
Ekspresi wajah Nara berubah, sebelum sempat mengucapkan satu kata, Bian menyela dengan suara keras.
“Nara, saat kamu berpelukan di hotel dengan Wildan, kupikir itu adalah terakhir kalinya kamu selingkuh. Sekarang, saat kamu sudah menjadi istri sahku, kamu berani meniduri laki-laki di luar sana!”
Nara mengepalkan tangannya dengan erat, “Itu tidak seperti yang kamu pikirkan, saat itu aku mau ke .…”
“Nara, kamu benar-benar kotor!” Bian langsung memotongnya, matanya dipenuhi dengan amarah yang kuat.
Nara membeku dalam sekejap dan jari-jari putih kurusnya perlahan mengencang. Melihat bahwa Nara tidak berbicara sepatah kata pun, kecemburuan dan kemarahan Bian semakin meningkat.
Wanita sialan ini sungguh kurang ajar!
“Terbukti, tidak bisa mengelak, kan?” Bian mendorong Nara dan segera berdiri tegak.
Dengan tatapan dingin, Bian menyaksikan Nara jatuh ke lantai. Lalu, dia mengambil cek dari sakunya dan melemparkannya secara kasar pada Nara.
“Bukankah ini yang kamu inginkan? Uang yang kamu mau, kan? Aku akan memberikannya kepadamu!”
“Ingat baik-baik, jika kamu terbukti terlanjur menjual diri pada mereka ... Nara, aku akan mematahkan kakimu dengan tanganku sendiri!”
Nara telah kehilangan terlalu banyak darah sehingga wajahnya pucat. Sudut cek yang Bian lemparkan padanya tanpa sengaja mengenai wajahnya, akibatnya wajahnya jadi terluka.
Melihat cek-cek yang berserakan di lantai dan punggung kepergian Bian yang acuh tak acuh, seketika membuat hati Nara yang penuh teka-teki langsung hancur menjadi berkeping-keping.
Nara tiba-tiba teringat bahwa ketika masih muda, dia pemilih makanan. Tidak semua makanan dirasa cocok dengan lidahnya.
Bian seringkali khawatir hal ini membuat nutrisinya tidak seimbang. Dengan begitu, Bian meminta pihak dapur untuk mengganti resep dan membuat makanan yang lezat khusus untuk Nara.
Bian jelas takut dengan air, tetapi ketika melihat Nara hampir tenggelam saat di laut, tanpa berpikir dua kali dia melompat ke laut demi menyelamatkan Nara.
Setelah kejadian itu, Bian belajar renang bebas dengan tujuan untuk melindungi Nara.
Tak dapat dipungkiri, di masa lalu Bian selalu menggenggam tangan Nara dan menyayanginya sepenuh hati. Setiap hari dia selalu memanjakan bahkan memperlakukan Nara sebagai seorang ratu baginya.
Naasnya saat ini Bian hanya memiliki rasa kebencian yang mendalam pada Nara. Dia bisa saja dengan tega menggunakan kata-kata yang paling kejam untuk mempermalukannya, dengan jahat berspekulasi tentang kepribadiannya, tanpa jejak kepercayaan sedikitpun.
Nara berusaha menenangkan diri saat menatap cek yang berhamburan di lantai. Matanya berangsur basah dan air mata pun menetes membasahi pipinya.
“Bian,” gumamnya, “Apakah kita ... benar-benar masih bisa kembali?”
Setelah waktu yang lama untuk bersedih, Nara perlahan membungkuk dan mengambil cek tersebut di lantai.
Meskipun dia tahu berapa besar kebencian dan berapa kejam ejekan dari Bian melalui cek ini, tapi dia masih harus mengambilnya. Hanya dengan cek ini, biaya operasi ibunya dan biaya pengobatan nantinya akan terjamin.
Nara sudah tidak lagi peduli dengan harga dirinya, dia kembali ke kamar dan tidur dengan nyenyak.
***
Ketika dia bangun, waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Rasa pusing di kepalanya lumayan berkurang.
Tiba-tiba, Nara teringat bahwa Abim masih mengkhawatirkan perihal uang. Dia takut kakaknya tidak bisa beristirahat dengan baik jika terus-menerus di bawah tekanan.
Nara mengambil ponsel dan langsung menghubungi Abim. Telepon berdering dalam waktu yang lama, tetapi tidak ada jawaban sama sekali dari Abim.
__ADS_1
Nara bahkan sampai melakukan beberapa panggilan berturut-turut, tetap saja hasilnya nihil. Nara mengernyitkan dahi, perasaanya tidak enak.
***
Sementara, di tempat Abim .…
Deru mesin balap bergema di seluruh tempat latihan. Di bangku rest area, tepatnya di dalam saku jaket warna biru denim bergaya kasual, ponsel layar Abim beberapa kali hidup dan mati secara berulang.
Beberapa orang yang berdiri di rest area, tidak ada yang memperhatikan gerakan di sudut lain bangku. Mata mereka fokus mengikuti mobil yang melaju kencang di lapangan.
Seseorang berkata, “Kecepatan Abim melampaui batas.”
“Ini tidak beres, siapa yang mengecek mobil Abim sebelumnya?”
Begitu pertanyaan ini diajukan, semua orang merasa sedikit panik. Tidak ada satupun yang berani menjawab.
Mereka semua melihat mobil yang melaju kencang di tempat latihan dengan rasa cemas yang tinggi.
“Cepat, ikuti penekanan sisi kiri mobil! Tidak peduli bagaimana caranya, mobil Abim harus dipaksa berhenti!”
Pelatih buru-buru memberi perintah, tapi sayangnya tindakannya sudah terlambat. Mobil Abim menabrak penghalang jalan dan berguling dengan tragis.
Mobil meluncur jauh karena inersia, sehingga menyebabkan logam bergesekan dengan tanah dan memercikkan api yang semakin lama semakin besar.
Tanpa menunggu lama, tim penyelamat bergegas memadamkan api dan membantu Abim keluar dari mobil. Meskipun dia telah diselamatkan tepat waktu, namun Abim sudah dalam keadaan terluka parah.
Salah satu rekan satu timnya menemukan ponsel Abim di rest area. Dia segera mencari salah satu kontak untuk menghubungi keluarga Abim.
Setelah membuka kunci, dia melihat beberapa panggilan tak terjawab dari kontak dengan nama Nara.
Dari banyaknya kontak, ada salah satu nama yang membuat teman Abim tersebut akhirnya merasa lega. Melihat kontak dengan nama ‘My Girl’ di kontak Abim, dia buru-buru menghubungi nomor ini.
“Halo? Abim ... dia mengalami kecelakaan dan luka parah. Kami segera mengantarnya ke Rumah Sakit Husada, bisakah kamu datang?”
Melihat panggilan dari Abim, awalnya Salsa enggan menjawabnya, tetapi pada akhirnya dia berubah pikiran dan segera menjawab panggilan itu.
Saat teman Abim menyampaikan pada Salsa, dia sempat menggerutu, “Bukan urusanku.”
Namun, tiba-tiba sesuatu terlintas di pikirannya. Alisnya yang halus terangkat ringan dan tatapannya penuh dengan teka-teki.
“Selain memberi tahuku, apakah kamu memberi tahu orang lain?”
“Oh, belum. Kami melihat nomor di kontak Abim dan langsung menghubungimu. Jika memungkinkan, tolong datang ke sini secepatnya. Abim terluka parah.”
Salsa bertanya, “Aku mungkin perlu waktu untuk ke sana, apakah harus buru-buru sekali?”
“Begitulah. Kami menduga kecelakaan ini bukan kecelakaan biasa. Kami harus melaporkannya ke kantor polisi. Konvoi memiliki banyak hal untuk ditangani setelah itu, jadi tampaknya aku akan merepotkanmu dalam hal ini untuk menemani Abim di rumah sakit.”
“Aku akan ke sana secepat mungkin.” Setelah menjatuhkan kalimat ini, Salsa menutup telepon.
Dia memutar ponselnya dengan jari-jarinya yang ramping, matanya terlihat suram.
Tampaknya Salsa sedang bertanya-tanya Abim menamai kontaknya dengan nama apa, sehingga rekan satu tim Abim lebih memilih untuk segera meneleponnya daripada menelepon Nara.
__ADS_1
Salsa dan Abim dulunya pernah menjadi sepasang kekasih, tetapi hanya sedikit orang yang mengetahuinya.
Alih-alih tidak mau hubungannya dipublikasi, Salsa mencari-cari alasan untuk membohongi Abim.
Salsa mengatakan bahwa dirinya adalah putri angkat dari Keluarga Tanjung. Jika hubungan antara keduanya menyebar, maka akan mempengaruhi nama baik Keluarga Tanjung dan orang tua juga tidak akan merestui hubungan mereka.
Abim pernah menjanjikan bahwa dirinya suatu saat nanti akan menguasai Tanjung Group, dan saat itu juga dia akan mengumumkan perihal hubungannya. Dia ingin memberikan yang terbaik untuk Salsa dan tidak ingin wanita yang dicintainya menderita.
Tanpa menunggu lama, Salsa bergegas ke rumah sakit. Dia mentap sosok yang terbaring di ranjang rumah sakit dengan perasaan campur aduk.
Suatu kali, dia juga menyukai Abim, tetapi perasaan itu tidak pernah dibiarkannya melampaui batas.
Sementara Bian, bagi Salsa tetap akan menjadi laki-laki nomor satu di hatinya. Dia lebih menyukai Bian yang pemarah daripada Abim yang lebih sabar.
Salsa menggunakan ponsel Abim untuk menelepon Nara.
Beberapa detik kemudian Nara menjawab, “Mas, akhirnya kamu meneleponku, ada apa, Mas? Di mana kamu sekarang? Bian sudah memberiku cek, jadi kamu tidak perlu memikirkan biaya pengobatan ibu ....”
Salsa menyela dengan tidak sabar, “Nara, ini aku.”
“Salsa?” Nara tiba-tiba tercengang, dia melirik ponselnya lagi dan memastikan itu nomor kakaknya.
“Salsa, bagaimana bisa ponsel Mas Abim ada di kamu?”
Bukankah Salsa sudah putus dengan kakaknya? Apakah mungkin mereka masih bersama sekarang?
“Tentu saja Abim sendiri memintaku untuk membawanya.” Salsa menyeringai dingin.
“Oh, ya, Nara, Abim mengalami kecelakaan. Dia sekarang terluka parah dan terbaring di rumah sakit. Rekan satu timnya yang meneleponku dan memintaku ke sini. Kamu cepat kemari dan selesaikan masalah ini, karena ini bukan urusanku.”
Nada suara Salsa sedikit tinggi, Nara bisa merasakannya bahwa wanita ini pasti sangat bangga sekarang. Kakaknya putus dengan Salsa dan menganggap Salsa sangat penting, bahkan lebih penting daripada dirinya.
Nara meremas ponselnya erat-erat dan merasakan seluruh tubuhnya kembali sakit.
“Di rumah sakit mana?”
“Rumah Sakit Umum Kota No. 1, kamar nomor 27 di lantai 13 gedung selatan. Jika kamu telat datang, aku akan melemparkannya ke tanah dan menginjaknya sepuasku!”
“Kalau kamu berani menyentuh Mas Abim, aku akan membunuhmu!” Nara mengancam dengan kata-kata kasar dan menutup telepon.
Dia bergerak terlalu cepat, sehingga kepalanya mulai pusing lagi. Setelah menunggu beberapa saat untuk memulihkan kembali kondisinya, dia bergegas ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Nara akhirnya berhasil menemukan bangsal yang Salsa bicarakan. Dia buru-buru membuka pintu dan bergegas masuk ….
“Mas Abim ....”
Ada seorang pria yang berbaring di tempat tidur, putih dan kurus, tetapi bukan Abim. Tubuh Nara terpaku seketika, pupilnya juga menyusut.
Itu adalah pria yang paling dia takuti dalam hidupnya, yaitu Wildan!
Dia ingin melarikan diri sekarang juga!
Tiba-tiba ada suara langkah kaki di pintu bangsal. Nara menoleh dengan kaku. Tanpa disadari, wajah tampan Bian sudah ada di depannya, hal ini jauh lebih mengejutkan Nara.
__ADS_1
Bersambung ....