SAKURA

SAKURA
Nge-date Dadakan


__ADS_3

Kami berdua berhenti di depan perpustakaan, seorang wanita paruh baya yang terlihat seumuran dengan mama Alisa dan style pakaiannya yang tak ketinggalan zamannya, berdiri di depan kami, ya dia adalah mamanya Daffa.


"Halo anak mama." Ucap orang itu manja, sambil tersenyum manis kepada kami, tidak hanya kepada Daffa.


"Mahhh, harus banget gitu datang?" Tanya Daffa datar.


"Iya, mama kangen kamu, haruslah ketemu." Pandangan mata mama Daffa berpindah ke Alisa, "wahhh, cantik banget pacar kamu."


Mama Daffa mendekat ke Alisa dan langsung melepaskan pegangan tangan Daffa dari Alisa. "Jadi ini yang kamu maksud tadi, diliat lebih dekat tambah cantik." Sekarang mama Daffa memegang tangan Alisa, "Siapa namamu cantik?"


Tambahnya yang membuat Alisa bingung mau menjawab apa.


"Aku? Pacar ka Daffa? Ayolah jan bikin aku terbang, kak jawab apa nih? Nama palsu?" Ucap Alisa dalam hati.


"Namanya Alisa." Jawab Daffa.


Saat Daffa menyebut nama Alisa, mama Daffa langsung terbatuk-batuk.


"Kenapa mah?" Tanya Daffa panik.


"Ukhuk, ngak apa kok." Ucap mama Daffa sambil tersenyum canggung,


"Coba nama panjangnya?" Tanya mama Daffa sekali lagi.


Daffa menyenggol Alisa


"Alisa Yovanca, tante." Jawab Alisa cepat yang membuat mama Daffa terbatuk lagi.


Daffa reflek mengelus lembut punggung mamanya, "mamah sakit nih."


"Nga, ngak, cuma haus mama, tenggorokan kering." Ucap Mama Daffa canggung, lalu dia menghela napasnya lembut, "kita makan sama minum dulu yuk." Tambahnya.


"Anu tante, aku- "


Daffa tiba-tiba menggenggam tangan Alisa, dan memotong ucapan Alisa "Ayo sayang, gak usah malu." Daffa tersenyum sepat kepada Alisa.


Alisa menatap Daffa seperti mengisyaratkan, "apa ini?"


"Iya kamu gak usah malu, temenin tante sekalian, supaya kita bisa lebih." Timpal mama Daffa.


Daffa sedikit mempererat genggaman tanganya, alisa melihatnya sekilas lalu mengangguk. "Oke tante, mau makan dimana?"


"Di dekat sini, kita jalan kaki aja."


"Di sebelah sana ada restoran mah."

__ADS_1


Ucap Daffa sambil menunjuk salah satu bangunan yang tak jauh dari perpustakaan, restoran cepat saji.


"Oke sayang oke, ayo."


Mama Daffa berjalan lebih dahulu meninggalkan Daffa dan Alisa yang masih diam ditempat.


"Ayo, ikutin mama." Ucap Daffa tanpa melihat ke Alisa.


"Hmmm, kak, tangan aku, boleh dilepasin." Pinta Alisa canggung.


"Bisa stroke aku, kalo digenggam terus sama kakak."


Daffa menghela napasnya, "Bantu saya ya, pas ada mama saya aja kok." Jelas Daffa yang masih tak melihat ke arah Alisa.


Alisa mendongak melihat kearah Daffa, "Oke."


"Kok nurut lagi sih Alisa!" Hati Alisa jadi  frustasi sendiri.


Mendengar jawaban itu, Daffa langsung melangkahkan kakinya dan diikuti oleh Alisa, mereka menyusul mama Daffa yang sudah cukup jauh.


Mama Daffa berhenti dan berpaling sebentar melihat ke arah Daffa dan Alisa, "Aduh kalian, cepet dikit jalanya, jangan terlalu menghayati pegangan tanganya." Ucapnya lalu kembali melangkah, terlihat sebuah senyuman kecil di wajahnya.


Sedangkan Daffa dan alisa hanya diam mendengar itu, rasanya mereka kedua kehabisan kata-kata.


•Alisa Yovanca Pov


"Ayo duduk." Ucap Ka Daffa lembut, lalu ia menarik sebuah kursi untukku duduk dan dia duduk di kursi sampingku.


Mama ka Daffa tersenyum melihat kami berdua, "Ih, manis banget kalian." Dia mengangkat salah satu tanganya, "pelayan." Tambahnya, tak berapa lama seorang pelayanan perempuan datang membawa tiga buku menu.


Kami memesan beberapa makanan dan minuman lalu pelayan itu pergi.


"Seharusnya jangan kesini, nanti mama gemuk." Rengek mama Daffa.


"Sekali-kali mah." Sahut Daffa.


"Gak terlalu sehat juga makan-makanan cepat saji lo." Mama Daffa melihat ke arahku, "iya gak Alisa?"


Tambahnya, reflek aku langsung mengangguk.


"Tuh pacar kamu aja bilang iya."


"Permisi, maaf mengganggu."


Ucap pelayan itu ramah dan dia membawa satu tampan penuh pesanan tadi, dia meletakannya satu persatu, "Selamat menikmati makannya." Tambahnya, lalu langsung pergi.

__ADS_1


"Selamat makan." Ucap mama Daffa, lalu dia langsung melahap makanannya diiringi oleh kami berdua


Aku melihatnya, dia sama seperti mamaku makan dengan anggun dan sopan, sudah pasti ka Daffa berasal dari keluarga yang terdidik dan terpandang, tapi mama ka Daffa sangat perhatian padanya.


"Nama tante siapa?" Reflek pertanyaan itu keluar dari mulutku.


Eh?! Aku langsung menutup mulutku sendiri dengan sebelah tangan, setelah sadar apa yang aku tanyakan.


Daffa dan mama nya langsung melihat kepadaku, "Daffa belum beritahu kamu ya?" Tanya mama Daffa.


Aku hanya memandang canggung kepada ka Daffa.


"Iya, belum mah, kami baru jadian beberapa hari." Jawab ka Daffa santai.


"Ohh, yaudah, perkenlin nama tante Maya Shofia, panggil aja tante may, panggil mama juga gak papa, pokonya yang bikin kamu nyaman." Ucapnya panjang lebar.


"Iya tante may." Jawabku lalu tersenyum kecil.


"Panggil mama aja enak, sayang." Timpal Daffa lalu diriingi tawa kecil darinya dan mama may, eh tante may.


"Oy ka Daffa, jan begitu, merah nih pipiku." Ucapku dalam hati dan memberinya tatapan tajam sekilas.


Lalu kami semua melanjutkan makan.


Drtttt... Drrrttt... Dering handphone terdengar dari dalam saku celana tante may.


"Mama angkat telpon dulu." Ucapnya, dia tidak berpindah tempat saat mengangkat telpon itu.


"Halo, ada apa sih?" Ucap tante may.


"..." Pembicaraan orang dari Seberang sana tidak sampai terdengar kepadaku.


"Aku juga gak percaya lo mereka udah ketemu, kamu lihat dimana?"


"... "


"Aku gak ada bilang kok, sumpah."


"... "


"Iya, aku segera kesana, aku ceritain pas ketemu." Sahut Tante may, lalu dia meneguk beberapa kali minuman yang dia pesan tadi dan dia berdiri, "Mama pergi dulu ya, jaga pacar kamu dan bayar semua pesananya sayang." Tambahnya lalu langsung berlalu pergi meninggalkan aku dan ka Daffa.


Dan setelah memandang punggung tante may yang semakin menjauh, aku berpindah melihat ke arah ka Daffa dan ternyata dia juga melihat ke arahku.


Blushing...

__ADS_1


"Mata ka Daffa adem banget, rasanya ga mau lepasin pandangan ini."


__ADS_2