School Life

School Life
[Season 2] Episode 23: Zero (Bagian 2)


__ADS_3

Suasana SMA X masih sangat suram. Langit pun mendukung suasana sekitar.


Telepon tiba – tiba saja berbunyi. Takaki pun bergegas dari tempat duduknya


untuk mengangkat telepon tersebut.


“klub Keamanan, ada yang bisa saya bantu?”


Terdengar suara ketakutan. Suara tersebut sampai pada telinga Sayuki. Tiba


– tiba terdegar telepon terputus.


“Takaki?”


“Suara itu adalah suara perempuan. Terlihat seperti ketakutan, kita harus


mencarinya.”


Sayuki dan Takaki pun bergegas dari ruangan klub untuk segera mencari


suara perempuan tersebut. Mereka berdua berpencar ke segala area. Saat Takaki


tengah berlari, dirinya melihat sebuah kerumunan. Kerumunan tersebut berada di


depan toilet pria. Takaki kemudian menerobos kerumunan tersebut.


“Anggota kedisiplinan.” Kata Takaki sambil menunjukkan kartu identitas.


Takaki terkejut apa yang dilihatnya. Sebuah mayat tergeletak dan berceceran


darah.


Takaki kemudian memperhatikan mayat tersebut. Dia terlihat seperti ditikam


di bagian pinggangnya. Lalu juga terdapat pisau di sampingnya. Pisau tersebut


terlepas dari tangannya.


Tak lama kemudian, Sayuki pun datang. Ia terkejut melihat apa yang ada


dihadapannya. Sungguh mengerikan, Takaki kemudian berlari kembali ke ruangan


klub lalu menelepon ambulance.


Setelah ambulance datang dan membawa mayat tersebut, Takaki dan Sayuki


mulai melakukan penyelidikan. Hal ini sangat jarang terjadi bahkan tidak pernah


sama sekali. Polisi masih berada di TKP dan Takaki masih belum bisa melakukan


penyelidikan yang ada adalah diusir jika menerobos. Satu – satunya cara adalah


menunggu para polisi pergi.


“Ini sangat aneh, bagaimana menurutmu Takaki?”

__ADS_1


“Aku tidak bisa memberikan pendapat. Aku hanya perlu waktu berpikir


mengapa hal ini dapat terjadi.”


“Iya aku pun juga begitu.”


Takaki kemudian memutar balik badannya, seketika ia melihat sosok yang


mengenakan tudung kepala. Ia berdiri sambil memandangi dari kejauhan. Seketika


ia menghilang dibalik dinding. Takaki pun mengejarnya. Sosok tersebut sudah


tidak ada.


Takaki memiliki perasaan yang tak nyaman. Sesuatu yang buruk akan terjadi.


Dan dirinya tidak mengetahui hal apa yang terjadi. Tiba – tiba saja terdengar


sebuah teriakan. Teriakan tersebut tidak jauh dari lokasi dia berdiri. Teriakan


tersebut adalah suara laki – laki.


Takaki kemudian kembali lagi ke lokasi TKP karena lokasi tersebut adalah


sumber suara teriakan tersebut. Seluruh polisi menghilang semua. Entah hilang


kemana tidak ada yang tahu.


Hari menjelang sore suasana sekolah masih hiruk pikuk. Para siswa tidak


diperbolehkan pulang. Entah banyak sekali kejadian yang aneh hari ini. Keadaan


Takaki dan Sayuki kembali ke ruang klub untuk menyelidiki kasus pembunuhan


yang baru saja terjadi tadi siang. Gerbang sekolah masih dipenuhi mobil polisi.


Banyak para orang tua juga khawatir di luar sana.


“Jadi bagaimana?” tanya Takaki yang tengah duduk dihadapan Sayuki.


“Kasus ini agak sedikit rumit. Makin kesini makin rumit dan malah susah


ditebak.” Sayuki terlihat sedikit cemas sambil menyandarkan badannya dikursi.


“Jadi apa yang sebenarnya kamu pikirkan?” tanya Takaki saat melihat raut


wajahnya yang sangat cemas.


“Yah ini hanya jarang terjadi saja. Kau tahu aku mengingat sebuah buku


kuno dan jika ada pembunuhan di sekolah ini, maka akan terjadi banyak sekali


kutukan yang akan datang. Sekolah ini ternyata memiliki kekuatan mistis


dibaliknya,” ujar Sayuki. “Kita harus menghentikan kutukan ini, tapi

__ADS_1


kelihatannya mustahil sekali.”


Takaki kemudian berdiri dan menyandarkan badannya di dinding. Ia kemudian


mulai berpikir bagaimana cara menghentikan kutukan tersebut. Jika tidak selesai


pada hari ini maka akan banyak sekali kutukan yang akan datang.


“Sayuki?” panggil Takaki “Bukannya kau tahu tentang buku tersebut?”


Sayuki kemudian menoleh kearah Takaki.


“Buku apa?” tanya Sayuki.


“Buku yang barusan kau katakan.”


“Buku kuno?”


Takaki menganggukkan kepalanya. Sayuki pun tiba – tiba teringat akan suatu


hal tentang buku tersebut. Sayuki kemudian berdiri dari tempat duduknya.


“Aku tahu buku tersebut. Ada di gudang kalau tidak salah,” ujar Sayuki.


“Aku pernah melihatnya sekali.”


***


“Tunggu dulu, jika buku tersebut ada di gudang, berarti buku tersebut


masih ada,” ujar Taki yang sejak tadi menyimak Lisa yang sedang bercerita.


“Iya, tapi buku tersebut telah dibakar kalau tidak salah,” ungkap Lisa.


“Mau aku lanjut ceritanya?”


“Tidak perlu.”


Lisa kemudian berpamitan pada mereka berdua dan pergi meninggalkan mereka.


Taki kemudian menutup pintunya.


“Jadi?”


“Aku tidak dapat pencerahan,” jawab Taki sambil menyandari di depan pintu.


“Oh ya, kapan kamu akan mengajari adikku?”


“Bagaimana jika besok, seharusnya kan kita kosong besok. Jadi tidak perlu


datang ke sekolah.”


“Benar juga, baiklah besok di rumahmu ya?”


“Eh…”

__ADS_1


“Kau tahukan aku tidak boleh membawa teman cewek kerumah jadi…”


“Baiklah, apa katamu saja kalau begitu.”


__ADS_2