
Salsa tiba-tiba berteriak nyaring, kemudian mendudukkan dirinya sendiri ke belakang, posisi duduknya sudah diatur dengan sangat baik, agar Bian bisa melihat dengan jelas bekas luka yang ada di punggung telapak tangannya.
”Nara!” Bian dengan wajah geram menopang Salsa berdiri. "Kamu sudah tidak menginginkan tanganmu lagi, ya?!"
Nara melihat ke arah Salsa yang memelas, kemudian dia baru mengangkat wajahnya melihat ke arah Bian. "Memangnya kalau dia terluka, pasti aku pelakunya?"
"Pintar berkilah, juga pandai mengeluarkan ucapan yang tajam. Sebenarnya masih ada berapa sisi lagi darimu yang tidak kuketahui?"
Tidak peduli apa pun yang dikatakan Nara, Bian tidak akan percaya. Nara tidak ingin berdebat masalah ini dengan Bian dan tidak ingin membuang tenaga lagi.
Akhirnya, Nara berhasil mengumpulkan kekuatannya, perasaan sakit di dalam hatinya, perlahan-lahan juga berhasil dikendalikan. Dia berdiri, tapi malah ditarik dengan kuat oleh Bian, sampai ke hadapan Salsa.
"Minta maaf!”
Nara tidak bergerak, kaki yang awalnya sudah susah payah dihilangkan rasa sakitnya, sekarang mulai sakit lagi.
Salsa melihat ke arah Bian, dia menarik tangan Nara dengan tatapan mata yang sedih, kemudian dia berusaha membujuk Bian.
"Jangan galak-galak sama Nara, aku yang salah dalam hal ini. Jangan marahi dia lagi, ya, kalau kamu memarahinya lagi, dia benar-benar akan pergi ....”
"Jangan sentuh aku!” Nara menepis tangan Salsa sekuat tenaga, karena jijik padanya.
Jelas-jelas penggoda lelaki, masih saja pura-pura polos. Benar-benar menjijikkan!
Dulu, Salsa sering menerima perlakuan tidak baik di Keluarga Tanjung, dia masih bisa bersikap baik pada mereka. Sekarang dia masih saja diperlakukan tidak baik seperti ini oleh Nara, tetap saja dia harus mencari alasan untuk mengelak tanggung jawab dari Nara.
Tangan Bian yang menggantung masih tetap sangat kencang. Dulu dia memang benar-benar buta, bisa-bisanya menyukai Nara.
Salsa menundukkan kepalanya, pandangannya terlihat sangat sedih, tapi sebenarnya dia sangat senang.
"Maaf, Bian, kalian jadi terus bertengkar karena aku. Ini adalah rumahmu, seharusnya aku yang pergi, bukan Nara ....”
Begitu Salsa membahas hal ini, Bian akhirnya memperhatikan koper yang bertengger di samping tembok itu, jari-jari tangannya langsung berbunyi nyaring karena digenggam terlalu kuat.
"Mau pergi?" Bian bertanya dengan suara dingin, wajah tampannya tertutup awan gelap yang seolah-olah bisa meneteskan air.
"Nara, kalau sampai kamu berani pergi, aku akan membuatmu kehilangan seluruh keluargamu!”
Akhirnya, Nara melihat ke arah Bian, sulit menebak arti dari tatapan matanya, wajahnya juga memucat.
"Kamu ….” Nara tercekat, kecepatan bicaranya jauh lebih lambat dari pada biasanya, "…benar-benar ingin aku mati?"
Kemarahan Bian tidak terbendung lagi, "Apa kamu harus tetap hidup?"
Tiba-tiba Nara kehabisan kata-kata, hatinya seperti tertembak oleh ratusan anak panah. Nara hanya menatap Bian dalam diam, karena tidak sanggup lagi mengatakan sepatah kata pun.
Bian tidak tahu betapa kejamnya kata-katanya hari ini dan betapa menyesalnya dia tidak lama kemudian!
__ADS_1
Mengatakan sesuatu tapi tidak berharap itu terjadi, dia sangat menyesal ….
”Ayo, kuobati lukamu.”
Kalimat ini dikatakan Bian pada Salsa. Sebaliknya dia menatap Nara yang pucat pasi dengan tatapan yang dingin.
Setelah itu, Bian yang kelihatannya sangat serius itu, sebenarnya cuma ingin membawa Salsa yang tergores sedikit pergi dari sana.
Hanya ada Nara seorang diri di ruangan yang besar itu. Nara berdiri dalam diam, dia sudah seperti kayu, tidak bisa merasakan kemarahan.
Suara Bian yang dingin tidak berhenti berdengung di telinganya ….
"Apa kamu harus tetap hidup?"
Sekujur tubuhnya tiba-tiba terasa kesakitan, Nara tahu kalau penyakitnya kambuh. Ekspresinya jadi sedikit berubah, dia bersandar pada dinding.
Selangkah demi selangkah kembali ke arah kamar dengan menahan sakit, karena dia ingin mengambil obatnya. Setiap langkahnya seperti melangkah di atas ujung pisau.
Seperti berada dalam lautan pisau, tubuhnya kesakitan seperti dihujami pisau. Langkah Nara tidak seimbang, jadi dia jatuh dan tidak bisa bangkit lagi.
Karena tubuhnya kesakitan, dia meringkuk. Kemudian, dia langsung pingsan!
Entah berapa lama setelah itu, langit perlahan-lahan berubah gelap.
Barulah kesadaran Nara perlahan-lahan kembali, seperti merasakan berada antara hidup dan mati. Wajahnya begitu pucat, mungkin saja bisa pingsan sewaktu-waktu.
Sesaat kemudian, Nara sekuat tenaga menyeret tubuhnya kembali ke kamar dan mengambil obat, lalu meminumnya. Dia ingin ketemu Mas Abim.
Demi memastikan kalau Salsa tidak membohonginya, dia harus ke rumah sakit untuk membuktikannya sendiri. Jika tidak, dia tidak bisa tenang.
Nara keluar dari rumah dengan tertatih-tatih. Dia bertemu dengan bibi tukang masak yang datang untuk memasak makan malam di pintu gerbang Villa.
Bi Asih melihat kalau wajah Nara tidak sehat, jadi memapahnya. "Bu, sudah jam segini apa masih mau pergi?"
"Iya.” Nara menganggukkan kepalanya. Setelah mengucapkan terima kasih pada Bi Asih, kebetulan taksi yang dipesannya juga datang.
Sebelum ini, Nara biasanya naik bis umum untuk menghemat uang. Tapi saat ini berbeda, jarak yang harus ditempuh dari Villa ke halte bis agak jauh, tubuhnya tidak akan kuat.
Ditambah dengan kali ini dia diburu waktu, jadi terpaksa kali ini dia boros.
Tidak ada yang menyangka, dia seorang Nara bisa sepelit ini demi menghemat uang. Kalau sampai hal ini dilihat oleh teman-temannya dulu, tidak tahu bagaimana mereka akan menertawakan Nara.
Setelah Nara pergi, Bi Asih agak khawatir, setelah menimbang agak lama, dia menelepon Bian.
"Pak, Ibu baru saja keluar dari Villa, tapi dia agak pucat. Saya merasa, sepertinya Ibu sedang sakit?"
Bian yang ada di ujung telepon yang lain mengerutkan keningnya.
__ADS_1
Hari ini, setelah dia memeriksakan Salsa ke dokter dan mengantarkannya pulang ke apartemen, dia terus berada di perusahaan, tidak memedulikan hidup dan mati Nara sedikitpun.
Tapi, dia berkata, "Jangan pedulikan dia, dia tidak akan mati.”
Tadi pagi, dia melihat Nara bisa pergi keluyuran dan mengeluarkan sumpah serapah. Bahkan dia masih berani ‘melukai’ orang lain, sama sekali tidak seperti orang yang sedang sakit.
Nara bahkan tidak peduli dengan ancamannya, keberaniannya luar biasa.
Meskipun begitu, setelah Bian menutup telepon Bi Asih, Bian malah memegang ponselnya lagi, tanpa sadar mencari nomor telepon Nara. Saat dia akan menelepon, jarinya yang panjang malah terhenti.
Sedang apa dia?
Raut wajah Bian berubah jadi sedikit menakutkan.
Ada yang bilang orang yang jahat akan berumur lebih panjang daripada orang baik. Nara begitu kejam, umurnya pasti jauh lebih panjang daripada siapa pun.
Jadi, untuk apa Bian mengkhawatirkannya?
Setelah itu, dia menenangkan perasaannya sendiri yang aneh, lalu melemparkan ponselnya ke satu sisi dan melanjutkan pekerjaannya.
***
Di Rumah Sakit Swasta.
Nara benar-benar menemukan Abim dari alamat yang diberikan Salsa. Karena lukanya sangat parah, Abim tidak sadarkan diri selama tiga hari penuh, baru bisa sadar lagi.
Saat Nara datang, dia belum lama sadar. Saat kakak dan adik itu bertemu, wajah Abim yang tampan itu agak mengeras, dahinya dibalut oleh kain kasa yang sangat tebal.
Abim pernah berjanji untuk tidak mempertaruhkan nyawanya demi uang.
"Nara ....”
"Untung kamu baik-baik saja.” Nara berpegangan pada sisi ranjang Abim, air matanya langsung bercucuran.
"Mas, kamu tahu tidak kalau kamu hampir saja membuatku mati akibat jantungan?"
"Maaf, Mas memang salah karena membuatmu khawatir.” Abim mengangkat tangannya membelai ujung kepala Nara, meminta maaf dengan tulus padanya.
Mata Abim yang gelap langsung terfokus pada wajah pucat Nara, alisnya yang indah langsung mengkerut.
Adik perempuannya ini … sejak kapan berubah menjadi pucat seperti ini?
Sebagai suaminya, apa yang sudah Bian lakukan pada adiknya, Nara?
Ketika memikirkan hal ini, raut wajah Abim berubah suram. Dia merasa ada yang tidak beres di sini.
Bersambung ....
__ADS_1