School Life

School Life
[Season 2] Episode 19: Pandora Box


__ADS_3

Taki tengah bersin untuk ketiga kalinya. “Mungkin aku merasakan sesuatu yang aneh.”


“Apa yang kamu rasakan?” tanya Sayaka yang duduk di sebelahnya.


“Seseorang ada yang sedang membicarakan aku dan seluruh rahasiaku.”


Pintu ruangan kemudian terbuka, Ryan dan Rey kemudian masuk ke dalam ruangan tersebut. Ruangan yang sudah direnovasi, semua berkat perlombaan sebulan yang lalu.


Perlombaan yang menentukan nasib klub ini. Namun pada nyatanya kekalahan tersebut berada di hadapan mereka. Sebuah keajaiban saja, tiba – tiba wakil kepala sekolah meresmikan klub mereka. Dengan kata lain, klub mereka menjadi legal. Alasannya cukup sederhana, proses tersebutlah yang menjadikan klub tersebut legal.


“Ada kabar apa Rey?” tanya Taki.


“Hmm, Taki, mungkin ini akan sedikit mengganggu mu.” Rey mulai berbicara dengan serius. “Apa kamu sudah tahu, kalau sekolah ini…”


“Aku sudah mengetahuinya, ini adalah rumor umum.” Sahut Taki. “Lagipula rumor ini hampir di setiap sekolah ada. Dan aku tidak terkejut jika kamu menceritakannya. Lagipula dirimu terlalu banyak melihat Another.”


“Another?” tanya Sayaka.


“Anime, yang bercerita tentang kutukan sekolah,” jawab Taki.


“Tapi, ini terjadi dua tahun yang lalu,” sahut Rey. “Konon ada anak yang meninggal bunuh diri dari lantai atas.”


Taki kemudian melihat sekelilingnya. Kali ini akan tertarik dengan legenda yang diceritakan oleh Rey.


“Itu sudah bukan legenda lagi namanya,” ungkap Taki dengan pelan. “Kita tidak tahu apakah akan ada hal buruk atau tidak, yang jelas itu bukanlah legenda.”


“Penyebab kematiannya, karena dia sering dibully oleh teman sekelasnya,” Rey pun mulai bercerita.


“Baiklah…”


“Namun, dia sudah berulang kali melakukan terapi. Tapi hasil terapinya tidak berhasil. Dia pun memutuskan bunuh diri. Tetapi ada cerita lain kalau dia dibunuh.”


Sayaka tiba – tiba memeluk lengan Taki sambil menundukkan wajahnya di pundak Taki.

__ADS_1


“Eh Sayaka ada apa?”


“A-aku… t-t-takut,” jawabnya. Wajah Sayaka begitu ketakutan setelah ia mendengar cerita dari Rey. “Ini gawat… a-a-aku tidak bisa tidur nanti malam.”


Mengingat Sayaka yang tinggal sendirian karena orang tuanya sedang bekerja di luar kota. Biasanya mereka akan kembali pada akhir pekan.


“Tenang saja, nanti juga hilang kok.”


Rey melihat mereka berdua begitu mesra, sampai – sampai dia memikirkan suatu saat waifu-nya akan menjadi kenyataan. Ryan melihat kelakuan mereka, sedikit membuatnya resah.


“Astaga, jadi kalian tidak menyadari ini ruangan klub.” Keluh Ryan.


***


“Taki, untuk sementara ini tinggalah bersamaku!”


Taki terkejut saat mendengar permintaan dari Sayaka. Di depan rumahnya dengan langit yang sudah mulai berwarna oranye. Wajah Sayaka masih ketakutan saat mendengar cerita dari Rey. Meski begitu, Taki memikirkan kembali.


“Aku mohon.” Wajah Sayaka saat memohon kadang membuat Taki merasa kasihan dan tidak tega. Seperti anak kucing yang memohon pada majikannya. Kelopak matanya mulai membesar. Taki tanpa berpikir panjang lalu mengiyakan permintaan Taki.


Waktu sudah menunjukkan pukul 21.00. Taki masih mengenakan seragam sekolahnya yang seharusnya dipakai untuk besok. Dirinya hanya duduk di sofa dan memainkan sebuah ponselnya. Namun dirinya tiba – tiba kalau kedua orang tua Taki juga mengadakan dinas diluar kota selama dua hari.


“Taki, kamar mandinya sudah kosong, kamu boleh memakainya,” panggil Sayaka. Setidaknya Taki harus mengambil beberapa baju tidur.


Hari semakin larut malam, waktu sudah menunjukkan pukul 00.00 dini hari. Sayaka masih tak kunjung tidur. Taki memilih untuk tidur dilantai yang sudah diberi alas karpet dan juga bantal beserta selimut.


“Taki…”


“Apa?”


“Kamu belum tidur kan?”


“Aku tidak bisa tidur.”

__ADS_1


“Aku juga.”


Taki kemudian membangunkan badannya. Dia melihat sekeliling kamar Sayaka yang gelap. Hanya ada satu lampu tidur yang redup.


“Besok, kita tidak perlu datang ke sekolah.”


“Kenapa?”


“Karena, kita sudah menyelesaikan UASnya dan besok hanya ada jam kosong,” jawab Taki. “Aku akan menghubungi Ryan, jika kita besok tidak masuk.”


Sayaka pun tersenyum dengan keputusan Taki.


“Lagipula, ayo kita habiskan malam ini. Bulannya begitu indah diluar sana.”


Taki berdiri dan membuka jendela kamar Sayaka. Sayaka kemudian mematikan AC-nya. Udara yang masuk begitu sejuk.


“Sudah lama ya kita tidak seperti ini.”


Taki duduk membelakangi jendela dan Sayaka duduk disebelahnya sambil membawa selimut. Dia menyelimuti dirinya dan Taki, lalu menyandarkan kepalanya.


“Taki, aku boleh bertanya tidak?” tanya Sayaka dengan nada pelan.


“Boleh saja, kamu mau bertanya tentang apa?”


“Ini soal kuliah, apa kamu sudah menentukan akan kuliah dimana?”


“Entahlah, aku tidak tahu. Mungkin diluar kota.”


“Kau yakin mau kuliah diluar kota?” tanya Sayaka lagi. Namun kali ini terasa berbeda. Ada rasa sedih di dalam hati Sayaka yang tidak bisa dijelaskan. “Aku ingin bersamamu, aku ingin kamu tidak lagi pergi meninggalkanku.” Sayaka meneteskan air matanya. “Aku tidak ingin kamu seperti kakakku yang meninggalkan aku. Dan… a-a-aku sudah menganggapmu sebagai kakakmu.”


Taki masih dia membisu. Dia kemudian memeluk Sayaka dengan erat. “Dasar, aku tidak akan meninggalkanmu kok. Aku ingin selalu bersamamu juga selamanya. Dan aku juga tidak ingin meninggalkanmu sendirian,” jawab Taki. “Kau mungkin tahu kalau aku juga merasa kesepian. Jadi ayo kita bersama.”


“Janji?”

__ADS_1


“Aku janji, aku akan kembali jika sudah lulus.”


Mereka membuat janji yang tidak akan pernah mereka lupakan. Matahari kemudian sudah terbit. Mereka berdua pun tidur dengan pulas. Tangan mereka bergandengan dengan erat seakan mereka berdua tidak mau melepaskannya.


__ADS_2