
Jenis kulit Salsa adalah sensitif. Sebenarnya Nara tidak terlalu menggunakan tenaga saat mencekiknya, tetapi bekas merah terlihat jelas di lehernya.
Bian mengoleskan krim untuk meredakan memar di lehernya. Salsa menatapnya dengan lemah, mencoba bersandar padanya.
"Bian ...."
Dengan cekatan, Bian menghindari tindakan Salsa, "Kamu terlalu lelah hari ini. Kembalilah ke kamarmu dan istirahatlah lebih awal."
Salsa mengencangkan pegangannya pada lengan Bian. Dia hampir mati dicekik oleh Nara barusan, dan Bian bisa-bisanya berkata enteng untuk menyuruhnya istirahat lebih awal?
Tepat saat Salsa hendak mengatakan sesuatu, ada ketukan di pintu di luar ruangan.
"Bian, ada yang ingin kukatakan padamu, keluarlah."
Salsa melihat wajah Bian masih muram, tetapi tidak sedikit pun bergerak ketika Nara memanggil-manggil namanya. Nara di luar kamar masih menunggu jawaban dari Bian.
Sekali lagi dia mengetuk pintu, lalu berkata, "Kalau kamu mau berbicara melalui pintu, aku tidak keberatan."
Nara tanpa ekspresi berkata dengan lemah, "Bian, mari kita bercerai."
Pintu kamar terbuka, Bian berdiri di depan Nara dengan mimik wajah penuh amarah. Bian mengertakkan gigi dan bertanya, "Apa yang baru saja kamu katakan? Coba katakan lagi."
Sebelum Nara angkat bicara, Bian berkata, "Kamu pergilah dulu."
Dia menatap Nara dan mengucapkan kata-kata ini, tetapi maksud kata-katanya tertuju kepada Salsa yang ada di dalam kamar. Salsa tertegun sejenak, wajahnya merah karena malu.
Ketika mendengar Nara menyebutkan tentang perceraian, Salsa pikir dia punya kesempatan, tetapi tidak disangka bahwa Bian akan mengusirnya dengan kejam.
Dalam hati Salsa dipenuhi rasa kesal, tetapi dia tidak berani membantah Bian. Dia hanya bisa menahan amarah di dalam hatinya dan terpaksa pergi.
Ketika Salsa pergi, Bian tiba-tiba menyeret Nara masuk ke kamar dan mengunci pintu secara langsung.
Nara menatapnya dengan serius, "Aku ingin cerai denganmu."
"Apakah kamu ingin menceraikanku supaya kamu bisa bersama Wildan?" Tekanan darah Bian seketika melonjak, amarahnya berangsung meledak.
“Nara, sudah kubilang, buang jauh-jauh pikiran itu! Jangan bermimpi tentang hal itu!”
Bian menggertakkan gigi dan mengeluarkan kalimat ini. Dia menarik Nara secara kasar dan melemparkannya ke tempat tidur. Bian membungkuk dan merobek pakaian Nara.
"Bian, apa yang kamu lakukan?"
Wajah Bian berubah jadi mengerikan, pergelangan tangan Nara ditahan dengan kuat olehnya.
__ADS_1
"Lepaskan aku!"
Bian sepertinya telah mengabaikan apa pun tang dikatakan oleh Nara, dia hanya melakukan apa pun yang ingin dia lakukan. Nara panik saat mendengar bunyi klik dari sabuk logam milik Bian.
"Bian! Sabian, lepaskan aku, lepaskan aku! Ah ...."
Nara memukul Bian karena panik, dia mencoba melepaskan diri, tetapi pria itu justru tersenyum dingin. Tatapan matanya menjadi semakin serius.
Akankah Bian sungguh melakukan hal itu?
Bian memandang Nara yang baru saja dilemparnya di ranjang dengan enteng. Melihat warna merah cerah di seprai, Bian berkata dengan sinis, "Ya, lumayan bagus."
Nara menarik selimut untuk menutupi jejak penghinaan itu dengan matanya yang memerah. Bian terlalu erat menggenggam tangan Nara. Tangan Nara yang putih diikat oleh Bian dengan dasi, dan meninggalkan bekas memar yang dalam.
"Nara, dengarkan baik-baik, sebelum aku menuntaskan balas dendamku, kamu tidak boleh berbicara tentang perceraian denganku. Tetaplah jadi istri yang baik untukku.”
“Pikirkan tentang adikmu yang masih belajar di luar negeri. Kamu pasti tidak mau mendengar tentang berita yang tak terduga terjadi padanya, kan?"
Nara terkejut, ekspresi kemarahan muncul di wajahnya yang pucat. "Bian!"
Muncul seringai di sudut bibir Bian, "Kamu berani macam-macam denganku? Coba saja kalau berani."
Bagaimanapun juga, Nara tidak berani mempertaruhkan Sora karena kesalahannya.
Kali ini Nara menyadari bahwa Bian sungguh telah berubah. Menyiksa Nara seperti ini seperti sudah menjadi hal biasa bagi Bian.
Dalam empat tahun terakhir, mungkin Bian masih tetaplah Bian yang dikenalnya. Bian yang mencintainya dengan tulus bahkan melindunginya.
Saat Bian melihat bahwa Nara hanya diam tak berkutik, dia berdiri dan bergegas pergi. Tapi, begitu Bian berbalik, ekspresi acuh tak acuhnya menyatu dan kecemburuan di hatinya naik sepuluh ribu kali dari biasanya.
Ratusan pertanyaan memenuhi pikiran Bian.
Nara dulunya adalah perempuan yang ceria, suka tertawa, lembut, dan sangat manja. Ketika mereka bersama, Nara selalu antusias lari ke dalam pelukan Bian dengan manja.
Tetapi, Nara yang sekarang berbeda dengan yang dulu. Bahkan baru saja Nara tega melepas Bian begitu saja. Dari sorot matanya pun bisa dinilai bahwa Nara sepertinya benci saat disentuh oleh Bian.
Beberapa saat setelah itu, Bian menyeringai.
Ingin memilih dan melindungi Wildan seperti harta karun? Jangan harap!
Wajah Nara pucat pasi, dia merasa sakit sampai kesulitan bernapas. Dia sudah berpakaian rapi, bersiap untuk menyeret tubuhnya yang tidak sehat.
Setelah itu, dia buru-buru pergi ke rumah sakit tanpa menoleh ke belakang sama sekali. Tapi di tengah jalan, sayangnya justru turun hujan deras.
__ADS_1
Karena Nara tidak membawa payung, jadi dia menerobos hujan begitu turun dari mobil, membuat sekujur tubuhnya basah kuyup, terlihat begitu menyedihkan, dan juga begitu tersiksa.
Begitu Nara sudah sampai di rumah sakit, kebetulan dia melihat ibunya didorong keluar dari kamar pasien, jadi Nara buru-buru menghampiri ibunya untuk menghadang suster dan menanyakan keadaan, tapi Lina menghalangi langkah Nara dan menggeleng lemah.
Detik berikutnya, dia mendengar suster memasang wajah masam dan berkata pada Nara, walaupun Nara sudah membayar biaya operasi, tapi orang miskin harus bertindak sesuai dengan kemiskinannya.
Kalau memang tidak kuat bayar biaya kamar pasien, tidur di koridor saja!
Setelah mengatakan itu sambil memasang ekspresi dingin, sang suster pergi dari sana tanpa memedulikannya.
Ternyata bayar harga yang dikatakan Bian, itu ini .…
Raut wajah Nara perlahan-lahan memucat. Dia menggenggam erat pagar ranjang dorong milik rumah sakit itu, entah sedang memikirkan apa.
Lina melihat sekujur tubuh Nara yang basah kuyup, air hujan menetes dari ujung rambutnya ke lantai. Hal ini membuat Lina ikut sedih.
"Nara ... kenapa tidak pakai payung? Hujannya lebat sekali. Di mana Bian? Apa dia tidak mengantarkanmu datang kemari?"
Bian pernah menjadi menantu terbaik bagi ayah dan ibunya. Bagi mereka, asalkan Nara menikah dengan Bian, Nara pasti memiliki pernikahan impian yang paling membahagiakan.
Mata Nara terlihat sayu, bulu mata yang panjang dan tebal menutupi perasaan sesungguhnya yang tercermin di matanya.
Nara tertawa kecil dan berkata, "Bian awalnya mau mengatarkan aku, tapi akhir-akhir ini dia terlalu sibuk. Saking sibuknya dia sampai jadi kurus. Aku kasihan sama dia, jadi tidak memperbolehkan dia mengatarkan aku kemari.”
“"Waktu aku berangkat, hujan masih belum turun, terus dijalan juga tidak kelihatan ada orang yang jualan payung. Awalnya kukira bisalah pokoknya lari cepat-cepat, tidak disangka hujannya semakin lama semakin lebat.”
Agar tidak membuat ibunya curiga, Nara menyunggingkan tawa, seperti seorang anak kecil yang tidak kunjung dewasa.
Lina percaya pada ucapan Nara, dia menganggukkan kepalanya, lalu berkata dengan penuh kasih sayang.
"Kamu ini, Ibu benar-benar tidak akan bisa tenang kalau tidak ada Bian yang menjagamu.”
Dia baru saja menjalani operasi. Sebenarnya tubuhnya masih sangat lemah, suaranya juga tidak bertenaga.
"Oh iya, di mana Mas mu? Beberapa hari ini ibu tidak melihatnya. Dia pergi ke mana? Ibu tahu kalian berkeliling ke mana-mana demi penyakitku ini .…”
“Kadang-kadang, ibu benar-benar ingin menutup mata begitu saja dan menyelesaikan semuanya, daripada kalian kelelahan seperti ini.”
"Bu, jangan mengatakan kalimat yang buruk seperti itu, sekarang operasinya juga sudah selesai, kan? Semuanya akan membaik.”
Nara berkata dengan nada yang lembut, "Mas Abim ... diundang oleh sebuah lomba desain game. Ibu tahu sendiri, kan, Mas Abim sangat berbakat dalam hal seperti ini.”
Begitu kebohongan diucapkan, maka diperlukan kebohongan-kebohongan berikutnya untuk menutupi kebohongan awal. Nara harus cepat menemukan Abim agar kebohongan ini bisa cepat selesai.
__ADS_1
Bersambung ....