
BAB 18.
Intan Masi juga didalam kamar mandi. sudah satu jam lebih aku menunggunya.
tak lama Intan keluar dan melihat aku duduk di bangku meja hias Intan.
"ada apa kamu kesini. kamu mau hancurkan hidupku lagi. pergi kamu sana. pergi. ambil Dio aku gak butuh manusia berengsek yang tidak bisa bertanggung jawab dengan keluarganya. ambil sana. pergi kamu. jangan pernah kamu injak kamarku ini. dasar pelakor."
"Intan aku tau aku salah. dengan gampangnya aku masuk dikamar kamu. aku dari tadi menunggu kamu diluar namun kamu gak keluar juga. aku datang kesini mau minta maaf Intan. aku tau aku salah. aku egois. aku minta maaf Intan."
"aku gak butuh maaf dari pelakor seperti kamu. pergi keluar dari sini. Pak satpam. pak satpam."
"Ya Bu ada apa Bu." tanya satpam rumah
"tolong kamu usir pelakor ini dan jangan pernah perbolehkan dia masuk dan menginjak rumah, dan juga kamarku."
"baik Bu. ayoh sana kamu keluar."
"Intan. maaf. tunggu jangan tarik aku. aku masi mau bicara sama Intan."
"pergi." teriak Intan
"satpam pun akhirnya bisa membawa Naya keluar dari rumahnya."
Dasar gak ada Otak sedikit pun. beraninya kamu datang dan masuk kekamarku.
kamu udah merebut suamiku sekarang kamu masuk kekamarku dan melihat semua isi kamarku.
tak lama Reno pun datang.
__ADS_1
"Intan kamu baik baik saja kan."
"kamu jahat banget Ren sama aku."
"aku minta maaf Intan. aku gak bermaksud menyembunyikan ini sama kamu. aku gak tau saat ini apa yang harus aku lakukan. Dio datang padaku. dan menceritakan semuanya. aku hanya memberikan hal positif sama dia hingga dia sadar akan kesalahannya. dan dia menceraikan Naya."
"untuk apa dia menceraikan Naya. dia pikir dengan dia bercerai aku bisa terima dia dengan gampang gitu Ren. kamu pikir dong gimana perasaanku."
"iya aku tau Intan. aku tau gimana sakitnya kamu hari ini. sekarang begini aja. apa dengan semuanya ini kamu bisa menerima kalau Dio memilih Naya. Dio itu sebenarnya cinta sama kamu. cuma dia terlalu terpengaruhi oleh Naya."
"dengan ini aja dia gampang terpengaruh. gimana nanti kedepannya."
"iya kita gak tau kedepannya gimana. tapi aku rasa dia bakal berubah. dengan Tuhan kasi dia teguran seperti ini. saat ini dia bekerja ditempatku karna dia dipecat dari kantornya. ya aku udah bilang sama dia kalau Dio harus berubah. agar semuanya kembali seperti dulu lagi. kamu jangan egois juga dong Intan. kamu lihat ada Putri yang sangat membutuhkan orangtua lengkap. gak mungkin kan Kelian pisah. kasihan Putri. selalu terlibat. dan orangtuanya tidak mikiri perasaannya hanya Kelian memandang perasaan Kelian saja. jangan egois."
"Lalu aku harus apa Ren. aku harus terima dia masuk kerumahku ini. dan aku harus pura pura bahagia setelah aku tau dia menikah dengan pelakor."
"aku tau waktunya gak tepat. Dio bilang sama aku. dia ingin tinggal dirumahku untuk sementara disaat keadaan Masi seperti ini. tapi ijinkan Dio bertemu dengan Putri setiap saat ya Intan."
"aku yakin Intan. Dio bakal berubah untuk keluarga mu. aku yakin dia gak bakal seperti itu lagi. selama Abang Masi bersama Dio. Abang pastikan semuanya bakal baik baik saja. percaya lah Intan." sambil memeluk Intan
Reno pun pergi pulang dan berbicara pada Dio.
"Ren gimana Intan. dia baik baik saja kan?"
"ya seperti itu lah Dio. mungkin kamu tau gimana perasaan wanita apalagi istri."
"Ren aku minta maaf ya."
"iya Dio. tapi aku mohon sama kamu jangan mengulangi hal yang sama lagi."
__ADS_1
"kasihan Intan, aku udah berjanji pada dia kamu bakal tidak seperti itu. untuk sementara kamu tinggal disini aja. karna aku tau Intan Masi kecewa denganmu. dan aku bilang untuk mengijinkan kamu bertemu dengan Putri saat waktumu ada. kamu bisakan Dio."
"makasi banyak ya Ren kamu baik sekali sama aku. padahal Intan itu adekmu. tapi kamu gak sama sekali marah samaku."
"jujur ya Dio. aku sebenarnya ingin memukul kamu dan ingin membunuh. tapi untuk apa aku mengotori tanganku. dan kamu datang ke orang yang tepat untuk merubah hidupmu."
"aku benar benar minta maaf sama kamu Ren. aku janji bakal menjaga Intan dan Putri aku gak akan mengulangi hal yang sama lagi Ren. makasih banget ya Ren."
Lagi lagi Naya datang kerumah Intan.
"Intan tolong dengarkan aku. aku janji bakal pergi jauh dari kehidupan mu dan Dio. tapi plis aku mau kamu dengar sesuatu dari aku." pinta Naya
"Udah lah Nay. apa lagi yang harus dibahas dan didengarkan. semuanya udah selesai."
"Intan aku minta maaf. aku tau aku egois. aku minta maaf sama kamu Intan. aku bakal lepasin Dio dari hidupku. tapi kamu Masi maukan menjadi sahabatku."
"sahabat kamu bilang. apa si arti sahabat buatmu. andai aja waktu itu kamu terus terang sama aku Dio itu pacarmu. aku selaku sahabatmu gak bakal mau dekat sama Dio. dan aku gak bakal mau menikah dengan dia. karna aku lebih mementingkan persahabatanku ketimbang perasaan cintaku. kamu tau kan. kamu gak ingat waktu kita SMP dulu. kamu suka sama satu cowok. sedangkan cowok itu menyukaiku. kamu Taukan apa responku sama cowok itu.aku lebih memilih kamu Nay. bukan dia. sedangkan kamu. kamu tau Dio itu pacarku dan suamiku. tapi kamu sanggup merebut dan menikah diam diam. itu namanya sahabat Nay. Itu namanya sahabat hah. pergi kamu dari sini. aku harap kamu akan merasakan hal yang seperti ku rasakan saat ini suatu saat. ingat itu Nay."
"Intan aku minta maaf {sambil menanggis dan berlutut dikaki Intan} aku minta maaf Intan. maafkan aku. aku ingin kita bersahabat seperti dulu lagi Intan."
"sudah lah Nay. pergi lah. aku masi butuh waktu untuk semuanya ini."
"tolong maafkan aku Intan. aku tau aku salah. aku minta maaf Intan."
"pergi lah Nay. beri aku sedikit waktu untuk melupakan semuanya."
aku masuk dan meninggal Naya sendirian diluar. dan menutup pintu. lalu berbaring dikamar.
sejenak aku terbayang akan pertemanan ku dengan Naya sewaktu kecil hingga kami seperti ini.
__ADS_1
aku dulu selalu mengalah untuk Naya. apalagi hal percintaan. masak Naya tega dia gak mikir dulu itu waktu sama dia. laki laki yang aku suka dia juga menyukai itu.
dan sekarang dia membalaskan ini kepadaku. dia mengambil suamiku dan kebahagiaanku. dulu dia juga seperti itu sekarang juga dasar pelakor gak tau diri.