SAMPAI NAFAS TERAKHIR

SAMPAI NAFAS TERAKHIR
DEMI UANG


__ADS_3

Bian memeluk mesra Salsa dan lekas memasuki vila. Begitu pintu tertutup, dia melepaskan pelukannya dan seketika itu mengacuhkan Salsa.


Memikirkan wajah Nara yang pucat pasi menyedihkan di luar pintu, membuat perasaannya jadi tak nyaman.


“Sana!” Bian memerintahkan Salsa untuk memberinya sedikit ruang.


Perintah sederhana ini sangat kontras dengan perilakunya terhadap Salsa sebelumnya. Dia buru-buru naik ke lantai atas untuk mengganti pakaiannya yang basah.


Di dalam hati Salsa, dia mengira bahwa kata ‘Sana’ yang dilontarkan oleh Bian bermaksud untuk mempersilakannya berbuat sesuka dia di villa milik Bian ini.


Salsa telah merencanakan hal ini begitu lama. Dia menghabiskan waktu selama empat tahun untuk menunggu Bian dibebaskan.


Sampai detik ini pun, Salsa masih berpikir bahwa dirinya akhirnya bisa menaklukan hati Bian. Padahal sebenarnya Bian hanya menggunakannya sebagai alat untuk membuat Nara kesal dengan sengaja.


Di depan Nara, mereka berakting layaknya pasangan romantis, tapi di balik itu bahkan Bian tidak pernah dengan sengaja menyentuh Salsa sekalipun.


Hari ini, Salsa disadarkan bahwa sepertinya sikap Bian hanya akan manis padanya saat di depan Nara saja. Tangannya perlahan mengepal dan sorot matanya memancarkan kekejaman.


Semakin Bian mengasingkannya, semakin sulit dia membuat Nara merasa menderita!


***


Tanpa bantuan dari Bian, mau tak mau Nara akhirnya pergi dengan putus asa. Dengan wajah yang pucat dan tangan hampa, Nara kembali ke apartemen kecilnya.


Dia buru-buru mengganti pakaiannya yang basah, tidak lupa minum obat, kemudian lanjut untuk mencari dana demi operasi ibunya.


Nara sempat berpikir untuk mengajukan pinjaman atau penggalangan dana. Tetapi, cara yang pertama sama saja sebuah lubang yang akan membuatnya jatuh bahkan terjebak di dalamnya, sedangkan cara yang kedua merupakan tindakan yang tidak etis menurutnya.


Di tengah jalan, dia melihat kertas yang terpasang di sebuah papan iklan. Di papan itu merupakan iklan mengenai sebuah rumah sakit swasta.


Tanpa menunggu lama, Nara bergegas pergi ke alamat yang tertera pada iklan tersebut. Rumah sakit ini cukup membuatnya penasaran, tempatnya relatif terpencil, dan dia harus melewati kawasan rumah tua untuk menemukannya.


Sesampainya di rumah sakit, dia langsung menemui dokter untuk bertanya, “Dok, saya menderita leukemia, di mana penyakit saya ini sudah sudah stadium lanjut. Dengan kondisi seperti ini, apakah darah saya masih bisa untuk dijual?”


Nara harus menempuh jalan dengan menjualnya, meskipun dia sudah tahu kondisi kesehatannya sendiri. Sudah tidak ada cara lain lagi untuk bisa mendapatkan uang tanpa harus merusak moralnya.


Mendengar hal itu, dokter tersebut diam sejenak, lalu tersenyum pada Nara.


“Tidak masalah, hanya saja kualitas darahnya mungkin agak kurang bagus.”


“Terima kasih kalau begitu, Dok.” Nara menarik napas panjang dan membungkukkan badan untuk berterima kasih kepada dokter.


Setelah beberapa saat, suster datang dan membawanya ke ruangan khusus. Dinginnya yodium menyentuh kulitnya, suster mulai mengeluarkan jarum perak yang tampak silau saat terkena pantulan sinar matahari.

__ADS_1


Nara mengepalkan tangan, kini wajah cantiknya terlihat lebih pucat dari sebelumnya.


Sejak kecil, Nara paling takut dengan jarum suntik. Sedangkan sekarang, dia memberanikan diri dengan menutupi matanya dengan salah satu tangan dan memberitahu suster.


“Sus, kalau bisa, ambil yang banyak, ya! Saya kekurangan uang.”


Suster hanya meliriknya tanpa berkata apa-apa. Dia menusukkan jarum ke dalam nadi Nara, dengan sekejap cairan berwarna merah segar mulai menetes di dalam kantong penampung.


Saat proses pengambilan darah, wajah Nara seputih salju dan kepalanya berangsur-angsur pusing. Dia juga merasakan seluruh tubuhnya remuk.


Tiba-tiba ponselnya berdering. Nara meraba tasnya untuk mengeluarkan ponsel. Panggilan itu berasal dari kakaknya, Abim.


“Iya, Mas?” jawab Nara dengan suara agak serak.


“Kenapa suaramu terdengar aneh? Kamu sakit, Ra?” Suara kekhawatiran Abim tidak bisa disembunyikan lagi saat mendengar adiknya tampak lemah.


“Ah, tidak, Mas, aku baik-baik saja, cuma masuk angin doang, kok,” jawab Nara, memastikan keadaannya baik-baik saja.


“Baiklah, jaga kesehatanmu.” Sepatu kulit Abim terdengar bergesekan dengan tanah, dia seperti sedang menendang batu-batu di depannya.


“Aku akan mencari solusi untuk masalah uang, kamu tidak perlu khawatir, mengerti?”


“Mas, Bian akan membantuku. Aku bisa mengurus soal uang operasi ibu, Mas Abim tenang saja dan jangan terlalu memaksakan diri.”


Awalnya, Abim adalah ahli pemrograman game yang paling handal. Namun, semenjak keluarga Tanjung bangkrut, dia diperolok-olok dengan kejam oleh teman-temannya.


Dulunya Abim dikenal sebagai pria dengan talenta yang luar biasa, tetapi sekarang dia hanya bisa menghasilkan sedikit uang dengan menjadi konsultan.


Hasil kerja kerasnya pun masih belum bisa untuk membayar biaya pengobatan harian untuk ibunya.


Abim tidak banyak bicara perihal topik ini, dia mengganti topik sembari melirik mobil yang terparkir tidak jauh darinya.


“Apakah Bian masih bersikap baik padamu?”


Terlalu banyak hal yang terjadi antara keluarga Tanjung dan keluarga Gumilang. Abim hanya khawatir jika Bian tidak memperlakukan adiknya dengan baik.


Nara tertegun sejenak saat dia mendengar pertanyaan itu. Dia menghela napas, lalu menatap darahnya yang dari tadi masih mengalir memenuhi tempat penampung darah.


“Tentu, dia selalu bersikap baik padaku ....”


“Baguslah kalau dia memperlakukanmu dengan baik. Ya sudah kalau begitu, jangan lupa untuk meneleponku kalau ada apa-apa, ya?”


“Pasti, Mas Abim juga jaga diri.”

__ADS_1


Setelah menutup telepon, proses pengambilan darah kebetulan juga selesai. Nara berdiri perlahan, tetapi tiba-tiba pandangannya menjadi gelap bahkan nyaris jatuh.


Untungnya, dengan cekatan tangannya bertumpu pada sudut meja yang ada di sampingnya. Suster itu menghampirinya dan memberikan segepok uang ke tangannya.


Pandangan Nara sudah tak terkendali lagi, wajahnya pucat sekali, tubuhnya pun lemah, seakan-akan bisa dengan mudah jatuh dengan tiupan angin.


Dia menggenggam erat uang penyelamat itu di tangannya sembari menunggu rasa pusing di kepalanya hilang. Setelah itu Nara dengan antusias pergi ke rumah sakit tempat ibunya dirawat.


Sesampainya di sana, dia langsung pergi ke ruang administrasi untuk membayar tanggungan biaya rawat inap ibunya.


Sayangnya, dia tidak sempat untuk menjenguk ibunya karena kondisi tubuhnya terlalu lemah saat ini. Mau tidak mau, dia memutuskan untuk langsung kembali ke villa.


Penuh rasa ragu, Nara berdiri di depan pintu villa. Dia mencoba memasukkan kata sandi yang ada di gagang pintu tersebut.


Tanpa diduga, pintunya terbuka!


Ekspresi wajah yang awalnya lesu, setidaknya agak terlihat senang saat ini.


Kemarin Nara menginap di rumah sakit untuk menemani ibunya selama satu malam, dia lupa mengganti kata santi pintu villanya.


Pagi ini, saat kembali ke villa dia mencoba memasukkan kata sandi dan ternyata tidak ada satu pun orang yang mengganti kata sandinya dengan yang baru.


Untung saja, tidak ada penjahat yang masuk!


Nara memasuki villa dan menyeret tubuhnya yang masih lemas.


Alangkah terkejutnya, dia tidak menyangka ada sosok Bian yang sedang duduk manis di sofa kulit sambil membaca buku.


Bian mengangkat kepalanya dengan tenang, membiarkan matanya bertemu dengan tatapan Nara.


Pria itu memicingkan matanya, kemudian memasang ekspresi dengan sinis, “Berapa banyak pelanggan yang sudah kamu dapatkan?”


Nara terdiam, wajah yang awalnya pucat seketika langsung memerah karena marah. “Bian!”


“Aku tahu kamu marah karena tidak kuat menahan malu, kan? Lihat saja, tampilanmu seperti tidak bertenaga sama sekali. Pasti lelah, ya?”


Nara menggertakkan giginya dan berkata dengan lemah, “Apa maksudmu? Apakah di matamu aku sekotor itu? Asal kamu tahu, aku baru saja donor darah, maka dari itu aku terlihat lemas.”


Dia tidak ingin terlihat sangat menyedihkan dengan mengatakan bahwa dia baru saja menjual darahnya demi membayar tagihan rumah sakit. Selain itu, dia tidak ingin Bian salah paham atas hal ini.


“Oh, benarkah?” Mata Bian setajam dan garang seperti pisau untuk sesaat.


Bian tiba-tiba menarik Nara ke dalam pelukannya dan memaksa Nara untuk duduk di pangkuannya. Jari-jemarinya terasa dingin, dia mencubit dagu Nara begitu keras sehingga Nara bisa melihat apa yang ada di tangan Bian saat itu.

__ADS_1


Setumpuk foto-foto berjejer saat dirinya memasuki kawasan rumah tua, di foto-foto itu dia tampak celingukan seperti mencari sesuatu. Jika dilihat sekilas tentu saja Nara tampak sedang melakukan transaksi gelap!


Bersambung ....


__ADS_2