Sang Penoreh Rindu

Sang Penoreh Rindu
Syok


__ADS_3

Matahari sudah berada di atas langit, sementara semilir angin mencium lembut para daun.


Terdengar suara motor yang terparkir di halaman rumah Aliana, pastinya itu adalah Virzha.


"Selamat siang!". sapa nya kepada buk Mufi yang kebetulan sedang menyapu halaman.


"Siang, nak". jawab buk Mufi.


"Ohh nak Virzha, silahkan masuk!" seru nya.


"Iya buk". Jawab Virzha.


Pemuda itu pun di persilahkan masuk ke dalam.


Sesampainya di ruang tamu.


"Aliana ada, buk?".


"Ada". jawab buk Mufi


"Biar ibu panggilkan, tunggu sebentar". lanjut nya.


***


Beberapa saat kemudian, Aliana pun datang menghampiri Virzha.


"Hai, Al.. ganggu ya". ucap Virzha.


"Nggak, kok".


Kemudian Aliana pun duduk di kursi sebelah nya.


"Al aku mulai aja ya ngobrol nya". ucap Virzha.

__ADS_1


"Aku tau, ini pasti sangat mendadak buat kamu. Apalagi kita baru beberapa bulan ini kenal". jelas nya


"Aku juga syok dan bingung waktu, tiba-tiba pak Yana datang ke rumah kalo katanya kamu bersedia untuk aku pinang. Padahal sebelumnya tidak ada pembicaraan apapun, loh. Aku minta maaf". Sambung nya


"Maksudnya?, Loh aku justru gak ngasih jawaban apapun" jawab Aliana.


Mendengar itu wajah Virzha semakin bingung dan ada ekspresi wajah yang sulit di jelaskan.


"Oh, gitu!". jawab Virzha terkatup


"Tapi, kalo emang kamu ada itikat baik, mungkin bisa di bicarakan lagi". timpal Aliana.


Tentu ucapan itu membuat Virzha menghela nafas lega.


"Memang kamu yakin?, Kamu juga tau, kan.. aku orang nya kayak gimana".


"Ya kenapa nggak, setidak nya kita coba dulu".


"Baiklah, kalo gitu aku ikut aja!". jawab Virzha.


"Nanti malam aku sama Ayah bakal datang lagi kesini". lanjutnya.


"Ohhh iya".


****


Malam pun tiba, Virzha dan ayah nya datang bertamu ke rumah Aliana.


"maksud saya dan anak saya kesini, saya ingin melamar kan putri pak Saipul untuk anak saya". jelas pak Umar


"Apakah bapak dan ibu mau menerima pinangan saya?". lanjutnya


Buk Mufi dan pak Saipul pun saling menatap, mereka terdiam sejenak.

__ADS_1


"Kalo untuk masalah ini, biar saya serahkan pada putri saya, Aliana.". ucap pak Saipul.


"Biar aku aja yang sampain ke Aliana, pak". Rama yang kebetulan juga ada.


Lalu Rama pergi ke kamar Aliana untuk menemui adik nya itu.


*Dalam kamar Aliana*


"Virzha datang sama ayah nya, dia minta jawaban kamu, jadi gimana?". tanya nya


Aliana terdiam mematung.


"Jawab, dong!".


"Yaudah terima aja". jawab nya sembari menahan tangis.


"Jadi gimana, di terima atau nggak?".


"Iya, di terima". Teriak Aliana.


Kakak nya pun keluar untuk menyampaikan jawaban Aliana, sementara Aliana tak bisa lagi menahan diri nya.


Tangisan nya seketika pecah, hingga pada akhirnya dia menangis sampai tersedu-sedu yang mana terdengar samar-samar sampai ruang tamu, kebetulan kamar Aliana dan ruang tamu berdampingan, hal itu membuat kakak Aliana mendatanginya kembali.


" Diam, suara kamu kedengeran ke ruang tamu, tau". Bentak Rama


"Jadi gimana?, Di terima atau nggak, mumpung semuanya belum pulang".


Melihat mata kakak nya yang seperti ingin keluar, Aliana terdiam. Dengan hanya menganggukkan kepala ia menjawab.


"Ya kalo gitu diam!! Malu kedengeran ke luar!". Seru Rama dengan nada tinggi.


Kemudian Rama ke luar dan kembali ikut berkumpul di ruang tamu.

__ADS_1


Tidak hanya melamar, pada malam itu juga ayah Virzha dan kedua orang tua Aliana langsung menentukan tgl pernikahan. Yang mana akan di selenggarakan dua Minggu setelah nya.


__ADS_2