
BAB 5.
Minggu pagi yang cerah, aku segera bangun dan mengajak Putri berolahraga dipagi hari ini. suamiku yang masi tidur pules di kamar kubiarkan saja mungkin dia sedang kelelahan.
beberapa jam kami berolahraga. kami kembali kerumah untuk bersiap siap membersihkan tubuh yang penuh dengan keringat.
ku lihat suamiku sedang makan di meja makan dapur.
" Hay Pa." sapa Putri
"Hay sayang, lagi olahraga ya sama Mama. kok Papa gak diajak sii."
"iya Pa, kata Mama Papa lagi tidur. kami pikir Papa kecapean bekerja semalaman." jawab Putri
"Sayang malam ini kantor aku mengadakan pertemuan di caffe, semua keluarga diundang, kamu mau ikut kan sayang." tanyaku
"Okey sayang, nanti malam kita sama sama berangkat ke caffe."
aku sengaja ngak memberitahukan ke suamiku tentang Jabatanku sekarang naik. karna aku takut dia gak mau datang kepertemuan kami nanti malam. biar aja dia tau disana nanti. pikirku dalam hati
Hari Minggu ini, entah kenapa Dio tiduran dikamar. mungkin dia sangat lelah.
pesan di handphone ku.. "Reno?"
aku keluar dan menelpon Reno.
"Ada apa Ren?"
"kamu sekarang sedang bersama suamimu ya?"
"iya ni." jawabku
"ada apa Ren?"
"Oh ngak cuma Bertanya aja kok. oke lah Makasi ya Intan."
Reno langsung mematikan telponku.
aku kembali masuk kerumah, kulihat Putri sedang asyik bermain dengan Bibi.
Menjelang Malam.
Malam ini aku berdandan begitu canti. suamiku yang baru selesai mandi keluar dari kamar mandi.
"wah kamu cantik banget malam ini sayang." puji Dio sambil mencium keningku
__ADS_1
"iya dong sayang, kita kan mau makan bersama, jadi aku harus kelihatan cantik malam ini, kan gak enak diliat temanku suaminya Intan ganteng, akunya yang dandanan entah gimana." jawabku sambil tersenyum manis
kami pun segera berangkat dari rumah menuju caffe tempat pertemuan dengan teman kantorku.
setengah jam perjalanan, kami sampai.
"Wah, Intan kamu cantik banget ternyata. beda dengan dikantor sehari hari." puji salah satu teman kantorku
"Makasi yaa, Kelian semua juga cantik banget." senyumku
sepanjang acara belum di mulai aku memperkenalkan suamiku kepada teman temanku, walau sebagain mereka sedang mengenal.
acara pun dimulai.
semua penuh kehangatan, makanan yang super mewah dan aku sampe tidak ingin keluar dari tempat ini sangking cantik dan elegannya dekor caffe ini.
Boss memulai acaranya.
ini adalah acara yang ku tunggu tunggu dari tadi. aku ingin memberikan kejutan kepada suami dan anakku.
"Baiklah rekan kerjaku yang sangat aku banggakan, dan aku cintai. kini saatnya kita tiba di acara penaikan jabatan." Boss pun mulai berbicara
"silahkan kemarin."
"Sayang aku pergi keatas dulu ya." kepada suamiku
"Okey sayang." jawab suamiku
"Putri sayang, kamu sama Papa dulu bentar yaa."
aku pun berjalan keatas menuju Bossku.
"Ini adalah mereka yang saat ini membuat perusahaan semakin baik dan berkembang." suara Boss ku
"Dan untuk Kelian rekan kerjaku. aku akan menaikan gaji Kelian bulan ini. terima kasih sudah berkerjasama dengan baik untuk perusahaan ini. sekian dari saya."
aku pun melangkah menuju tempat duduk suami dan anakku.
"Mama Naik Jabatan?" selamat yaa Ma.
suamiku yang terdiam dan tidak ingin memberikan selamat kepadaku. padahal aku sangat senang, namun dari wajahnya dia seperti tidak senang dengan pencapaian ku dipekerjaanku ini.
aku hanya diam. dan menikmati makanan.
***** ACARA SELESAI *****
__ADS_1
Kami masuk kemobil dan kembali pulang. lagi lagi dia masi terdiam. dan kami hanya diam saja dimobil hampir setengah jam perjalanan. Putri yang tidur di pangkuanku.
sesampainya dirumah, aku menggendong putri yang tertidur pules di mobil, aku menggendong dia ke kamarnya untuk tidur dengan baik.
selesai aku ke kamar Putri aku masuk ke kamarku dan aku melihat Dio ada di kamar.
aku pun mengganti pakaianku di kamar mandi dan setelah aku keluar dari kamar mandi.
"pantesan kamu itu berdandan secantik mungkin ternyata kamu lagi naik jabatan ya." ketus Dio padaku
"sayang aku nggak berdandan untuk acara itu aku berdandan untuk kita karena kita pergi ke cafe itu bukan untuk acara tadi."
"alah kamu banyak alasan bilang aja kamu mau kulihat karena kamu lagi naik jabatan nggak usah deh kamu nyengil aku udah tahu gimana kamu." ketus suamiku
"apaan sih sayang Aku nggak bermaksud apa-apa kamu nggak ngerti maksud aku."
"alah kamu pikir aku mau mengucapkan selamat kepada kamu karena kamu lagi naik jabatan. jangan harap aku mau mengucap selamat sama kamu."
"ya kalau kamu nggak mau memberikan aku selamat ya nggak apa-apa aku sih tidak berharap tapi kan kamu ngapain marah-marah sama aku apalagi udah malam."
"pantasan dari kemarin-kemarin kamu itu mengungkit naik jabatan naik jabatan ternyata kamu lagi naik jabatan rupanya ya Oh sekarang kamu itu udah seperti di atas suamimu ya."
"apaan sih Dio Aku capek bertengkar terus sama kamu aku capek kamu itu selalu aja salah paham."
"apa kamu capek dengan aku kamu tahu kan aku ini siapa kamu aku ini suamimu bisa-bisanya kamu capek kalau kamu merasa sudah lelah lebih bagus kamu tinggalkan aku."
"tolong ya Dio kita ini kan udah dewasa kamu harus paham jangan kamu bilang tinggalkan kamu tahu kan apa artinya tinggalkan itu kamu itu kalau lagi marah berpikir yang baik jangan asal ngetos aja."
aku pun berbaring di kamar lalu tertidur dan tidak mau tahu dengan apa yang diucapkan dia kalau aku kesal dia membilang untuk meninggalkan sejak kapan Aku ingin meninggalkan dia begitu cinta sama dia bagaimana aku bisa meninggalkan dia anakku ada dari dia aduh terlaluan kamu itu dia.
"tuh kan kamu ini setiap suami kamu lagi marah kamu itu selalu aja seperti ini selalu meninggalkan kamu nggak tahu kan cara menyelesaikan masalah itu apa kamu nggak tahu apa yang diinginkan suamimu memang kamu ini lah."
sebenarnya aku pun kesal dengan omongan Dio membilangkan aku istri tidak berguna padahal aku tuh udah melakukan sesuai apa yang diinginkan Dio. Dia menyuruh aku ke sana, jemput anak, dia pikir aku nggak capek apa masih dibilang aku tidak berguna.
untuk apa aku ribut dengan emosi lebih bagus kalau dia mau berbicara dengan baik jangan emosi Aku pun tidak akan seperti ini pada dia.
dia pun pergi keluar.
aku yang masih berbaring di kamar dan langsung segera tidur.
tanpa kusadari pagi hari pun telah tiba kulihat dalam kamar tidak ada dia, aku cari-cari dia di rumah. namun sama sekali tidak ada, aku pikir dia tidur di kamar Putri aku pergi ke kamar Putri namun juga tidak ada, aku tanya salah satu sopir ke mana bapak pergi kata sopir Bapak pergi keluar dari semalam sampai sekarang nggak pulang.
aku pun yang sangat kebingungan melihat sikap Dio dan duduk sambil menelpon dia namun handphonenya tidak aktif.
ya sudahlah biarkan saja dia seperti itu biarkan apa yang dia inginkan apa yang sesuai dengan pikirannya biarkan saja dulu atau nanti dia akan kembali aku harus mengantar Putri sekolah dan bekerja kembali lagi.
__ADS_1