
Tetapi, tak peduli bagaimana pun Nara memberontak, semua usahanya tetap sia-sia.
Dokter itu mengerutkan keningnya dan berkata, “Emosi pasien tidak stabil. Cepat berikan dia obat penenang.”
Nara terus memberontak, “Aku tidak sakit! Lepaskan aku!”
Di belakangnya, tiba-tiba terdengar suara seorang wanita, “Setiap pasien yang datang ke sini mengatakan kalau mereka tidak sakit. Sakit atau tidak, bukan kamu yang memutuskannya.”
Nada bicara wanita itu terdengar sangat tajam dan dingin. Nara menoleh karena terkejut dan mendapati tatapan psikoterapis Fido yang tersenyum tipis. Sontak, hati Nara melonjak.
Sebelum Nara sempat bereaksi, dokter sudah menusuk kulit tangannya dengan sebuah jarum. Obat penenang itu dengan cepat bereaksi di tubuh Nara, yang membuat wanita itu mau tidak mau memejamkan kedua matanya.
Bian berjalan ke tempat parkir dengan sangat kesal. Tiba-tiba, ponselnya berdering. Begitu melihat nama peneleponnya, dia langsung mengangkat panggilan itu.
Salsa di ujung telepon berkata, “Kamu sedang di mana? Aku sudah memasak makanan yang lezat untukmu. Kapan kamu bisa pulang?”
Sebenarnya, Salsa sudah tahu di mana Bian berada. Ketika Bian membawa Nara ke panti rehabilitasi jiwa, ada seseorang yang melaporkan keberadaan mereka kepada Salsa.
Salsa sudah menyiapkannya sedari awal. Dia sama sekali tidak khawatir dirinya akan dirugikan jika Bian dan Nara bertemu dengan Fido.
Sebaliknya, Salsa sangat menantikan reaksi Fido. Bagaimanapun juga ….
Dia bisa mendorong Nara ke dalam jurang yang tak berujung.
Begitu mendengar suara Salsa, hati Bian yang sedang marah perlahan-lahan menjadi lebih tenang. Bian memiliki hubungan yang baik dengan Salsa, tidak hanya setelah dia masuk penjara.
Ketika masih kecil, Bian pernah diculik. Para penculik menahannya di dalam sebuah ruangan tertutup yang gelap dan sempit. Bahkan, meskipun pada akhirnya dia berhasil diselamatkan, dia masih memiliki trauma yang serius atas peristiwa itu.
Salsa-lah yang dengan sabar menemaninya, menenangkannya, membuatkannya sup obat penenang, dan menemaninya keluar dari hari-hari yang sangat menyiksa dan mengerikan.
Selama Bian di penjara, hanya Salsa yang datang menemuinya. Orang yang dia nantikan justru tidak pernah muncul.
“Aku akan segera pulang.” Nada bicara Bian menjadi lebih lembut ketika berbicara dengan Salsa, tidak setegang ketika bersama dengan Nara.
“Maaf, hari ini aku mengacuhkanmu.”
Salsa mengangkat kedua alisnya. Dia tahu bahwa Bian sedang membicarakan tentang foto Fido yang dirusak dan Bian yang marah membawa pergi Nara tanpa memedulikan Salsa.
“Kamu tidak perlu minta maaf padaku.” Salsa berkata sambil berpikir, “Aku akan menunggumu. Cepat pulang, ya. Kalau tidak, makanannya akan dingin.”
“Iya.”
Setelah menutup panggilan, Salsa melihat ke arah meja hidangan yang sudah disiapkan oleh pelayan. Dia duduk santai di sofa sambil meniup ringan kukunya yang berwarna merah terang, lalu tersenyum lebar.
__ADS_1
Sementara itu, di posisi Bian.
Pria itu menghela napas berat. Begitu mengingat kebaikan Salsa kepadanya di masa lalu membuat suasana hatinya terasa rumit.
Bian tidak mencintai Salsa, tetapi Salsa sudah melakukan begitu banyak hal untuknya. Salsa juga sudah begitu menderita karena masalah antara Bian dengan Nara.
Sejujurnya, Bian merasa sangat bahagia. Jadi, dia sebisa mungkin akan membalas kebaikan Salsa selama ini.
Bian akan berusaha yang terbaik untuk memenuhi semua yang diinginkan Salsa, kecuali memberikan hatinya.
***
Nara yang berada di dalam panti terbangun. Telinganya dipenuhi dengan berbagai raungan, seruan keras, dan bahkan suara tawa terbahak-bahak.
Suara seperti rapalan sihir memenuhi telinganya, yang perlahan-lahan menghancurkan kewarasannya. Wanita itu meringkuk di sudut dengan ketakutan.
“Bian, aku takut … tolong aku .…”
Nara pernah berada dalam bahaya dan Bian akan selalu menemukannya dan melindunginya. Sekarang, ketika Nara sedang ketakutan, reaksi pertamanya masih sama, yaitu memikirkan Bian.
Tetapi kali ini, kekhawatiran dan ketakutannya justru disebabkan oleh Bian. Bagaimana mungkin Bian akan datang untuk menyelamatkan Nara?
Begitu menyadari apa yang dia katakan, Nara tiba-tiba menangis dan tertawa. Dia tertawa terbahak-bahak, lebih keras dari orang yang sakit jiwa di dalam panti itu.
Bibir Nara terlihat pucat dan tubuhnya terus-menerus mengejang. Napasnya menjadi semakin sesak. Makanan di hadapan Nara perlahan-lahan menjadi kabur di dalam indera pengelihatannya.
Nara tersenyum lemah. Dia bergumam tanpa suara, “Apa … apa aku akan segera mati?”
***
Keesokan paginya, ketika Salsa sedang menemani Bian sarapan, tiba-tiba datang panggilan dari panti rehabilitasi. Bian tampak ragu sejenak, sebelum mengangkat panggilan itu.
Kepala panti segera berkata dengan panik, “Mas Bian, Mbak Nara yang Anda bawa kemarin sedang sekarat ….”
Setelah menerima telepon dari panti sosial, Bian tiba-tiba bangkit dari duduknya dan tanpa sengaja menjatuhkan bubur panas yang dibawa Salsa. Salsa meringis kesakitan sambil menatap Bian dengan air mata berlinang.
Tetapi saat ini, kepala Bian hanya dipenuhi dengan kalimat ‘Nara sekarat’ dan sama sekali tidak menyadari Salsa yang berada di sampingnya. Pria itu segera meninggalkan meja makan, mengambil kunci mobil, dan pergi dari rumah itu.
“Bian ….”
Bian sama sekali tidak mendengarkan panggilan Salsa. Dia menginjak pedal gasnya dan bergegas pergi ke panti secepat mungkin.
Salsa yang merasa diabaikan tampak terluka. Punggung tangannya memerah. Kulitnya yang putih sangat kontras dengan luka bakar itu. Bisa diperkirakan, luka itu cukup serius.
__ADS_1
Saat ini, Salsa merasa sangat sedih, tetapi Bian bahkan tidak melihatnya!
Dengan marah, Salsa berteriak sambil menghempaskan semua makanan di meja. Cangkir, piring, dan alat makan, semuanya berhamburan di lantai.
“Nara, kalau kamu mau mati, cepat mati saja. Jangan menghancurkan kebahagiaanku!”
Pupil Salsa bergetar dengan mata yang memerah. Seluruh tubuhnya mengeluarkan aura yang mengerikan. Buku-buku jarinya memutih. Tidak ada lagi sosok peri kecil yang baik hati.
***
Nara sudah dikirim ke rumah sakit. Bian pun bergegas datang ke sana.
Niat awal Bian adalah memberikan Nara pelajaran. Tetapi, dia tidak menyangka kalau kondisi Nara saat itu sangat buruk hingga wanita itu demam tinggi sampai tidak sadarkan diri.
Begitu melihat wajah Nara yang pucat, Bian langsung meminta dokter melakukan pemeriksaan menyeluruh padanya.
Kondisi Nara tidak mungkin sampai seburuk ini. Tetapi, beberapa waktu belakangan dia selalu sakit.
Sebenarnya apa yang terjadi?
Setelah dilakukan pemeriksaan, Bian menunggu hasil laporan pemeriksaannya di dalam bangsal. Bian memandang wajah Nara yang tidak sadarkan diri di atas ranjang rumah sakit.
Kedua alis Nara tampak bertaut. Suasana hatinya sangat buruk.
Bian berjalan ke sisi tempat tidur dan perlahan menyentuh alis Nara dengan jemarinya, untuk membuat kedua alisnya kembali rileks.
Nara masih diam saja. Bian perlahan menarik jemarinya dari wajah Nara. Dia lalu berkata dengan sedikit keras, “Nara, aku membencimu lebih dari sebelumnya.”
Entah apakah Nara bisa mendengar gumaman Bian barusan, tetapi tiba-tiba Nara yang tengah tidur terisak pelan. Suaranya sangat halus, tetapi Bian merasa ketakutan setengah mati.
“Kamu .…”
Begitu menyadari kalau Nara hanya mengigau dan belum sadar juga, suasana hati Bian menjadi semakin buruk. Dia tiba-tiba menarik tangannya, dan mengutuk.
“Aku sudah muak ….”
Kemudian, Bian mengambil handuk hangat dan menyeka keringat Nara. Gerakannya sangat lembut, seolah tengah merawat sesuatu yang sangat berharga.
Sementara itu, Salsa yang berdiri di luar pintu bangsal melihat gerakan di dalam ruangan melalui kaca di pintu. Kuku merah menyalanya menancap dalam ke dalam telapak tangannya, hingga tangannya terluka.
“Nara, kalau kamu mau bertarung denganku, kamu harus lihat apakah kamu mampu.” Sorot mata Salsa terbakar amarah. Begitu mengatakannya, dia segera berbalik dan pergi dari sana.
Setelah beberapa saat, dokter yang melakukan pemeriksaan pada Nara mengetuk pintu bangsal sambil membawa laporan di tangannya.
__ADS_1
Bersambung ....