
Ketika jam pelajaran olahraga, semua murid 9A sedang pemanasan di lapangan basket. Terik mentari yang bersinar garang, membuat kepala Ara terasa berat. Ara memang seperti itu, jika tubuhnya kurang sehat maka ia sangat sensitif terhadap cuaca panas. Kepala Ara semakin lama semakin sakit.
Brruukk..
Ara pun jatuh tersungkur di samping Hana.
"ARA!" teriak Hana histeris.
Semua murid dan guru olahragapun segera membantu Ara menuju UKS. Sesampainya di Uks, tinggalah Hana yang sendirian menemani Ara.
"Aaww.." ringis Ara sambil memegangi kepalanya.
"Ara, kamu udah sadar sini minum dulu!" Hana menyodorkan teh hangat kepada Ara.
"Thanks Hana," ujar Ara yang telah selesai meneguk teh itu. Tampak raut khawatir di wajah Hana, karena sebentar lagi perkemahan dan sahabatnya Ara dalam kondisi seperti ini.
"Udah Hana aku nggak apa-apa kok," kata Ara sambil mengelus punggung tangan Hana.
"Huumm, kamu tuh banyak-banyak istirahat, jangan begadang mulu gara-gara nonton drakor, kan bentar lagi mau perkemahan kalo kamu sakit gimana!" ujar Hana dengan bibir manyunnya kepada Ara.
"Iya-iya, paling bentar lagi juga sembuh," balas Ara kemudian mencubit pipi chubbynya Hana.
Ketika jam pulang sekolah Hana duduk di halte bis menunggu kak Uma nya, Ara yang pulang lebih dulu karena ia sakit membuat Hana harus menunggu jemputan sendiri, di tambah lagi hari ini tidak ada latihan. Sudah hampir satu jam Hana menunggu kak Uma, namun tanda-tanda dari kedatangan kak Uma belum juga terlihat.
Tiitt...
__ADS_1
Seseorang dengan motor matic berhenti di depan Hana. Zayan Fathurisnin, benar itu Zayan.
"Hana ya!" seru Zayan sambil turun dari motornya.
"Iya kak.." jawab Hana malu-malu.
"Sendiri aja?" tanya Zayan sambil duduk di samping Hana. Membuat jantung Hana berdebar kencang.
"Iyaa," jawab Hana sambil mengangguk kecil.
"Ooh," ujar Zayan singkat.
Zayan masih duduk di samping Hana namun sedikit berjarak, Zayan sibuk dengan handphonenya. Sedangkan Hana hanya memutar-mutarkan jarinya pertanda Hana canggung di dekat Zayan.
Tiitt..
"Yuk pulang!" ajak Rian.
"Aku nunggu kak Uma," jelas Hana. Zayan melirik Rian yang berjalan menuju Hana.
"Ayo lah, kak Uma masih kerjakan tadi pas aku lewat didepan rumah kamu. Ibumu nyuruh aku jemput kamu Hana!" ucap Rian sambil menarik tangan Hana.
Zayan sekarang menatap tangan Rian dan Hana yang saling bersentuhan, Zayan semakin curiga bahwa Rian dan Hana mempunyai hubungan spesial.
"Heemm.." Zayan berdehem di samping Hana. Kemudian Hana dan Rian berbalik menatap Zayan dan mereka segera melepaskan tangannya.
__ADS_1
"Kak Zayan disini ngapain?" tanya Hana.
"Huumm, tadinya sih mau jemput Rama tapi Rama udah pulang." Jawab Zayan dengan nada dingin. Memang begitu lah seorang Zayan Fathurisnin pria tampan yang memiliki sikap dingin, dan sulit untuk mengungkapkan perasaannya.
"Terus kenapa nggak langsung balik?" sekarang giliran Rian yang bertanya.
"Iya ini mau balik," balas Zayan sambil berdiri dari tempat duduknya.
(Tadinya mau nganterin Hana, eeh keduluan sama elu) batin Zayan sambil berjalan menuju motornya.
"Yaudah yuk Naa!" seru Rian kembali mengais tangan Hana.
Hana mengangguk kecil dan mengikuti langkah Rian menuju motor, sesekali Hana melirik Zayan yang menatap dingin tangan mereka. Rian menyalakan motornya dan Hana telah duduk di belakang Rian, Rian berlalu dan meninggalkan Zayan yang masih terpaku di motor matic milik Zayan.
"Aarghh!" erang Zayan sambil memukul pelan spion motornya.
"Harusnyaa aku yang nganter kamu pulang Hana, nih mulut susah banget bilang mau nganterin Hana doang!" Zayan memarahi dirinya sendiri. Dan ia pun melajukan motornya meninggalkan halte itu.
Diperjalanan Zayan masih memikirkan Hana, susah memang menjadi seorang laki-laki dingin. Tak semua keinginannya bisa dengan mudah ia ungkapkan, ia juga tak pandai cara mengode Hana. Karena Zayan bukan lah tipe lelaki yang suka mengejar seorang wanita, mungkin Hana adalah wanita pertama yang Zayan coba dekati.
Sementara Hana juga sedang memikirkan Zayan, meski sekarang ia pulang dengan Rian.
(Kak Zayan tadi ngapain sih bikin penasaran aja. Terus kenapa seolah-olah dia mau nganterin Hana tadi, eeh keduluan sama Rian. Kan Hana jadi nggak enakkan) batin Hana bergelut dengan logikanya saat ia melihat tatapan dingin Zayan tadi.
Begitulah cinta, rumit memang tak mudah untuk mengungkapkan perasaan yang kita miliki kepada seseorang. Ditambah lagi orang itu belum terlalu dekat dengan kita, rasa canggung pun memenuhi dada.
__ADS_1