
Senyuman Daffa perlahan hilang bersamaan dengan kaca mobil yang mulai naik tertutup hingga sempurna, lalu dia melajukan mobilnya meninggalkan Alisa yang masih terdiam di tempat.
Alisa memegang dadanya yang terasa aneh, ada rasa nyeri seakan hatinya diremas dan juga ada nyaman dalam waktu bersamaan, "Perasaan apa ini?" Alisa bertanya pada dirinya sendiri.
_________________________________________________________________________
"Selamat sore non Alisa." Sapa satpam yang menjaga gerbang Komplek saat Alisa masuk.
Alisa melihat dan tersenyum sebentar kepadanya, "Sore paman." Jawabnya lesu dan terus berlalu masuk.
Saat melewati jalan komplek, Alisa hanya tertunduk bingung, dia sedang memikirkan hal yang mengganjal di hatinya, satu sisi orang yang dia sukai suka kepadanya, namun disisi lain ka daffa bilang suka tapi dia kan punya tunangan, gimana kalo tunangannya jahat sama di film-film atau di novel? Dan dia bakal di celakain sama tunangan Daffa, karna ngerebut Daffa, Alisa bergidik ngeri sendiri.
Buk!
"Aduh... "
Sebuah bola mendarat dengan tepat di kepala Alisa.
Seseorang berlari ke arah Alisa. "Maaf Alisa."
Alisa dengan cepat melihat ke arah sumber suara, "Ka Devan?"
Laki-laki itu ternyata Devan, tetangga Alisa, rumah mereka bersebrangan.
__ADS_1
Devan mengambil bolanya, lalu melihat Alisa dengan raut wajah khawatir, "ngak apa-apa kan? Kepalanya sakit gak?" Dia mengelilingi aku sambil melihat ke kepalaku.
"Gak apa kak, ga kuat kok bolanya nyantol kepalaku." Aku terkekeh kecil.
Devan berhenti lalu juga terkekeh kecil, dia tiba-tiba mendekatkan bola ke telingaku, "kamu denger ga dia bicara." Ucapnya dengan sumringah.
"Ngak, dia gak bicara, mana bisa bola bicara." Jawabku apa adanya.
Kak Devan tersenyum lebar, "dia bicara kok."
"Jangan ngadi-ngadi kak." Aku memamyukan bibirku sambil berkacak pinggang.
"Serius, dia bilang, dia tadi nyerang orang yang jalannya sambil ngelamun, kamu." Setelah mengucapkan itu Devan tertawa dengan kencang.
"Sini mana bolanya, aku mau pecahin."
Devan menjauhkan bolanya, "bola aku masa mau di pecahin."
"Biar! Dia sengaja nyantol kepalaku tadi."
"Kan, katanya ga sakit." Devan tersenyum jahil kepadaku, aku hanya membuang wajahku dengan angkuh.
"Makanya jangan ngelamun." Ucap Devan lalu dia terkekeh.
"Kak Alisa." Seseorang memanggilku dari belakang suaranya tak asing, ini adalah suara orang yang.... kubenci, aku pun berpaling untuk melihat kepadanya, Devan juga melihat ke asal suara itu.
__ADS_1
Aku melihat dirinya dengan angkuh, "Apa?" Ucapku sinis padanya, tak lain adalah Gabriella, anak dari tanteku, dia adalah orang yang paling menyebalkan bagiku, bukan hanya menyebalkan tapi...
Sudahlah tunggu kalian akan lihat sendiri.
"Kak alisa, aku udah lama nunggu di rumah, ayo kak masuk." Dia memegang tanganku dengan cepat aku langsung melepasnya.
"Masuk aja duluan."
"Ngak mau Ella, mau sama kakak." Rengeknya manja.
"Cih, dasar." Alisa berdecih kesal, lalu langsung berlalu hendak masuk kerumah tanpa menghiraukan Ella, "Kak Devan aku masuk duluan." Tambahnya.
"Iya ca."
"Kak." Tiba-tiba Gabriella ada di samping Devan, dia memegang tangan Devan.
Devan kaget reflek menarik tanganya menjauh. "Apa?" Wajah Devan tiba-tiba berubah dingin.
"Jangan dekat-dekat ka Alisa, dia itu aneh."
"Oh, masa, tapi kamu kayaknya aneh lagi, umur sudah 17 tahun tapi kelakuan masih kayak bocah 10 tahun, sok polos." Ucap Devan di menekan kata sok polos, lalu melangkah pergi menuju rumahnya meninggalkan Ella yang masih diam di tempat, wajah Ella merah padam, dia terlihat kesal dengan ucapan Devan.
Devan berhenti di depan pintu rumahnya, "Suka mepet laki-laki lagi, lebih parahnya punya sepupu sendiri." Teriak Devan yang semakin membuat Ella kesal.
"Awas kalian!" Tangan Ella terlihat mengepal.
__ADS_1