SAMPAI NAFAS TERAKHIR

SAMPAI NAFAS TERAKHIR
BERMUKA DUA


__ADS_3

t BreathBermuka Dua


Bermuka Dua


Nara menyipitkan matanya, "Apakah sudah puas, Adik Kecil?"


Salsa tidak peduli dengan julukan ‘Adik Kecil’ yang dikatakan oleh Nara.


Selama yang menjadi pemenang terakhir adalah dia, tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentang proses maupun reputasi, karena ini bukanlah jawaban akhir dari segala usahanya.


Setelah dia mengambil alih semuanya, maka semua akan mudah dia bereskan.


"Aku kan sudah bilang, Mbak Narami yang tersayang, gen warisan Keluarga Tanjung memang tidak bisa diandalkan, semuanya cukup bodoh. Tapi, aku ingin berterima kasih kepada keluargamu atas 'tradisi baik' yang selalu kalian terapkan.”


“Dengan begitu, kalian bisa dengan mudah aku tipu, terutama kamu. Bukankah, begitu?" Salsa merendahkan dengan senyum yang sinis.


"Oh, aku ke sini terutama untuk memberitahumu satu hal, Bian tidak akan mempercayaimu, tidak peduli seberapa keras usahamu untuk menjelaskan padanya, tetap saja hasilnya akan sia-sia. Apakah kamu tahu mengapa?"


"Karena orang yang Bian sayang sekarang adalah aku! Sejak dia dibebaskan dari penjara, apakah kamu masih belum merasakan perubahan sikapnya terhadapmu?”


“Selain membencimu, dia bahkan tidak memiliki rasa kepedulian lagi padamu. Terima saja kenyataan yang ada, Nara," imbuhnya.


"Salsa, orang tuaku telah melakukan yang terbaik untukmu. Mereka mengasuhmu, menyayangimu dengan tulus, dan bahkan Mas Abim mencintaimu.”


“Tapi, lihat apa balasanmu terhadap mereka? Kamu tega menyakiti mereka, bahkan menghina Mas Abim. Di mana hati nuranimu, Sal?"


Keluarga Tanjung memperlakukan Salsa dengan sangat baik. Terlebih lagi Abim, dia sangat tulus mencintai Salsa. Ayah dan ibunya juga membesarkan Salsa layaknya putri kandung mereka sendiri.


Apa yang Nara dan Sora miliki, pasti Salsa tidak melewatkan bagian itu juga.


Namun, dari awal Salsa mungkin sudah dirancang untuk menjebak keluarga Tanjung dan sebagai alat untuk menyebarkan desas-desus tentang keluarga Tanjung.


Nara hanya ingin tahu, apakah dalam hati nurani Salsa tidak ada keinginan untuk membalas perlakuan baik yang telah keluarga Tanjung lakukan padanya selama ini?


“Hati nurani?” Salsa tertawa.


“Kalau begitu, terima kasih keluarga Tanjung atas kerja kerasmu selama ini. Sebagai imbalannya, aku akan membantumu merawat Bian dengan baik di masa depan. Jangan khawatir, aku akan menjaganya dengan baik dalam semua aspek."


Untuk sesaat, Nara berniat untuk mengesampingkan kesabarannya dan ingin sekali mencakar wajah Salsa sekarang juga. Tetapi, akhirnya dia lebih memilih menahan diri.


"Aku tidak ingin mendengar lagi apa yang kamu bicarakan. Sekarang katakan di mana Mas Abim?"

__ADS_1


Salsa puas melihat ekspresi marah Nara.


Di masa lalu, Nara menyandang dengan bangga status Nyonya Tanjung yang membuatnya dipandang tinggi oleh orang lain. Tidak hanya memiliki orang tua dan saudara yang sangat menyayanginya, Nara bahkan memiliki pacar yang sangat mencintainya dengan tulus, yaitu Bian.


Pada saat itu, Nara adalah pemenang dalam segala hal!


Sementara Salsa hanya bisa berdiri di sudut, secara diam-diam iri dan cemburu. Tapi sekarang berbeda.


Giliran Salsa untuk berbalik dan berada di posisi Nara. Dia akan menginjak Nara dengan keras di bawah kakinya dan merenggut semuanya dari Nara, terutama Bian!


Pria yang satu ini, dia harus berhasil mendapatkannya!


"Mbak Nara, aku membantu Mas Abim pindah ke rumah sakit swasta dengan perawatan yang baik, sayangnya hanya aku yang tahu di mana tempatnya. Aku juga sudah mengurus biayanya, bukankah aku sangat baik hati?"


"Salsa!" Emosi Nara seketika melonjak, dia melayangkan tangannya dan hendak menampar Salsa.


Tetapi, Salsa lebih dulu menangkis gerakan Nara dengan cepat.


"Kenapa kamu jadi marah? Paling-paling aku hanya menggertak Abim sedikit. Lagipula tidakkah kamu tahu bahwa biaya pengobatan ibumu yang membuat ekonomi keluarga Tanjung berantakan?"


"Oh, mungkin karena kamu dikurung oleh Bian di sini, jadi kamu belum tahu bahwa Bian akan memutus jalur ekonomi Keluarga Tanjung sesegera mungkin. Penggalangan dana yang dilakukan ayahmu akan sia-sia.”


"Salsa! Kamu tidak punya hati sama sekali!" Nara sontak menampar Salsa dan mendorongnya hingga tersungkur ke lantai. Nara duduk di atas tubuh Salsa dan mencekik lehernya erat-erat.


"Kalau kamu tidak memberitahuku keberadaan Mas Abim sekarang juga, jangan pernah berpikir untuk bisa keluar dari sini!"


Keluarga Tanjung sekarang sedang di titik hancur-hancurnya. Nara sedang berada mengalami banyak tekanan.


Biaya operasi ibunya harus segera lunas, jika tidak nyawa ibunya akan terancam. Kakak laki-lakinya sekarang hilang entah ke mana.


Adik perempuannya belajar di luar negeri sendirian. Dia tidak tahu berapa banyak rintangan yang akan dia hadapi setelah ini.


Apakah semua masalah ini belum cukup? Mengapa Salsa harus mengarahkannya terus-terusan ke masalah seperti ini?


Nara mencekik leher Salsa dengan penuh emosi, wajah Salsa berangsur memerah.


Sebenarnya Salsa mampu melawan Nara, tetapi dia telah melakukan perhitungan waktu karena tahu Bian akan segera datang, maka dari itu dia berpura-pura lemah tak berdaya.


Nara hanya butuh jawaban di mana kakaknya berada. Sebenarnya tangannya terasa sakit saat melakukan sesuatu yang menguras tenaga, dia sedikit gemetar saat mencekik Salsa.


Wajah Nara berangsur memucat, "Salsa, bicaralah!"

__ADS_1


Begitu suara itu jatuh, pergelangan tangan Nara tiba-tiba digenggam erat oleh seseorang.


"Nara, lepaskan!"


Nara tidak mendengarkan kata-kata Bian. Tanpa menunggu lama, Bian langsung membanting tangan Nara ke samping untuk menghentikan aksinya.


Nara jatuh ke samping Salsa dan memegang tangannya kesakitan. Ketika menoleh ke belakang, dia melihat Salsa yang ‘lemah’ sedang digendong oleh Bian.


Salsa terengah-engah, suaranya lemah, "Uhuk ... uhuk ... Bian, jangan salahkan Mbak Nara, dia salah paham, dia terlalu terbawa emosi, uhuk uhuk uhuk ...."


Wanita ini sungguh bermuka dua!


Bian menyela, "Sudah sudah, berhenti bicara dulu.”


Hati Nara menegang, "Bian, sudahkah kamu menyelidikinya?"


"Kamu masih punya malu untuk menanyakan hal ini kepadaku? Caramu beralasan dan membohongi benar-benar murahan!" Bian terkekeh.


"Nara, sudah kubilang, masalah ini tidak sesederhana itu! Aku pasti akan membuatmu membayarnya!"


Ekspresi Nara sedikit terkejut, "Apa maksudmu? Tidakkah kamu sudah membuktikannya?"


Sambil menggendong Salsa di tangannya, Bian menatap Nara dengan sorot mata yang tajam. Suaranya terdengar kecewa.


"Nara, aku tidak menyangka kamu tidak hanya menjijikkan, penuh kebohongan, tetapi juga kejam .…"


Setelah bicara, Bian memeluk Salsa yang malang dan berbalik pergi. Saat Bian berbalik, Nara dengan jelas melihat senyum kemenangan di bibir Salsa. Hati Nara hancur berkeping-keping pada saat itu.


Nara awalnya berpikir bahwa setelah Bian menyelidiki tentang itu, dia akan menemukan kebenaran. Dengan begitu Bian akan percaya bahwa Nara sungguh tidak bermaksud menemui Wildan.


Nara bahkan memiliki ekspektasi yang berlebihan dalam hatinya bahwa hubungan di antara mereka dapat lebih baik setelah Bian tahu kebenarannya. Namun, Nara tidak menduga bahwa apa yang dipikirkannya tidak sesuai dengan kenyataan.


"Salsa ... kamu benar-benar kejam!"


Tampaknya Salsa benar, Bian sudah tidak lagi mencintainya. Bahkan apa pun yang dia katakan sudah tidak lagi dipercayainya.


Nara duduk di lantai untuk waktu yang sangat lama, wajahnya meredup memikirkan pria yang dulunya sangat mencintainya kini tidak bisa kembali seperti dulu lagi.


Nara merasa mungkin ini adalah waktunya untuk melepaskan Bian.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2