SAMPAI NAFAS TERAKHIR

SAMPAI NAFAS TERAKHIR
MENEBUS KARMA


__ADS_3

“Bian! Kumohon bantu aku. Ibuku sakit parah, jika tidak segera melakukan operasi, nyawanya akan terancam. Bian, bisakah kamu membantuku kali ini saja?”


Sabian Gumilang, biasa dipanggil dengan Bian, seorang pria yang saat ini tinggal di Villa Yaris. Saat ini pintu depan villa tertutup rapat, tampaknya tidak ada satupun orang di dalam sana.


Narami Tanjung, wanita yang kerap dipanggil Nara ini tak henti-hentinya mengetuk pintu depan villa dan berteriak sekeras mungkin, memanggil nama Bian berulang-ulang.


Hujan turun sangat deras kali ini. Semilir angin dingin menerpa air hujan hingga membasahi pakaian Nara.


Badannya menggigil dan sesekali terbatuk, tapi usahanya untuk bertemu dengan Bian sangatlah keras.


“Bian, buka pintunya!”


Tak lama kemudian, sorot lampu mobil datang dari kejauhan. Mobil tersebut melaju dengan cepat menuju ke villa dan dengan sengaja menabrak genangan air.


Akibatnya, cipratannya memercik ke seluruh tubuh Nara yang saat itu sedang berdiri tepat di depan pintu villa.


Badan Nara semakin menyusut karena kedinginan. Wajahnya tampak pucat pasi. Dia memfokuskan pandangannya dan menoleh ke arah mobil.


Bian berpakaian rapi dengan mengenakan kemeja hitam dan bergegas turun dari mobil. Dia berdiri di bawah payung, lalu membuka pintu di sisi lain mobil.


Tampaknya, ada seorang wanita cantik yang duduk di sana. Bian terlihat memperlakukan wanita tersebut dengan baik.


Begitu wanita itu turun dari mobil, Bian langsung melingkarkan tangan di pinggangnya. Sebagian besar payung melindungi wanita itu dari hujan, sedangkan Bian bahkan seperti tidak peduli jika bahunya basah sekalipun.


Pemandangan ini sangat menusuk hati Nara.


“Bian.”


Pria itu tampaknya telah menyadari keberadaan Nara di sana. Matanya penuh dengan rasa hina dan enggan menatap wanita itu terlalu lama.


“Kupikir kamu tidak akan pulang,” kata Nara dengan badan yang masih menggigil.


Bian dan Nara baru saja menikah dalam tiga hari ini, tetapi mereka belum pulang ke villa setelah malam pernikahannya.


Nara menerima telepon dari pihak rumah sakit kemarin. Mereka mengatakan bahwa ibunya sedang sakit parah dan harus ditangani sesegera mungkin.


Setelah menerima kabar tersebut, Nara memutuskan untuk bergegas pagi ini, karena dia yakin bahwa Bian juga sudah pulang. Maka dari itu, dia memutuskan datang ke villa untuk menemuinya.


Tetapi, ternyata kenyataannya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan ….


Nara berdiri di tengah hujan lebat dan berkali-kali mengetuk pintu selama setengah jam, tetapi tidak ada satu pun orang yang membuka pintu. Lalu sekarang, di hadapannya terdapat pemandangan yang membuat hatinya hancur berkeping-keping.


Benar juga, setelah beberapa lama menunggu, Nara akhirnya bertemu dengan Bian. Tetapi, tepat di sebelah Bian berdiri dengan anggun wanita yang dulunya adalah seorang kakak bagi Nara. Namanya adalah Salsa.


Nara tertegun melihat Bian memeluk Salsa, tapi dia dengan cepat menyadarkan lamunannya dan menyampaikan maksud awalnya datang ke villa.


“Bian, ibuku sakit. Bolehkah aku meminjam uang padamu untuk biaya operasi ibu?”

__ADS_1


“Nara, aku tidak menyangka kamu masih punya malu untuk meminta uang padaku,” jawab Bian dengan maksud menyindir.


Empat tahun lalu, Bian mengalami kecelakaan lalu lintas dan menabrak seseorang. Akibatnya, dia ditetapkan sebagai tersangka dan dijatuhi hukuman penjara selama beberapa tahun.


Saat Nara mengetahui berita ini, dia pergi dengan pria bernama Wildan Kusnadi dan meninggalkan Bian begitu saja.


Setelah empat tahun berlalu, Bian akhirnya keluar dari penjara.


Saat itu, keluarga Tanjung jatuh dalam kebangkrutan. Sementara Bian berhasil mengambil alih bisnis keluarga Gumilang dan memutuskan untuk melamar Nara.


Benar saja, seperti yang diharapkannya, Nara menyetujui lamaran tersebut.


Yang membuat Bian bertanya-tanya sekarang adalah, apakah saat ini Nara sedang menebus karmanya?


Apakah Nara sedang ada di posisi Bian saat empat tahun lalu, seperti orang bodoh yang putus asa karena cinta?


Wajah Nara semakin pucat. Dia menatap Bian dengan tatapan kosong. Dia tahu Bian pasti sedang mempertanyakan tentang Wildan, tetapi antara dia dan Wildan sebenarnya tidak ada hubungan apa-apa.


Nara bahkan membuat kesepakatan dengan Wildan untuk melindungi Bian. Akan tetapi, sampai saat ini, Nara masih sulit untuk menjelaskan kebenaran aslinya. Jika tidak bertindak seperti itu, dia tidak akan bisa melindungi Bian.


Nara mencoba menguatkan diri, melawan segala rasa malu di wajahnya. Satu-satunya hal yang membuatnya kuat hanyalah ibunya yang masih terbaring di rumah sakit, menunggu uang untuk operasi.


“Aku tidak meminta uang padamu,aku hanya meminjam saja dan aku janji akan mengembalikannya nanti ….”


“Tutup mulutmu!” Bian tiba-tiba mencengkram leher Nara dan menatap wajahnya dengan getir.


Fido, adik laki-laki Bian, dulunya adalah pribadi yang ceria. Namun, semenjak kejadian saat itu, hidupnya berubah drastis.


Fido sangat mempercayai Nara, tetapi tanpa disangka Nara tega menghancurkan hidupnya hingga berantakan. Bahkan, mungkin sakit hati yang dirasakan Fido tidak akan terobati.


“Bukan begitu, aku tidak ....” Nara menelan ludah dan menghantikan kalimatnya sejenak.


Dia teirngat kenangan masa lalu kala itu. Ketika dia bekerja dengan Wildan, Fido datang untuk mencarinya, tetapi pada saat itu dia menolak untuk menemui Fido dan dengan tega mengacuhkan kehadirannya.


“Bian, aku tidak pernah berniat menyakitinya dan saat itu aku ....”


Saat itu Nara menderita kanker yang sudah dalam stadium lanjut. Dia ingin jujur pada Bian, tetapi akhirnya terpaksa menelan lagi kalimat terakhirnya.


Tatapan Bian semakin tajam. Kebencian yang dahsyat bahkan bisa terlihat jelas dari sorot matanya.


Salsa yang sedari diam, tiba-tiba menarik tangan Bian.


“Jangan seperti ini Bian, meskipun dia telah meninggalkanmu, tapi bagaimanapun juga kamu pernah .… Sudahlah, anggap saja dia masa lalumu dan biarkan dia pergi.”


Biarkan dia pergi? Begitu saja? Setelah semua yang dia lakukan?


Bagaimanapun, Bian masih berusaha untuk menahan diri dan mendengarkan apa yang dikatakan oleh Salsa. Dia melepas tangannya dari leher dan membanting Nara dengan kasar, sehingga membuat Nara jatuh tersungkur di genangan air hujan.

__ADS_1


Tenaga yang dikeluarkan Bian nyatanya cukup besar, yang secara tidak terduga membuat lutut Nara tergores kerikil dengan keras hingga terluka.


Nara mendongak penuh kesedihan. Saat itu juga dia melihat bibir Salsa baru saja melengkungkan senyum.


Pria yang dulu paling mencintainya, saat ini sedang memeluk pinggang Salsa dan menatapnya dengan acuh tak acuh. Sorot matanya penuh kekejaman, seolah-olah dia tega untuk membunuhnya saat ini juga.


Hati Nara sakit bukan main.


Sebelum akhirnya memutuskan pergi, Bian berkata dengan penuh ancaman, “Nara, jaga perilakumu dan jangan coba-coba cari masalah lagi denganku, atau aku akan menghancurkan keluarga Tanjung!”


Dinginnya hujan menerpa tubuh Nara. Kata-kata yang jatuh barusan menjadi peringatan baginya. Dia mengenal baik bagaimana Bian.


Ucapannya selalu dapat dipegang, seperti halnya kala itu, Bian pernah berkata padanya, bahwa dia akan mencintai dan memperlakukannya sebaik mungkin.


Sebelum masalah terkait kecelakaan yang menimpa Bian itu terjadi, dia sempat menjadikan Nara sebagai wanita paling bahagia di Kota Antapura.


Hampir semua orang di lingkungannya tahu bahwa cinta Bian pada Nara begitu besar.


Setelah masalah itu muncul, Bian bahkan tidak memikirkan dirinya sendiri, tetapi Nara-lah yang menjadi fokus utamanya saat itu.


Dia tidak ingin ada hal-hal buruk yang menimpa Nara dan membuat wanita yang dicintainya ini terseret dalam kesengsaraan.


“Jangan takut, aku akan baik-baik saja.” Bian dengan penuh kasih sayang menghapus air mata Nara saat itu dan berkata dengan lembut.


“Aku sudah pernah bilang bahwa aku akan melindungimu selama sisa hidupku dan aku sungguh aku akan melakukannya. Jadi, jangan khawatirkan aku, mengerti?”


Namun sayangnya, Nara nyatanya tidak punya pilihan selain menyakitinya.


Nara tahu persis, Bian pasti akan membencinya. Padahal, hal pertama yang ingin Bian lakukan setelah dia dibebaskan dari penjara adalah melamar Nara.


Mungkin saat ini Bian sudah tidak bisa lagi mempercayai Nara, tetapi Nara benar-benar mencintainya dengan tulus. Itulah sebabnya dia melakukan kesepakatan dengan Wildan demi Bian.


Bahkan Nara sudah berjanji pada Bian, dia akan mengenakan gaun pengantin yang indah dan berjanji untuk menikah dengannya.


Siapa sangka kesalahpahaman di antara mereka jauh melebihi ekspektasinya. Sekarang di dalam hati Bian tidak ada perasaan yang lain, selain membenci Nara.


Bian berjalan memungungi Nara memasuki pintu vila dengan tangan yang masih memeluk Salsa. Tanpa diduga, air mata hangat satu per satu menetes di pipinya.


Tidak hanya itu, tiba-tiba saja cairan merah hangat secara perlahan mengalir dari dalam hidungnya. Nara mengangkat tangan dan segera menyekanya. Nara tersenyum, mencoba menegarkan dirinya.


Bian, tahukah kamu bahwa aku tidak punya banyak waktu? Meski begitu, aku akan terus mencintaimu .…


Bersambung ....


*****


Halo, sobat ! Selamat datang di karya terbaru Night CEO AROGAN!. Jangan lupa subscribe dan berikan dukungan kalian dengan vote, review, dan hadiahnya ya. Supaya penulis semangat update. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2