School Life

School Life
Episode 14: Artikel yang hilang (Bagian 2)


__ADS_3

Keesokan harinya…


“Jadi, bagaimana hubunganmu dengan Yumi?” tanya Rey, yang masih melihat beberapa info untuk lomba yang akan datang dalam waktu dua bulan lagi.


“Tidak ada yang menarik. Dia aku ingin jadi temannya saja,” jawab Ryan.


“Jadi begitu ya, ngomong – ngomong, bagaimana perasaanmu?”


“Eh?”


***


Taki dan Sayaka kembali ke ruangan jurnalistik lagi untuk meminta beberapa data siswa yang meminta ijin untuk menyebarkan pamflet di mading.


“Kalau data aku ada, untuk bulan ini,” ungkap Lisa yang sedang mencari data tersebut.


“Iya, tapi artikel yang hilang itu adalah artikel dua bulan yang lalu kan?”


“Iya, tapi berkas itu entah ditaruh dimana oleh para kakak kelasku,”


“Mungkin bisa aku bantu?”


Taki pun menggeledah ruangan klub jurnalistik untuk mencari berkas dua bulan yang lalu. Sayaka berusaha memperhatikan data yang sudah ditumpuk di depannya. Sambil duduk, ia membaca data siswa yang ada.


“Ketemu!” seru Taki.


Ia kemudian memberikan data tersebut pada Sayaka.


“Kau yakin, ada disini?” tanya Sayaka.


“Tentu saja, itu data bulan Desember tahun kemarin,” jawab Taki dengan percaya diri.


Mereka kemudian membuka berkas tersebut. Melihat beberapa nama dan juga jenis artikel yang dipajang di mading sekolah dan juga nomor telepon pengirim. Namun saat berusaha melihatnya ada salah satu siswa yang mengirimkan artikel namun tidak tertulis jenis artikelnya.


“Jangan – jangan?”


“Tidak, ini hanya pengirimnya saja, jika kita ingin menangkap pelakunya, kita harus tahu asal – usul dari pengirimnya.” Jawab Taki.


“Apa kalian sudah menemukannya?” tanya Lisa.


“Ah, iya aku sudah menemukannya, apa kamu kenal dengan David?” tanya Taki kembali pada Lisa.


“Ah dia adalah siswa kelas 2 SMA, tahun lalu dia kesini dan meminta artikelnya dipajang di mading. Namun dia tidak menuliskan dengan jelas artikel tersebut,” jawab Lisa.


“Baiklah, Sayaka kamu sudah siap?” tanya Taki.


“Iya.”


“Baiklah, aku akan mencoba untuk menghubunginya.”


Taki kemudian mengeluarkan ponselnya, lalu ia kemudian mencatat nomor telepon kakak kelas yang bernama David.


“Lisa, bolehkah aku meminajm ruanganmu untuk introgasi?”


“Iya, boleh saja. Lagipula ruangan ini jarang sekali para anggoat yang datang.” Jawab Lisa.


Kemudian Taki mengetik sebuah pesan lalu mengirimkan pesan tersebut pada David. Tak lama kemudian terdengar ketukan pintu. Lisa kemudian berjalan menuju ke pintu dan membukakannya. Yura datang dan menunjukkan sebuah kertas.


“Maaf, apa ini milik kalian?” tanya Yura.


“Apa itu?” tanya Lisa.


“Ini adalah sebuah foto, kelihatannya ada skandal di sekolah ini.” Jawab Yura.


“Terima kasih infonya, ngomong – ngomong terima kasih juga sudah melaporkan hal ini kepada kami Kak.”


“Tidak masalah.”


Lisa kemudian menutup pintunya kembali. Dia meletakkan sebuah kertas tersebut diatas meja. Taki kemudian melihat kertas tersebut.


“Ini bahaya,” Lisa mulai gemetaran. “Ini gawat, sangat gawat. Bisa – bisa sekolah akan menuntut kami. Bagaimana ini?”


“Ya, mungkin kamu bisa berterima kasih pada sang pahlawan pencabut kertas ini. Lagi pula siapa yang ada di foto ini?”


Seseorang perempuan dan laki – laki sedang bermesraan, terpampang pada kertas tersebut. Melihat kejadian ini, Taki mulai penasaran siapa laki – laki tersebut.


“Lisa, apa kau kenal dengan orang ini?” tanya Taki.


“Tidak, aku tidak tahu siapa dia.”


Kemudian terdengar ketukan pintu lagi. Mungkin dibalik pintu tersebut adalah David. Taki kemudian berjalan ke arah pintu lalu membukakannya.


“Apa kau yang tadi mencariku?” tanya David.


“Silahkan masuk,” jawab Taki dengan santun.


David kemudian dipersilahkan duduk dimana saja asalkan dia rilex.


“Kak, sebelumnya saya akan perkenalkan diri saya, nama saya Taki dari kelas satu.”

__ADS_1


“Jadi tadi kau yang menghubungi aku?” tanyanya.


“Iya itu benar,”


“Oke baiklah, jadi ada yang ingin ditanyakan?” tanya David.


“Mungkin ini, agak sedikit lancang. Tapi ini adalah masalah data. Pada bulan Desember kemarin, kakak baru saja mengirimkan sebuah artikel kepada jurnalistik.”


“Iya itu benar.”


“Lalu, apakah kakak sengaja tidak mengisi jenis artikel?”


“Saat, itu aku tiba – tiba saja mendapatkan sebuah poster tentang lomba. Lalu aku pergi ke ruangan ini untuk meminta ijin. Tapi saat aku selesai mengisi data formulirnya, tiba – tiba saja aku teringat sesuatu jika aku belum mengisi data tersebut.”


“Begitu ya?” gumam Taki. “Boleh aku melihat posternya?”


“Iya, mungkin sudah dibuang, soalnya kemarin sudah tidak ada di mading.” Jawabnya.


“Apakah seperti ini posternya?” Lisa tiba – tiba saja menunjukkan kertas yang baru saja diterima dari Yura.


“Darimana, kau mendapatkannya?”


“Ada pihak kebersihan yang datang kesini, lalu memberiku ini,” Lisa kemudian berdiri dari tempat duduknya. “Siapa yang mengirimkan ini?”


“Aku tidak tahu siapa orang tersebut.”


“Lisa, bagaimana kau tahu itu adalah poster?” tanya Sayaka.


Lisa kemudian memberikan kertas tersebut pada Sayaka. Ia kemudian membacanya. Dirinya tiba – tiba terkejut karena artikel tersebut memang berbentuk poster dan didalamnya terdapat sebuah foto siswa SMA X.


“Kau, serius tidak tahu?” tanya Lisa untuk meyakinkan.


“Itu benar, aku juga dapat surat ancaman,” jawab David.


“Seperti apa surat ancaman tersebut?” tanya Taki.


“Aku lupa, kalau tidak salah, ancamannya adalah dia akan membuka seluruh aibku.”


“Stalker?” tanya Sayaka.


“Bisa jadi, Sayaka. Baiklah kak David. Terima kasih sudah menjawab pertanyaan kami, namun apa kakak kenal orang yang terdapat dalam poster tersebut?”


“Ah, iya aku mengenalnya dia adalah Sammy, dia adalah adik kelas. Kami berdua sangat akrab.”


“Sammy?, baiklah kak terima kasih.”


David pun berdiri dan meninggalkan ruangan tersebut.


“Kita harus menghubungi Sammy.”


“Sammy?, aku kelihatannya kenal dengan orang ini. Kalau tidak salah, dia satu kelas dengan ku,” jawab Lisa.


“Kau bisa memanggilnya?” tanya Taki.


“Ah, bisa saja, aku akan menghubunginya terlebih dahulu.”


Taki kembali melihat lembaran tersebut. Ia memperhatikan sekali lagi. Ia tiba – tiba merasa janggal.


“Bagaimana dia mengenalnya?” tanya Taki.


“Apanya?” tanya Sayaka.


“Bagaimana kak David mengenalnya?” tanya Taki. “kamu masih ingat tidak dia menyebut Sammy dengan lancar saat aku menunjukkan siapa orang ini.”


“Ah, aku mengingatnya, dia menyebutnya dengan lancar bukan?, kalau dipikir – pikir jangan – jangan…”


“Surat ancaman tersebut memang tidak ada,” sahut Taki. “Bisa – bisanya aku tertipu.”


“Taki!” panggil Lisa.


“Ada apa?”


“Kelihatannya Sammy dan teman perempuannya sudah berada di BK.” Jawab Lisa.


“Kau sedang bercada kan?”


“Tidak, aku serius. Para guru sedang memprosesnya.”


“Kelihatannya mau tidak mau kita akan segera terlibat dalam masalah yang lebih besar. Sayaka, Lisa, ayo kita ke BK sekarang.”


***


Sayaka, Taki, dan Lisa bergegas menuju ruang BK untuk mengungkap kasus ini. Ternyata hal ini cepat menyebar rupanya, atau mungkin ada salah satu pihak dimana David ingin membuat Sammy terjatuh.


Lebih buruknya lagi jika masalah ini merupakan masalah percintaan. Ternyata masa SMA begitu keras juga rupanya. Taki tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan di Kampus setelah lulus dari SMA.


Setibanya di BK, Taki kemudian mengetuk pintu. Mereka bertiga kemudian masuk ke dalam ruangan tersebut. Benar rupanya, Sammy dan teman perempuannya dalam masalah.


“Ada apa nak?” tanya guru BK yang sedang mengurus kedua siswa tersebut.

__ADS_1


“Bu, ini ada masalah dan kemelencengan, mereka sebenarnya bersalah. Tapi ada yang bersalah lagi.” Jawab Taki.


“Baiklah, saya ingin penjelasan, sebelumnya silahkan ambil bangku kalian bertiga.”


Mereka bertiga mengambil bangku dan duduk di samping para siswa yang tersebut.


“Jadi jelaskan, bagaimana kejadiannya!” pinta guru BK tersebut.


“Begini, saya juga berusaha mengejar siapa pelaku ini, karena ini juga ada kaitannya dengan ekstrakulikuler Jurnalistik, jika anda tidak percaya, silahkan bertanya pada Lisa selaku anggota Jurnalistik.”


“Baiklah saya percaya, ceritakan apa yang kamu ketahui tentang semua ini.”


“Jadi begini, kemarin terdapat poster yang terdapat gambar mereka terpampang di mading. Saya merasa kalau yang mencabut poster tersebut adalah Sammy. Untuk menutupi kebenaran tersebut, Namun ternyata pihak jurnalistik juga memiliki efek karena artikel tersebut hilang secara tiba – tiba. Ada salah satu pihak yang juga terlibat dalam kekacauan ini yaitu kak David.”


“Bagaimana kamu bisa tahu?” tanya Guru BK. “Apa kau sudah dapat bukti mengapa si David ini ikut terlibat?”


“Iya, karena dengan lancar dia dapat menyebutkan siapa yang terdapat dalam gambar tersebut. Dan saya juga mendapat info dari dirinya kalau dia juga mendapat surat ancaman.”


“Jadi begitu, silahkan panggil David.”


Lisa, kemudian menghubungi David melalui telepon. Beberapa saat kemudian, David pun datang ke ruangan BK.


“Ada apa Bu?” tanya David.


“David, apa kau mendapat surat ancaman tersebut?” tanya Guru BK tersebut.


“Ah iya, terkait dengan poster, memang saya mendapat surat ancamannya.”


“Kalau begitu dimana surat ancamannya?”


“Saya sudah membuangnya.”


“Maaf, kak tapi teman ku kak Yura, sudah mencari sampah kertas dibuang pada bulan Desember. Namun tidak ada surat tersebut,” sahut Taki.


Wajah David kemudian berubah menjadi ketakutan.


“Kan bisa saja, kertas tersebut sudah dibuang oleh Yura.”


“Iya, itu benar, tapi aku pada saat itu juga aku mencegah kak Yura untuk membuang sampah kertas yang terdapat pada bulan Desember.”


“Tunggu dulu, bukankah sampah sudah tercampur semua?” tanya David dengan membantah semua yang diucapkan Taki.


“Maaf, aku punya teman juga selain kak Yura di bagian kebersihan. Dalam peraturan baru terdapat peraturan dimana sampah berbentuk kertas akan dipisah dengan sampah plastik dengan tujuan agar siswa tidak kesulitan untuk mengobrak abrik sampah,” sanggah Sayaka.


“Lalu juga, kau yang melakukan semua ini, karena kau tahu siapa orang yang terdapat dalam foto ini dengan polosnya kamu menjawab dengan lancar. Anak kecil pun dapat menjawab siapa pelakunya. Yang jelas itu kau kan pelakunya kak David?”


“Kelihatannya saya tidak punya alasan lagi,” jawab David. “Itu benar, aku yang melakukannya. Ini semua salahmu Sammy!”


“Bagaimana, aku bisa salah?” tanya Sammy. “April sendirilah yang memang sudah membencimu.”


“Sudah cukup.” Guru BK tersebut berdiri dan mencukupkan alasan – alasan yang konyol tersebut. “Terima kasih, ngomong – ngomong, kamu masih baru tapi bisa melakukan semua ini. Kamu siswa baru tersebut kan?”


“Itu benar.”


“Baiklah, sekian dulu, kalian bertiga bisa keluar. Untuk David, April, dan Sammy tetap disini.”


Taki, Sayaka, dan juga Lisa pun keluar dari ruangan tersebut.


“Taki, Sayaka, terima kasih sudah membantuku. Untuk Sayaka, aku minta maaf saat kejadian SMP itu.” Lisa pun menundukkan kepalanya.


Sayaka kemudian memeluk Lisa. “Tenang saja, kamu sudah ku maafkan.”


“Terima kasih, semangat untuk lombanya.”


Lisa kemudian melepaskan pelukannya. Dan sekali lagi ia berterima kasih. Lalu Lisa meninggalkan Taki dan Sayaka untuk kembali ke ruangan jurnalistik.


“Taki?”


“Iya, ada apa?”


“Apa kamu tahu yang terjadi sebenarnya?”


“Aku sudah mengetahuinya, kalau ini adalah masalah percintaan. Sudah terlihat jelas kak David menuduh Sammy.”


“Jadi begitu ya, Bagaimana jika suatu saat aku pergi meninggalkanmu seperti April, apa yang akan kamu lakukan?” tanya Sayaka dengan menundukkan kepalanya.


“Mungkin, karena hal itu tidak akan terjadi.”


“Eh?”


“Itu tentu saja, kamu tidak mungkin akan meninggalkanku. Aku yakin itu, karena Sayaka tidak akan mungkin melakukan hal itu,” jawab Taki dengan tersenyum.


“Begitu ya.”


“Ngomong – ngomong ayo kita ke ruangan klub, kita sudah sehari tidak berada di ruangan.”


“Baik…”


 

__ADS_1


 


__ADS_2