SAMPAI NAFAS TERAKHIR

SAMPAI NAFAS TERAKHIR
SABIAN AKU MEMBENCIMU


__ADS_3

Nara tinggal semalam di rumah itu, keesokan harinya barulah dia kembali ke Villa Yaris. Dia ingin mengemasi barang-barangnya, keluar dari sini dan pindah tinggal bersama dengan keluarganya.


Baru saja kopernya selesai ditata, dia melihat Salsa yang tidak tahu malu berdiri di pintu kamarnya. Nara tidak peduli, menarik kopernya dan berjalan keluar.


"Kamu mau kemana?" Salsa menghalangi jalan Nara.


Sebelum dia sepenuhnya menghancurkan Nara dan Bian, Nara benar-benar tidak boleh pergi dari sini.


Nara menepis tangan Salsa dengan wajah datar tanpa ekspresi.


Salsa terhuyung-huyung, berusaha menyeimbangkan kembali tubuhnya, menyipit dengan tatapan penuh kebencian, seperti ingin membunuh.


"Nara, apakah kamu benar-benar ingin tahu, di mana Kakakmu sebenarnya dipindahkan?"


Nara masih tetap membelakangi Salsa seperti semula, tapi langkahnya terhenti, tapi juga tidak menjawab pertanyaan Salsa itu.


"Kecelakaan yang dialami kakakmu itu sama sekali bukan kecelakaan, tapi Bian-lah yang membantuku membalas dendam, memaksa kakakmu terpaksa ikut balapan, bahkan sengaja mencari orang untuk menabraknya. Cuma yang di luar perkiraan adalah, nyawa kakakmu begitu banyak.”


Mendengar ini, Nara sangat kaget, "Apa katamu?"


Dia membalikkan badannya, matanya yang cantik melemparkan pandangan dingin ke arah Salsa, selangkah demi selangkah berjalan mendekat ke arah Salsa.


Sekujur tubuh Nara dipenuhi oleh aura permusuhan, "Katakan sekali lagi kalimat yang barusan kamu ucapkan itu, juga keberadaan kakakku! Coba saja kalau kamu berani berkata tidak jelas padaku?"


Melihat Nara yang ada di hadapannya saat ini, Salsa tiba-tiba teringat akan Bian. Saat Bian ingin membunuh seseorang, ekspresinya juga sama seperti ini, kharisma Nara sama persis dengan Bian.


Salsa diam-diam merasa terkejut, tapi kebencian di dalam hatinya terhadap Nara semakin meningkat.


"Tidak ada masalah bagiku untuk memberitahumu, Bian suka padaku, dia tidak akan tega melihatku mendapat perlakuan tidak baik, karena itu dia mencari seseorang untuk menghadapi kakakmu, dan melakukan hal itu demi aku.”


“Tentang Abim … dia saat ini berada di bawah pengawasan Rumah Sakit Swasta yang dimiliki Gumilang Group.”


Dia mengambil sedikit rambutnya dan memainkannya dengan tangannya, wajahnya yang putih dan kecil mengekspresikan kebencian.


"Saat kamu bertemu kakakmu, urus dia baik-baik, sudah putus, juga masih saja memanggilku dengan sebutan apa itu, ‘perempuan kesayangan’? Hih! Kakakmu benar-benar membuat orang jijik!”


Nara langsung mengangkat tangannya dan menampar keras-keras ke wajah Salsa. Bisa terlihat dengan jelas bekas tamparan dengan lima jari.


"Salsa, punya hak apa kamu menghina orang lain menjijikkan? Kamu duluan yang merayu kakakku, membuatnya jatuh cinta padamu. Kamu malah menyebarkan gosip ke mana-mana kalau keluarga kami melecehkanmu!”


“Selain itu juga mengatakan kalau kakakku melecehkanmu. Jika berbicara tentang menjijikkan, Salsa, mana ada orang yang berani menandinginmu?!”


"Brengsek kamu!” Salsa ingin membalas, dari sudut matanya dia melihat Bian berjalan datang.

__ADS_1


Dia langsung menunduk, tiba-tiba batuk-batuk, berpura-pura sedih.


"Nara, memang aku yang tidak cukup baik, Keluarga Tanjung bertahun-tahun mengangkatku jadi anak dan merawatku. Meskipun kalian tidak baik terhadapku, sering memukuli aku, menghinaku, tidak memberiku makanan, aku bisa menahan semuanya.”


"Tapi kakakmu … tidak tahu apa yang terjadi pada kakakmu waktu itu. Dia menangkapku dan tidak mau melepasku, ingin memaksa melecehkanku, aku benar-benar tidak ingin, tapi kalau aku tidak melawan, kesucianku akan hilang.”


"Aku sangat menjaga kesucianku, aku tidak ingin memberikannya begitu saja padanya ....”


"Salsa, sedang omong kosong apa kamu?!” Nara sampai ingin tertawa marah akibat perkataan Salsa ini, dia mengulurkan tangan dan menggenggam kerah baju Salsa.


Bian muncul dan berjalan dengan langkah besarnya, melindungi Salsa dengan salah satu tangannya, dan tangan yang lain menyingkirkan Nara.


Nara tidak memasang kuda-kuda, jadi dia terhuyung dan terjatuh keras ke lantai. Kaki yang terluka sebelum ini, terkilir. Sudah luka ditambah terkilir, sakitnya membuat Nara sampai menggertakkan giginya.


"Nara.” Lelaki itu melindungi Salsa di depannya, suara yang merdu dan dingin itu bergema, "Kamu selalu saja menyiksa Salsa, apa kamu sudah bosan hidup?"


Sebenarnya siapa yang menyiksa siapa?


Nara mengeluarkan suara yang melecehkannya. Dia melirik ke arah Salsa yang sedang tersenyum tanpa suara di belakang Bian.


Telapak tangannya berpegangan pada lantai dan berdiri perlahan-lahan.


Tatapan menakutkan lelaki itu sengaja memandang ke tangan kanan Nara, jari manis tangan kanannya tiba-tiba kosong melompong, dalam matanya yang hitam itu berkecamuk suasana hati yang menakutkan.


"Semakin lama kamu semakin merajalela ya, beraninya memukul orang di rumahku. Apa aku terlalu sabar terhadapmu? Hah?!"


Bian bahkan tidak rela melepaskan ayah dan kakak Nara, untuk apa Nara takut padanya?


Menurut Nara, yang lebih menakutkan adalah saat dia mendengar perkataan Salsa yang mengatakan bahwa Bian melakukan hal-hal yang tidak bai terhadap keluarganya itu. Pada saat yang bersamaan dengan hatinya yang tercabik-cabik.


Nara masih sedikit berharap pada Bian. Dia akan menanyakan sendiri pada Bian mengenai kebenaran hal ini.


"Aku tanya padamu, papaku dipukuli orang, dilempar ke jalanan, juga tentang kakakku yang mengalami kecelakaan. Apa kamu yang mengatur orang untuk melakukannya?"


Mendengar ini, mata Salsa jadi agak bercahaya. Bian sebaliknya malah terperangah sejenak, ada sedikit ekspresi bingung melintas di matanya.


Kapan Bian pernah menyentuh keluarga Nara?


Bian cuma sekedar memutus sumber dana mereka saja agar mereka tidak bisa mengumpulkan uang. Tapi, tangannya masuk ke dalam saku celana dan menyentuh barang di dalamnya yang baru saja dibelinya kembali itu.


Dia tersenyum dingin dan berkata, "Salah sendiri kalau sampai mati.”


Sebuah kalimat yang begitu dingin, membuktikan dosa yang sudah dilakukannya, juga mencabik keras-keras hati Nara. Nara pernah memikirkan untuk meninggalkan Bian dan tidak mencintai Bian lagi.

__ADS_1


Nara pernah membayangkan betapa sedih, terluka, dan sakitnya saat mereka tidak akan bisa kembali seperti dulu lagi, tidak bisa berbaikan seperti dulu lagi.


Tapi, Nara tidak menyangka bahwa hal ini akan menorehkan luka yang begitu dalam dan membuatnya putus asa seperti saat ini!


Tatapan mata Nara dibanjiri oleh kebencian.


"Bian, aku membencimu!”


Salsa berdiri di belakang Bian, dengan santai melihat drama yang menurutnya bagus ini.


Mata Bian agak menyipit. "Kamu membenciku?”


Sudut bibirnya tersenyum, tawa dinginnya sangat menakutkan, "Kamu punya hak apa untuk membenciku?!”


"Aku bisa menerima dan menahan semua hal yang kamu perbuat terhadapku, tapi kenapa kamu membawa-bawa keluargaku?" Nara menatap lekat ke arah Bian dengan mata merahnya, sekujur tubuhnya gemetar akibat marah.


"Bian, papa dan mamaku, juga kakakku tidak pernah menyakitimu. Selama ini mereka sangat menyukaimu, tapi kamu malah berbuat seperti ini pada mereka ....”


"Karena aku sudah pernah bilang.” Bian menginterupsi kata-kata Nara dengan eskpresi geram, "Aku ingin membuatmu hidup tersiksa setengah mati, karena mereka mau ikut denganmu menderita bersama ….”


Sebelum kalimat itu selesai diucapkan, Nara sudah mengangkat tangannya karena marah. Tapi, berhasil ditangkap dan ditahan Bian.


Ekspresi wajah Bian sangat dingin dan menepis tangan Nara dengan satu tangan. Kekuatan itu seharusnya sama sekali tidak akan melukai Nara, tapi Nara malah terjatuh ke lantai.


Bian mengerutkan keningnya, tanpa sadar ingin mengulurkan tangannya, tapi kemudian dia menahan dirinya untuk tidak melakukan itu.


Kaki Nara baru saja terkilir, jadi tubuhnya sangat lemah. Tentu saja langsung jatuh saat didorong.


Nara mencoba beberapa kali untuk bangkit berdiri, tapi kaki dan tangannya tidak bertenaga. Begitu bergerak sedikit saja, dia langsung merasa kesakitan, tulangnya bagaikan penumbuk yang sedang diputar diantara daging-dagingnya keras-keras.


Tiba-tiba Nara mengeluarkan suara tawa pelan, menertawakan dirinya sendiri. Dulu Bian sangat melindunginya, sekarang Bian melukainya begitu dalam.


Nara berkata kalau membenci Bian, sampai-sampai dia rela mati bersama Bian. Namun yang paling memalukan adalah semua yang terjadi sudah menjadi seperti ini, tapi Nara masih tidak putus asa, masih menyimpan sedikit ilusi, berharap pada Bian.


Lucu, ya. Lucu sekali.


Perasaan Bian yang disimpan terhadap Nara, Salsa bisa melihatnya jauh lebih jelas daripada orang lain.


Salsa melihat Nara sedih, lalu dia menyipitkan matanya, dan langsung memasang wajah bagaikan seorang kakak perempuan yang menyayangi adiknya.


"Nara, terluka tidak?"


Dia berjalan mendekat, membungkuk ingin menopang Nara, tubuhnya menutupi pandangan Bian. Dengan menggunakan nail art yang tidak lama dilakukannya sebelum ini, dia mencakar punggung telapak tangannya sendiri keras-keras.

__ADS_1


"Ah! Nara kamu .…”


Bersambung ....


__ADS_2