
Sudah setengah jam lebih Alisa datang dan menunggu Syalwa di perpustakaan kota, awalnya dia mencoba membaca sebuah buku untuk membuang bosan, sampai dia tertidur karna saking lamanya menunggu Syalwa namun sampai sekarang batang temanya itu tak terlihat.
"Aduh."
Kepala Alisa terjatuh ke meja, karna seseorang menarik buku yang dijadikanya tumpuan.
"Eh, maaf." Ucap orang itu lalu langsung mengusap kepala Alisa, saat Alisa melihat orang itu dia kaget, gugup dan malu seketika.
Alisa menjauhkan kepala, supaya tak diusap lagi, "Ka..., ka Daffa?" Ucapnya salting.
"Hehe iya, maaf ya Alisa." Ucap Daffa merasa bersalah, "saya boleh duduk disini?" Dia menunjuk Kursi di depanku, aku pun mengangguk.
"Ko ngeiyain sih ca!" Alisa bergelut dengan hatinya sendiri.
"Masih sakit gak kepalanya?" Tangan daffa terulur kembali ke kepala Alisa, tapi dengan secepat kilat Alisa menjauhkannya.
"Gak sakit." Jawab Alisa cepat, karna dia masih salting.
Mereka berdua diam untuk beberapa saat tanpa melihat satu sama lain.
1
2
3
Melihat ke arah Alisa.
"Itu, di rambut kamu ada daun." Daffa membuka pembicaraan.
"Ah?" Alisa meraba-raba rambutnya dan mendapatkan sebuah daun kecil yang kering dan Daffa tersenyum kepadanya.
"Makanya jangan salting duluan, geer banget!" Hati Alisa kembali bersuara.
__ADS_1
"Kamu kok tidur di perpustakaan sih?" Tanya Daffa sambil tersenyum jahil.
Alisa melihat Daffa, "kelamaan nunggu orang kak."
"Siapa?"
"Temen, itu si Syalwa."
"Oh perempuan, kira laki-laki."
Mendengar jawaban dari Daffa, membuat Alisa linglung seketika, apa maksudnya itu?
"Apa kak?"
Daffa seperti tersadar, "Bukan apa-apa kok." Jawab Daffa santai lalu tersenyum dan dibalas oleh Alisa.
Dan mereka menjadi terdiam kembali.
1
2
3
"Hmmm, boleh."
"Aku kok gak liat kak Daffa, satu minggu terakhir dikampus?"
Daffa terlihat seperti memikirkan sesuatu, "Saya ada lomba di kampus lain." Jawab ka Daffa dan aku ber oh.
"Kenapa tanyain itu?" Tanya Daffa, senyum jahilnya kembali tercipta, "Kangen ya?" Tambahnya, membuat Alisa salting sendiri karna dia bingung mau menjawab apa, masa bilang iya aku kangen? Atau Galau karna kakak?
Alisa menggeleng dengan cepat membuang pikirannya itu.
"Gak tau, mau tanya aja." Jawab Alisa tersenyum canggung, membuat Daffa menggeleng kecil sambil tersenyum.
__ADS_1
Drttt... Drrrtt
Handphone kak Daffa bergetar.
"Saya angkat dulu." Daffa bediri, lalu pergi ke pojok perpustakaan.
Dari kejauhan Alisa melihat Daffa yang sedang ber telponan entah dengan siapa itu, pastinya jiwa kepo Alisa bertanya-tanya, Daffa terlihat tersenyum lepas saat itu, sungguh manis, Alisa hanyut dengan senyum itu.
"Eh!" Alisa langsung mengalihkan pandangannya dan mengambil buku lalu berpura-pura membacanya, saat Daffa melihat ke arahnya.
"Alisa." Panggil Daffa yang sudah berada di samping Alisa.
Alisa mendongak untuk melihat Daffa, "iya kak?"
"Bisa bantu saya gak?"
"Bantu apa?" Tanya Alisa bingung.
"Mama saya ada didepan perpustakaan, temuin dia ya?"
Mendengar itu mata Alisa langsung tercengang, "A..., apa maksudnya nemuin mama kakak?" Jujur Alisa sangat tak percaya dan kaget mendengar itu.
"Aduh, langsung diajak nemu mama mertua." Hatiku langsung bersabda.
"Nanti saya jelasin, kamu bantu saya dulu yah?" Pinta Daffa dengan wajah memelas.
Aduh lucunya...
"Iya deh."
Daffa tersenyum, "ayo." Dia mengulurkan tanganya kepada Alisa.
"Apa nih?" Tanyaku melihat bingung kepada tangan putih mulus ka Daffa.
Daffa tiba-tiba memegang tangan Alisa, "Keluar dulu, nanti saya jelasin." Dia menggiring Alisa, keluar dari perpustakaan sambil berpegang tangan.
__ADS_1
Kami berdua berhenti di depan perpustakaan, seorang wanita paruh baya yang terlihat seumuran dengan mama Alisa dan style pakaiannya yang tak ketinggalan zamannya, berdiri di depan kami.
"Halo anak mami." Ucapa orang itu sambil tersenyum manis kepada kami, tidak hanya kepada Daffa.