantar oleh siapapun. Ia memilih pergi seorang diri. Setelah berjalan cukup jauh dari rumah Hana duduk di halte bus, ia menunggu kendaraan yang akan mengantarnya ketempat tujuan.
(Ya ampuunn, aku kan nggak tau dimana rumahnya Ramadhan) batin Hana sambil menampar pelan jidatnya. Kemudian Hana membuka layar handphonenya berharap ada seseorang yang membantunya menemukan rumah Ramadhan.
Tiitt..tiitt
Suara klakson motor seseorang yang berhenti tepat didepannya.
"Hai cantik!" sapa orang itu. Ya siapa lagi kalau bukan ADRIAN Alfarizi, sosok yang selalu mengklakson Hana.
(Kayaknya nih orang bisa di manfaatin deh) batin Hana sambil tersenyum penuh licik kepada Rian.
"Yan mau nganterin aku nggak?" tanya Hana sambil mendekati motor Rian.
"Ooh tentu mau lah!" sorak Rian dengan semangat 45-nya.
"Ya udah yuk jalan!" tanpa basa basi Hana duduk dimotor Rian dan memerintah sang pemilik motor itu.
__ADS_1
Rian melajukan motornya, telah lebih dari 15 menit diatas motor. Namun Hana masih tak memberi tahu arah tujuannya.
"Duuh my queen kita mau kemana sih, kantor KUA udah lewat nih," keluh Rian.
"Iih jalan aja, dan lagi nggak ada urusannya sama kantor KUA!" Hana memukul pundak Rian. Rian benar-benar seperti abang-abang tukang ojek kala itu.
"Nah dapet nih alamatnya!" seru Hana dari belakang.
"Jadi kita kemana nih?" tanya Rian.
"Kita kejalan merpati nomor 19," jawab Hana.
"Oke deh!" balas Rian.
Mereka berdua sampai pada alamat yang di tuju, Hana turun dari motor Rian dan segera merapikan pashminanya.
"Udah cantik kok.." goda Rian.
"Iih yaudah yuk masuk!" Hana menarik tangan Rian.
Ketika mereka berdua hendak melangkah kedepan rumah Zayan, Hana melihat sekumpulan orang yang sedang berbincang-bincang. Mereka sepertinya teman-teman sekolah Zayan, karena diantara mereka ada sosok Zayan yang berdiri disana. Seorang wanita berkerudung madrasah merangkul bahu Zayan, sontak saja itu membuat Hana jengkel. Dan ketika kaki Hana tinggal selangkah lagi memasuki gerbang itu, tangan Hana di tarik oleh Rian.
"NA!" seru Rian sambil memegang pergelangan tangan Hana.
"Iih apaan sih Yan!" balas Hana.
"Tuuh!" Rian menunjuk seseorang yang tengah berjalan kearah mereka.
"Hai Hana, dan Rian!" sapa orang itu dengan wajah tak ramah.
"Firman," bibir Hana bergeming. Ternyata ada Firman disini sosok luka masa lalunya, yang sampai sekarang masih membekas diingatan.
Rian terus memegangi tangan Hana, sementara Hana menatap tajam wajah Firman yang tengah tersenyum miris dihadapannya.
"Pacar baru kamu?" tanya Firman dengan nada ledekkan.
"Huumm, IYA!" jawab Hana dengan angkuh sambil merangkul tangan Rian. Tanpa disadari sosok Zayan yang sedang berjalan kearah mereka bertiga mendengar jawaban Hana.
"Hana!" sapa Zayan dengan nada sendu. Hana segera menoleh kepada Zayan, namun karena ada sosok Firman disana air mata Hana jatuh perlahan-lahan.
"Huum iya," balas Hana sambil menghapus air matanya. Rian ikut menghapus air mata Hana, perasaan Rian bercampur aduk sekarang antara senang dan entah lah. Ia senang karena Hana mengakui kalau ia pacarnya, disisi lain ia bingung sedang terjebak dalam keadaan seperti apa ia sekarang.
Zayan kembali masuk kedalam rumahnya, meninggalkan mereka bertiga tanpa sepatah katapun. Sementara Hana yang lukanya kembali berdarah melihat Firman, segera melangkah menjauhi gerbang rumah Zayan dan diikuti oleh Rian dari belakang. Dan mereka bertiga meninggalkan Firman yang tengah mencerna kalimat peng-iyaan Hana tadi.
__ADS_1