
Karena itu, Salsa dengan mata berlinang berkata pada Bian, "Waktu aku masuk ke dalam kamar, aku langsung melihat Nara mau merobek foto, aku tidak bisa menghalanginya. Bian, Maaf, ini semua salahku .…”
Nara menatap Salsa lekat-lekat, ingin rasanya dia bertepuk tangan atas kemampuan akting Salsa yang luar biasa itu.
Nara begitu lemah, tapi suaranya sedingin es, "Salsa, kamulah yang merusakkan bingkai fotonya, kamu jugalah yang merobek fotonya. Atas dasar apa kamu menuduhku?!”
Salsa menggigit bibirnya, tangannya menggenggam gelisah.
"Terserah kamu mau bilang apa, tapi Nara, jadi orang itu harus punya hati nurani. Kamu sudah melukai Fido satu kali.”
“Sekarang Bian juga cuma balas dendam atas perbuatanmu saat itu saja. Apa kamu setega itu, sampai-sampai tidak bisa membiarkan foto Fido baik-baik di sana?" imbuh Salsa.
Seorang wanita dengan catatan kriminal, dibandingkan dengan seseorang yang pernah menolongnya, tentu saja Bian lebih percaya pada Salsa.
Kemarahan Bian meledak dalam sesaat, jari-jarinya sudah berbunyi nyaring.
Kasihan apa. Khawatir apa.
Pergi ke neraka sana!
Hal ini sama sekali tidak perlu dilakukan pada Nara, wanita yang begitu kejam ini!
"Nara, benar-benar bagus!” Bian tersenyum samar, suaranya sepertinya sangat berat dan keluar dari sela-sela giginya.
Wajah Nara tersentak, dia langsung mengerti kalau Bian mempercayai Salsa dan bukan dirinya. Penjelasan yang sudah sampai di ujung mulutnya, harus kembali ditelannya pelan-pelan.
Setelah itu Bian membabi buta menggenggam tangan Nara dan membawanya pergi keluar, tidak memedulikan Salsa yang memanggilnya di belakang sana, telinganya sudah tertutup oleh emosi.
Dia menyetir mobil, membawa Nara ke Panti Rehabilitasi Jiwa. Dia membawa Nara pergi untuk melihat Fido yang sudah dicelakakan sangat tragis olehnya.
Meskipun demamnya sudah turun, tapi kondisi tubuh Nara masih sangat lemah. Bian juga menyetir ugal-ugalan, sama sekali tidak peduli pada keadaan tubuh Nara.
Nara memegang dadanya karena jantungnya berdegup terlalu kencang dan menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.
"Bian, kamu mau membawaku ke mana?"
"Takut?" Pria itu tertawa dingin, "Nara, kesalahan yang kamu buat, aku akan membalaskannya berkali-kali lipat padamu dan keluargamu!”
"Jangan sentuh mereka!” Nara kelihatannya memaksakan diri untuk mengatakan hal ini.
Jawabannya adalah sebuah belokan tajam dan rem mendadak, mobil itu akhirnya berhenti. Nara maju tanpa persiapan, tubuhnya kesakitan akibat ditahan oleh sabuk pengaman.
"Jangan sakiti mereka? Hei! Lalu kenapa kamu menyakiti Fido-ku?"
Bian tanpa sadar menyeret Nara turun dari mobil, masuk ke dalam panti rehabilitasi, "Kamu ingin membuatku tersiksa seumur hidup, tapi ingin melepas tanggung jawab itu darimu? Nara! Jangan mimpi!”
Begitu mendengar nama Fido, Nara tertegun. Di saat yang sama dia juga menyadari, tempat ini adalah Panti Rehabilitasi Jiwa.
Fido ada di sini?
Nara memucat, hatinya juga ikut sedih. Saat dia sedang kalut, Bian menariknya ke kamar Fido. Nara langsung bisa melihat Fido yang sedang meringkuk di sudut ruangan.
Sangat kurus, sampai cekungan di pipinya terlihat jelas. Mata yang awalnya berbinar, saat ini seperti di tutupi oleh kabut tebal, berubah jadi lamban, mematung, sama sekali tidak ada aura kehidupan.
__ADS_1
Ada rasa terkejut luar biasa di dalam hati Nara, dia membelalakan matanya tidak percaya.
Fido yang mendengar suara langkah kaki, menengadah menatap dengan pandangan kosong. Dia melihat Bian, dia punya bayangan terhadap kakaknya ini, dia tersenyum bodoh, agak menggemaskan.
Tapi setelah dia melihat Nara yang ada di samping Bian, senyumnya tiba-tiba berhenti, bisa terlihat jelas kalau tubuhnya agak gemetar.
Wajahnya dipenuhi ketakutan, memegang semua benda di sekitarnya, dan melemparnya sembarangan.
"Pergi! Pergi! Aaaa!”
Nara terkejut, hidungnya agak buntu, "Fido, aku Kak Nara .…”
"Jangan mendekat, pergi, pergi kamu! Minggir sana! Jangan mendekat, tolong, Mas, Mas tolong aku!”
Sekujur tubuh Fido gemetar, berteriak sekuat tenaga, seperti seorang monster yang sedang memberontak bertahan hidup.
Melihat Fido yang gemetar luar biasa, mendengar Fido meneriakkan namanya minta tolong, kesedian Bian semakin memuncak.
Saat ini dia sudah tidak memedulikan Nara, dia hanya ingin menengangkan Fido.
"Fido, aku ini Masmu ....”
Fido yang sudah menggila tidak bisa mengenali orang sama sekali, menjadikan semua orang yang mendekat padanya sebagai musuh!
Saat ini juga, psikoterapis Fido datang, dia melirik sedikit ke arah Nara, kemudian dia menggunakan cara khusus untuk menenangkan Fido yang panik secara perlahan.
"Fido, dia itu Masmu, dia tidak akan melukaimu, dan yang ini adalah kakak ipar mu, Nara. Apa kamu sudah lupa? Kak Nara yang kamu sukai itu ....”
Suara psikoterapis sangat lembut dan tenang, semua perkataan yang keluar dari mulutnya, seolah-olah sedang menghipnotis. Saat Fido baru mendengar suaranya, emosinya juga sedikit lebih stabil.
Dia berteriak histeris, bahkan melukai dirinya sendiri. Dia tidak henti-hentinya mencakar dirinya sendiri dengan kukunya, sampai-sampai kedua lengannya penuh dengan luka.
"Fido!” Ekspresi Bian berubah drastis, ingin menghalangi.
Tapi sang psikoterapis menghalanginya dan berkata, "Pak Bian, tolong bawa Bu Nara keluar dulu dari sini.”
Maksudnya adalah dengan keberadaan Nara akan mengejutkan Fido.
Mendengar ini, Bian mengepalkan tangannya erat. Ketika balik badan dan melihat ke arah Nara, sepasang matanya merah, sangat menakutkan!
Nara masih belum sadar dari kekagetannya melihat keadaan Fido saat ini. Dia sudah diseret keluar dari kamar oleh Bian, kekuatan tangannya terlalu kuat, membuat Nara sangat kesakitan.
Kelihatannya Nara sangat terkejut dengan hal ini, lalu dia bertanya dengan polos, "Kenapa bisa begini?"
Fido, bagaimana mungkin Fido berubah jadi seperti sekarang ini?
"Kenapa bisa seperti ini? Tentu saja semua ini akibat ulahmu!” Bian menepisnya dengan sekuat tenaga, dalam sekejap Nara terjatuh di lantai, karena tidak berdiri tegap.
Nara tidak mengerti, matanya yang merah diangkat naik menatap ke arah Bian dan berkata, "Ak-aku berbuat apa?"
Berbuat apa?
Huh!
__ADS_1
Tatapan mata Bian seolah sedang menyayatnya hidup-hidup.
"Kamu tidak tahu berapa kali Fido meneleponmu, sebelum dia menjadi seperti ini? Kenapa kamu tidak mengangkat teleponnya! Apa kamu tidak tahu betapa tersiksanya dia malam itu?!”
Diacuhkan oleh orang yang paling dipercaya dan paling diandalkan, betapa takut dan tidak berdayanya Fido waktu itu.
Dia diberi obat penenang hingga tidak bisa memberontak. Bajingan itu melecehkannya begitu saja, menyiksanya, menghancurkan seorang pemuda yang begitu bersinar hidup-hidup!
Setelah Bian keluar dari penjara dan memeriksa tentang kejadian Fido ini, setiap kali dia melihat pemandangan yang tidak pantas ini, di dalam hati ingin sekali rasanya dia menghabisi orang itu hidup-hidup saat itu juga!
"Dia tidak pernah berhenti menganggapmu sebagai kakak iparnya. Selain aku, dia paling percaya padamu.”
"Bagaimana denganmu? Kenapa waktu itu kamu tidak mengangkat teleponnya? Karena kamu sedang bersama dengan Wildan dan sedang bersenang-senang, bagaimana mungkin memikirkan mantan adik iparmu, benar kan?"
Bian sekata demi sekata menyalahkan Nara, membuat Nara membisu dan tidak mengatakan apa pun.
"Bukan, waktu itu .…”
Nara membuka mulutnya, ingin menjelaskan, tapi tangan Bian tiba-tiba mencekik lehernya. Tenggorokan Nara tercekat, hampir saja tidak bisa bernapas.
Nara ingin menjelaskan pada Bian kalau pada saat Fido mengalami kejadian itu, Nara memang sedang bersama Wildan, tapi yang terjadi sama sekali bukan seperti yang dipikirkan Bian itu!
Saat itu Wildan mengajaknya bertemu, tapi Nara hampir saja dilecehkan oleh Wildan yang sedang mabuk.
Bukannya Nara tidak mau mengangkat telepon Fido, tapi waktu itu, dia juga kesulitan menyelamatkan dirinya sendiri. Nara juga sedang berusaha keras untuk memberontak!
Waktu dia akhirnya berhasil keluar dengan susah payah, ponselnya jatuh dan rusak. Nara juga terluka, sama sekali tidak tahu kalau Fido sedang meneleponnya untuk minta tolong.
Seandainya Nara tahu, meskipun ada ribuan jurang di hadapannya, dia juga akan menyelamatkan Fido tanpa memedulikan apa pun, bahkan dirinya sendiri!
Sesaat sebelum Nara merasa dia akan kehabisan napas, Bian tiba-tiba melepaskannya. Nara terduduk di lantai tidak berdaya, memegang tenggorokkannya yang sakit itu.
Ada kebencian mendalam terlihat dari mata Bian, tinjunya terkepal dan berbunyi nyaring.
"Nara, aku tidak akan pernah mempercayai semua perkataanmu lagi!”
Di balik pintu, tidak ada yang tahu kalau psikoterapis sedang mencuri dengar perkataan mereka.
Dia melihat Fido yang sedang gemetar hebat, juga mendengar Bian yang sedang meminta pertanggung jawaban, dia tersenyum dingin.
Semua yang terjadi hari ini, sangat bermanfaat baginya untuk mendapatkan keuntungan dari perawatan Fido. Dia bisa diam-diam memberikan banyak saran psikologis untuk Fido, ini sangat efektif.
Dalam kemarahannya, Bian memasukkan Nara ke dalam Panti Rehabilitasi Jiwa.
Sebelum pergi, dia menatap Nara dengan dingin, lalu dia menggunakan nada bicara yang sangat kejam yang berhasil jadi pukulan keras bagi Nara.
"Betapa menderitanya Fido selama ini, Nara, kamu harus merasakannya sendiri!”
Setelah mengatakannya, tanpa menunggu sedetik pun, Bian langsung pergi meninggalkan panti itu dengan tatapan kosong.
Di belakangnya, Nara mencoba melepaskan diri dari dokter yang menahannya. Dia mencoba sekuat tenaga untuk berteriak.
“Bian, percayalah padaku kali ini! Ini benar-benar tidak disengaja!”
__ADS_1
“Lepaskan aku! Apa yang kalian lakukan saat ini melanggar hukum! Lepaskan aku!”
Bersambung ....