
“Apa tadi kamu bilang?” tanya Sayaka pada Taki dengan terkejut. “Seleksi
tes?”
“Iya, tapi aku mungkin tidak pintar di beberapa mata pelajaran seperti
matematika.” Jawab Taki yang tengah melihat brosur SMA X.
“Kalau begitu aku bisa membantu adikmu belajar.”
“Aku juga tidak memaksamu untuk melakukannya. Tapi kalau kamu benar –
benar ingin membantu besok kamu bisa datang ke rumahku.”
“Baiklah.”
Sayaka terlihat sangat semangat sekali. Mengingat kembali kasus yang
meneror Clara, terasa tidak mungkin untuk dipecahkan. Sudah pasti susah karena
berkaitan dengan sesuatu yang tidak terlihat. Kutukan sekolah terlihat seperti
legenda sekolah ini. Taki tidak yakin dengan buku tua yang baru saja ia pinjam
dari Lisa.
Jika buku itu adalah sejarah, berarti di masa lalu hal seperti ini pernah
terjadi. Unik, jelas sekali sangat unik. Bisa saja kasus ini menjadi kasus
terberat dalam hidup Taki. Namun hal yang lebih menariknya adalah terdapat satu
lembar halaman yang hilang. Lisa sudah mengatakan kalau itu adalah mantra untuk
membuka kotak pandora dari SMA X.
Seketika ada yang mengetuk pintu. Taki menoleh ke pintu dan penasaran
siapa yang mengetuk pintu. Taki pun berdiri dari tempat duduknya dan berjalan
ke pintu. Ia menarik ganggangnya.
Lisa berdiri tepat di depan Taki. Ia sambil membawa beberapa lembar yang
merupakan pengumpulan data – data.
“Aku mendapatkan info baru,” ujar Lisa.
“Baiklah,” jawab Taki.
Lisa pun masuk ke dalam ruangan. Ia meletakkan tumpukan – tumpukan kertas
tersebut diatas meja tengah yang dikelilingi oleh dua sofa.
“Jadi ada info apa?” tanya Sayaka.
“Entahlah, aku menemukan tumpukan data ini di gudang ruangan Jurnalis.”
Taki mengambil satu lembar langsung membacanya.
“Bisa kau jelaskan apa ini?”
“Itu adalah catatan sekolah dari beberapa siswa,” jawab Lisa. “Tulisan ini
dimulai pada tahun 20xx hingga dua tahun terakhir kertas semacam ini tidak
pernah muncul.”
“Apa?, dua tahun yang lalu?”
“Iya.”
“Kenapa Taki?” tanya Sayaka.
“Tidak Rey pernah bercerita kalau dua tahun yang lalu pernah terjadi pembunuhan,”
jawab Taki. “Entah pembunuhan atau bunuh diri aku tidak tahu dengan pasti.”
“Iya, aku juga pernah dengar ceritanya secara detail,” sahut Lisa.
“Seperti apa ceritanya?” tanya Taki.
“Baiklah akan aku ceritakan, tapi mungkin ini agak sedikit mengerikkan
__ADS_1
sebenarnya itu bukan terjadi dua tahun yang lalu tapi 25 tahun yang lalu.”
“Ceritakan saja…”
***
Tahun 19xx, langit begitu mendung. Tidak ada cahaya matahari, warna kelabu
menyelimuti suasana di sekolah tersebut. Begitu suram, banyak sekali coretan –
coretan di dinding.
“Woy, serahkan uangmu sekarang juga.” Beberapa preman siswa di sekolah
tersebut mengelilingi dua siswi SMA X yang begitu ketakutan. Tidak ada harapan
untuk lari bisa kabur. Mereka berdua benar – benar terpojok.
“Ka-kami tidak punya uang.”
“Heh, jadi kalian mau kami…”
“Heii…” terdengar suara siswa putra. Dia berdiri sendiri tanpa pasukan dan
senjata.
“Wahh, mau jadi pahlawan nih?”
Preman tersebut berjumlah tiga. Dan siswa putra tersebut hanya sendirian.
Salah satu dari ketiga preman tersebut tanpa basa basih langsung menyerang
siswa putra tersebut. Mengayunkan tinju, siswa putra tersebut berhasil
menangkisnya. Siswa tersebut mematahkan tulang tangan preman tersebut.
“Kau ini selalu saja, percuma kau mengadu pada guru – guru. Tidak akan ada
yang terjadi.”
Kedua preman tersebut berlari terbirit – birit dan satunya lagi terbaring
diatas lantai. Siswa perempuan tersebut mengampiri kedua gadis tersebut.
“Kami baik – baik saja, terima kasih. Nanti kami bayar biaya anda.”
“Tidak perlu, aku hanya melakukan apa yang aku lakukan. Aku curiga
bagaimana siswa seperti kalian betah bersekolah disini?”
“…”
“Baiklah, lupakan kata – kataku, sekarang pergilah ke kelas.”
Siswa yang menolong kedua gadis tersebut membalikkan badannya dan
meninggalkan mereka berdua. Salah satu gadis tersebut berteriak “Anu, siapa
namamu?”
“Takaki, itulah namaku.” Jawabnya.
Takaki terus berjalan lalu namun tanpa di sadari terdapat siswa putri yang
sedang menyandar di dinding.
“Kerja yang bagus Takaki.” Ujar siswa putri tersebut. Takaki kemudian
menghentikan langkahnya.
“Sayuki, sampai kapan kita harus melakukan hal ini?” tanya Takaki.
“Sampai kita berhasil membasmi para siswa nakal tersebut.”
“Menurutmu berapa lama lagi?” tanya Takaki. “Kita sudah melakukan ini
sejak lama dan kita sudah berada di tahun ketiga. Banyak sekali siswa disana
yang menderita.”
“Menurutmu apakah para petinggi akan membenahi sekolah ini?” tanya Sayuki.
“Aku tidak tahu.”
__ADS_1
***
SMA X di tahun 19xx adalah tahun yang buruk. Siswa banyak sekali yang suka
menyakiti satu sama lain. Para petinggi sudah melakukan segala upaya bahkan
ancaman untuk penutupan sekolah tersebut karena gagal mendidik para siswanya.
Hal ini merupakan hal yang sangat mengerikan bagi kepala sekolah maupun para
siswa.
Siswa di tahun ketiga mungkin sudah tidak perlu khawatir karena mereka
akan segera lulus. Sedangkan siswa tahun pertama dan tahun kedua akan
memindahkan diri ke sekolah lain. Tidak tahu alasan sebenarnya mengapa sekolah
tersebut selalu saja dipandang buruk oleh para petinggi.
Saat itulah inisiatif muncul dari siswa SMA X yang bernama Sayuki untuk
membuat sebuah klub Keamanan dan Ketertiban dengan tujuan untuk agar siswa
lebih disiplin lagi. Meski begitu cara tersebut masih belum ampuh. Banyak
sekali kegagalan yang terjadi. Bahkan sampai mengancam jika klub tersebut
adalah klub iseng aja. Meski begitu klub itu masih berjalan.
Ruangan klub Keamanan dan Ketertiban, ruangan dengan ukuran kecil terdapat
dua bangku dan lemari beserta satu buah meja. Disampingnya terdapat jendela
yang mengarah langsung menuju lapangan dengan tujuan agar banyak yang melihat
kejadian yang ada di lapangan. Setiap hari Sayuki dan Takaki selalu saja sibuk
mengurusi para siswa – siswa yang selalu saja membuat ulah. Memang sedikit
melelahkan namun itu adalah hal yang terbaik.
Sayuki memiliki wajah yang selalu saja serius dan tidak bisa diajak untuk
bicara. Meski begitu, skill bertarungnya cukup baik. Sedangkan Takaki memiliki
wajah yang sangat malas namun dia sangat niat untuk menghajar para remaja yang
kurang didikan. Dua orang siswa ini saja merupakan member dari klub Keamanan
dan Ketertiban.
Meski begitu, Takaki masuk ke dalam klub tersebut karena dipaksa oleh
Sayuki. Mengingat sebelumnya, Takaki pernah menghajar preman di sekolah
tersebut demi melindungi orang lain. Tetap saja Takaki selalu saja dianggap
remeh oleh musuh – musuhnya. Namun kekuatan berkelahinya jauh lebih baik.
Menggunakan kekuatan untuk melindungi yang lemah adalah prinsip hidup Takaki.
Fasilitas dalam ruangan tersebut juga terdapat kotak surat diluar ruangan
dan juga telepon genggam untuk melaporkan kekacauan yang terjadi.
“Jadi, Sayuki?”
“Apa?” tanya Sayuki yang masih memandangi buku yang ia baca.
“Kau tidak berniat untuk membuka perekrutan?” tanya Takaki.
“Aku takut ada salah kewenangan disini, hal itu pernah terjadi beberapa
bulan yang lalu,” jawab Sayuki. “Jika ada yang mendaftar biasanya akan aku
layani, namun susah sekali mencari siswa yang sama sepertimu.”
Takaki hanya bergumam saja lalu melihat ke arah jendela. Matahari sudah
mulai terbenam. Sudah saatnya untuk pulang. Namun hal itu tidak berlaku kepada
klub Keamanan dan Kedisiplinan. Mereka benar – benar pulang paling terakhir.
__ADS_1