Sang Penoreh Rindu

Sang Penoreh Rindu
Hilang dari pandangan


__ADS_3

Setelah hilang dari pandangan, Virzha masuk duluan kedalam tanpa berkata apapun.


Lalu tiba-tiba, dia kembali dan menarik tangan Aliana kedalam dengan sedikit kuat.


Ketika sudah berada di dalam kamar.


"Duduk kamu!". seru Virzha


Aliana pun duduk di samping tempat tidur.


"Bisa gak kamu hargain aku sebagai suami".


"Maksud kamu?". Aliana kebingungan


"Iya, maunya aku kamu bisa ngehargain aku sebagai seorang suami".


"Memang aku ngelakuin kesalahan apa". Aliana mencoba menjaga nada bicaranya


"Salah apa?, Kamu gak sadar kamu salah?".


"Kemarin waktu aku belum pulang, kamu seenak jidatnya terima tamu laki-laki dan berduaan di dalam nya dengan pintu yang tertutup, apa namanya kalo bukan gak ngehargain tamu?". lanjut Virzha


"Ma..maaf".

__ADS_1


Aliana pun menunduk dengan wajah sedih, ia tidak menyangka kalo hal itu akan membuat suaminya semarah itu.


Melihat istrinya yang tertunduk sedih, Virzha merasa bersalah.


"Aku tau, kamu gak biasa dengan budaya keluargaku, tapi agama kita juga mengajarkan hal itu. Sekarang kamu istri aku, hak aku, milik aku, wajar kalo aku seorang suami cemburu liat kamu dekat dengan laki-laki lain" jelas Virzha sedikit tenang.


"Harus nya sebagai istri kamu bisa menjaga batasan, meskipun iya aku tau kalian gak ngelakuin apa-apa. Tapi itu mendekat kan kalian pada fitnah. Apalagi di lingkungan rumah ini, yang mana semuanya menjunjung tinggi nilai-nilai norma. Gimana kalo hal kemarin terjadi dan menjadi kebiasaan, lalu hai itu sampai terlihat oleh tetangga dan lebih parah nya jadi bahan pembicaraan. Siapa yang lebih malu?, Aku. Aku akan di cap gagal sebagai seorang suami, yang tidak bisa mendidik istriku". lanjut nya panjang lebar.


"Maaf, aku salah". ucap Aliana.


"Sebenarnya aku mau bilang ini dari kemarin, aku tahan emosi aku sebab masih menghargai si Hakim".


"I..iya, aku akan coba buat memperbaiki diri". Aliana menahan air mata nya.


"I..iya".


"Udah cuma gitu aja, sekarang kamu bisa terusin pekerjaan kamu".


Lalu Aliana pergi ke dapur untuk membereskan bekas masak tadi, disana dia tak bisa lagi menahan diri nya. Air matanya terus mengalir sembari menahan sakit dan sesak di dada.


Virzha yang hendak membuat teh, melihat Aliana menangis tersedu-sedu sehingga menghentikan langkah kakinya.


Dengan mematung ia terus memperhatikan istri nya yang sedang sesenggukan itu.

__ADS_1


Hatinya seakan teriris dan sesak, merasa sangat bersalah karena sudah berlebihan sehingga membuat Aliana menangis, seakan sama saja sudah memarahi istri sekaligus anak nya akibat rasa cemburunya itu.


Perlahan ia menghampiri Aliana, lalu mengelus pundak Aliana, sehingga membuat nya terkejut.


"Maaf". ucap Virzha lirih


"I..iya". jawab Aliana sembari menundukkan wajahnya.


"Coba liat aku". seru Virzha


Dengan gugup dan masih sedikit takut Aliana mencoba mengangkat wajah nya.


Seketika Virzha mengecup dalam bibir istrinya yang sudah bengkak memerah akibat menangis. Kemudian dia memeluk tubuh istrinya seraya meminta maaf dengan sangat.


Namun, dalam hati Aliana. Dia masih merasa sakit dan sesak. Sehingga tidak memberikan jawaban apa-apa.


Aliana melepaskan pelukan Virzha dan beralasan untuk melanjutkan pekerjaan.


"Aku lanjutin dulu kerja, ya".


"I..iya".


"Tapi kamu maafin aku kan?". Virzha memohon

__ADS_1


Tidak ada jawaban, hal itu membuat Virzha yakin kalo istrinya masih marah.


__ADS_2