
Sebulan telah berlalu, Alina tiba-tiba sakit tak berdaya.
Di karenakan di lingkungan nya masih menjunjung kepercayaan lama, membuat pak Saipul membawa Aliana pada beberapa ulama (ahli tibun Nabawi) dan orang pintar (bukan dukun tapi orang berilmu yang bisa mengobati kebatinan)
Sudah beberapa kali tapi masih belum juga ada kabar baik, keadaan nya malah semakin memburuk.
Tak sampai situ, Pak Saipul tetap optimis untuk menyembuhkan anak nya.
Untuk kali terakhir nya pak Saipul membawa pergi Aliana ke orang pintar yang tak jauh dari kampung nya, pak Yana.
Pengobatan pertama yang di lakukan di rumah pak Yana berjalan dengan baik. Lalu pak Yana mengajak pak Saipul untuk mengobrol empat mata di ruang tamunya.
"Bagai mana hasil nya pak?"
"Hasilnya cukup memperihatinkan. Ini ada air, air nya di minum dan di buat mandi". ucap pak Yana.
"Oh baik". jawab pak Saipul
"Tapi, maksudnya memperihatinkan gimana ya, pak?" pak Saipul penasaran
"Jadi, ada hati pria yang terikat kuat dengan hati nya neng Alina. Pria itu sangat mencintainya, tapi tidak ada restu dari orang tua sehingga dia hanya bisa menahan nya dan memelihara hatinya sehingga terikat dengan sangat kuat. Yang mana hal itu membuat hati neng Aliana enggan membuka hati untuk orang lain, dengan artian akan susah mendapatkan jodoh". Jelas pak Yana panjang lebar.
"Lalu, gimana caranya agar anak saya bisa sembuh?".
"Tikahkan saja dia, itu satu-satunya cara agar keterikatan itu musnah".
"Tapi dengan siapa?". pak Saipul bingung.
"Tunggu saja!" seru pak Yana
Lalu pak Saipul dan Aliana pun pamit pulang.
***
Beberapa Minggu setelah nya, pada malam hari pak Yana datang kerumah Aliana. Lalu buk Mufi mempersilahkan kan nya masuk.
* Di ruang tamu *
"Ada apa pak malam-malam seperti ini bertamu?". Pak Saipul heran.
"Ini, ada air untuk Aliana". jawab nya.
"Oh ya, gak cuma ini saja. Kedatangan saya kesini sebab ada yang mau di sampaikan". lanjut nya
"Ada apa".
__ADS_1
"Jadi gini, di kampung saya ada anak pemuda yang sedang mencari seorang istri.
Bagai mana, kalo kita coba kenalkan pemuda itu pada Aliana?".
"Maksudnya pak Yana?". buk Mufi menengahi
"Iya, supaya Aliana bisa sembuh dan bebas dari keterikatan nya" jelas pak Yana
"Ini Poto nya". lanjut pak Yana sembari memperlihatkan photo ukuran kecil.
Ketika buk Mufi menerima photo itu, sejenak dia terdiam. Dia menyadari kalo pemuda yang ada di dalam photo itu adalah Virzha. Teman Aliana yang sebulan lalu datang kerumah.
"Oh, ini nak Virzha. Saya kenal". ucap buk Mufi
"Lebih bagus kalo ibuk mengenal nya. Dia pemuda yang baik, orang tuanya menyuruh dia untuk segera menikah. Sebab butuh penerus untuk perusahaan nya." jelas pak Yana.
"Karena mungkin dengan menikah, nak Virzha bisa menerima permintaan orang tuanya" sambung nya
Mendengar itu pak Saipul dan buk Mufi saling memandang.
"Baik lah, sudah malam. Saya undur pamit". ucap pak Yana.
Pak Yana pun pamit pulang.
***
"Sayang, mama mau bicara sama kamu, bisa?"
"Bicara apa ma?" Aliana heran
"Semalam pak Yana bertamu, dia kasih kamu air. Nanti kamu minum, ya!! Sisa nya kamu mandikan". Seru buk Mufi
"Ini yang mau mama bicarakan?"
"Bukan ini, tapi sebelumnya kamu tenang ya!!"
"Oke...".
"Sebenarnya.. semalam..". ucapan buk Mufi terpotong.
"Semalam apa?". Aliana penasaran
"Semalam pak Yana menyampaikan itikad baik. Kalo Virzha teman kamu, dia bermaksud untuk melamar kamu". jelas buk Mufi
Mendengar itu Aliana kaget, emosinya meluap.
__ADS_1
"Tenang, nak!".
"Kamu yang tenang, kamu dengar dulu ucapan mama". sambung buk Mufi
"Mama rasa dia pemuda yang baik, dan mungkin siapa tau dengan kamu yang menerima dia, kamu akan menjadi lebih baik". sambung nya lagi
"Oke, aku paham... Tapi kenapa harus dia sih ma?, Dia temen aku... Pacar temen aku!!". Tegas Aliana dengan nada tinggi.
"Tapi kenyataannya dia mau melamar kamu, nak". Buk Mufi mulai terisak.
"Mama minta tolong sama kamu, tolong terima lamaran dia ya!!".
"Nggak, ya!". Tegas Aliana.
"Kamu gak kasian sama mama?". Air mata nya semakin berderai.
Melihat ibu nya menangis, sejenak Aliana terdiam.
Toh umur nya juga sudah cukup untuk berumah tangga, tapi kenapa harus Virzha, dalam benak nya. Dia adalah pacar dari teman nya sendiri, lebih lagi mereka baru kenal beberapa bulan ini, dan yang paling penting adalah, tidak ada perasaan di antara mereka berdua, begitu pun tentunya dengan Virzha sendiri.
Namun jika harus melihat ke keadaan orang tuanya, Aliana kembali luluh.
Aliana pun masuk kedalam kamarnya, ia duduk termenung di bibir ranjang.
Lalu terlintas di benak nya untuk bicara empat mata dengan pria itu.
Namun, baru juga terbesit di pikiran nya, Virzha sudah lebih dulu menghubungi.
"Hallo, Al?"
"Iya, hallo?"
"Kamu apa kabar?"
"Kabar baik". Aliana terus mencoba untuk tetap tenang.
"Emmmhhhh, hari ini kamu ada di rumah gak?". tanya Virzha sedikit ragu
"Aku ada di rumah"
"Kalo boleh, siang ini aku ke rumah kamu, boleh?".
"Boleh"
"Kalo gitu sampai ketemu nanti siang, ya". ucap Virzha lalu mematikan telponnya.
__ADS_1