SAKURA

SAKURA
[SKR ~°Chapter 11]


__ADS_3

Pukul sembilan pagi Rindu sudah rapi dengan pakaiannya, pukul tujuh setelah ia sarapan, ia sudah mendapatkan e-mail dari temannya yang sedang berada di Barcellona tersebut telah berhasil melakukan apa yang ia pinta.


dengan senyum mengembang ia menuruni anak tangga dengan sebuah tas kerja di genggaman nya. sedangkan di lengan kirinya tersampir sebuah Jas bewarna coklat. dengan ponsel di genggamannya.


"kau ingin kemana?" Rindu menoleh menatap Asuka yang masih tampak bermalas malasan di Sofa.


"kau tidak bekerja?" tanya Rindu mengambil kunci mobilnya.


"tidak! lagi pula Produser menyuruhku untuk istirahat sebentar sampai masalah presedir J.RND COMPANY sedikit mereda." ujar Asuka membuat Rindu menangguk.


"kau ingin kemana rindu?" tanya nya sekali lagi. "aku akan menyelesaikan sedikit urusan, tenang saja ini tak terlalu bahaya!" ujarnya membuat Asuka mengerti.


"baiklah berhati hatilah" tukasnya yang di tanggapi Rindu dengan anggukan sebelum ia beranjak keluar.


20 menit ia membutuhkan waktu untuk menempuh ke kediaman tuan Hitto. ia sudah mempersiapkan semuanya, hanya tinggal sedikit kompromi dan bantuan dari tim intelegen ia akan segera menemukan pelakunya, ia yakin itu.


sudah 10 menit berlalu ia menunggu sang Dewan di ruang tengah namun tuan Hitto tak turun turun juga untuk menemuinya, hal itu mampu membuat nya curiga.


"pengacara!" panggil seseorang mmebuat Rindu menoleh.


"ayah menyuruh anda untuk langsung masuk saja keruang kerjanya, karena di rumah sedang ada kakak" bisik gadis yang sedang menundukkan kepalanya, dia Yuuna. Rindu kembali menggepalkan tangannya melihat gadis itu ia teringat dengan hal yang ia tonton kemarin.


"aku harus bisa menyembunyikan gadis ini, dari kedua kakak ya!" tukasnya di dalam hati sambil tersenyum ramah membalas perkataan gadis itu.


"Baiklah!"


Sesampainya di dalam ruang kerja Dewan Hitto ia melihat Dewan Hitto yang sibuk dengan beberapa berkas di genggamannya.


"permisi tuan!" ucapnya membuat Tuan Hitto mendongak.


"ah.. pengacara Rin ayo silahkan masuk dan duduklah" ujar Tuan Hitto membuat Rindu tersenyum manis.


"apa ada hal baru yang anda dapat tuan?" tanya Rindu sambil mengeluarkan sebuah I-Pad.


"ya! saya menemukan barang barang yang sangat penting!kemarilah nona" Rindu pun beranjak mendekat.


"ini adalah sebuah Dana kerugian yang terjadi di keuangan pemerintahan, serta 2 Dewan korban pembunuhan tahun ini. aku juga sudah mempunya sidik jari milik 2 ininsial kemarin. serta yang terakhir korban yang sudah di otopsi, ternyata mati akibat sebuah gas beracun yang sengaja di rancang khusus, untuk merusak organ dalam" ujar Dewan Hitto membuat Rindu tak terkejut sama sekali. ia sudah mengetahui hal itu tadi pagi.

__ADS_1


"kapan itu terjadi?" tanyanya.


"24 Juli, tepat di hari jum'at" sahut Tuan Hitto membuat Rindu mengangguk.


"aku mendapat sebuah rekaman acak, entahlah tapi kemungkinan ini akan sangat berpenaruh besar bagi nama baik mu" ujar Rindu membuat Tuan Hitto mengernyit.


"apa maksudmu nona?" tanya nga pelan.


"kedua anakmu terbukti bersekongkol, tapi aku belum tahu pasti apa tujuan mereka" ujar nya mampu membuat Tuan Hitto terkejut.


"dari mana anda mendapat kan hal itu semua, dan dari mana anda tahu mereka bukan untuk menguasai pemerintahan"


"untuk anak mu aku sudah mendapatkan 2 bukti, untuk tujuan mereka, buktinya tak satupun dari dewan keuangan yang menjadi korban bukan? bukankah seharusnya mereka menjadi incaran pertama. aku tahu mereka mereka membobol keamanan Jepang hanya untuk mengecoh keamanan." jelas Rindu sambil menyerahkan Flasdish baru di hadpaan tuan Hitto.


"apa kau yakin?" tanya Tuan Hitto ragu.


"aku tak pernah lalai dalam pekerjaan ku tuan! jangan meremeh kan kami" ujarnya dengan tenang.


"kami? kau tidak sendiri disini?" tanya Tuan Hitto kaget.


"rekan ku banyak Tuan, jika aku memanggil mereka mungkin masion mu saja tak muat menampung, jadi jangan remehkan kemampuan ku dalam menggali informasi" ketus Rindu merasa kesal.


"istri ku..." lirihnya membuat Rindu menatapnya sendu, ia tahu apa yang sedang Tuan Hitto lihat.


"sial! anak anak bajingan aku akan membunuh keduanya"


"JANGAN!" pekik Rindu saat Hitto ingin melesat keluar.


"apa lagi nona, jangan menghalangiku, mereka terlalu kurang ajar hingga membunuh kedua istriku. bahkan ibu mereka sendiri" bentak Tuan Hitto membuat Rindu mendesah pelan.


"jangan terlalu gegabah! aku sudah memasangkan alat pengintai, cctv dan pelacak di sepatu sepatu yang sering ia pakai dan diruang kerjanya. kau tak perlu khawatir" ujar Rindu tenang tanpa peduli dengan wajah kaget tuan Hitto berikan.


"sejak kapan kau melakukan itu?" tanya tuan Hitto penasaran.


"sejak pertama kali aku memasuki rumah ini, dan yah ada seorang teman ku yang menyusup. akibat itu aku menanyakan lokasi ruang kerja anak mu. karena jika aku minta izin pun ku yakin kau tak akan memberikan Izin" ujar Rindu tenang.


"Tapi Nona! kalau begitu anda sama saja mengganggu privasi orang lain"tukas Hitto.

__ADS_1


"aku akan lakukan segala cara, jika sudah menyangkut tugasku. sudah lah jangan fikirkan itu, aku memiliki rencanaku sendiri" tuan Hitto pun hanya mampu berpasrah untuk mengikuti gadis kepala batu yang sudah duduk di sofa membaca beberapa kertas yang belum ia lihat


"baiklah, saya sangat berterimakasih anda sudah membantu saya." ujar Tuan Hitto membuat Rindu mengangguk singkat.


"saya hanya berusaha bersikap Profesional terhadap klien, walaupun saya tak menyukai kasus ini" ujarnya lirih


"mengapa anda tak ingin berada dikasus ini, apakah anda menyesal?" tanyanya. "aku tidak ingat kapan terkahir aku mendapat tugas seberat ini, tapi kasus kali ini sudah melenceng jauh dari kepribadianku, aku tak suka menyusut apabila harus berkenaan dengan nyawa."


"baiklah saya mengerti, saya harap Pengacara Lin akan segera mendapat kan bukti yang lebih kuat"


"baiklah terimakasih, bolehkah saya bertemu anak anda! yang laki laki" pinta Rindu membuat Tuan Hitto menatapnya tajam.


"untuk apa kau menemui Anak sialan sepertinya?" tanya Tuan Hitto dengan nafas yang menggebu gebu. "tenanglah tuan, aku hanya ingin bermain sedikit dengannya seperti nya tidak masalah" ujar Rindu memhuat Tuan Hitto akhirnya mengangguk.


Dengan di temani oleh asisten pribadi tuan Hitto mereka berjalan menuju ruang kerja milik Yui putra pertama tuan Hitto.


"Naobu! apa masih jauh?" tanya nya merasa ia tak berhenti hentinya berjalan kecuali menaiki lift. perutnya jadi lapar sekali.


"hampir sampai nona!" sahut Naobu asisten tuan Hitto dengan ramah.


benar yang ia katakan tak sampai semenit setelah mereka berbincang, ia sampai di sebuah pintu besar bercat hitam.


tok tok tok...


ceklek


tampak Yui keluar dari ruangan itu dengan wajah dinginnya, dan ia tampak kaget saat melihat keberadaan Rindu di belakang Naobu. "ah, Pengacara Rin..." ia langsung melakukan Bow membuat Rindu juga reflek melakukannya.


"ah.. pengacara ada apa ya?" tanya nya sambil menatap Rindu dan Naobu secara bergantian, sedangkan Naobu hanya diam dengan wajah datarnya.


"apa tuan sibuk? bisakah kita berbicara?" tanya Rindu dengan senyum manis. "ah, tentu saja mari masuk nona" ujarnya membuat Rindu mengangguk.


"Nona? apakah perlu saya menunggu?" tanya Naobu membuat Rindu menatapnya. "tak usah! pegilah kembali nanti akan aku hubungi tuanmu jika aku akan pulang" tukasnya lembut, Naobu pun meninggalkannya setelah melakukan bow kepadanya.


"mari nona"


"ah terimakasih.."

__ADS_1


...#######...


__ADS_2