
BAB 11.
Pagi hari yang sangat cerah, Dio yang masi dirumah Naya dan tertidur nyenyak akibat mabuk semalam.
Dio bangun, dan melihat bahwa dia tidak tidur dirumahnya semalaman.
ternyata dia berada ditempat Naya.
Dio yang keluar dari kamar tidur, menuju dapur. didapur ada Naya yang sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi.
"Nay kok kamu gak banguni aku?" tanyak Dio
"kamu udah bangun sayang? emang ada apa" tanya Naya
"kasihan Intan menunggu aku semalaman pastinya, lagi lagi aku gak pulang sampe sekarang." jawabnya
"kamu itu aneh banget yaa Dio, marah gak jelas." ketus Naya
"kamu itu yang aneh, udah tau kamu aku udah berapa hari yang lalu pergi dengan alasan keluar kota dari kantor. mana mungkin aku sekarang memberikan alasan yang sama." Dio yang marah marah
"siapa suru kamu mabuk gak jelas." ketus Naya
"kamu mau tau kenapa aku mabuk. asal kamu tau karna kelalaian kamu juga mengajak aku kepuncak dan kita menikah disana. padahal aku udah bilang waktu berliburku cuma 2 hari aja di kasi Boss. kamu paksa aku untuk libur panjang. dan kamu mau tau lagi apa yang membuat aku kaiak begitu semalam? si Intan datang ke kantor dan menanyakan keberadaanku. dan yang lebih parahnya lagi Boss ku memberitahukan Intan alasan aku berlibur karna istri sakit, sedangkan Intan sehat sehat aja. kamu paham sampai disini !!" tegas Dio pada Naya
"Dio aku ini istrimu sekarang dan kita baru aja menikah, apa aku salah menginginkan waktu yang lama pada suamiku? apa aku salah ingin berbulan madu pada suamiku? kalau aku memang salah kasih tau dimana letak kesalahanku Dio. kamu itu egois, slalu Bawak Bawak nama dia dirumah kita. udah berapa kali aku bilang, jangan pernah Bawak Bawak nama Intan disini. paham kamu Dio !!!" jawab Naya tegas
"kurang apa lagi kamu Nay, aku udah memberikan status sama kamu dan aku udah mengorbankan seluruh waktu aku untuk mu, tapi kamu tidak pernah tau gimana perasaan mereka anak dan istriku menunggu aku Berjam jam sampai gak tidur. semuanya itu aku lakukan demi kamu Nay. demi cintaku padamu Nay."
"kalau memang kamu benar benar mencintai aku Dio. kamu ceraikan saja Intan. kan kamu gak terbeban sampai sekarang." pintanya
"kamu udah Gilak yaa.." Dio pergi maninggalkan Naya
aku segera memanggil taxi dan berangkat dari rumah ku dan Naya.
didalam mobil....
Ya Tuhan, aku udah salah saat ini sama Intan, pasti Intan marah besar padaku. pasti Intan mencariku satu malaman.
gimana dengan nasibku saat ini. aku dipecat dari kantor dan Intan pasti marah samaku.
beberapa jam berlalu, Dio sampai rumah. Dio melihat bahwa rumah sepertinya sepi Putri dan Intan nampak tidak ada dirumah dan juga rumah kelihatan sepi hati ini.
__ADS_1
aku segera masuk ke kamar. ingin istirahat.
sejenak aku mandi membersihkan badanku akibat dari debu diluar.
selesai aku mandi, aku pun meletakkan badanku dikasur, kitutup sejenak mataku sambil memikirkan nasibku dan keluargaku ini. karna aku sudah tidak kerja lagi.
dalam hatiku ....
besok aku harus bisa mencari kerjaan, agar Intan gak curiga padaku kalau nanti Naya ngajak jumpa danganku.
aku malu pada Intan, dia yang sedang naik jabatan, aku yang slalu beralasan meeting, keluar kota sibuk kerja. eh malah dipecat!!!
rasanya aku gak pantas sebagai kepala rumah tangga disini
aku tertidur. hingga sampai siang hari terbangun dan aku harus jemput Putri dari sekolah kasihan Intan kerja capek kesana kemari sedangkan aku slalu bersama Naya, hari hariku penuh dengan Naya bukan Intan dan Putri.
padahal yang jelasnya keluargaku adalah tempat ini.
aku pergi meminjam motor satpam untuk menjemput Putri.
sesampainya aku disekolah Putri, aku melihat Intan sedang duduk mungkin menunggu Putri.
"Loh Dio?" tegur Intan
"Loh, kamu mau jemput Putri juga ya Dio?" tanyaku
"iya nih kebetulan kerjaanku gak terlalu banyak jadi aku sempatkan jemput Putri. aku sudah rindu padannya." sekali lagi aku berbohong pikirku
"Oh bagus deh Dio, kalau begitu aku pergi kerja ya soalnya kerjaanku lagi numpuk dikantor." *pamitku
aku pergi*....
"Intan tunggu." pinta mas Dio
"ada apa Dio?" tanyaku
"aku mau bicara sesuatu sama kamu."
"Hal apa?" tanyaku
"kamu bisa duduk disini bentar Intan?"
__ADS_1
"Gini aja deh Dio, Nanti pulang kerja kita bicarakan dirumah gimana?" tanya Intan
"Baik lah Intan. aku menunggu mu." jawab Dio
aku pun pergi melanjutkan perjalananku menuju kantor.
dalam hatiku...
ada apa dengan Dio? kenapa dia menjemput Putri dan kemana mobilnya? mungkin Dio benar benar dipecat dari kantornya. makanya dia baru bisa jemput Putri sekolah. dan apa yang mau dibicarakan Dio kepadaku? atau jangan jangan Dio ingin menceraikan aku? atau dia ingin berterus terang kepadaku bahwa dia memang selingkuh dengan Naya sahabatku.
kalau sampai ini terjadi, aku gak bakal terima Naya sebagai sahabatku lagi. aku benci dan sangat jijik melihat Naya. jika itu terjadi.
dan dikantor aku menunggu waktu agar cepat berlalu dan aku bisa mengetahui apa yang ingin Dio bicarakan padaku.
Dio yang saat ini sedang menjemput Putri sekolah.
"Papa." Putri yang baru keluar dari kelasnya dan sangat bahagia melihat papanya menjemput dia sekolah
"Hay Nak."
"Papa jemput Putri yaa? Mama mana Pa? tanya Putri
"Iya Nak, kali ini waktu Papa full sama Putri dan Mama, Mama tadi datang kesini. cuma Papa suru aja balik kekantornya. Papa mau sama Putri" senyumku
"Wahh, makasi ya Pa."
"Pa mobil Papa mana?" tanyanya sekali lagi
"mobil Papa dikantornya Papa sayang. kita naik taxi aja ya nak" jawabku
kami pun naik taxi....
"Pa, Papa kemana aja si selama ini, akhir akhir ini Papa jarang tidur dirumah, pulangnya lama lama. Papa udah gak sayang lagi ya sama Putri dan Mama?"
"sayang, Papa sayang banget sama Putri dan Mama, tapi waktu itu Papa punya pekerjaan yang sangat banyak, harus dikerjakan sampai tidur dikantor." jawabku berbohong pada Putri
"Tapikan Pa, Mama gak pernah kek Papa. padahal Mama juga kerja kantor. Mama selalu ada waktu buat aku. apalagi kalau Papa gak pulang. Mama gak pernah tidur Pa. kadang Putri kasihan liat Mama, yang slalu mementingkan keluarga kita."
aku sejenak diam mendengar perkataan Putri.
dalam hat Dio...
__ADS_1
Maafkan Papa ya nak, Papa ngak tau waktu itu apa yang harus Papa lakukan Nak. semua itu diluar pemikiran ku. sehingga aku gak mikirkan keluargaku jadi korbannya. terutama Intan.