SAMPAI NAFAS TERAKHIR

SAMPAI NAFAS TERAKHIR
TRAGEDI FIDO


__ADS_3

Di dalam kamar.


Bian berdiri di depan pintu kamar, hatinya sakit melihat Fido yang sedang melamun dan sepasang matanya tidak fokus.


Orang yang melecehkan Fido waktu itu keterlaluan. Demi menghalangi dia kabur, dia langsung mematahkan kaki Fido, hingga sampai sekarang masih belum bisa disembuhkan, jadi dia bisa berpindah tempat mengandalkan kursi roda.


Bian berjalan ke arah Fido. Fido mendengar suara langkah yang mendekat, tiba-tiba dia malah berteriak histeris. Sepasang tangannya melambai sekuat tenaga, seolah-olah ingin mengusir hal yang mengganggunya.


"Jangan takut, ini Mas Bian.” Bian memeluk Fido yang sedang meronta-ronta.


Fido masih mengingat suara Bian, emosi Fido perlahan-lahan menjadi stabil. Dia mengangkat wajahnya menatap ke arah Bian, matanya dipenuhi rasa bingung.


Saat tatapan kakak dan adik itu saling bertemu, Fido membuka mulutnya. Entah saat ini dia sadar atau tidak sadar, Fido mengatakan sebuah kalimat yang menusuk hati Bian.


Fido berkata, "Aku mau pulang.”


Jantung Bian mencelos, dengan susah payah dia berkata, "Nanti waktu kamu sembuh, Mas akan membawamu pulang.”


Seandainya, waktu itu Fido menghubungi Nara dan wanita itu mau mengangkat telepon Fido, mungkin hal yang tragis ini tidak akan terjadi.


Fido akan baik-baik saja, dia masih tetap anak muda yang membanggakan itu, kadang-kadang menghambat tindakan kakaknya, lalu membelakangi kakaknya dan menggoyangkan pantatnya, kemudian menempel ke sisi Nara dan merengek lucu padanya.


Sayangnya, tidak ada seandainya.


Sama seperti waktu itu dia dibawa paksa, dimasukkan ke dalam bagasi, dan Fido susah payah menelepon Nara meminta pertolongan, akhirnya … Nara tidak mengangkat telepon itu.


Tragedi Fido ini tetap terjadi.


Dan Nara, sudah mengkhianati kepercayaan Fido!


Melihat Fido yang tersenyum bodoh, Bian juga membalas senyumnya itu. Di kedalaman matanya ada sebuah kebencian yang sangat mendominasi dan itu ditujukan pada Nara.


Pada orang yang pernah menjadi ‘kakak ipar ideal’ kepercayaan dan kesukaan adiknya dan juga kebencian pada orang yang pernah menjadi wanita yang paling dicintainya!


Setelah meninggalkan rumah sakit jiwa, Bian pergi ke perusahaan untuk menyelesaikan beberapa urusan. Lalu, menjelang malam kembali ke Villa.


Tapi dia tidak melihat Nara ada di sana.


Mata Bian menyipit, lalu dia bertanya pada Bi Asih dan Bi Asih malah bilang kalau Nara belum pulang sama sekali.


Bian tidak banyak tanya, lalu kembali ke kamar untuk mandi, kemudian makan dan menyelesaikan pekerjaannya.


Hingga jam sepuluh malam, dia masih tidak melihat Nara pulang, membuat wajah Bian mulai berubah jadi menakutkan.


Hari ini Bian sudah mengingatkannya, tapi Nara masih berani mengabaikannya?

__ADS_1


Bian berusaha sekuat tenaga mengabaikan rasa khawatir yang muncul dalam hatinya, tapi kemudian dia mengambil kunci dan pergi keluar dari Villa dengan wajah datar.


Nara yang sudah berjalan seharian, akhirnya tiba di depan gerbang villa. Bian menurunkannya di jalan.


Nara menunggu sangat lama, tapi tidak ada satu pun orang yang lewat. Ponselnya kebetulan juga kehabisan daya.


Jadi, dia terpaksa bergantung pada kedua kakinya, berjalan selangkah demi selangkah, hingga sampai ke SPBU. Dia bertemu dengan orang baik yang mau mengantarnya, barulah Nara bisa pulang dengan selamat.


Sekarang begitu sampai di rumah, kakinya sudah tidak sanggup digerakkan lagi, lututnya lemas, dia dia tiba-tiba pingsan di depan gerbang villa.


Bian baru keluar dari pintu, tapi dia sudah melihat Nara tergeletak di tanah, merepotkan saja!


Ekspresi wajahnya berubah drastis, "Nara!”


Nara digendong Bian sampai ke dalam kamar.


Mata Nara yang tertutup rapat, wajahnya sudah tidak sepucat beberapa saat yang lalu, tapi tetap saja merona merah yang tidak sehat, dahinya sangat panas.


Bian mengernyitkan alisnya yang indah itu, tapi juga sedikit ragu-ragu.


Nara pernahh menjadi pemain Esports. Meskipun pemain Esports tidak seperti olahragawan lain yang memerlukan kondisi fisik yang baik, tapi latihan sehari-hari mereka juga menghabiskan banyak tenaga mental, seharusnya staminanya cukup prima.


Jadi dalam hal kesehatan jasmani, Nara lebih kuat daripada wanita pada umumnya.


Tapi, saat Bian melihat kondisinya seperti ini, berjalan dua langkah saja dia harus mengambil napas dalam-dalam, seperti akan melayang begitu ditiup angin.


Sepertinya begitu Bian menggunakan sedikit saja tenaga, dia bisa menghancurkan seluruh tubuh Nara. Yang Bian tidak tahu adalah demam Nara yang tinggi kali ini disebabkan oleh leukimia.


Bian mengira karena hidup Nara yang terlalu menyeleweng, menyebabkan tubuhnya kosong melompong, membuatnya jadi mudah sakit.


Selain itu penyakit Nara juga parah.


Wajah Bian sangat menakutkan.


Bian tidak ingin menanggapi Nara, tapi melihatnya begitu tersiksa, akhirnya Bian tetap memanggilkan dokter keluarga untuk memeriksa Nara.


Dokter buru-buru datang memeriksa, memberi Nara sebuah suntikan, dan memberitahu Bian untuk merawatnya baik-baik. Kalau sampai tengah malam demamnya tidak turun juga, maka harus dibawa ke rumah sakit, tidak boleh ditunda.


Jika tidak penyakitnya akan semakin parah dan membahayakan nyawa. Begitu mendengar akan membahayakan nyawa, ekspresi wajah Bian mengencang.


Tapi, begitu teringat akan Fido yang dilihatnya di rumah sakit jiwa hari ini, perasaannya campur aduk. Sekali lagi Bian meredam rasa khawatirnya pada Nara itu.


Dengan wajah datar Bian menatap Nara dan berkata, "Oke.”


***

__ADS_1


Keesokan harinya, Nara terbangun dari tidurnya, dia merasakan kalau kaki dan kepalanya terasa ringan, sekujur tubuhnya sakit.


Dia memandang ke sekeliling dan mengenali kalau tempat ini adalah kamar Bian.


Hanya ada dia seorang diri di dalam kamar itu. Nara harus menunggu sangat lama baru bisa membangkitkan tubuhnya. Tanpa sengaja, dia melihat bingkai foto yang ditaruh di meja samping tempat tidur.


Nara mendekat dan melihat, di dalam bingkai itu ada foto Fido yang sedang memegang piala, membuat matanya tiba-tiba berubah jadi muram.


"Fido .…”


Nara membelai foto itu dengan sedih, tangannya yang ramping dan pucat bahkan sampai agak gemetar.


Setelah hal itu terjadi waktu itu, Fido seperti menghilang dari dunia ini. Jangankan menemuinya, mencari informasi tentangnya saja Nara tidak bisa.


Di mana dia sekarang, apakah dilindungi oleh orang, atau sudah meninggalkan tempat yang menyedihkan ini, selain itu … apakah dia baik-baik saja?


Nara larut dalam ingatannya, tidak sadar kalau muncul seseorang dari balik pintu.


Salsa baru saja masuk sudah melihat gerakan Nara. Salsa mengerutkan kening, berjalan maju dengan mengendap-endap, pandangannya terhenti pada foto Fido yang ada dalam genggaman Nara.


Dalam sekejap ekspresi wajahnya berubah, melihat wajah Fido yang sedang tersenyum begitu bahagia, dia menjadi panik.


Tiba-tiba, dia merebut bingkai foto yang ada di tangan Nara itu, langsung membantingnya ke lantai dan merobek-robek fotonya.


"Sedang apa kamu?" Nara tersadar ingin menghalangi, tapi sudah terlambat.


Nara melihat sendiri bekas sobekan itu melewati tawa cerah pemuda itu. Wajah Nara yang awalnya sudah pucat itu langsung marah, "Salsa!”


Mendengar ada suara ribut, Bian yang sedang di dapur langsung mematikan api, lalu pergi dengan langkah besarnya menuju kamar. Kebetulan dia melihat Nara yang sangat lemah, sedang menatap kejam ke arah Salsa.


Salsa menyadari kedatangan Bian, langsung pura-pura jadi pihak yang lemah.


Sebelum ini dia pernah mendengar sebuah berita kalau Nara sedang sakit parah. Awalnya, dia datang ke sini untuk menghina dan memprovokasinya.


Tidak disangka begitu masuk dia langsung melihat Bian sedang berada di dapur dan memasak bubur untuk Nara!


Memasak sendiri!


Salsa mengakui, dia iri setengah mati, karena itu dia pergi ke kamar Nara, tapi tidak ada siapa-siapa di sana.


Dia semakin marah! Karena Bian menggendong Nara dan membawanya ke kamar Bian!


Kemudian, dia melihat Nara sedang memegang foto Fido itu. Karena tidak bisa menahan tekanan, dia langsung merobek foto itu.


Tapi hal ini, Salsa tidak akan membiarkan Bian tahu kalau dia adalah pelakunya.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2