
BAB 1.
Hari ini aku sedang ijin dari kantor untuk piting baju pernikahanku yang akan segera dilaksanakan bulan depan.
aku memiliki teman bernama Naya teman kecilku hingga saat ini teman disaat aku menikah.
karna calon suamiku saat ini tidak bisa menemaniku piting baju, aku meminta temanku menemaniku.
"Naya Bolehkan temani gw piting baju sore ini?" aku menelpon dia sambil keluar dari kantor tempatku bekerja, dan masuk ke Mobil.
"Ok gw segera menyusul yaa, kamu duluan saja"
mobilku berjalan menuju tempat piting bajuku. sesampainya aku disana tak lama kemudian temanku datang.
" Wahh, kamu cantik banget Intan."
"eh Naya, kamu udah datang. gimana menurut kamu bagus atau kegedean?"
"emm kaiaknya perlu dikurangi dikit deh, agak kegedean sama kamu In."
"Iyakan Nay, Bu dikecilin dikit yaa Bu"
"Baik Kak. {Saut Penjahit Bajuku}
Selesai kami piting baju dan ternyata bajunya harus dirombak ulang. kami pun makan sore sambil nongkrong.
"Ngak terasa yaa In kamu udah mau Nikah, padahal gw itu ingat banget gimana kamu waktu kecil yang sangat penakut."
"Iya kan Nay, emmm akhirnya yang aku tunggu lama-lama bulan depan melepas masa Gadis. kamu cepat nyusul dong Nay. pokoknya habis gw nikah loh harus nyusul. ingat !!!"
"iya gw bakal nyusul elo kok. doain aja jodoh gw cepat ketemu."
kami pulang kerumah masing-masing.
aku masuk ke kamar dan berisitirahat.
Hari ini aku sudah mengambil cuti untuk pernikahanku, dan Mama mengajak aku ke toko perhiasan dan juga ke salon. kami pun menghabiskan waktu satu hari ini membeli peralatan pernikahanku.
calon suamiku belum bisa mengambil cuti karna banyak pekerjaan yang harus dia tangani beberapa hari ini. tapi yasudah lah biarkan aku yang bekerja sendiri untuk pernikahan kami.
waktu pernikahan tinggal seminggu lagi. dia pun sudah cuti namun hanya dua Minggu saja lalu kembali bekerja setelah selesai bulan madu.
ya seperti biasa kata orang kalau sudah mau menikah calon pengganti tidak boleh berjumpa. semua undangan telah selesai kami sebarkan ke teman-teman bahkan ke Sanak Saudara.
Naya menelponku.
"Hay Nay, Lo pasti datangkan ke pernikahan gw."
"Iya dong In. tenang saja"
"Gw udah gak sabar Nay, jadi ratu sehari bersama pangeran ku Dio"
"iya iya gw maklum kok, yang udah ngak sabar jadi Nonya Dio!!!"
seharian sudah aku nelpon dengan Naya.
ACARA PERNIKAHAN
Hari ini semua keluargaku dan Dio sedang sibuk salon karna hari ini tepat kami akan mengucap janji pernikahan seumur hidup.
tanpa ku sadari aku melamun.
Gak terasa 5 tahun pacaran sama Dio akhirnya dia mempersunting aku sebagai Istrinya. lima tahun adalah waktu yang sangat lama untuk kami saling mengenal satu dan lain. kini tidak dua lagi melainkan menjadi satu di ikatan suci pernikahan di depan alter.
aku pun berhenti melamun. karna Mama sudah selesai berhias.
"Kok kamu melamun? kata Mama"
"Gapapa Ma, aku senang akhirnya aku menikah dengan Dio Ma"
Jam pun berlalu begitu saja.
kami pun sudah mengucapkan Janji pernikahan didepan altar. waktunya resepsi pernikahan.
aku yang sibuk mencari temanku Naya yang saat ini tak kunjung datang.
"Sayang, kamu kek gelisah gitu. ada apa?" suamiku yang heran melihat aku seperti mencari seseorang. bertanya..
"aku lagi cari temanku dari tadi gak ada, apa dia gak datang Dio?"
"mungkin dia terlambat sayang, sudahlah nikmati saja Nanti selesai acara kamu tanyak sama dia"
Acara pernikahan kami pun selesai. aku yang lagi dikamar suami sedang menelpon Naya.
tuuut..tutttut... {berdering}
__ADS_1
Lagi-lagi dia gak mengangkat telpon ku.
ada apa dengan Naya. {tanyaku dalam hati}
KEESOKAN HARINYA..
Aku yang masi bertanya kenapa sahabatku tidak hadir di acara pernikahanku. kini aku datang kerumahnya. namun salah satu pembantunya mengatakan dia sedang keluar kota karna kerjaan.
dua minggu berlalu aku menjadi istri Dio, yaa seperti biasa peran seorang istri mengurus suami kerja dan melakukan pekerjaan selayaknya sebagai Istri tuan Dio.
jam menunjukkan 08.00 Wib aku yang hari ini terlambat pergi kerja. berangkat dan menyetir mobil lumayan kencang agar sampai ke kantor tepat waktu.
Jam Istirahat makan siang, entah kenapa aku lagi pengen makan roti dikantor saja tidak kekantin.
Suara telpon selulerku berdering....
{Naya}
aku yang langsung sigap megangkat telpon dari sahabatku Naya.
"Nay, Lo tu kemana aja pas dihari pernikahan gw? jahat banget deh Lo Nay." {dengan nada suara sedih}
"Maaf iya In, gw tiba tiba dapat kabar dari kantor, gw harus survei lokasi kesuatu tempat."
ya begitu lah alasan sahabatku kepadaku, ya mau gimana lagi urusan pekerjaan.
AKU HAMIL ANAK PERTAMA
Satu tahun berlalu pernikahan kami, aku sedang dirumah sakit ditemani Mamaku, aku merasa tidak enak badan, sering pusing, oyong dan juga mual. Dio meminta Mamaku menemaniku kerumah sakit untuk memeriksa keadaanku saat ini.
"Bu tolong dijaga ya Bu kesehatannya, jangan mudah lelah" seru Bu Dokter kepadaku
"Emang ada apa dengan Putri saya Bu? dia sakit apa?" tanya Mama pada Bu Dokter
"Oh tidak apa apa Bu, Putri ibu sehat. suaminya kemana ya Bu?" {tanya Bu Dokter kepada Mama}
"Kenapa Bu Dok?" {tanyaku}
"Tidak, saya hanya mau memberikan selamat kepada Bapak dan Ibu. Ibu saat ini hamil sudah 1 bulan"
aku dan Mama sangat bahagia dengan kabar baik yang disampaikan Dokter kepada kami. sesampainya kami dirumah, aku sudah tidak sabar menunggu kedatangan suamiku dirumah dan memberitahukan kabar kehamilanku.
Malam pun tiba. suamiku sudah pulang.
"Emm gak tau sayang, emang apa yang dibilang Dokter? kamu sakit apa sayang? kamu sehat sehat ajakan?" suamiku yang masi banyak pertanyaan
"Selamat ya sayang kamu sekarang jadi Papa buat anak-anak kita" dengan sangat bahagia aku memberikan kabar ini kepada suamiku
tak terasa kehamilanku saat ini tinggal menunggu waktunya dan selama aku hamil suamiku semakin lama pulang kerja, alasan sibuk kerja, banyak urusan kantor. padahal jauh hari aku udah bilang sama suamiku untuk ambil cuti, tiba aku hamil tidak kecarian dia, namun dia bilang dia tidak bisa ambil cuti.
Malam ini aku ditemani oleh Mamaku. Mama takut dengan kahamilanku yang sebentar lagi suamiku tidak ada di sampingku, malam hari aku menunggu dia pulang, namun tak kunjung pulang juga.
Jam 12 Malam, aku merasa kesakitan.
"Ma... Mama... aduuuh..... Ma..."
aku pun berjalan menuju kamar Mama, Mama yang tidur pules jadi gak kedengaran olehnya. Dio yang belum pulang sampe jam segini.
"Ma... Mama..."
"Bi... Bi... tolong Bi.... sakit...."
Bibi yang langsung keluar mendengar suaraku.
"Nonya, Nonya mau lahiran"
"Bu... Bu..." {sambil mengetok pintu kamar Mama}
"Ada apa Bi?"
"Nyonya Bu, kesakitan, Kenya mau lahiran deh Bu"
"Bi tolong panggilkan pak supir suru Bawak mobil cepat."
Aku merasa kesakitan dan juga sedih melihat keadaanku saat ini ditamba suamiku tak kunjung pulang dari tempat kerja. dia pasti tidak menemaniku melahirkan. padahal aku sangat berharap dia menemaniku. didalam mobil aku hanya menangis.
AKU MELAHIRKAN ANAK,
PEREMPUAN
aku yang masi ditemani Mama.
"Selamat ya Bu anak ibu Perempuan yang cantik"
"Makasi Bu Dokter" jawabku
__ADS_1
aku yang langsung bertanya pada Mama apakah suamiku sudah pulang, ternyata dia tidak pulang. hingga pagi hari ini dia belum memberikan kabar padaku.
tiga hari kemudian aku pulang dari rumah sakit, aku hanya disambut oleh pembantuku dia menghias ruangan bayiku. aku bertanyak pada pembantuku apakah suamiku pulang. namun dia tak kunjung pulang.
aku sangat marah dan membenci suamiku.
seminggu berlalu, aku yang sedang menggendong bayiku diluar untuk menjemur dibawah matahari. kulihat mobil suamiku datang.
"Selamat Pagi Sayang." {sambil mencium keningku}
" ini putri kita ya sayang, cantik sekali kamu Nak"
akupun langsung marah.
"Dio kamu kemana aja sii? gak ada kabar. kamu gak nanyak gimana istri mu melahirkan. sehat atau tidak. gimana keadaan ibu dan bayinya. kamu kemana aja"
"sayang maafkan aku, aku ada pekerjaan mendadak dan harus keluar kota. sudah lah yang penting Mama kamu ada didekatmu dan menjaga kamu sampe sekarang dengan baik dan sehatkan?"
"aku benci liat kamu. kamu lebih penting pekerjaan ketimbang nasib anak dan istrimu."
"kamu itu suami sampe rumah Mala marah. sudah lah aku capek."
Dua bulan berlalu. aku kembali bekerja. anak aku Mama yang jaga selama masa aku kerja. aku lelah dengan suamiku yang akhir akhir ini pulang lama bahkan dia tidak peduli gimana keadaan aku dan bayiku. aku mencoba menelpon Naya. namun tidak bisa ditelpon.
aku yang merasa sudah berkeluarga tidak mungkin bisa cerita sama Naya yang masi ingin menikmati dunia ini. aku binggung mau cerita sama siapa. gak mungkin sama Mamaku.
aku punya firasat untuk pergi ke kantornya Dio dan melihat apakah Dio benar benar lembur. aku bergegas pergi.
sesampainya dikantornya Dio aku bertanyak, apakah ada Dio disana. ternyata Dio gak ada dan gak lembur. lalu dia kemana? ku telpon Mama ingin memastikan apakah Dio sudah tiba dirumah, namun Mama bilang tidak ada.
aku pulang dan menunggu dia, tak lama kemudian dia datang.
"Kamu habis dari mana Dio?" tanyaku
"Aku tadi lembur. kamu ini kenapa sii?"
"Lembur? dimana kamu lembur hah?"
"Hey sayang aku kerja, dan aku lembur ya ditempat kerja aku lah. banyak banget si pertanyaan kamu."
"aku tadi dari kantor kamu, dan seketaris kamu bilang, kamu udah pulang dari tadi sore, dan aku tanyak apa kamu lembur, dia bilang tidak ada. selama satu bulan ini tidak ada lembur. itu kata sekretaris kamu."
Dio yang masi tidak mau mengakui kemana dia pergi dan kenapa sampe malam begini dia baru pulang. dengan kesal aku pun sudah tidak ingin bertengkar dengan dia biarkan saja dia seperti itu.
Tiga bulan berlalu.
aku yang lagi ada meeting diluar, sama klienku dan juga teman satu kantorku disalah satu restoran dekat dengan kantor suamiku Dio. setelah kami selesai meeting klien kami pun pulang, aku masi ditemani temanku makan.
"Eh Intan, itu bukannya teman kamu si Naya iya?"
aku menoleh dan melihatnya "Oh iya."
"Dia lagi sama cowok tu"
"biarin aja deh, nanti gak enak kita ganggu" seruku
kami pun lanjut cerita.
"Loh Pria yang sama Naya itu bukannya suami kamu ya Intan?"
aku kembali melihat, dan Dio yang tiba tiba berdiri di depan Naya. " Oh iya."
"Coba deh kamu samperin Intan."
"biar aja lah, mana tau mereka lagi sibuk dengan urusan pekerjaan. soalnya ini kan masi jam kerja."
aku membiarkan Naya dan Dio didalam restoran tersebut dan kami kembali ke kantor memulai pekerjaan. aku heran aja kenapa Naya yang susa dihubungi bersama Dio suami aku. tapikan Naya belum kenal sama suamiku. mungkin tugas kantor.
sepulangnya aku dari kantor. aku melihat Dio sedang bermain dengan Putri.
"Hay sayang." sapaku
"Kamu sudah pulang sayang?" tanyak suamiku
aku menanyakan tentang apa yang aku lihat di restoran tadi sama Dio.
sambil menggendong Putri "Oh ya sayang, tadi aku sedang meeting diluar dekat restoran kantor kamu. aku tadi melihat kamu dengan wanita lain. dan wanita itu sahabatku sendiri. Naya."
"Hah. Naya!"
"iya tadi temanku bilang ke aku samperin kamu, tapiku pikir Kelian juga sedang meeting dengan dia. namanya Nayakan sayang?"
"Oh iya sayang, tadi kami memang sedang meeting. kok kamu gak samperin si. iya memang namanya Naya. itu sahabat kamu?"
**** BERSAMBUNG ****
__ADS_1