SAMPAI NAFAS TERAKHIR

SAMPAI NAFAS TERAKHIR
MENYERAHKAN TANDA CINTA


__ADS_3

Setelah menenangkan Lina, Nara meluangkan warktunya untuk pergi ke sudut tangga dan mencoba menelepon Abim, tapi tetap saja tidak aktif.


Sekali lagi dia teringat akan ucapan Salsa tidak lama ini, membuatnya teringat akan ayahnya. Selain itu, Nara saat ini dia juga harus memikirkan cara untuk mengumpulkan uang. Jadi, setelah berpamitan pada Lina, dia buru-buru pulang ke rumah.


Di luar rumah sakit, langit dipenuhi oleh kilat dan guntur. Di jalan, Nara bertabrakan dengan sepeda dan tidak sengaja menorehkan luka pada kakinya.


Orang tersebut meminta maaf, sedangkan Nara juga tidak membesar-besarkan masalah ini. Bajunya yang basah menempel pada lukanya, Nara berjalan tertatih-tatih pulang ke rumah.


Baru saja masuk ke rumah, dia sudah melihat ayahnya sendirian sedang mengobati luka, membuat ruangan itu dipenuhi oleh aroma amis dari cairan merah dari dalam tubuh.


"Ayah ....” Mata Nara sudah memerah.


Di bawah sinar lampu, wajahnya yang cantik itu terlihat pucat dan sangat lemah. Ayah Nara tidak menyangka kalau Nara tiba-tiba pulang dengan keadaan menyedihkan seperti ini.


"Nara, kamu kenapa?"


Selain kasihan dan tidak tega, dia juga agak canggung. Awalnya dia ingin menutupi hal ini, tapi malah tertangkap basah.


"Sana cepat mandi, nanti sakit, loh.”


Nara didorong masuk ke kamar mandi, setelah selesai dan keluar dari sana, dia melihat ayahnya sedang memasak sup ginseng, jadi dia buru-buru mendekati ayahnya.


"Ayah, biar aku saja, Ayah kan masih luka.”


Ayah Nara sedikit tersenyum dan berkata, "Tidak apa-apa, Ayah cuma tidak sengaja terpeleset, tidak parah, kok.”


Mungkin Nara akan percaya ucapan ayahnya ini kalau Nara tidak mendapatkan informasi yang sesungguhnya dari Salsa, bahwa ayahnya demi mendapatkan uang, dia dilempar keluar oleh orang lain sampai kakinya patah.


Nara begitu mudah percaya pada ucapan keluarganya, bukan salah Salsa juga kalau mengatakan mereka bodoh.


Karena mereka, seluruh anggota keluarga keluarga Tanjung, tidak pernah mencurigai keluarganya, begitu percaya satu dengan yang lain.


Juga karena hal inilah, mereka tidak henti-hentinya dimanfaatkan dan dilukai orang lain!


Seluruh jari Nara mengepal sampai memutih, dia memegang erat-erat roknya. Dia berjuang untuk menenangkan suasana dalam hatinya yang tidak keruan.


"Ayah, kaki yang terluka itu bukan masalah kecil, kita periksakan ke rumah sakit, yuk.”


Ayah Nara menolak dengan berkata, "Tidak usah, Ayah sudah selesai mengobatinya. Beberapa hari lagi pasti sembuh, jadi untuk apa buang-buang uang ke rumah sakit.”

__ADS_1


Bagaimanapun, tetap saja karena uang. Hati Nara seperti disayat, sampai tidak terasa menggetarkan pita suaranya.


"Ayah, kalau penyakit kecil tidak diobati, nanti bisa jadi semakin parah, loh. Kita periksakan ke rumah sakit, ya?”


"Nara.” Ayah Nara menggenggam tangan anak perempuannya, air matanya sudah menggenang di pelupuk mata.


"Ayah memang tidak berguna, tidak cuma tidak bisa bantu kamu dan Abim, sebaliknya malah menambah beban, ayah seperti Ayah ini, sama sekali tidak pantas dipanggil Ayah.”


"A-awalnya, Ayah ingin memberikan sebuah kehidupan yang baik, tenang dan bahagia untuk kalian, ternyata ....”


"Sudah, Ayah, jangan bicara begitu lagi, semuanya akan baik-baik saja.” Nara tidak kuat mendengarnya.


Ayahnya akhir-akhir ini banyak berubah, sampai-sampai banyak rambutnya yang memutih. Setelah mendapat banyak cobaan, sekarang dia juga begitu menyalahkan dirinya sendiri.


Bagaimana mungkin Nara tidak sedih?


Lagipula, dia sebentar lagi juga akan ... akan segera meninggalkan mereka, sudah tidak banyak waktu yang tersisa.


Ayah dan anak itu berpelukan sambil menangis sedih, seolah-olah mengeluarkan semua kesedihan yang dialami mereka beberapa tahun ini.


Tiba-tiba, ada suara pintu diketuk dari luar sana ….


Orang yang berdiri di depan pintu adalah pemilik rumah yang menyewakan rumah yang mereka tinggali saat ini. Pemilik rumah agak kaget ketika melihat Nara. Setelah itu caranya menagih biaya sewa juga berubah jadi lebih ramah.


Pemilik rumah itu tahu kalau anak Keluarga Tanjung menikah dengan Direktur Gumilang Group.


"Wah, Nara sudah pulang. Itu … untuk biaya sewa rumah periode selanjutnya ....”


Nara menggigit bibirnya dan berkata, "Bu, boleh tidak agak mundur beberapa hari lagi?"


Saat mendengar ini, raut wajah pemilik rumah berubah dalam sekejap, nada bicaranya berubah jadi sangat kasar.


"Hei, apa pantas istri dari Direktur Gumilang Group yang hebat itu berhutang uang sewa yang cuma sedikit ini pada kami? Meskipun keluarga kalian tidak sanggup membayarnya, apa tidak bisa mengulurkan tangan dan minta pada suamimu?”


“Cuma kalian yang selalu terlambat bayar uang sewa. Kalau memang tidak sanggup bayar, tidak usah tinggal di sini lagi!”


Kalimat yang begitu memukul ini terdengar begitu mengintimidasi, membuat Nara tercengang. Dia memutar cincin yang ada di jari manisnya. Dia akhirnya melepasnya, lalu menyodorkannya ke hadapan pemilik rumah.


Dia menatap lekat ke arah cincin itu dan berkata, "Cincin ini didesain oleh desainer C, satu-satunya di dunia. Ini sangat cukup dipakai sebagai jaminan pembayaran uang sewa periode ini.”

__ADS_1


Ini adalah cincin yang di pesan khusus pada desainer C saat Bian pertama kali mendapat keuntungan dari investasinya. Katanya cincin ini adalah sebagai lambang dari cinta abadi mereka, juga sebagai tanda dari ikatan hubungan mereka.


Sekarang, cinta itu sudah tidak ada lagi ….


Nara juga bisa memakai benda ini untuk mengurangi biaya sewa. Kalau dipikir-pikir ini lucu, tapi juga … menyedihkan.


Tentu saja pemilik rumah itu langsung pergi dengan gembira setelah mendapatkan benda yang berharga itu.


Setelah pintunya ditutup, alis ayah Nara mengkerut. "Nara, apakah terjadi sesuatu antara kamu dan Bian?"


Mana mungkin ayah Nara tidak tahu betapa Nara menyayangi benda itu?


Nara menjadikan hadiah yang mahal dan juga penuh makna itu sebagai jaminan atas uang sewa mereka. Hal ini membuktikan kalau ada yang berubah pada hubungan mereka.


Sebodoh apa pun ayah Nara, dia juga tidak akan mempercayai hal ini!


Nara ingin tersenyum, tapi dia memegang erat jari manis yang pernah dikalungi oleh cincin itu. Hatinya seperti digali jadi kosong, benar-benar tidak sanggup untuk tersenyum.


"Ayah, maaf ....” Nara menahan diri agar dia tidak menangis, tapi kelopak matanya sudah dipenuhi oleh air mata hingga mengaburkan pandangannya.


"Nara dan Bian … sepertinya sudah tidak mungkin lagi. Nara tidak cocok dengannya. Mungkin … mungkin kami harus cerai.”


Ayah Nara menatap lekat anak perempuannya, alisnya berkerut semakin dalam, dan dia berkata dengan sedih, "Apakah dia memperlakukanmu tidak baik?”


Nara buru-buru menggelengkan kepalanya. Ayah Nara jadi sedikit lebih tenang, dia juga merasa kalau Bian tidak seperti orang yang bisa melakukan KDRT.


Tapi, melihat Nara seperti ini, ayah Nara juga menepuk-nepuk bahu Nara dan berkata, "Kalau tidak cocok pulang saja, Ayah dan ibu akan menjadi tempat berteduhmu yang hangat selamanya.”


Tiba-tiba, air mata Nara tidak mau diajak bekerja sama, bergulir begitu saja. Nara menjatuhkan dirinya kedalam pelukan ayahnya, seperti seorang anak perempuan kecil yang sedang memeluk ayahnya yang perkasa.


"Terima kasih, Ayah Nara sayang Ayah ....”


Suasana hati ayah Nara memang sangat berantakan, tapi dia menguatkan hatinya sendiri dan tidak henti-hentinya menenangkan Nara.


Nara berpikir, kalau nanti waktu penyakit ibunya sudah sembuh, mereka sekeluarga akan meninggalkan tempat ini selamanya. Akhir dari kehidupan Nara, seharusnya dihabiskan bersama dengan keluarganya.


Tentang Bian .…


Kalau Bian tidak mau cerai, maka Nara juga tidak keberatan untuk pergi.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2