
"Kenapa kamu pucat sekali? Bagaimana sih cara Bian merawatmu? Nanti waktu Mas keluar dari rumah sakit, Mas akan mengajarinya baik-baik.”
Abim masih belum tahu kalau hubungan Bian dengan Nara tidak baik. Dengan kondisi Abim yang saat ini, belum waktunya Nara berkata jujur.
Nara menghapus air matanya dan berkata dengan lembut, "Mas, aku baik-baik saja, wajahku cuma pucat karena kaget mendengar Mas kecelakaan.”
Wajah Abim sangat tidak enak dipandang, lalu dia berkata, "Periksa sana, kelihatannya keadaanmu saat ini sangat buruk.”
"Periksa kan harus pakai uang juga, aku tidak apa-apa, tidak perlu memboroskan uang untuk hal ini,” sahut Nara.
"Kamu masih belum diperiksa, loh, bagaimana tahu kalau itu pemborosan? Ayo nurut sama Mas, banyak gejala dari penyakit-penyakit yang akhirnya semakin ganas karena tidak segera diobati.”
"Mas Abim ....”
"Nara, ayo nurut.” Mata gelap Abim semakin gelap, seperti ketetesan tinta, nada bicaranya juga sedikit berubah, "Atau, kamu mau Mas pergi sama-sama dengan kamu?"
Nara tidak berani mengajak Abim sama-sama periksa dengannya. Dia tidak ingin keluarganya tahu kalau dia mengidap penyakit kanker.
Saat ini keluarganya ada dalam keadaan sulit, begitu kejadian ini diketahui mereka, mereka cuma akan semakin pusing dan sedih.
"Baiklah, baiklah,” Nara mengalah dan tersenyum pada Abim, "Aku pergi, puas?”
Abim membelai kepala Nara, lalu berkata dengan nada penuh kasih sayang, "Pergi sana. Beritahu aku nanti kalau hasilnya sudah keluar.”
"Oke.” Nara menghela napas panjang karena tidak bisa membantah Abim, lalu akhirnya dia memeriksakan diri.
Tapi keadaannya jauh lebih parah daripada yang dibayangkannya. Setelah mendapat hasil pemeriksaan, dokter menggelengkan kepala dan dengan iba memberi tahu Nara.
"Penyakitmu sudah semakin ganas. Kalau diobati, mungkin masih bisa bertahan agak lama.”
Nara sudah punya persiapan batin, tapi tetap saja hatinya mencelos.
Tanpa sadar, Nara mengepalkan tangannya dan berkata, "Dokter, aku masih punya waktu berapa lama?"
"Melihat kondisimu dari dulu sampai saat ini, seharusnya bisa hidup tiga bulan. Sekarang paling banyak cuma satu bulan, kamu harus menyiapkan batinmu.”
Waktunya semakin pendek ....
Hati Nara hancur.
Satu bulan …
Masih ada banyak hal yang belum dilakukannya, kelihatannya dia harus meninggalkan dunia ini dengan banyak penyesalan.
Dokter juga turut simpati melihat wajah Nara yang pucat dan ekspresinya yang hancur.
Hidup Nara yang belum seberapa lama ini, seharusnya masih bisa bersenang-senang, sebentar lagi sudah harus berakhir. Meskipun Dokter sudah sering melihat orang yang meninggalkan dunia, tapi tetap saja juga ikut sedih karena Nara.
__ADS_1
"Mbak Nara, berdasarkan kondisi Mbak saat ini, saya menyarankan Mbak secepat mungkin menerima pengobatan dan tinggal di rumah sakit. Semua pasien penderita kanker stadium akhir pasti sangat menderita.”
Meskipun saat ini penyakitnya sudah tidak bisa disembuhkan lagi dan hanya bisa menunggu ajal, tapi jika bersedia dirawat di rumah sakit, setidaknya bisa mengurangi rasa sakit, juga bisa memperlambat penyebaran sel kankernya, sehingga waktu pergi nanti tidak semenderita itu.
Nara menggigit bibirnya, tangan yang tersembunyi di bawah meja sudah mengepal erat, sampai urat di punggung telapak tangannya terlihat semua.
Nara mengerti maksud ucapan Dokter. Leukemia stadium lanjut semakin lama akan semakin menyakitkan. Sebenarnya, dia juga tidak tahu berapa lama dirinya sendiri bisa bertahan.
"Terima kasih, Dokter. Tapi aku tidak mau waktu-waktu terakhirku dihabiskan di rumah sakit, tolong berikan saja obat penahan sakit padaku.”
Dokter bertanya dengan halus untuk memastikan, "Apa Mbak yakin?"
Nara mengangguk dengan pasti. Akhirnya, Dokter tidak banyak berkata-kata lagi.
Setelah mendapat obat penahan rasa sakit, Nara yang suasana hatinya sedang berantakan tidak berani menemui Abim. Abim terlalu pintar, Nara khawatir nanti Abim bisa menebak apa yang terjadi.
Karena itu, dia mengirim sebuah pesan pada Abim yang menjelaskan hasil pemeriksaannya.
[Mas, beberapa waktu yang lalu Nara kehujanan. Karena tidak segera ditangani, jadi semakin parah terus sakit. Barusan saja dari Dokter, tidak ada masalah besar, cuma perlu istirahat.]
[Nara langsung pulang ya, besok-besok datang lagi menjengukmu. Mas juga harus cepat sembuh, ya.]
Tidak lupa Nara menambahkan stiker panda kecil yang sedang melakukan kiss bye sebagai penutup.
Abim yang melihat pesan itu dari dalam kamar pasien, memencet-mencet stiker panda yang memberinya kiss bye itu. Bibirnya merekahkan senyuman, matanya yang gelap sedikit berbinar.
Meskipun Nara tidak mengatakan apapun, tapi Abim tahu, akhir-akhir ini Nara juga sangat tidak bahagia.
Adiknya ini, sudah lama sekali tidak merengek dan mengeluarkan senyuman manisnya. Seolah-olah dipaksa jadi dewasa dalam semalam .…
***
Hari sudah sangat malam, Nara sudah tidak sempat naik bis terakhir yang beroperasi hari itu.
Dia menarik pakaiannya untuk menutup tubuhnya erat-erat, lalu duduk diam di samping halte bis, memaksa dirinya untuk terus bertahan hingga besok pagi.
Nara naik bis pertama yang beroperasi hari itu. Di dalam bis, dia bisa melihat bayangan kota yang berjalan mundur, hatinya sudah lama ditenangkan.
Semalam, dia memikirkan banyak hal ….
Tentang semua yang terjadi di masa lalu, juga tentang masalah yang sangat menyiksa yang harus dilaluinya saat ini.
Selain itu, dia juga memikirkan rencana untuk masa depan. Yang pertama dan terpenting dari semuanya ….
Dia harus memutuskan hubungan dengan Bian, bagaimanapun juga, waktunya sudah tidak banyak lagi.
Nara yang pulang ke rumah, malah kebetulan berpapasan dengan Bian di depan pintu Villa. Nara mengangkat alisnya, lalu melihat jam tangannya dengan agak terkejut.
__ADS_1
Ini baru jam enam pagi, kenapa dia pergi sepagi ini?
Tapi, karena sudah ditakdirkan untuk bertemu di kesempatan ini, Nara memutuskan untuk memberitahunya tentang perceraian mereka.
Bian sudah memarkirkan mobilnya. Saat melihat Nara yang perlahan-lahan berjalan mendekat ke arahnya, tangan yang ditaruh di belakang punggung mengepal erat lalu merenggang.
Sebenarnya waktu Nara turun dari bis, Bian sudah melihatnya. Raut wajahnya sangat pucat, kelihatannya keadaan tubuhnya juga sangat tidak baik.
Jalan beberapa langkah saja sudah harus berhenti sangat lama dan berpegangan pada pohon-pohon yang ditanam menyusuri jalanan.
Ada kalanya dalam sesaat, Bian hampir saja tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri, ingin menyusul Nara dan memeluknya erat-erat. Lalu akhirnya, Bian memilih untuk melihatnya dalam diam dari kejauhan.
Bagaimanapun, wanita ini tidak pulang semalam!
Bagaimanapun juga Bian sudah menunggunya semalaman di jalan ini.
Nara tidak tahu kalau semua pikiran Bian itu tersimpan dalam hatinya.
Nara sama sekali tidak basa-basi pada Bian, lalu langsung berkata, "Apa kamu sudah memikirkan tentang perceraian kita?"
Perkataan Nara yang mendadak ini, membuat Bian yang tidak punya persiapan batin sangat terpukul. Raut wajah Bian tiba-tiba berubah, dia menggeram dan suasana di sekitarnya tiba-tiba berubah jadi sangat mencekam.
"Nara, kamu mengabaikan semua omonganku, ya?"
Cerai, cerai!
Perempuan ini, jangan-jangan sudah tidak sabar ingin kembali ke dalam pelukan Wildan?
"Bian, kita .…”
Sebelum Nara menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba pergelangan tangannya terasa sakit, tubuhnya diseret paksa oleh Bian masuk ke dalam mobil.
Wajah lelaki itu sangat menakutkan, lalu dia menginjak pedal gas seperti orang gila, membuat Nara yang bahkan belum sempat memasang sabuk pengaman, kepalanya terbentur keras. Nara kesakitan sampai pusing seperti ada burung-burung yang sedang mengitari kepalanya.
"Bian, kamu sudah gila ya?!”
Bian tidak melirik Nara sama sekali, dia menyetir mobilnya dalam diam. Di sebuah belokan, dia tiba-tiba mengerem mendadak.
Kali ini Nara sudah bersiap-siap, tapi karena reaksinya agak lambat, tetap saja terbentur dan pusing tujuh keliling.
"Sudah lihat?"
Suasana di sekitar mereka sangat tenang, tidak ada suara sedikit pun. Bian tiba-tiba mengucapkan kalimat itu.
Nara tidak paham apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Bian, lalu sekali lagi tiba-tiba Bian menambahkan ucapannya.
"Waktu itu, aku menabrak orang di sini .…”
__ADS_1
Bersambung ....