
BAB 12.
Dio menghabiskan waktunya satu hari ini bersama anakku Putri.
sepulang dari sekolah Dio dan Putri bermain ditaman depan rumah, hingga Putri kelelahan akhirnya tidur siang.
Dio yang masi merenungi kesalahannya selama ini.
dalam hati Dio ....
kamu jahat banget Nay, disaat aku lagi bangkrut dan di pecat dari kantorku, kamu malah ninggalkan aku.
sedangkan istriku yang gak tau apa apa dengan hubungan kita. Mala Masi mau menerimaku.
aku salah, aku malu melihat Intan, aku banyak dosa sama Intan.
kamu jahat banget Nay, selama ini ku habiskan waktu ku hanya untukmu. aku sampai melupakan keluargaku demi kamu Nay.
ku coba menelpon Naya, namun telponnya tidak aktif.
dalam hati Dio lagi...
kamu sadar gak Nay, kamu itu adalah istriku. aku menyesal menikahin kamu.
mana mungkin aku jujur pada Intan, aku sudah menikahi sahabatnya sendiri.
aku pasti menyakiti hati Intan dan juga anakku, terus apa yang harus aku perbuat. gak mungkin aku dirumah saja dan Intan bekerja.
aku sangat malu nantinya.
atau aku ijin pamit pada Intan dan bekerja diluar kota dan memulai dari Nol lagi.
ya sepertinya aku harus begitu. gak mungkin aku jujur pada dia tentang hubunganku dengan Naya, kasihan dia.
kucoba menelpon temanku menanyakan pekerjaan. namun tidak ada juga.
nanti malam aku harus berbicara pada Intan.
Jujur saja aku sangat menyesal telah memilih Naya menjadi Istri kedua ku. dia hanya menginginkan senang dan hartaku, disaat aku sudah seperti ini. dia malah meninggalkan aku.
aku sangat menyesal dengan semua ini.
apa aku harus menceraikan Naya. mungkin dengan cara seperti itu. agar aku tidak dihantui kesalahan pada Intan.
aku harus pergi bertemu Naya hari ini sebelum Intan pulang kerja.
aku berangkat naik gojek. menuju rumah Naya.
sesampainya disana...
{toktoktoook.... toktoktoook....} aku menggedor pintu rumah Naya
"Dio." sahut Naya
"Nay aku mau bicara serius pada kamu." kata Dio
"mau bicara apa. kamu mau minta uang sama aku ya Dio?"
__ADS_1
"Aku mau menceraikan kamu Nay."
"apa?? cerai? enak aja kamu cerai."
"kita ini udah salah Nay, aku udah ada keluarga, aku udah ada Intan dan Putri. kita sudah salah Nay."
"kamu aja yang merasa salah Dio, sebelum kamu bertemu dengan Intan, kamu gak ingat sama siapa pacarannya hah."
"aku tau Nay, tapi ini udah salah. aku malu pada Intan mengatakan bahwa aku dipecat dan menikah lagi."
"aku sama sekali gak ada menyuruh kamu untuk jujur pada Intan."
"iya aku tau kamu gak menyuruh ku tapi lama lama ini akan ketahuan juga Nay. sedangkan aku yang saat ini lagi bangkrut. kamu saja tidak memperdulikan aku."
"iya kamu kan ada istri pertama, selama keadaan kamu Masi seperti ini. kamu manfaatkan waktu mu yang terbuang selama ini dekat dengan keluargamu."
"kamu memang kejam ya Nay."
"Dio Dio aku itu gak kejam, kamu dan Intan yang sangat kejam denganku."
"disaat aku terjatuh kamu bukannya mengangkat dan menolongku."
"Dio Dio kamu itu gak usah polos ya Diom. wanita mana yang mau bertahan sama suami yang pengangguran hah Dio. kamu jawab dulu."
"kamu memang gak punya hati sama sekali ya Nay. kamu beda dengan Intan."
"Oh tentu dong aku sangat berbeda dengan dia. coba deh kamu jujur pada Intan sekarang tentang pekerjaanmu, aku jamin Intan pasti melakukan hal yang sama seperti aku."
"Aku nyesal udah menikahin kamu Nay."
lalu kembali menuju rumah Intan*.
diperjalanan aku menanggis semua yang telah aku perbuat pada Intan.
aku gak mungkin jujur dengan dia. aku gak mau menyakiti Putri dan Intan
sesampainya aku dirumah, ku lihat Intan belum pulang.
aku yang sangat gelisah dan khawatir dengan suasana rumah.
lagi lagi aku memikirkan sikap Naya ke aku tadi.
kamu kejam banget Nay.
aku menikahi kamu karna aku kasihan melihat kamu hidup sendirian di dunia ini. dan kamu terlalu polosku pikir.
ternyata semuanya itu salah, malah kamu terlalu banyak drama dan tidak memikirkan perasaan Intan dan Putri.
kamu kejam banget Nay. awal pertama aku mengenalmu. kamu sangat baik dan itu membuat aku tidak pernah berhenti melihat kebaikanmu untukku.
namun dibalik itu semua kamu wanita pendendam ternyata.
aku sangat menyesal. tidak tau lagi aku harus berkata apa didalam penyesalanku ini.
aku ke kamar Putri dan melihat dia sedang belajar.
"Papa."
__ADS_1
"kamu lagi belajar ya sayang."
"iya Pa."
lagi lagi aku duduk dan termenung melihat putriku yang sangat cantik, pintar, dan mirip dengan Mamanya.
Mamanya yang sangat pekerja keras serta bertanggung jawab dalam segala hal apapun itu.
sedangkan aku. aku yang sangat bodoh. tidak bisa membedakan mana keluarga yang sesungguhnya. mana wanita yang bakal menemaniku sampai tua nanti.
ya aku tidak bisa membedakan itu semua.
aku jahat pada Putri dan istriku.
aku lebih mementingkan egoku. aku tau niat Intan tidak mau ribut dirumah itu karna dia gak mau mental anaknya down melihat orangtuanya ribut.
makanya Intan slalu bilang. malas ribut. karna keluarga yang sesungguhnya adalah keluarga yang menjaga dan mendidik.
apalagi ada anak. tapi aku salah. aku salah menilai Intan.
aku pikir Intan udah gak sayang padaku. Intan tidak memperdulikan aku. sehingga Intan gak pernah mau mengeluh apapun kalau tentang anak.
sedangkan aku. sedikit kekurangan Intan. aku mengadu Pada Naya.
Naya!!! lagi lagi Naya.
aku muak, aku jijik dan menyesal dengan semua ini.
"Papa kenapa nanggis?"
"Gapapa sayang."
"Papa dan Mama berantam ya?"
"ngak kok."
"Papa Mama itu baik banget. Mama ngak pernah marahin Putri."
"Iya sayang Mama mu baik banget."
"apa Mama marahin Papa. Papa sabar yaa kalau Mama marah itu karna Mama sayang sama kita berdua Pa."
"Iya kamu benar sayang." sambil memeluk Putri
"Terus Papa kenapa nanggis?"
"Maafin Papa ya Nak. selama ini Papa gak ada waktu untuk Putri."
"Iya Pa, gapapa kok. kata Mama Papa itu sibuk kerja, suatu saat pasti Papa punya waktu untuk Putri. ternyata Mama benar. sekarang Papa udah ada disini temani Putri."
"iya sayang."
"Papa jangan tinggalkan Putri dan Mama lagi ya. kasihan Mama nungguin Papa sampai gak tidur padahal besok Paginya Mama harus antar Putri sekolah dan kerja."
"Iya sayang. Papa akan selalu ada disini. dan kita akan punya waktu selamanya. Papa akan temani Putri pergi sekolah dan pulang sekolah begitu juga main main bareng Papa. seperti yang Putri inginkan dari Papa Nak."
aku memeluk Putri....
__ADS_1