SAMPAI NAFAS TERAKHIR

SAMPAI NAFAS TERAKHIR
WILDAN KEMBALI


__ADS_3

Bian lalu berkata dengan ringan, “Silakan masuk.”


Dokter itu mendorong pintunya dan berjalan masuk


"pak bian, ini adalah laporan pemeriksaan mbak nara. begitu hasilnya keluar saya langsung membawanya kesini ".


Nada suara dokter itu penuh dengan sanjungan.


Bian melirik dokter itu dengan dingin, lalu mengambil laporan di tanganya. dia melambaikan tanganya sebagai isyarat agar dokter itu tidak mengganggunya.


dokter itu menundukan kepala nya lalu menyingkir ke samping. dia tampak rendah hati. tetapi perasaan nya sangat rumit. matanya yang kecil terus berputar gelisah ke tempat yang tidak bisa di lihat bian.


bian membalik lembar demi lembar laporan itu dan membaca sepuluh garis di dalamnya. begitu melihat tidak ada masalah dengan hasil pemeriksaan nara , bian menarik kesimpulan bahwa nara dalam keadaan sehat.


" Tapi kenapa dia sering pingsan??"


begitu selsesai membaca laporan itu bian masih tampak binggung.


untuk menjawab pertanyaan ini sang dokter sudah mempersiapkan dirinya dengan baik dan menjawabnya dengan sangat lancar. bahkan ,dia cerdik memikirkan kemungkinan terburuk.


" Tidak ada yang salah dengan pemeriksaan kami. Tentang mbak nara yang suka mendadak pingsan, Mungkin karena dia terlalu bekerja keras , umm...


ini, pengantin baru mungkin masih lepas kendali."


Dokter menekankan kata-kata 'bekerja keras'. dengan bumbu-bumbu ini, wajah tampan sabian berubah menjadi tegang.


bian kemudian teringat bahwa beberapa waktu lalu nara menerima uang dengan jumlah besar untuk pengobatan biaya ibunya di rumah sakit.


Bagaimana bara bisa mendapatkan uang itu.


bian diam-diam sudah bisa menebaknya. dia sangat yakin dengan tebakanya itu.


sekarang, dengan dokter menyebutkan hal itu, kenangan buruk langsung berputar di kepala bian. mata bian tampak sangat muram, dahinya yang terangkat sudah di penuhi urat yang menonjol.


Bagus, Bagus sekali !


Bian menatap nara yang masih tergolek di atas ranjang,


lalu bergegas keluar dan membanting pintu .


Sepeninggal bian dari bangsal itu, dokter yang barusan menyerahkan laporan itu diam-diam mengangkat alisnya sambil terkekeh.


di luar dugaan semuanya berjalan lancar .....


begitu melihat bian yang menghilang ,


dokter itu mengangkat telepon yang berdering tepat pada waktunya. Dia tersenyum dan berkata " umpannya sudah di makan."


salsa yang di ujung telepon menyampirkan sehelai rambutnya yang hitam ke belakang telinganya. begitu dengar kata-kata di ujung telepon, dia menjawab dengan lembut.


"semuanya berjalan dengan mulus periksa rekeningmu, aku sudah memberikanmu dengan bonus tambahan."


"OH?" Salsa tersenyum. "bagus, bagus.


mungkin ada pertunjukan yang sangat bagus ketika dia sudah benar-benar sadar. aku sangat menantikannya."


mereka tengah membicarakan wildan. yang menunjukan tanda-tanda kesadaran. sesuai dengan harapannya.


dua hari yang lalu dia sudah sadar.

__ADS_1


Dia bahkan sudah menyiapkan hadiah besar untuk bian...


hadiah yang pasti akan membuat bian menderita


#-#-#-#


Di RUMAH SAKIT


Wildan duduk di ranjang rumah sakit sambil menatap keluar jendela dengan tatapan yang gelap dan tajam.


angin menyibak tirai putih hingga melayang pelan.


tanggan rampingnya perlahan terangkat.


merasakan udara yang dibawa oleh angin dan sentuhan tirai yang menyapu ujung jari.


wajah laki -laki berwajah pucat dan tampan itu tersenyum tipis. pria itu mengepalkan tinjunya.


meskipun dia tidak terlalu berusaha keras. tetapi pada akhirnya dia bisa bangun dari tidurnya selama bertahun-tahun. Hal semacam ini anggap saja sebagai pengampunan dari tuhan.


Tiba-tiba wildan seperti tengah memikirkan sesuatu.


sorot matanya tenggelam. ujung jari yang memegang tirai menjadi putih karena pegangannya menguat.


saat itu, wildan ingat kalau dia tidak tersandung. dia ingat dengan jelas ada orang yang sengaja mendorongnya.


Saat itu, dia melihat sosok itu menghilang sangat cepat di koridor . Dia tidak dapat melihat wajah orang itu dengan jelas, yang dia ingat perawakannya cukup mungil.


Karena itu wildan curiga bahwa orang yang mendorong nya adalah seorang perempuan.Tetapi , dia juga tidak bisa mengesampingkan kemungkinan pelakunya adalah seorang pria berperawakan pendek.


tetapi pokoknya, sekarang dia sudah sadar !


Setelah sadar. Nara mengetahui bahwa bian yang telah membawanya dari panti rehabilitasi. jiwa ke rumah sakit. sontak dia merasa sedikit binggung .


begitu memikirkanya nara Bertanya-tanya apakah bian sudah tau tentang penyakitnya?


Tetapi hasilnya, satu hari berlalu , dua hari berlalu tetapi tampaknya abian seolah menghilang dari muka bumi dan tidak pernah muncul lagi.


nara menurutkan sorot matanya, lalu tersenyum pahit , berusaha menyingkirkan pikiran itu dari kepalanya.


sebenarnya, kalau pun bian ttau bahwa nara sakit . apa yang bisa dia lakukan lagi pula , nara sudah akan mati sebentar lagi.


hubungan mereka....tidak akan mungkin bisa kembali seperti dulu lagi.


nara kembali mengenyahkan pikiranvyang mengganggunya, dia lalu ke apotek untuk membeli obatvpenghilang rasa sakit. obat-obatan yang dia beli terakhir kali mungkin tertinggal di panti.


gejala penyakit nara semakin parah, jika suatu saat penyakitnya kambuh dan tidak ada obat penghilang rasa sakit dia tidak bisa menahan rasa sakit itu. mungkin dia akan memilih mengakhiri hidupnya.


setelah minum obat nara melihat pesan dari rekening bank di ponselnya.


Diam- diam dia menggigit bibir bawahnya.


uangnya habis seperti air mengalir.


situasi di rumahnya juga sedang kurang baik sekarang.


kalau hanya ada pengeluaran dan tidak ada pemasukan berapa lama lagi keluarga tanjung bisa menopang hidupnya.


ibu nara di rawat di rumah sakit dan perlu biaya yang sangat besar.

__ADS_1


ayahnya tidak bisa bekerja karena cedera kaki.


adiknya masih membutuhkan biaya sekolah dan biaya hidup yang tidak boleh kurang sedikitpun.


Terlebih lagi kakaknya masih belum pulih dari penyakitnya. tanpa bian perlu turun tangan keluarga tanjung tidak akan lama lagi akan binasa


apa yang harus aku lakukan? pikir nara di tengah-tengah pergulatan batinnya, nara tidak memperhatikan jalan di depannya.


dia tidak sengaja menabrak seseorang.


kantong obatnya pun terjatuh.


Nara berpeganggan pada dinding di sampingnya.


dia melihat sebuah tangan yang memunggut kantong obatnya dan menyerahkannya kepada nara.


"Terima kasih." nara mengangkat kepalanya sambil tersenyum.


begitu bertemu dengan pandangan orang di hadapannya, seketika senyuman di wajahnya lenyap . suhu tubuh nara turun dengan tajam, jemarinya gemetar.


begitu hendak melangkah mundur nara terjatuh dan tersungkur ke lantai.


pria di hadapannya tertawa pelan.


tawa itu terdengar sangat menyegarkan, seperti angin di musim panas yang terasa hangat.


" nara, kamu tidak senang melihatku"


nara tidak menyangka kalau dia akan berjumpa dengan wildan. sedemikian rupa dalam situasi seperti itu !


wildan yang berdiri di depannya hidup-hidup!


dalam ingatan nara cuplikan ingatan itu sangat buruk membuat nara menjadi ketakutan.


dia bahkan lupa dengan obatnya.


dia sama sekali tidak berani menatap mata pria itu.


nara nerlari dengan panik seolah-olah seekor anjing gila sedang mengejarnya.


wildan menatap punggung nara yang menjauh.


" Rani kali ini aku tidak akan kehilangan kamu lagi !"


matahari sore itu terasa sangat terik cahaya matahari bersinar ke emasan di villa yaris


di aula villa


abian menatap sosok lurus yang bersembunyi di belakang orang dewasa karena ketakutan.


setelah mendengarkan alasannya, dia memutar nomer telepon dan meremasnya.


seolah-olah dia ingin menghancurkannya berkeping-keping.


begitu panggilan tersambung, bian berusaha menaha amarahnya dengan menggertakan giginya.


dia lalu berkata "Nara, aku tidak peduli dimana kamu berada sekarang.


cepat kembali ke sini !''

__ADS_1


__ADS_2