
Berbaring diatas kasur, Felinda terus memandangi langit – langit atap.
Terlihat sangat bosan karena pada hari ini tidak ada siapa – siapa di rumah.
Taki pergi ke sekolah karena ada urusan mendadak. Memang kurang berapa hari
lagi sebelum rapotan. Hal itu terus dipertanyakan di kepala Felinda.
Tiba – tiba sebuah ide terlintas di kepala Felinda. Bagaimana jika dirinya
pergi ke SMA X. Tidak masalah jika hanya berkunjung saja karena para siswa
tidak banyak yang masuk. Ide yang lumayan cemerlang namun dirinya tidak tahu
arah menuju SMA X. Ia kemudian melompat dari tempat tidurnya dan mengambil
ponselnya.
Ia membuka fitur maps untuk
mencari lokasi SMA X.
***
Seorang siswa laki – laki berlari di lorong sekolah. Dia tengah terburu –
buru untuk menuju ke suatu lokasi. Terdapat sebuah lencana di lengan seragam
kirinya. Bertuliskan sebuah OSIS yang tidak lain dia adalah pengurus OSIS. Dia
tengah tergesa – gesa karena ada sesuatu hal yang ingin di sampaikan.
Setibanya di ruang OSIS, dia tengah melapor.
“Bagaimana perkembangannya?” seseorang tengah duduk dan memunggungi
pengurus yang baru saja datang dengan tergesa – gesa.
“Semua sudah sesuai rencana.”
“Kerja bagus Edward, kau berhasil membuka kotak pandora tersebut. Dan kau
juga berhasil menarik perhatiannya. Siswa yang dahulu pernah memecahkan kasus
tersebut kini popularitasnya mungkin sudah meningkat. Aku yakin dia pasti akan
kesusahan dalam memecahkan kasus yang kau buat,” ujar ketua OSIS tersebut.
“Baiklah itu saja, lakukan agar dia benar – benar tidak bisa memecahkan kasus
ini.”
__ADS_1
“Baik.”
Edward pun pergi meninggalkan ruangan.
“Taki… Faraday… siswa baru yang ternyata cukup populer. Akan aku jatuhkan
kepopuleranmu.”
***
Felinda tiba di sekolah kakaknya. Dia hanya ternganga melihat gedung SMA
yang begitu besar. “Aku tidak menyangka jika sekolah ini sangat besar.”
Pikirnya. Meski begitu sepi tetap saja Felinda tidak berani untuk masuk ke
kawasan sekolah tersebut. Bagian depan saja sudah tepapar oleh sebuah taman
yang membuat lebih rindang.
“Pantas saja kakak betah disini.” Ujarnya.
Sekolah SMA X memang tengah sepi saat ini karena jika pun masuk tidak akan
ada mata pelajaran. Felinda kemudian masuk ke dalam sekolah tersebut. Hal
seperti ini seharusnya dilarang tetapi dirinya tetap memberanikan dirinya.
“Felinda, apa yang kamu lakukan disini?” tanya Taki.
“Ehmm, aku… sedang jalan – jalan kakak tahu kan aku di rumah sangat
kesepian.”
Taki kemudian memukul jidatnya.
“Aku ke sekolah hanya sebentar saja. Tapi apa…”
“Wah Felinda, selamat pagi,” sapa Sayaka yang baru saja turun.
“Kak Sayaka…” Felinda mengampiri Sayaka. Dia tengah kagum melihat seragam
yang dikenakan Sayaka. Sebuah seifuku pelaut berwarna hitam dari atas sampai rok pendek diatas lutut.
“Jadi begini ya seragam SMA X?” tanya Felinda. Matanya bebinar saat
melihat Sayaka mengenakannya. “Kakak sangat cocok saat mengenakannya.”
Wajah Sayaka pun memerah. “Ka… kalau kamu mau, di ruangan klub ada
sisanya.”
__ADS_1
“Tunggu, mengapa di ruangan klub ada seragam untuk para gadis?” tanya
Taki.
“Iya, saat itu kepala sekolah meminta untuk memajang seragam ini. Lagipula
seragam ini juga sama persis dengan seragam yang ada di Jepang.”
“Jadi, begitu ya…”
“Bolehkah aku mengenakannya?” tanya Felinda.
“Tentu saja.”
***
Beberapa saat kemudian, Felinda pun mengenakan seragam yang digunakan
untuk lomba cosplay. Sayaka dan Taki menunggu di depan ruangan. Taki memasukkan
kedua tangannya ke saku celananya dan menyandarkan di dinding.
“Taki, aku punya permintaan untukmu…”
“Apa?”
“Jagalah adikmu. Aku tidak ingin apa yang terjadi padaku terjadi pada
Felinda juga.”
“Oke aku mengerti.”
Apa yang Sayaka katakan, itu adalah sesuatu yang benar. Dirinya sudah
terlalu banyak melihat kejadian yang membuat dirinya bersedih. Taki juga
mengingat kalau dirinya juga memiliki masalah dengan adiknya. Mungkin cara yang
tepat adalah menyelesaikannya. Namun bagaimana caranya. Itu adalah hal yang
selalu saja dipikirkan oleh Taki. Masalah tersebut cukup berat baginya.
Setelah selesai, Felinda pun keluar dari ruangannya. Dia terlihat lebih
menawan dimata Taki.
“Wah, Felinda terlihat cantik.” Puji Sayaka dengan tersenyum.
Felinda kemudian melihat Taki sambil tersenyum. Taki kemudian membalas
senyumannya. Mungkin Felinda sudah melupakan masalah tersebut.
__ADS_1