
Semua orang yang berada di meja tersebut tampak kaget dan langsung menoleh ke arah Jordan yang baru saja menyemburkan air yang sedang di minumnya setelah mendengar perkataan Haru.
"Ada apa boss?" ledek Kitaro yang tampak melihat wajah Jordan yang Jelous.
"berikan aku tissu!" pinta Jordan dengan nada memerintahnya, sambil matanya menatap tajam ke arah Kitaro yang sedang menatap nya dengan pandangan yang menyebalkan.
"haish... jangan memandang ku begitu pak boss" kekeh Kitaro saat melihat wajah kesal Jordan ke arahnya.
"kau baik baik saja Jordan?" tanya Haru yang di jawab deheman singkat oleh Jordan yang masih dengan tenang membersihkan bibirnya.
"Dia sangat dingin! dan tampak arogan? namun, mengapa wajah nya tidak asing? " tanya Rindu dalam hatinya, menatap Jordan dengan lekat. Sambil meminum minumannya sebagai alibi.
"pria sedingin dan sekejam dia bagaimana bisa membebaskan Rindu saat malam itu? astaga ini benar benar tanda tanya besar bagaimana ini? apakah aku juga harus mencari tahu ada hubungan apa dia antara keduanya?" gumam Asuka dalam hatinya dengan kening berkerut.
"ada hubungan apa Jordan dan Rindu? mengapa sedari tadi mereka terus mencuri curi pandang" Lirih Yuuna sambil sesekali menyesap minumannya.
"Para tamu terhormat! kita kembali di pertemukan dengan acara besar dan istemewa ini. Namun sebelumnya mari tepuk tangan yang meriah atas keberhasilan dari Clarity Entertaiment" tepuk tangan langsung tersambut saat sang Mc berbicara lantang di atas panggung dengan sangat happynya.
"baiklah! hadirin semua. Inilah yang kita tunggu tunggu. Pemiliki Perusahaan bersama istri dan putrinya tercinta memasuki Altar." Semua orang tampak menyingkir melihat sebuah keluarga yang terlihat harmonis berjalan anggun di atas red Carpet dengan seorang gadis cantik di tengah tengahnya.
Namun banyak yang berbisik bisik tentang wajah yang di miliki gadis itu. Karena mereka semua merasa tak asing dengan wajah itu. Tampak familiar namun mereka bingung pernah melihat nya dimana.
"ini? apakah mata ku yang rabun atau memang halusinasiku merasa bahwa gadis disamping mu itu ada dua?" bisik Kitaro terhadap Haru yang sedari tadi memperhatikan wajah Rindu yang sedang sibuk dengan ponselnya bahkan tak memperdulikan siapa pemilik perusahaan ini.
Haru yang awalnya menatap ke arah Rindu kini beralih menatap ke atas panggung. Matanya terbelalak melihat seorang gadis berhijab sangat mirip dengan Rindu. Bahkan ia berulang kali mengucek matanya memastikan pandangannya tidak lah bermasalah.
"Rindu? apakah kau memiliki saudara kembar?" tanya Haru tanpa melepaskan tatapannya dari atas panggung.
__ADS_1
Semua nya tampak menoleh ke arah Haru yang baru saja berucap. Sedangkan Kitaro tampak bingung dengan apa yang ia lihat.
"maksudmu?" tanya Rindu bingung.
"lihatlah ke atas panggung"
Sontak mereka semua menatap ke arah panggung yang menampilkan 3 orang berbeda umur. Bahkan Jordan merasa kaget melihat itu. Ia berfikir sejak kapan Rindu memiliki kembaran.
Deg!
Perasaan sakit, sedih, dan Kecewa kembali menghujam perasaan Rindu. Ia merasa ada sesuatu yang menghimpit dadanya. Begitu sesak dan menyakitkan.
Itu Kasih! saudara kembarnya dan bersama... kedua orang tuanya. Miris sekali nasib nya bahkan kedua orang tuanya dengan bangga memperkenalkan Kasih sebagai putri mereka tanpa menganggapnya masih hidup ataupun tiada.
Mengapa kedua orang tuanya begitu tega. Apakah ia anak haram? tidak bukan? Jika ia anak haram bagaimana mungkin ia memiliki wajah yang sama dengan adik kembarnya Kasih.
Ia mencengkram erat tas selempang yang berada di pangkuannya. Nafasnya terasa sesak. Begiu juga dengan cairan bening yang menumpuk di matanya, yang sedari tadi ia tahan agar ia tak menangis disana.
"Rin!" panggilnya pelan smabil menyentuh paha Rindu.
sadar akan lamunannya. Ia langsung menatap Asuka yang sedang menatapnya khawatir.
"Asuka! aku akan ketoilet sebentar permisi" ia langsung memperbaiki tas selempangnya dan bangkit dari sana meninggalkan tanda tanya besar kepada orang orang yang masih terlihat bingung.
Sedangkan Asuka tampak mematung melihat wajah sedih Rindu yang tampak di tegarkan. Perlahan namun pasti ia menggepalkan tangannya menatap 3 orang yang tersenyum bahagia di atas Altar.
Ia yakin salah satu di antara mereka pernah menyakiti Rindu. Bahkan bisa jadi ketiganya.
__ADS_1
"hey, kau! apakah kau tau ada hubungan apa antara gadis di panggung dengan temanmu?" tanya Kitaro kepada Asuka yang tampak menegak minumannya hingga tandas.
"aku tidak tahu" sahutnya dengan dingin. Ia ingin menyusul Rindu. Namun ia tahu Rindu membuatuhkan waktu sendiri. Terlebih mana mungkin ia meninggalkan Yuuna sendirian disini. Apalagi membawanya ikut bersamanya.
Yuuna tampak memandang Asuka dengan tanda tanya "ada kisah Rumit di balik kehidupan Rindu" gumamnya dalam hati.
Tanpa mereka semua sadari. Sedari tadi Jordan terus menatap keluarga di agas Altar dengan Asuka secara bergantian dengan tatapan intimidasinya. ia merasa ada sesuatu yang di sembunyikan Asuka tetang Rindu, dan ia yakin itu hal yang besar.
"apakah yang diatas sana, adalah keluarga Rindu yang pernah ia ceritakan dulu?"
"yah, dia pernah berkata! bahwa keluarganya telah pergi meninggalkan nya dan hanya membawa saudaranya. ia merindukan mereka namun... mereka belum pernah kembali... jangan jangan... sial aku harus mencari tau semua ini" gumam Jordan dengan tatapan amarah yang ia layangkan kepada keluarga yang berada di atas panggung. Jika tebakan nya benar, maka siap siap saja ia akan menghancurkan keluaraga itu dengan sekejab.
Di dalam Toilet wanita, Tampak Rindu berdiri di depan cermin toilet dengan air mata yang berjatuhan di wajah datarnya. tak ada isakan, tak akan tangisan pilu. Hanya sebuah senyum kecil berjuta makna tersungging di sudut bibirnya.
"pernah kah bunda dan ayah memikirkan Rindu?"
"Tcih! gak usah mimpi lo Rindu. Jika mereka mikirin elo, gak mungkin lo harus berjuang hidup kayak gini. Lo udah berjanji dengan diri lo sendiri Rin, bahwa mereka bukanlah orang tua lo. Orang tua macam apa yang menelantarkan anak nya sendiri di umur 7 tahun dan tanpa di beri biaya sedikit pun"
"miris banget sih hidup lo Rin! hah Tuhann... tegarkan hati ini. Berikan malam ini aku kesabaran melihat kebahagian mereka tanpa adanya diriku sebagai pelengkap" gumamnya dengan suata bergetar.
Hidupnya bisa dikatakan tak penah bahagia. Bahkan dari ia mulai mengerti ayah dan ibu, kedua orang tuanya tak pernah memperhatikan lebih, bahkan saat ia masih berumur 5 tahun. kedua orang tuanya sudah berpilih kasih.
Bagaimana ia bisa mengatakan itu. Semua hal itu terbukti, saat ia tidur, makan, dan mandi hanya baby sister yang menjaganya. Sedangkan Kasih? mereka langsung merawatnya sendiri. Ia sadar bahwa kasih membutuhkan perhatian lebih karena penyakit yang ia derita.
Namun, ia juga butuh kasih sayang bukan? siapa anak yang tak ingin kasih sayang dari kedua orang tuanya. siapa anak yang tak iri diperlakukan seperti itu? Kedua orang tuanya memang tak pernah memarahi dan membentak nya jika tidak menyangkut tentang Kasih. namun mereka terkesan cuek. Bahkan saat jalan jalan pun kedua nya kompak menggandeng Kasih sedangkan dirinya dibiarkan di gandeng oleh sang baby sister.
Keadaan nya yang saat itu masih sangat polos. Membuat nya tetap tertawa dan terus berusaha dekat dengan adik kembarnya Kasih. Namun adiknya selalu menangis saat ia dekati dan berakhir ia di marahi oleh kedua orang tuanya. Menyedihkan bukan....
__ADS_1
"Rin... lo harus sadar diri" gumamnya menguatkan diri sambil mengahapus jejak air mata yang membasahi pipi putihnya.
...#######...