SAMPAI NAFAS TERAKHIR

SAMPAI NAFAS TERAKHIR
DIA TIDAK MENGHIANATINYA


__ADS_3

Pupil Nara tiba-tiba berkontraksi, dia menoleh dengan kaget. Dia melihat tikungan tajam di luar jendela, jantungnya terasa akan berhenti mendadak.


Di sini adalah awal dari semua mimpi buruk yang mereka alami!


Waktu itu, tiba-tiba Bian kecelakaan. Wildan ingin meliput kisah Bian yang menabrak orang ini menjadi sebuah berita besar, lalu menghancurkan Bian dengan artikel itu, dan membuatnya tidak bisa bangkit lagi!


Waktu itu, Wildan menemui Nara dan sekilas menunjukkan pada Nara berita yang bisa menghancurkan Bian ini. Kemudian, Wildan memegang dagu Nara dan berkata padanya.


"Jika kamu ingin Bian dilepas, itu juga bukan tidak mungkin.”


"Apa yang sebenarnya kamu inginkan?" Nara menepis tangannya.


Wildan tersenyum senang, tangan yang baru saja ditepis itu diangkat lagi dan menyentuh ujung bibir Nara, lalu menciumnya sekilas.


Nara jijik sampai ingin muntah, hingga dia mengepalkan tangannya dan tidak membiarkan nyalinya menjadi ciut.


"Aku ingin kamu bersama denganku.” Wildan berkata dengan santai, "Kalau kamu mau melakukannya, aku akan melepaskan Bian.”


Saat itu, Nara langsung menolak dan berkata, "Tidak mungkin.”


"Kalau begitu biarkan dia menerima kematiannya.”


"Wildan!”


Bibir Wildan tersenyum tipis, dia mengangkat bahunya dengan cuek, sikapnya sangat arogan dan menjengkelkan.


"Nara, aku tidak memaksamu memilih, tapi kamu harus ingat, kalau kamu tidak menuruti kemauanku, Bian pasti akan mati di tanganku.”


Nara tidak ingin Bian mati, juga tidak ingin reputasi Bian hancur. Dia lebih tidak tega lagi melihat Bian tersiksa dipenjara. Akhirnya, dia menyetujui kemauan Wildan.


Wildan menepati janjinya, dia tidak ikut campur lagi dalam urusan Bian menabrak orang. Akhirnya, Bian dihukum ringan, dipenjara empat tahun.


Nara menggunakan dirinya sendiri untuk melindungi Bian, tapi di saat yang bersamaan juga kehilangan haknya untuk mencintai Bian.


Sekarang, empat tahun sudah berlalu.


Orang yang dicintai Nara malah menganggap dirinya sebagai wanita yang suka berbohong, bermain api dan berhati busuk.


Tidak peduli apa pun yang dilakukan Nara, semuanya salah!


"Kelihatannya, kamu masih belum lupa.” Bian tertawa dingin menertawakan Nara yang sedang melamun, tubuhnya bersandar ke belakang, mengeluarkan sebatang rokok, dan menyalakannya.


"Nara, aku pernah begitu mencintaimu, tapi kamu malah mengkhianatiku di masa-masa paling sulit. Bagaimana mungkin aku melepaskanmu begitu saja?"


Bian bisa melihat tatapan Nara yang menatap dirinya dengan kaget, juga Nara yang tidak sadar menggigit ujung bibirnya, tapi tatapan pria itu tetap sangat dingin.


Bian tiba-tiba mencondongkan tubuhnya ke depan dan mendekat ke arah Nara. Melihat itu, Nara tanpa sadar mundur ke arah jendela, pergelangan tangannya malah dipegang erat oleh Bian.


"Masih berani menghindar?!”


Detik itu, dia melihat tatapan mata Bian yang menyiratkan kebencian, kekejaman, tapi juga sedikit rasa tersiksa. Perkataan Bian seperti pisau, kata demi kata menghujam keras ke dalam hati Nara.


"Nara, tujuanku menikahimu adalah untuk membalaskan dendam padamu! Dulu sudah pernah kukatakan padamu, aku akan membuatmu tersiksa setengah mati!”


"Cerai? Mimpi apa kamu?!”


Sepasang Nara yang cerah dalam sekejap memerah, akhirnya dia tidak tahan lagi, berkata "Aku tidak .…”

__ADS_1


"Tidak apa? Kamu berani bilang kalau kamu tidak pacaran sama Wildan? Berani bilang kalau tidak pernah mengkhianatiku sama sekali?!” Ekspresi Bian semakin mengejek.


Nara ingin berkata bahwa dia memang tidak mengkhianatinya.


Tapi, takdir memang begitu tragis. Kalimat itu adalah sebuah rahasia yang selamanya tidak bisa dikatakan olehnya, karena Wildan tidak hanya punya bukti atas perbuatan Bian menabrak orang. Selain itu dia juga menyimpan hal-hal yang bisa membuat Bian hancur selamanya.


Dulu, Bian pernah memperlakukan Nara sebagai sesuatu yang paling disayanginya.


Nara yang dulu pernah mengabaikan segalanya untuk mencintai lelaki yang diam di dalam hatinya dan saat ini hanya tersisa Nara yang hidupnya hanya tinggal satu bulan, memilih untuk menghormati keputusan yang dibuatnya sendiri waktu itu.


Lagipula, meskipun Nara menjelaskannya, Bian juga tidak akan percaya lagi.


Sekujur tubuh Nara kesakitan, terutama kaki dan tangan, begitu sakit sampai-sampai seolah-olah sendi-sendinya sedang terluka.


Bian masih saja memegang erat pergelangan tangan Nara, membuat Nara kesakitan sampai-sampai tidak punya tenaga lagi untuk berbicara, keringat dingin membanjiri dahinya.


Bian yang sedang dipenuhi oleh rasa cemburu, tidak memperhatikan Nara yang bersikap aneh.


Melihat Nara yang tidak mengatakan apapun dan keringat dingin membanjiri dahinya, Bian malah mengira itu adalah reaksi ketakutan Nara karena ketahuan. Hal ini membuat Bian semakin marah!


Bian memutar keras-keras ujung rokok untuk mematikannya, lalu sekali lagi menyalakan mesin mobilnya. Dia menginjak pedal gas dengan sangat keras.


Bian memegang setir dengan satu tangan, kecepatan mobilnya sangat menakutkan, melewati satu demi satu mobil-mobil yang sedang bergerak!


Nara yang awalnya sudah tidak enak badan, sekarang hampir saja berteriak nyaring.


"Bian .…”


Wajah cantik Nara begitu pucat. Tanpa sadar dia menatap ke arah tangan Bian yang sedang menggenggam setir.


Dulu, Bian dan Nara sama-sama penggila Esports, tapi karena kecelakaan itu, tangan Bian terluka hingga tidak bisa ikut turnamen lagi dan menikmati kompetisi yang penuh gairah itu untuk selamanya.


Nara agak melamun. Saat pikirannya sadar kembali, dia melihat hampir saja Bian menabrak pagar pembatas.


Jantung Nara hampir saja berhenti berdetak, merasakan betapa dekatnya kematian padanya. Akhirnya, dia tidak tahan lagi untuk berteriak!


"Bian!”


Suara roda yang bergesekan dengan tanah itu sangat nyaring dan memekakkan telinga. Saat Nara mengira dirinya akan mati, mobilnya berhenti persis di depan pagar pembatas. Mungkin beberapa milimeter lagi sudah menabrak.


Berbahaya dan membuat kaget!


"Takut, ya?" Suara Bian sedingin es.


"Nara, di dalam penjara aku setiap hari memikirkanmu. Satu-satunya hal yang membuatku tetap bertahan hidup adalah ingin keluar … dan membunuhmu dengan tanganku sendiri!”


Wajah Nara pucat pasi. Dia masih belum sadar dari mencerna kalimat Bian itu. Kemudian, Bian sudah kembali berkata kasar, "Turun!”


Nara diturunkan dari mobil oleh Bian. Kini, mobil itu pergi dari sana. Bian membiarkan Nara sendirian di pinggir jalan.


Nara menarik napas dalam-dalam beberapa kali. Tangannya masuk ke saku dan dengan gemetar mengeluarkan obat penghilang rasa sakit, lalu cepat-cepat meminumnya.


Obat itu sangat pahit, butuh waktu yang lama bagi Nara untuk bisa merasa sedikit lebih baik.


Melihat jalanan kecil di pinggir kota yang kosong melompong, tatapan mata Nara tiba-tiba ikut kosong.


Beberapa saat setelah itu, Nara tertawa pahit dan memijat sejenak pergelangan tangannya.

__ADS_1


Waktu itu, meskipun Nara dipaksa untuk menuruti kemauan Wildan untuk meninggalkan Bian dan pacaran dengan Wildan, tapi orang yang disukainya tetaplah Bian. Jadi, tentu saja dia tidak mungkin bermesraan dengan Wildan.


Wildan juga hanya menertawakannya, tapi tidak menyentuhnya sama sekali. Tapi, tiba-tiba suatu hari, Wildan mabuk dan memaksa masuk ke dalam kamar Nara, ingin memaksa wanita itu melakukannya.


"Wildan, jangan sentuh aku!” Nara memberontak sekuat tenaga dan mencakar wajah Wildan.


Karena Wildan minum terlalu banyak, akhirnya melepas topeng yang dipakainya biasanya dan langsung menampar Nara!


Karena kekuatannya terlalu besar, kepala Nara terbentur keras ke ujung meja hingga wajahnya terluka cukup parah.


Selain itu dia juga tidak sengaja menabrak lemari, membuat pergelangan tangan Nara terluka parah.


Malam itu, Nara berhasil melewati bahaya, tapi karena tangannya sudah terluka, maka tidak bisa dikembalikan lagi seperti semula.


Malam itu juga, mimpi Nara dan Bian akan Esports harus dikubur dalam-dalam.


***


Diperjalanan pulang, hati Bian bergemuruh. Semakin suasana hatinya tidak baik, Bian semakin ingin merokok.


Akhirnya, dia menghentikan mobilnya dan setelah merokok beberapa batang, jarinya yang ramping mengeluarkan sebuah foto kecil dari dalam dasbor.


Orang yang ada di dalam foto ini adalah adiknya, Fido!


Anak muda yang dulunya sangat membanggakan, yang punya dua lesung pipit yang manis saat tersenyum, terlihat begitu imut, sebenarnya adalah sebuah serigala yang sangat ganas.


Dia hanya bisa menunjukkan kepolosannya saat berhadapan dengan Bian dan Nara.


Sejak kecil Fido sudah sangat menyukai Nara. Kelihatannya waktu itu tidak jarang Bian bertikai dengan adik yang suka melawannya ini, karena Fido terlalu dekat dengan Nara.


Sayangnya saat ini, dia sudah bukan orang yang dulu lagi.


Bian melihat pas foto Fido, mata gelapnya perlahan-lahan menunjukkan ekspresi kesakitan.


Ini adalah foto yang dipakai Fido untuk ikut turnamen, adiknya ini punya kemampuan yang tidak terbatas.


Sekarang, adiknya ini cuma bisa hidup di sudut ruangan yang gelap, sakit jiwa, dan tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri.


"Nara, kamu begini kejam, bagaimana mungkin aku memaafkanmu?” Bian membelai foto itu, bergumam pada dirinya sendiri.


Akhirnya, dia mematikan rokoknya, memutar balik mobilnya, pergi ke rumah sakit jiwa untuk mengunjungi Fido.


"Dokter, apakah keadaannya baik-baik saja?" tanya Bian.


"Keadaan Fido kadang-kadang baik, kadang-kadang buruk. Sebelum Pak Bian datang ke sini, penyakitnya kambuh satu kali, dia sama sekali tidak membiarkan siapa pun mendekat.”


“Kami takut dia melukai dirinya sendiri, jadi memakai obat untuk menghipnotis dia, keadaannya saat ini tidak begitu baik.”


Psikoterapis yang menangani Fido adalah wanita paruh baya yang gendut, penampilannya sangat ramah. Dia menyuntik Bian dengan vaksin, agar Bian punya persiapan batin.


Tentang penyakit Fido, kelihatannya harus diobati jangka panjang, masih belum tahu apakah bisa disembuhkan atau tidak.


Dengan raut wajah sedih, Bian berkata, "Aku ingin pergi melihat keadaannya.”


Psikoterapis mengangguk dan memimpin Bian pergi mengunjungi Fido.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2