SAMPAI NAFAS TERAKHIR

SAMPAI NAFAS TERAKHIR
KEBENARAN YANG PALSU


__ADS_3

Bian menundukkan kepalanya dan mencium bibir Nara dengan penuh nafsu. Tangannya meremas rahang Nara, sedangkan tangan yang lainnya memeluk bagian pinggang dengan erat.


Nara seolah-olah terpenjara dengan kuat dalam pelukannya. Ada kesenjangan besar antara tenaga keduanya.


Semakin lama tautan bibir mereka semakin kasar, sehingga membuat Nara secara sengaja menggigit bibir Bian hingga terluka.


Bian melepaskan tautan bibir itu dengan wajah muram, ibu jarinya menyeka bibir dan mengenai bagian di mana Nara telah menggigitnya. Jari-jarinya terdapat cairan merah, lalu dia langsung menatap Nara dengan sinis.


"Kenapa? Apakah kamu sedang memikirkan Wildan di hatimu, sampai-sampai tidak terima kalau aku menciummu?"


Nara tidak ingin berdebat dengan Bian, lebih tepatnya, dia tidak punya waktu untuk hal semacam itu.


"Kondisi Ibu sangat kritis. Aku sangat membutuhkan uang untuk operasinya. Kamu tidak apa-apa jika tidak percaya padaku, tetapi aku mohon, cari tahu dulu kebenarannya dan jangan asal menyalahkanku.”


“Jika ternyata Salsa yang terbukti melakukannya, berarti ucapanku benar. Tetapi, kalau sebaliknya, kamu boleh menghukumku sepuasmu. Untuk sekarang, tolong, Bian ... aku butuh uang itu untuk operasi ibuku."


Di dalam sorot mata Bian, sulit untuk menyembunyikan rasa iba itu. Selama Nara menjelaskan, dia tidak bergeming, meskipun matanya sudah memerah.


"Percayalah, apa yang aku katakan itu benar. Sebelum kamu menghukumku, bukannya lebih tepat jika kamu menyelidikinya terlebih dahulu?" imbuh Nara.


Bian diam membeku, dia tidak mengatakan apa-apa dalam beberapa waktu, kemudian menguatkan diri untuk angkat bicara.


"Oke, aku akan memberimu kesempatan. Tapi Nara, jika kamu berani berbohong padaku, kamu akan mati!"


Bian menelepon sekretarisnya dan memerintahkannya untuk membayar seluruh biaya pengobatan ibu Nara. Akhirnya, Nara menghela napas lega.


Bian mengambil ponsel Nara dan menguncinya di kamar tidurnya. Melihat bahwa sebagian besar panggilan tertuju kepadanya di log panggilan, Bian mengangkat alisnya seolah tak percaya.


Dia merasa bersalah atas apa yang telah dilakukannya pada Nara sebelum ini. Tak hanya itu, di log panggilan juga ditemukan panggilan masuk dari Abim ke Nara.


Bian masih ingat saat Nara mengatakan bahwa Salsa menggunakan ponsel Abim untuk meneleponnya dan memberitahunya bahwa Abim kecelakaan. Salsa juga memberitahu alamat rumah sakit kepada Nara.


Bian hanya melihat waktu panggilan di ponsel Nara dan dia tidak tahu bagaimana detail isi yang dibahas dalam panggilan tersebut, jadi sulit untuk menilai.

__ADS_1


Bian meminta sekretarisnya untuk menyelidiki masalah ini. Dia sedang duduk di ruang kerja, memutar pena dengan jari-jarinya dan wajah pucat Nara memenuhi pikirannya.


Mengapa wajah wanita terlihat sangat berantakan akhir-akhir ini?


Bian meras dirinya tidak melakukan apa pun yang berlebihan padanya, dia hanya sesekali memberinya pelajaran agar jera, tapi kenapa tampilan Nara berantakan seperti ini?


Saat menyadari bahwa dirinya telah memikirkan Nara sedari tadi, pena yang berputar di tangannya tiba-tiba berhenti, ekspresinya membeku untuk sementara waktu.


Sekretarisnya telah menyelesaikan penyelidikan dan langsung mengirim laporan ke Bian. Sebagai sekretaris Pak Sabian, efisiensi seperti ini sangat diperlukan.


Bian melihat laporan penyelidikan secara sekilas dan semakin dia memperhatikannya dengan baik, semakin muram wajahnya.


Dalam berita acara pemeriksaan menyatakan bahwa Salsa tidak keluar rumah pada hari itu. Untuk membuktikan hal itu, sekretaris juga melampirkan video CCTV yang diambil dari rumah Salsa.


Poin pertama, apa yang dikatakan oleh Nara dibantah dengan keras. Salsa bahkan tidak meninggalkan pintu rumahnya sedetik pun.


Bagaimana dia bisa pergi ke rumah sakit dan menelepon Nara menggunakan ponsel Abim?


Bian dengan wajah masam langsung membuka rekaman audio tersebut. Ada dua suara yang berbicara, pertama adalah suara sekretaris Bian dan suara pria lainnya adalah suara bawahan Wildan.


Sekretaris bertanya, "Apakah kamu sering menghubungi Mbak Nara, kah?"


Pria itu menjawab, "Aku sesekali menghubunginya bila perlu, karena Mbak Nara secara pribadi memintaku untuk memberitahunya tentang kabar apa pun terkait Pak Wildan."


Sekretaris itu bertanya lagi, "Kenapa Mbak Nara memintamu melakukan hal ini?"


Pria itu berkata dengan penuh emosi, "Apakah itu terlalu sulit untuk kamu pahami? Karena Mbak Nara dan Pak Wildan memiliki hubungan yang serius, mereka juga saling sayang. Sudah tidak heran jika saling peduli satu sama lain."


"Apakah kamu tidak tahu bahwa Mbak Nara sudah menikah?" tanya sekretaris itu lagi.


"Itu bukan urusanku. Mungkin karena Pak Wildan masih terobsesi dengan Mbak Nara setelah menikah? Lagipula aku melihat bahwa Mbak Nara sangat menyayangi Pak Wildan, dan kurasa hal itu tidak perlu diragukan lagi.”


“Bagaimanapun, Pak Wildan telah koma selama bertahun-tahun. Jika bukan karena cinta yang dalam, wanita mana yang bisa bertahan begitu lama untuk menunggu seseorang sadar dari komanya, kan?"

__ADS_1


Setelah mendengarkan isi percakapan mereka, tangan Bian meremas pena di tangannya dengan keras. Bian sudah mempercayai Nara dan memberinya kesempatan, tetapi tanpa diduga ternyata Bian dikecewakan lagi olehnya.


Bibir tipis Bian meluap dengan seringai dan berkata dengan kosong, "Bagus, Nara, bagus ...."


Wildan sudah lama koma dan Nara pasti merindukannya, bukan? Tidak heran dia berani menolak sentuhan Bian.


Selama bertahun-tahun Bian di penjara, dia tidak tahu berapa kali aksi kotor yang terjadi di antara mereka. Selama ini Bian dan Salsa hanya berakting dan Bian bahkan tidak benar-benar menyukai wanita ini.


Lalu bisa ditebak siapa yang kotor diantara Bian dan Nara, bukan?


Benar, Nara! Dia adalah wanita yang tak tahu malu dan kejam!


Bian akhirnya mencari cara untuk menggagalkan semua usaha Keluarga Tanjung dalam segi ekonomi.


Nara, yang menunggu dengan cemas di dalam kamar, berpikir bahwa selama Bian pergi untuk menyelidiki, dia akan dapat menemukan kebenaran. Mungkin dengan begitu, hubungan di antara mereka bisa sedikit mereda.


Namun, di luar ekspektasi, ternyata orang yang ditunggu-tunggu Nara tidak muncul, melainkan Salsa yang hadir di hadapannya.


Nara sedikit mengerucutkan bibirnya, "Kenapa ... kamu?"


Salsa meletakkan tangannya di dadanya, melangkah dengan sepatu hak tingginya dan berjalan ke arahnya, dengan penuh sarkastis.


"Kenapa memangnya? Dibandingkan denganmu, aku lebih pantas menjadi nyonya di rumah ini, bukan?"


Dengan IQ yang dimiliki Nara, sangat naif jika ingin menjatuhkannya Salsa saat ini. Salsa semakin lama semakin berani bertindak sesukanya.


Dia bahkan telah bersekongkol dengan seseorang untuk membantunya keluar dari rumah tanpa ketahuan CCTV. Tidak peduli dengan cara apa Bian akan menyelidikinya, yang jelas Bian tidak akan tahu bahwa Salsa pergi dari rumah hari itu juga.


Salsa juga merencanakan agar Bian mencari tahu tentang kebenaran bahwa Nara masih punya hubungan yang sangat dekat dengan Wildan. Salsa berusaha membuat Bian percaya bahwa Nara sangat menyayangi Wildan.


Setelah itu, dia hanya tinggal menunggu sampai kemarahan Bian meledak dan menghancurkan Nara dalam sekejap.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2