School Life

School Life
[Season 2] Episode 18: Prologue


__ADS_3

Langit mulai berubah menjadi oranye. Awan gelap telah pergi meninggalkan jejak. Genangan air menghiasi taman pada sore itu. Seseorang anak perempuan yang masih berumur lima tahun, berlarian keluar dari apartemennya. Lalu muncul juga seseorang anak laki – laki yang setahun lebih tua, tidak lain dia adalah Taki masih berumur enam tahun.


“Felinda, hati – hati.” Taki memasukkan kedua tangannya dalam saku celananya. Ia mengikuti kemana adiknya berlari tersebut.


Tiba – tiba saja Felinda, menghilang dari pandangan Taki. Dirinya pun mulai menghela nafas dengan lesu. Felinda selalu saja hilang, ketika pintu apartemen sudah dibuka. Saat tengah mencari Felinda, Taki mendengar suara tangis seseorang. Taki sangat mengenal suara tersebut. Ia kemudian mengampiri sumber suara tersebut.


Ia melihat Felinda terjatuh dengan kakinya yang terdapat goresan luka. Taki kemudian membantu Felinda untuk berdiri dan mencarikan tempat duduk untuknya. Taki merabah kedua sakunya dan ia pun mengeluarkan sebuah benda yang berupa hansaplash.


“Diam, jangan banyak bergerak.”


Taki mulai memasangkan pada lutut yang tergores tersebut.


“Lain kali, hati – hati dalam bergerak,” Taki mulai menasihati adiknya tersebut. “Lagipula sebelumnya aku sudah memperingatkanmu.”


“Terima kasih kak.” Felinda kemudian tersenyum manis.


“Kalau begitu, akan aku belikan eskrim.”

__ADS_1


“Iya…”


***


“Felinda…” panggil temannya yang berada di sebelahnya.


“Maaf, aku melamun lagi, Fani.”


“Dasar, kau memang selalu saja.” Fani pun menarik nafasnya dalam – dalam. Ada sesuatu yang ingin dia tanyakan pada Felinda.


“Felinda, apa benar kau akan pindah ke Surabaya?” tanya Fani sambil menundukkan kepalanya.


“Begitu ya,” jawab Fani. “Tapi, aku penasaran, kamu mau bersekolah dimana?”


“Mungkin, aku akan satu sekolah dengan kakakku kali ini.”


“Apa?” Fani pun terkejut. “Kau mau melakukan hubungan brocon dengan kakakmu?”

__ADS_1


“Itu tidak akan pernah terjadi.”


“Dasar, Felinda kecilku selalu saja malu mengungkapkan kejujurannya pada sahabatnya sendiri. Lagipula…” Fani mulai membisik di telinga Felinda. “Terkadang aku penasaran, seberapa sayangnya dirimu pada kakakmu?”


“Pe-pertanyaan konyol apa itu?”


“Baiklah, sampe bertemu besok. Persiapkan dirimu untuk ujian agar kamu bisa lulus tanpa penyesalan.”


Fani pun berlari ke depan sedangkan Felinda akan berjalan menuju zebra cross. Saat berhenti di lampu lalu lintas, Felinda kemudian menatap langit.


“Apa yang sedang dilakukan kakak ya saat ini?”


Hari ujian pun telah tiba. Fani mengerahkan seluruh kemampuannya agar cepat lulus. Ujian diadakan kurang lebih selama 4 hari yang dimana terdapat pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris, dan IPA.


Empat hari kemudian, Felinda berhasil menyelesaikan ujiannya. Kini tiba saatnya untuk menjalankan prosesi kelulusan. Seluruh siswa di SMP tersebut lulus seratus persen. Felinda merasa lega, ia kemudian mencari Fani. Saat itu Fani tengah menunggu di pintu keluar sambil membawa rapor. Felinda berlari mengampirinya.


"Selamat ya..." ucap Felinda.

__ADS_1


"Kau juga, ngomong - ngomong. Setelah ini jangan lupa untuk selalu menjawab pesanku."


Fani pun meninggalkan Felinda. Dari lubuk hati terdalam Felinda bertkata "Aku janji tidak akan melupakanmu." Entah kenapa Felinda sangat khawatir dengan Fani.


__ADS_2