Sang Penoreh Rindu

Sang Penoreh Rindu
Lagi


__ADS_3

Setelah hari itu Abqari kembali mengajak Aliana bertemu.


Dan Aliana pun setuju, dia pikir mungkin Abqari ingin meminta maaf atas sikapnya kemarin, pikir Aliana.


Seperti biasa Abqari mengirim alamat cafe tempat mereka akan bertemu.


Lalu Aliana pun harus kembali menutup kedai nya dan bersiap-siap pergi menuju caffe tersebut.


***


Sesampainya di sana, Aliana kembali tidak melihat Abqari. Lalu ia duduk di salah satu kursi yang kosong.


Waktu pun berlalu, jam menunjukkan pukul 11:00 wib setelah hampir tiga jam lalu sejak ia menunggu, namun Abqari belum juga datang.


Di tengah lamunan nya tiba-tiba handphone Aliana berdering, ternyata itu dari Abqari.


"Hallo, Al?"


"Iya hallo, Ri"


"Kamu lagi ada di mana?" Tanya Abqari


"Aku udah nunggu kamu di sini dari tadi". Jawab Aliana


"Oh ya, yaudah tunggu aku di sana!! Aku lagi nganterin Umma dulu ke kondangan". Jelas Abqari tanpa ada rasa bersalah


"Oh, yaudah gak papa.. tapi kalo gak bisa juga gak papa ko. Lain hari lagi aja" Aliana mencoba memberi pengertian.


"Maksud kamu apa? Kamu males ketemu sama aku?". Abqari malah marah.


"Bukan gitu, Ri...".

__ADS_1


"Lagian apa susah nya sih nungu sebentar lagi, juga".


"Yaudah aku tunggu kamu, kok".


"Gitu, dong"


Abqari pun menutup telponnya.


***


Jam sudah menunjukkan pukul 15:30 wib, namun Abqari tetap belum datang juga. Dengan rasa kecewa, tanpa berpikir panjang Aliana pun memilih untuk pulang.


Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, akhirnya Aliana sampai di rumah. Ia langsung masuk kedalam kamar sehingga tidak mendengar kan panggilan ibu dan kakak nya sama sekali.


"Al, ayo makan!". seru Ibu Mufi


Tak mendapat jawaban dari anak perempuan nya ibu Mufi sudah mengerti apa yang sedang terjadi pada anak nya itu.


"Sutttttt... Sudah kamu jangan ngerecokin adik kamu, makan yang bener".


"Sudah ku bilang jangan mau sama orang macam itu, ngeyel banget tuh anak satu". dumal Raka


Sebenarnya Ibu Mufi tidak begitu menyetujui hubungan anak nya itu, sebab ia tau tentang ibu Abqari yang seorang type pemilih. Ia tidak mau anak nya akan sakit hati.


Apalagi kakak Aliana, Rama. Dia sangat menentang hubungan adik nya itu, karena ia tau jika Abqari hanya akan menggantung adik nya itu tanpa memberi kepastian, sampai kapan pun.


***


Sementara itu di dalam kamar Aliana menangis menahan rasa kecewa, lagi-lagi untuk kesekian kalinya sikap Abqari seperti itu. Egois dan masa bodo.


Ia pun merenung, kenapa Aliana mau-mau nya di perlakukan seperti ini oleh laki-laki yang jelas belum menjadi apa-apa nya. Dia merasa sangat bodoh.

__ADS_1


Lalu dia menekan kan dirinya agar kedepannya dia tak lagi mau di perlakukan semau nya. Ia juga mulai lebih memfokuskan diri nya pada pekerjaan.


****


Beberapa hari setelah kejadian itu, Abqari tidak ada kabar samasekali. Bahkan hanya sebuah pesan minta maaf pun tidak ada.


Hal ini membuat Aliana semakin yakin untuk mulai mengurangi perasaan nya pada Abqari.


Di selang pekerjaan nya, Alian membuka Sosial media. Lalu iya meng-upload foto Abqari dengan caption "Menunggu jawaban".


Hal itu dia lakukan bukan karena kebucinan nya, tapi ia ingin melihat apa Abqari akan merespon status nya atau hanya sekedar melihat saja.


Namun beberapa saat setelah ia mengupload status nya itu, belum juga ada respon dari Abqari.


Malah ada orang lain yang menanggapi sampai mengirimkan pesan.


"Hai, ini siapa ya?". isi chat tersebut.


Melihat itu Aliana merasa aneh, kenapa orang itu bertanya. Bahkan dia sendiri pun sama sekali tak mengenal orang yang memiliki account tersebut.


Namun karena penasaran, Aliana membalas nya.


"Oh.. hai, Aku Aliana. Salam kenal ya!". Balas nya.


"Salam kenal kembali. Btw itu yang kamu up Abqari, kan?". orang itu to the points.


"Oh iya.. itu Abqari, pacar aku" jelas Aliana.


Namun setelah membalas seperti itu, orang itu tidak membalas nya kembali. Hanya di lihat nya saja.


"Dasar orang aneh". Dumal Aliana.

__ADS_1


Tak mau ambil pusing Aliana pun kembali melanjutkan pekerjaan nya.


__ADS_2