School Life

School Life
[Season 2] Episode 21: Menyelinap


__ADS_3

Berbaring diatas kasur, Felinda terus memandangi langit – langit atap.


Terlihat sangat bosan karena pada hari ini tidak ada siapa – siapa di rumah.


Taki pergi ke sekolah karena ada urusan mendadak. Memang kurang berapa hari


lagi sebelum rapotan. Hal itu terus dipertanyakan di kepala Felinda.


Tiba – tiba sebuah ide terlintas di kepala Felinda. Bagaimana jika dirinya


pergi ke SMA X. Tidak masalah jika hanya berkunjung saja karena para siswa


tidak banyak yang masuk. Ide yang lumayan cemerlang namun dirinya tidak tahu


arah menuju SMA X. Ia kemudian melompat dari tempat tidurnya dan mengambil


ponselnya.


Ia membuka fitur maps untuk


mencari lokasi SMA X.


***


Seorang siswa laki – laki berlari di lorong sekolah. Dia tengah terburu –


buru untuk menuju ke suatu lokasi. Terdapat sebuah lencana di lengan seragam


kirinya. Bertuliskan sebuah OSIS yang tidak lain dia adalah pengurus OSIS. Dia


tengah tergesa – gesa karena ada sesuatu hal yang ingin di sampaikan.


Setibanya di ruang OSIS, dia tengah melapor.


“Bagaimana perkembangannya?” seseorang tengah duduk dan memunggungi


pengurus yang baru saja datang dengan tergesa – gesa.


“Semua sudah sesuai rencana.”


“Kerja bagus Edward, kau berhasil membuka kotak pandora tersebut. Dan kau


juga berhasil menarik perhatiannya. Siswa yang dahulu pernah memecahkan kasus


tersebut kini popularitasnya mungkin sudah meningkat. Aku yakin dia pasti akan


kesusahan dalam memecahkan kasus yang kau buat,” ujar ketua OSIS tersebut.


“Baiklah itu saja, lakukan agar dia benar – benar tidak bisa memecahkan kasus


ini.”

__ADS_1


“Baik.”


Edward pun pergi meninggalkan ruangan.


“Taki… Faraday… siswa baru yang ternyata cukup populer. Akan aku jatuhkan


kepopuleranmu.”


***


Felinda tiba di sekolah kakaknya. Dia hanya ternganga melihat gedung SMA


yang begitu besar. “Aku tidak menyangka jika sekolah ini sangat besar.”


Pikirnya. Meski begitu sepi tetap saja Felinda tidak berani untuk masuk ke


kawasan sekolah tersebut. Bagian depan saja sudah tepapar oleh sebuah taman


yang membuat lebih rindang.


“Pantas saja kakak betah disini.” Ujarnya.


Sekolah SMA X memang tengah sepi saat ini karena jika pun masuk tidak akan


ada mata pelajaran. Felinda kemudian masuk ke dalam sekolah tersebut. Hal


seperti ini seharusnya dilarang tetapi dirinya tetap memberanikan dirinya.


“Felinda, apa yang kamu lakukan disini?” tanya Taki.


“Ehmm, aku… sedang jalan – jalan kakak tahu kan aku di rumah sangat


kesepian.”


Taki kemudian memukul jidatnya.


“Aku ke sekolah hanya sebentar saja. Tapi apa…”


“Wah Felinda, selamat pagi,” sapa Sayaka yang baru saja turun.


“Kak Sayaka…” Felinda mengampiri Sayaka. Dia tengah kagum melihat seragam


yang dikenakan Sayaka. Sebuah seifuku pelaut berwarna hitam dari atas sampai rok pendek diatas lutut.


“Jadi begini ya seragam SMA X?” tanya Felinda. Matanya bebinar saat


melihat Sayaka mengenakannya. “Kakak sangat cocok saat mengenakannya.”


Wajah Sayaka pun memerah. “Ka… kalau kamu mau, di ruangan klub ada


sisanya.”

__ADS_1


“Tunggu, mengapa di ruangan klub ada seragam untuk para gadis?” tanya


Taki.


“Iya, saat itu kepala sekolah meminta untuk memajang seragam ini. Lagipula


seragam ini juga sama persis dengan seragam yang ada di Jepang.”


“Jadi, begitu ya…”


“Bolehkah aku mengenakannya?” tanya Felinda.


“Tentu saja.”


***


Beberapa saat kemudian, Felinda pun mengenakan seragam yang digunakan


untuk lomba cosplay. Sayaka dan Taki menunggu di depan ruangan. Taki memasukkan


kedua tangannya ke saku celananya dan menyandarkan di dinding.


“Taki, aku punya permintaan untukmu…”


“Apa?”


“Jagalah adikmu. Aku tidak ingin apa yang terjadi padaku terjadi pada


Felinda juga.”


“Oke aku mengerti.”


Apa yang Sayaka katakan, itu adalah sesuatu yang benar. Dirinya sudah


terlalu banyak melihat kejadian yang membuat dirinya bersedih. Taki juga


mengingat kalau dirinya juga memiliki masalah dengan adiknya. Mungkin cara yang


tepat adalah menyelesaikannya. Namun bagaimana caranya. Itu adalah hal yang


selalu saja dipikirkan oleh Taki. Masalah tersebut cukup berat baginya.


Setelah selesai, Felinda pun keluar dari ruangannya. Dia terlihat lebih


menawan dimata Taki.


“Wah, Felinda terlihat cantik.” Puji Sayaka dengan tersenyum.


Felinda kemudian melihat Taki sambil tersenyum. Taki kemudian membalas


senyumannya. Mungkin Felinda sudah melupakan masalah tersebut.

__ADS_1


__ADS_2