School Life

School Life
Episode 15: Perlombaan telah tiba


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian…


Mereka berlima belajar dengan giat untuk menghadapi perlombaan yang akan diadakan besok. Sekolah juga sudah mengizinkan kelima siswa tersebut untuk tidak mengikuti kelas karena perlombaan. Hampir seharian penuh, Mereka belajar dengan serius.


“Taki, bukankah setiap tim itu hanya terdiri dari tiga orang?” tanya Rey.


“Iya, itu benar.”


“Lalu mengapa kamu membawa seluruh anggota?”


“Kemarin aku mendapatkan info jika setiap tim harus memiliki cadangan anggota. Untuk menggantikan peserta bila peserta utama tidak hadir.”


“Jadi begitu ya?”


“Jika seperti itu modelnya, mungkin kau bisa menyiapkan sebuah strategi,” sahut Ryan.


“Strategi?” tanya Sayaka.


“Oi, oi, kita tidak bisa mengganti anggota seenaknya ya.”


“Jadi siapa saja yang besok akan maju ke panggung?,” tanya Sayaka “Konsepnya besok adalah bentuk duel jadi kemungkinan akan memakan waktu dua hari.”


“Taki, Sayaka, dan juga Ryan,” sahut Yumi.


Semua terkejut saat Yumi memutuskan sepihak.


“Ini adalah saat yang tepat, karena memang kalian bertiga lah yang siap untuk menghadapi perlombaan besok.” Lanjut Yumi.


“Baiklah, jika itu maumu, bagaimana denganmu Ryan?” tanya Taki.


“Aku tidak masalah,” jawab Ryan.


“Ini waktu yang tepat untuk menunjukkan kelebihanmu,” bisik Yumi di telinga Ryan.


Seketika wajah Ryan memerah. Semua melihat kelakuan dua orang tersebut sangat aneh akhir – akhir ini.


“Oh ya, Taki, kau kan beberapa bulan yang lalu tidak pernah hadir, kemana saat itu kau dan Sayaka?” tanya Rey.


“Saat itu aku menghadapi satu kasus yang unik.”


Taki mulai menceritakan kejadian beberapa bulan yang lalu. Tentang kasus yang bisa – bisa menghancurkan klub jurnalistik. Namun semua akhirnya sudah terungkap. Bagaimana nasib April, Sammy, dan juga David. Mereka sudah berteman kembali, motif yang lucu namun bisa saja menghancurkan satu klub.


“Kurang lebih seperti itu ceritanya.”


Semua mulai menempelkan kepalanya diatas meja. Mungkin kelelahan karena harus menyerap banyak materi. Taki kemudian membangunkan Sayaka.


“Sayaka, ayo kita ke kantin,” ajak Taki.


***


Setibanya di kantin, Taki merasa kagum karena kantinnya lebih luas dari biasanya. Biasanya terlalu ramai makanya terlihat sepi. Kali ini terlihat lebih luas.


“Jadi, begini ya kantin sekolah ini saat sepi.”


“Apa ini baru pertama kalinya kamu kabur dari kelas?” tanya Sayaka sambil menyeruput teh hangatnya.

__ADS_1


“Kita sedang ijin bukan kabur,” jawab Taki sambil memegang sandwich-nya. “Lagipula mengapa kamu minum yang hangat – hangat di musim kemarau ini.”


“Aku memiliki alergi terhadap dingin. Jadi aku putuskan untuk minum yang hangat – hangat. Lagipula ini perintah kedua orang tua ku.”


“Sangat ketat sekali ya keluargamu?”


“Tidak juga.”


Tiba – tiba suasana berubah sepi kembali.


“Sayaka,” panggil Taki. “Bagaimana jika kita besok kita kalah?”


“Kita belum mencobanya,” jawab Sayaka. “Ternyata nyalimu sangat besar ya, kalau tidak salah kamu mirip dengan kakakku, dia juga memiliki nyali yang amat besar. Sayangnya dia sudah meninggal dalam menjalankan misi.” Sayaka kemudian meletakkan teh di sampingnya. “Punya saudara itu sangat menyenangkan, ngomong – ngomong apa kamu punya saudara?”


“Aku punya adik, dia masih di Jakarta. Katanya dia ingin di Jakarta dan ingin menghabiskan masa SMP nya bersama teman – temannya.”


“Jadi kamu selisih satu tahun denga adikmu?”


“Iya, lagipula dia juga mirip denganmu, secara fisik.”


“Hmm, dasar.”


“Dia akan bersekolah disini,” jawab Taki. “Akan aku kenalkan dia padamu.”


***


Keesokan harinya, matahari menyinari kota Surabaya saat pagi. Jalanan begitu sepi, hingga mulai banyak kendaraan yang lalu lalang.


Taki duduk di kasurnya sambil memikirkan sesuatu. Memikirkan bagaimana agar SMA A bisa dikalahkan. Ilmu yang didapat pun kadang juga tidak cukup perlu ada strategi.


Taki kemudian keluar dari kamarnya untuk mempersiapkan segalanya.


Setelah semua selesai, Taki kemudian berangkat menuju sekolahannya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kalimat tersebut tiba – tiba saja terlintas dikepalanya. Setibanya di sekolah, Sayaka, Yumi, Ryan, dan Rey sudah menunggu.


“Kau sudah siap Taki?” tanya Ryan.


“Iya.”


“Jangan, menyia – nyiakan kesempatan ini.”


Mereka kemudian menyewa sebuah mobil dengan drivernya. Taki hanya bisa diam saat berada di mobil sambil menatapi jalanan. Japan Festival sebuah acara jejepangan yang mengusung beberapa perlombaan akademik maupun non akademik yang akan di selenggarakan di Jatim Expo.


“Ini adalah event pertama kita,” seru Rey.


Setibanya di Jatim Expo, suasana sangat begitu ramai. Tidak disangka ternyata acara seperti ini bisa se-ramai ini. Mereka pun kemudian masuk dan mengikuti briefing. Sistem perlombaannya adalah duel antar tim dengan lima pertanyaan. Siapa yang mendapat poin tertinggi maka dia akan lolos ke babak selanjutnya. Rey dan Yumi akan melihat dari bangku penonton.


Lawan pertama SMA X adalah SMA S. Tahun ini adalah tahun dimana semua SMA Negeri berkumpul.


Tim yang kebetulan akan maju terlebih dahulu adalah SMA X melawan SMA S. Taki, Sayaka, dan Rey maju ke atas panggung. Mereka berdiri di mimbar yang berada di kiri. Taki kemudian menutup matanya, Kerahkan semuanya yang kamu tahu. Tim juri kemudian menekan tombol mulai. Saat itu perlombaan dimulai. Sang juri kemudian memberi pertanyaan. Tim SMA X kemudian menekan tombol saat pertanyaan selesai dibacakan.


Jawabannya adalah benar, kalimat itu terucap dari Juri. Poin 10 diraih oleh SMA X. SMA S masih mendapat poin 0. Pertanyaan berikutnya pun keluar. Setiap pertanyaan yang terjawab, SMA X selalu saja bisa menjawab. Sehingga mereka maju ke babak berikutnya.


Satu persatu musuh ditaklukan oleh SMA X. SMA A mulai menanggapi serius terkait SMA X. Timnya kelihatannya sudah mendapatkan musuh yang sepadan. Memasuki babak Semi Final. SMA X lolos memasuki babak tersebut yang akan diselenggarakan besok.


Sayaka dan Taki ingin melihat – lihat seputar event tersebut.

__ADS_1


“Sudah berapa lama ya aku tidak kesini?”


“Eh, memang kau pernah sebelumnya?”


“Saat itu masih SMP jadi tidak terlalu ingat juga.”


Tiba – tiba saja ada anak yang menangis. Kira – kira dia masih SD, Taki dan Sayaka menghampiri anak kecil itu.


“Kamu tersesat ya?” tanya Sayaka.


Anak kecil itu langsung memeluk Sayaka dengan cepat. Sayaka pun mulai kebingungan dengan maksud anak kecil itu.


“Dimana orang tua mu?” tanya Sayaka.


“Tidak tahu.”


“Siapa namamu?” tanya Taki.


“Rina.”


“Baiklah Rina kita akan mencari orang tua mu,” kata Sayaka dengan tersenyum. Ia kemudian menggandeng Rina.


Mereka kemudian memutari lokasi acara tersebut. Satu per satu, Taki bertanya tentang kedua orang tua Rina tersebut. Disaat yang sama, Sayaka kemudian berusaha membuat Rina tenang dan tidak menangis. Sayaka kemudian membelikan beberapa gantungan kunci yang imut untuk Rina.


“Sayaka, apa tidak apa – apa kamu menghabiskan beberapa uangmu untuk membeli gantungan kunci?”


“Tenang saja, lagipula juga besok aku bisa beli lagi.”


Taki kemudian melihat ke salah satu stan yang mencual gantungan kunci couple. Ia kemudian berjalan ke stan tersebut dan memilih gantungan kunci yang cocok. Karakter Sword Art Online, Kirito dan Asuna. Mungkin Sayaka akan menyukainya. Ia kemudian membeli gantungan kunci tersebut.


Hari menjelang sore, tiba – tiba saja ada pengumuman tentang anak yang hilang bernama Rina. Taki dan Sayaka kemudian membawa Rina ke sumber suara. Setibanya disana terdapat kedua orang tuanya, Rina kemudian berlari dan memeluk ibunya. Taki dan Sayaka kemudian merasa lega. Tidak lama kemudian tiba – tiba saja ada salah satu orang yang mengampiri kedua orang tua Rina. Tidak salah lagi jika ia adalah kakaknya. Namun seragamnya juga tidak asing. Siswa SMA A, dia melirik Taki dengan sinis.


Matanya seolah – olah memberi tantangan. Taki kemudian menatap kembali anak tersebut. Mungkin inilah pertarungan yang sesungguhnya SMA A melawan SMA X.


“Taki, ada apa?” tanya Sayaka.


“Tidak apa – apa kok, semua baik – baik saja.”


“Terima kasih ya nak, kalian menolong kami,” kata ibunya Rina.


“Ah tidak apa – apa kok,” jawab Sayaka. “Besok kita akan bermain lagi ya.” Kata Sayaka pada Rina. Rina pun mengiyakan permintaan Sayaka.


“Kalau begitu kami pamit terlebih dahulu.”


Kedua orang tua tersebut berpamitan lalu, disusul oleh salah satu siswa SMA A yang juga merupakan kakak Rina.


“Tadi, ada apa Taki?”


“Kakak Rina, adalah siswa SMA A. Wajahnya menunjukkan keyakinan kalau SMA A akan menang, namun kali ini tidak.”


“Taki?”


“Kita akan memenangkan lomba ini.”


 

__ADS_1


 


__ADS_2