
"Aku mengerti niatmu, tapi aku tidak perlu kamu campur tangan untuk saat ini. Kamu bisa belajar dengan nyaman dan jangan terlalu khawatir tentang urusan keluarga, ya?"
"Tapi, Mbak ...."
"Kalau kamu belajar dengan giat sekarang, mungkin nanti di masa depan bisa membantuku dan Mas Abim lebih banyak lagi. Jadi, lebih baik kamu belajar yang rajin sekarang, oke?"
Ada keheningan untuk waktu yang lama dan akhirnya Sora berkata, "Mbak, aku akan bekerja keras dan janji tidak akan mengecewakanmu."
"Bagus."
Setelah membujuk adiknya dan menutup telepon, tak lama kemudian ponselnya berdering lagi. Kali ini panggilan dari rumah sakit tempat ibunya dirawat.
"Dengan Bu Narami, ya? Saya mau memberitahu bahwa detak jantung ibu Anda baru saja melemah dan kondisinya sangat serius sekarang.”
“Dia harus segera dioperasi. Silakan datang ke rumah sakit untuk menandatangani pengajuan operasi dan mohon untuk melunasi biaya administrasinya."
Mendengar itu, napas Nara tercekat, nyaris tak bisa diredakan.
"Baik, saya akan mengurusi pembayaran secepatnya, tolong untuk cepat mengatur jadwal operasinya, ya?" Nara menggenggam teleponnya dengan erat. "Aku, aku akan segera ke sana!"
Karena mereka berhutang sejumlah besar biaya rawat inap ke rumah sakit sebelumnya dan gagal membayar tepat waktu, kredibilitas mereka di rumah sakit agak rendah.
Mendengar permohonan Nara, perawat itu agak ragu-ragu dan akhirnya dia mencoba memberi pengertian dan berkata, "Kalau begitu tolong secepatnya. Kita juga harus ikuti sistem yang ada di rumah sakit, jadi saya harap Anda bisa mengerti."
"Oke, oke, terima kasih, saya akan segera kesana." Nara berkata sambil berlari menuju bank.
Naasnya, ketika dia menyerahkan cek Bian ke jendela layanan bank, staf bank memberitahu bahwa cek itu tidak tersedia. Nara tercengang, mencengkeram jaketnya erat-erat.
"Mengapa itu tidak bisa digunakan? Bisakah Anda memberi tahu saya alasannya?"
Bian tidak mungkin membuat lelucon tentang hal semacam ini dan dia tidak mungkin setega itu memberinya cek palsu.
"Saya tidak tahu tentang itu." Staf bank itu menjelaskan kepada Nara, "Batas cek Anda sepertinya baru saja dibekukan. Jika Anda memiliki pertanyaan, Anda bisa pergi ke orang yang memberi cek ini kepada Anda."
Dibekukan?
Kepala Nara seperti ingin meledak, tiba-tiba teringat kalimat yang Bian katakan padanya barusan di bangsal.
__ADS_1
"Nara, selingkuhanmu tidak begitu baik untuk dilihat, aku akan membuatmu membayar harga!"
Tangan dan kaki Nara seketika menjadi dingin. Bian membekukan cek yang baru saja diberikan padanya ….
Tekanan darah Nara seolah-olah melonjak, kepalanya pusing tak menentu. Dia bahkan tidak mampu berlama-lama berdiri dan akhirnya seluruh badannya jatuh seketika itu.
Sekujur tubuhnya seperti ditusuk oleh ratusan jarum, yang rasa sakitnya bisa membuatnya meringkuk lemah.
Cairan di rongga hidungnya lagi-lagi mengalir. Dia buru-buru menyeka cairan merah itu dengan tangannya berulang-ulang.
Orang-orang yang ada di sekitar menatapnya dengan terkejut. Beberapa yang baik hati melangkah maju untuk membantunya berdiri dan bertanya padanya.
"Mbak, apakah perlu aku antar ke rumah sakit?"
"Tidak, tidak perlu. Bolehkah aku meminta tolong padamu untuk memberiku segelas air hangat? Terima kasih."
Nara mengeluarkan saputangan untuk menyeka mimisannya dan orang yang membantunya tersebut segera meminta segelas air hangat dari staf bank.
Nara meminum obat yang dibawanya dan kondisinya perlahan stabil. Tapi, rasa sakit di tubuhnya masih sangat terasa, terutama di tulang tangan.
Di keadaan genting seperti ini dia harus secepatnya menelepon Bian. Sayangnya, panggilan itu tidak tersambung dalam waktu yang lama.
Nara awalnya mengira Bian telah memblokir nomornya, jadi dia berinisiatif meminjam ponsel orang yang lewat untuk menelepon nomor Bian, tetapi hasilnya tetap sama.
Setelah berpikir sejenak, Nara memutuskan untuk menelepon telepon rumah Villa Yaris. Benar juga, akhirnya orang rumah mengangkat telepon.
Tapi, bukan Bian yang menerima panggilan darinya, melainkan asisten rumah tangganya, yaitu Bi Atun.
"Ya, halo? Dengan siapa?"
Wajah Nara semakin pucat dan dia bertanya dengan lemah, "Bi Atun, apakah Pak Bian ada di rumah?"
"Ya, ya, ada, Mbak." Setelah lama terdiam, dia menjawab dengan ragu-ragu.
Tak perlu diragukan lagi, pasti Bi Atun baru berani menjawab dengan jujur setelah mendapat persetujuan dari Bian.
Nara tidak banyak bicara dan langsung naik taksi dan kembali ke Villa Yaris. Saat ini Nara sudah berdiri tegak di depan pintu.
__ADS_1
Sebelum melangkah masuk, dia menarik napas dalam-dalam beberapa kali untuk menguatkan dirinya. Nara tidak melihat Bian di lantai satu, dia pastinya ada di ruang kerja.
Nara mempercepat langkahnya untuk naik ke atas, karena dia tidak punya cukup waktu lagi. Pintu diketuk beberapa kali, kemudian Nara buru-buru masuk sebelum Bian mempersilakannya.
Dia berlari ke arah Bian dan bertanya secara langsung, "Bian, kamu membekukan cekku?”
Bian duduk dengan tenang di kursi putar. Ekspresinya sangat tenang, seperti sudah tahu bahwa Nara akan menemuinya.
"Kamu pergi menemui Wildan secara diam-diam, aku sudah bilang kalau kamu akan membayar harga atas perilakumu itu. Dasar tidak tahu malu!"
"Bian, aku tidak pergi menemuinya secara diam-diam, Salsa meneleponku dan mengatakan bahwa Mas Abim kecelakaan, jadi aku ...."
Bian tiba-tiba mencibir, jari-jarinya sambil memutar-mutar pena mahal itu, "Nara, aku bosan mendengarkan kebohonganmu yang tidak masuk akal itu."
Bian melihat Nara menemui Wildan dengan mata-kepalanya sendiri dan Nara masih berdebat untuk mengelak, bukankah itu lucu?
"Bian ...." Wajah Nara masih pucat, jemarinya mengepal dan mengendur bolak-balik beberapa kali. Hatinya merasa dipermainkan oleh pria satu ini.
Tapi yang lebih menyedihkan adalah Nara sepertinya tidak punya hak dan waktu untuk mengasihani dirinya sendiri. Dia berusaha untuk mengabaikan rasa sakit yang dirasakan semua tulang di tubuhnya dan terus menjelaskan.
"Bian, aku benar-benar dijebak. Mas Abim baru saja kecelakaan dan Salsa meneleponku pakai ponsel Mas Abim. Dia memberitahuku alamat sebuah rumah sakit lengkap dengan nomor ruangannya.”
“Aku langsung saja pergi ke sana dan ternyata bukan Mas Abim yang terbaring di sana, melainkan Wildan. Tidak lama kemudian kamu datang ...."
"Nara."
Bian memotong penjelasan Nara, kemudian dia membungkuk dan mencubit dagu Nara. Mereka berdua nyaris berhadap-hadapan sehingga napas mereka terjerat.
"Tahukah kamu bahwa wajahmu benar-benar sangat mengesankan sekarang … membuatku bernafsu!"
Nara berada di stadium akhir dalam penyakit leukemia yang dideritanya. Saat penyakitnya kambuh, seluruh tubuhnya merasa sakit dan bahkan sekarang rasa sakitnya jauh lebih kuat dari biasanya.
Nara sangat kesakitan sehingga dia ingin sembunyi tanpa sadar, tetapi tindakannya ini menciptakan ekspresi yang akhirnya merangsang Bian.
Wajahnya tiba-tiba menjadi lebih suram lagi.
Bersambung ....
__ADS_1