SAKURA

SAKURA
BadBoy Kampus


__ADS_3


Di perpustakaan kampus, Alisa, Octavia dan Syalwa sedang membaca buku bersama sambil berbincang-bincang kecil, Alisa menceritakan tentang Daffa yang meminta nomornya.


"Jadi, setelah ka daffa meminta nomormu, apa kau memberikanya?" Tanya Octavia dengan antusias dan di anggukki oleh Alisa.


"Wah, jadi setelah memberi nomor, apa ka daffa langsung menchat kepadamu di whatsapp?" Tambah Syalwa tak kalah antusias keponya.


Tapi kali ini beda bukan anggukan yang terlihat, namun Alisa terlihat tak semangat lalu dia menggeleng pelan.


"Pesan aku saja di instagram belum di baca." Ucap Alisa lemah.


Mendengar itu bukannya merasa kasihan dan iba, dua teman Alisa itu malah terkekeh.


Octavia menutup bukunya dan berhenti tertawa, dia melihat ke arah Alisa, "berarti ka daffa hanya iseng meminta nomormu." Ucapnya jahil dan wajah Alisa makin tak bersemangat.


"Tidak kok, kami bercanda." Timpal Syalwa, dia memegang tangan Alisa, "aku sih berpikir, ka daffa menyukaimu." Tambahnya, yang membuat Alisa ingat kejadian semalaman, saat ka Daffa menyatakan perasaan kepadanya.


Mendengar itu, Octavia menyenggol bahu Syalwa, "Hei awa, dari mana kau menyimpulkan ka daffa suka Alisa, Apa kau lupa ka daffa bilang, dia tak kenal Alisa." jelas Octavia yang membuat Alisa menunduk sedih.


Apa Alisa harus menceritakan kejadian semalaman kepada teman-teman nya ini, tentang nge-date dadakan dengan ka daffa?


Alisa menghela napasnya pelan, "lupain, lupain, ayo baca lagi bukunya, banyakin refrensi buat makalah dulu." Ucapnya dan baru setelah seperti ini teman-teman nya merasa iba.


Tapi mereka berdua memelih diam, dan melanjutkan membaca buku dengan serius.


Seseorang perempuan baru masuk ke dalam perpustakaan, dia orang yang Alisa tolong saat terjatuh itu, Syalwa yang melihat langsung menyentil tangan Alisa.


"Ca, lihat tuh temen cewe ka Daffa semalam." Ucap Syalwa, sambil mengarahkan dagunya ke arah cewe itu dan Alisa melihat ke arah yang di tunjuk Syalwa.

__ADS_1


"Iya, ternyata cantik yah." Sahut Syalwa saat melihat perempuan itu.


Octavia terkekeh, "baru sadar ya ca,  dia cantik, pake banget lagi." Dia menatap Alisa, "namanya Luna." Tambahnya, Mendengar itu Alisa dan Syalwa ber oh ria.


Tiba-tiba seorang lelaki yang tak kalah tampan dengan Daffa datang menghampiri Luna, tapi aura lelaki itu berbanding terbalik dengan Daffa, aura badboy terlihat dari kejauhan.


Tiga orang ini, memperhatikan dengan seksama ke arah Luna dan lelaki itu, mereka melihat lelaki itu menganggu Luna yang sedang membaca buku, tapi anehnya Luna seperti tidak menghiraukan sama sekali, dia hanya sesekali melihat ke arah lelaki itu.


Lelaki itu diam, dia duduk kursi yang berhadapan dengan Luna, dia menangkup dagunya dengan kedua tangan di atas meja, dan Menatap ke arah Luna, sambil tersenyum kecil dan yang membuat tiga sekawan itu kaget, saat Luna membahas senyuman itu.


Tiga sekawan itu langsung membuang pandangan sembarangan, saat lelaki itu melihat ke arah mereka dengan tatapan tajamnya.


Alisa mengambil buku dan pura-pura membacanya, "Kalian kepo sih." Ucapnya.


"Yaelah, kau juga." Timpal Octavia yang juga langsung pura-pura membaca buku dan diikuti oleh Syalwa.


Lelaki itu sudah berdiri di samping meja mereka dan menggebrak meja, membuat tiga sekawan itu terkejut dan takut dan melihat ke arah lelaki itu.


Lelaki itu tersenyum menyeringai, kembali menggebrak meja, membuat mereka bertambah takut, "Maba ga ada akhalq, kepo banget sih hidup kalian." Ucapnya kepada tiga sekawan, yang hanya tertunduk.


Luna berdiri di samping lelaki itu, dia memegang tangannya.


"Al udah lah, mereka cuma liat aja kok, banyak juga yang liat selain mereka," Luna melihat kepada Alisa, "eh, kamu, yang semalam nolong aku kan?" Tambah Luna, Alisa mendongak dan melihat kepada Luna, lalu mengangguk.


"Iya kak." Sahut Alisa.


"Dia semalam nolong aku al." Ucap luna.


Lelaki itu, memutar bola matanya malas, "bodo amat. biasain deh, jangan liat-liat orang begitu, gak sopan banget." Ucapnya tegas.

__ADS_1


Mendengar itu tiga sekawan mengangguk, "kami minta maaf kak," Ucap mereka bersamaan.


"Minta maaf buat apa?" Timpal seseorang dari belakang Alisa, dan Alisa langsung membalikkan badanya, melihat kepada pemilik suara yang tak asing, itu... milik ka Daffa.


Daffa tersenyum, lalu duduk di kursi kosong samping Alisa.


Daffa melihat wajah mereka berlima satu persatu, "kenapa diam?" Tanyanya sambil tersenyum canggung, karna bingung saat dia datang semua langsung diam.


Lelaki itu, melihat Daffa.


"Lo kan pembimbing kelompok maba, nih mereka bertiga gak ada sopan santun." Ucap lelaki si badboy.


Luna mencubit lengan lelaki itu, membuat dia mengaduh, "daffa, kita permisi dulu ya, dan buat kalian maafin dia ya." Luna menarik lelaki itu pergi, "ayo, gak usah marah-marah gajelas." Tambahnya, mereka berjalan kembali ke tempat duduk awalnya.


Daffa melihat ke arah tiga sekawan yang masih agak takut.


"Jangan ada urusan sama Al." Ucapnya yang membuat tiga sekawan itu, serentak melihatnya.


Daffa jadi canggung, apalagi saat melihat Alisa, dia langsung membuang tatapannya, begitu pun sebaliknya.


"Bukanya dia jahat, tapi dia tempramental, gampang marah." Jelas Daffa, dia melihat ke arah Luna dan lelaki itu, Alvin.


"Oh, kak, kata Alisa kenapa gak baca pesannya di instagram." Ucap Octavia tanpa rasa ragu, yang membuat Alisa dan Daffa semakin canggung.


Daffa, melihat ke arah Alisa, "saya gak buka handphone lagi malam tadi, maaf." Daffa tersenyum kepada Alisa sedangkan Alisa hanya diam, karna tak tau harus berkata apa, tapi sekarang dipikirkan Alisa adalah menghukum teman embernya ini, Octavia.


"Apa Alisa juga cerita tentang, saya yang bilang suka sama dia?" Ucap daffa tanpa pikir panjang, yang membuat Alisa terbatuk batuk, dan dua temannya terkejut bukan main.


Mana lubang, mana lubang, Alisa mau mengubur dirinya, kenapa daffa terlalu terang-terangan, astaga harus apa dia.

__ADS_1


__ADS_2