
"Kamu benar-benar belum melupakan dia …."
Bian mendekat selangkah demi selangkah menghampiri Nara. Wajah Nara menjadi pucat, dia melangkah mundur tanpa sadar.
"Bian, ini tidak seperti yang kamu pikirkan, aku dijebak oleh Salsa ...."
Sebelum Nara sempat menyelesaikan kalimat terakhirnya, tubuhnya tiba-tiba diseret oleh Bian dan dilempar ke ranjang kosong yang ada di sebelah Wildan.
Tanpa intruksi, Bian membungkuk dan menekan tubuh Nara ke ranjang, kemudian mencium bibirnya. Hal ini sungguh sesuatu yang tidak pantas dilakukan di tempat seperti ini.
Mata Nara melebar.
Ini rumah sakit, apalagi Wildan ada di sebelahnya. Bagaimana Bian bisa memperlakukannya seperti ini?
Nara berjuang mati-matian, tetapi semakin dia berjuang, semakin buruk Bian memperlakukannya.
"Katakan!" Bian tampak marah, matanya merah menatap Nara.
"Jika Wildan tahu aku menggertakmu dalam keadaannya yang masih koma seperti ini, apalagi aku melakukannya di kamar rawatnya sendiri, apa yang bisa dia lakukan?"
Bian mengatakan dengan penuh kebencian dan pernyataan yang jelas-jelas menghina. Nara tiba-tiba merasa seperti dikubur di dalam gua es yang sangat dingin. Sungguh menyiksanya.
"Bian, jangan sakiti aku ...."
Tanpa diduga, Bian merobek jaket yang dikenakan oleh Nara dan meninggalkan bekas merah di lehernya dengan sengaja.
Nara berbaring di tempat tidur, seperti mayat yang membeku, tidak bergerak sama sekali.
Bian melihat Nara yang tanpa pasrah terhadap apa yang hendak dilakukannya. Wanita ini memejamkan matanya dan air matanya jatuh semakin lama semakin deras.
Saat itu juga ekspresi di wajah Bian tiba-tiba berubah. Dia kehilangan minat dalam sekejap, lalu melepaskan Nara begitu saja.
Dia berdiri tegak, menekan emosi yang tersisa di hatinya, lalu melemparkan jaket ke Nara.
"Oh jadi kamu mau berpura-pura menjadi wanita suci di depanku? Untuk apa? Agar aku percaya bahwa kamu tidak pernah disentuh oleh pria lain, begitu?"
Wajah Nara ditutupi oleh jaket yang dilempar oleh Bian barusan, mendengar kata-kata yang dilontarkan pria itu, hatinya terasa sakit sekali.
"Nara, bahkan selingkuhanmu ini tidak begitu menyenangkan untuk dilihat, aku akan membuatmu membayar harga atas tindakanmu sendiri!"
__ADS_1
Setelah berbicara, Bian berjalan keluar ruangan tanpa melihat ke belakang.
Di koridor pintu keluar, Bian menyandarkan punggungnya ke dinding, menyalakan sebatang rokok, dan menarik napas dalam-dalam.
Sebelumnya, Nara tidak menyukai perokok, jadi Bian tidak pernah merokok selama itu. Tapi untuk sekarang, Bian butuh menggunakan nikotin untuk menenangkan sarafnya sejenak ketika dia emosi.
Asapnya begitu tebal, tapi masih tidak bisa menyembunyikan kesedihan di antara alis halus pria itu. Masih ada jejak rasa sakit yang sangat sulit dideteksi.
Sudah tentu Nara perlu dihukum jika berani mengkhianati Bian. Terlebih lagi Nara sudah menikah dengannya dan masih memikirkan Wildan.
Parahnya lagi, Nara rela datang menemui Wildan yang baru saja dipindahkan ke rumah sakit.
Kenapa dia harus berbaik hati pada Nara? Kenapa juga dia tidak tega membuat Nara menangis?
Bukan saja Bian tidak merasakan dendam di hatinya, tapi karena dia tidak bisa mengendalikan dirinya dan selalu melunak pada Nara.
Setelah Bian pergi, Nara masih terbaring tak bergerak di tempat tidur, menatap kosong ke langit-langit kamar.
Keluarga Tanjung dan Gumilang dari dulu adalah teman dekat, jadi Nara sudah mengenal Bian sejak dia masih kecil.
Bian pun begitu, selalu memanjakan dan melindungi Nara dari kecil hingga masalah kecelakaan itu terjadi yang akhirnya menyebabkan dirinya masuk penjara.
Nara teringat saat mereka masih duduk di taman kanak-kanak, dia ikut acara karnaval dan menjadi seorang pengantin kecil yang cantik. Beberapa anak laki-laki lain berebut ingin menjadi pengantin prianya.
Pada saat itu, Bian, yang adalah anak laki-laki kecil yang pemberani, dia berkata dengan sangat lantang, "Narami adalah pengantinku. Aku akan menikahinya ketika aku dewasa nanti. Tidak ada yang bisa merebutnya dariku!"
Setelah beranjak dewasa, Nara sering mengolok-olok Bian tentang hal itu.
Nara tidak mampu menolak pelukan Bian saat itu, yang dengan jelas berkata, "Mungkinkah kamu akan menikahi orang lain selain aku? Jangan pernah berharap itu terjadi!"
Bian juga selalu mengingat setiap hari penting tentang Nara, seperti halnya hari ulang tahun Nara. Bian secara pribadi selalu merencanakan untuk memberinya kejutan ulang tahun.
Ketika Nara berpartisipasi dalam kompetisi entah di luar negeri ataupun dalam negeri, Bian selalu meluangkan waktu untuk menemaninya, karena dia takut kehilangan sosok Nara.
Setiap kali Nara membuat kesalahan, meskipun Bian memarahinya dengan nada yang garang, tapi sesungguhnya di balik itu penuh dengan kasih sayang.
Dimanjakan dengan cara ini dalam waktu yang lama akhirnya membuat Nara terjebak di dalamnya dan sulit untuk melepaskan diri.
Tapi Bian yang sekarang berbeda, dia menjadi sangat aneh dan mengerikan. Dia bukan lagi Bian yang Nara kenal.
__ADS_1
Mungkin, beberapa perasaan harus belajar untuk dilepaskan.
Nara memakai jaket dan berusaha bangun bangun dari ranjang, tetapi kakinya terasa lemas sehingga membuatnya tersungkur di lantai. Selama ini, Nara telah menanggung terlalu banyak rasa sakit sendirian.
Pertama, dia mengetahui bahwa dirinya menderita kanker setelah pernikahan, kemudian kondisi ibunya yang kian hari semakin memburuk, dan kemudian baru saja ada kabar bahwa saudara laki-lakinya mengalami kecelakaan dan tidak sadarkan diri.
Sekarang, dia bahkan dihina seenaknya oleh orang yang pernah dia percayai dan selalu dia andalkan dulunya. Hal ini membuat mentalitas Nara benar-benar runtuh.
Nara memeluk lututnya dan menangis seperti binatang kecil yang tidak harapkan oleh dunia.
Pada saat ini, Wildan yang berbaring di ranjang sebelahnya tiba-tiba bergerak perlahan dengan jari-jarinya.
Setelah puas melampiaskan lewat tangisan, Nara berdiri dan menelepon nomor Abim. Sayangnya, ponsel Abim saat ini dalam keadaan tidak aktif.
Nara menghubungi Salsa, akan tetapi ponsel Salsa mengatakan bahwa sedang tidak ada dalam area layanan. Nara mengepalkan tangannya.
Apa yang Salsa ingin lakukan!
Di waktu yang sama, ponselnya tiba-tiba berdering. Panggilan itu dari adik perempuannya, Sora yang sedang kuliah di luar negeri.
Nara menarik napas dalam-dalam dan berjalan keluar ruangan untuk menjawabnya.
Terdengar suara wanita yang sangat manis di telepon, membuat suasana hatinya sedikit membaik. Keduanya berbicara tentang masa lalu dan saling merindukan satu sama lain.
Pada akhirnya, Sora berkata, "Mbak, aku mau mendiskusikan sesuatu denganmu."
"Ada apa, Sora? Tumben sekali. Apakah ini urusan sekolah? Aku akan mentransfer uang dalam dua hari."
Sora kuliah khusus dalam hal seni, khususnya melukis. Dia sangat berbakat dan telah memenangkan banyak penghargaan dalam kompetisi internasional.
Hal inilah yang membuat Nara lebih senang dan bangga. Nara merasa dirinya sendiri terbilang gagal, tetapi Sora berbeda dengannya.
Dia berbakat dan pekerja keras, seperti bintang yang sedang naik daun, menunggu kesempatan untuk bersinar.
"Tidak, aku ... aku tidak ingin pergi kuliah lagi. Aku ingin pulang dan bekerja untuk mencari uang, sehingga kamu dan Mas Abim tidak perlu bekerja terlalu keras."
Sekolah melukis membutuhkan banyak biaya. Mengingat situasi keuangan keluarga mereka saat ini, jika Sora ingin melanjutkan sekolah, kedua kakaknya harus menanggung banyak tekanan.
Belum lagi ibunya sakit-sakitan, yang juga membutuhkan biaya besar untuk perawatannya. Sora tidak ingin terlalu egois, dia juga ingin melakukan sesuatu untuk membantu keluarga.
__ADS_1
Nara mengerutkan kening, dia tampak tidak setuju dengan keputusan Sora.
Bersambung ....