
Suasana SMA X masih sangat suram. Langit pun mendukung suasana sekitar.
Telepon tiba – tiba saja berbunyi. Takaki pun bergegas dari tempat duduknya
untuk mengangkat telepon tersebut.
“klub Keamanan, ada yang bisa saya bantu?”
Terdengar suara ketakutan. Suara tersebut sampai pada telinga Sayuki. Tiba
– tiba terdegar telepon terputus.
“Takaki?”
“Suara itu adalah suara perempuan. Terlihat seperti ketakutan, kita harus
mencarinya.”
Sayuki dan Takaki pun bergegas dari ruangan klub untuk segera mencari
suara perempuan tersebut. Mereka berdua berpencar ke segala area. Saat Takaki
tengah berlari, dirinya melihat sebuah kerumunan. Kerumunan tersebut berada di
depan toilet pria. Takaki kemudian menerobos kerumunan tersebut.
“Anggota kedisiplinan.” Kata Takaki sambil menunjukkan kartu identitas.
Takaki terkejut apa yang dilihatnya. Sebuah mayat tergeletak dan berceceran
darah.
Takaki kemudian memperhatikan mayat tersebut. Dia terlihat seperti ditikam
di bagian pinggangnya. Lalu juga terdapat pisau di sampingnya. Pisau tersebut
terlepas dari tangannya.
Tak lama kemudian, Sayuki pun datang. Ia terkejut melihat apa yang ada
dihadapannya. Sungguh mengerikan, Takaki kemudian berlari kembali ke ruangan
klub lalu menelepon ambulance.
Setelah ambulance datang dan membawa mayat tersebut, Takaki dan Sayuki
mulai melakukan penyelidikan. Hal ini sangat jarang terjadi bahkan tidak pernah
sama sekali. Polisi masih berada di TKP dan Takaki masih belum bisa melakukan
penyelidikan yang ada adalah diusir jika menerobos. Satu – satunya cara adalah
menunggu para polisi pergi.
“Ini sangat aneh, bagaimana menurutmu Takaki?”
__ADS_1
“Aku tidak bisa memberikan pendapat. Aku hanya perlu waktu berpikir
mengapa hal ini dapat terjadi.”
“Iya aku pun juga begitu.”
Takaki kemudian memutar balik badannya, seketika ia melihat sosok yang
mengenakan tudung kepala. Ia berdiri sambil memandangi dari kejauhan. Seketika
ia menghilang dibalik dinding. Takaki pun mengejarnya. Sosok tersebut sudah
tidak ada.
Takaki memiliki perasaan yang tak nyaman. Sesuatu yang buruk akan terjadi.
Dan dirinya tidak mengetahui hal apa yang terjadi. Tiba – tiba saja terdengar
sebuah teriakan. Teriakan tersebut tidak jauh dari lokasi dia berdiri. Teriakan
tersebut adalah suara laki – laki.
Takaki kemudian kembali lagi ke lokasi TKP karena lokasi tersebut adalah
sumber suara teriakan tersebut. Seluruh polisi menghilang semua. Entah hilang
kemana tidak ada yang tahu.
Hari menjelang sore suasana sekolah masih hiruk pikuk. Para siswa tidak
diperbolehkan pulang. Entah banyak sekali kejadian yang aneh hari ini. Keadaan
Takaki dan Sayuki kembali ke ruang klub untuk menyelidiki kasus pembunuhan
yang baru saja terjadi tadi siang. Gerbang sekolah masih dipenuhi mobil polisi.
Banyak para orang tua juga khawatir di luar sana.
“Jadi bagaimana?” tanya Takaki yang tengah duduk dihadapan Sayuki.
“Kasus ini agak sedikit rumit. Makin kesini makin rumit dan malah susah
ditebak.” Sayuki terlihat sedikit cemas sambil menyandarkan badannya dikursi.
“Jadi apa yang sebenarnya kamu pikirkan?” tanya Takaki saat melihat raut
wajahnya yang sangat cemas.
“Yah ini hanya jarang terjadi saja. Kau tahu aku mengingat sebuah buku
kuno dan jika ada pembunuhan di sekolah ini, maka akan terjadi banyak sekali
kutukan yang akan datang. Sekolah ini ternyata memiliki kekuatan mistis
dibaliknya,” ujar Sayuki. “Kita harus menghentikan kutukan ini, tapi
__ADS_1
kelihatannya mustahil sekali.”
Takaki kemudian berdiri dan menyandarkan badannya di dinding. Ia kemudian
mulai berpikir bagaimana cara menghentikan kutukan tersebut. Jika tidak selesai
pada hari ini maka akan banyak sekali kutukan yang akan datang.
“Sayuki?” panggil Takaki “Bukannya kau tahu tentang buku tersebut?”
Sayuki kemudian menoleh kearah Takaki.
“Buku apa?” tanya Sayuki.
“Buku yang barusan kau katakan.”
“Buku kuno?”
Takaki menganggukkan kepalanya. Sayuki pun tiba – tiba teringat akan suatu
hal tentang buku tersebut. Sayuki kemudian berdiri dari tempat duduknya.
“Aku tahu buku tersebut. Ada di gudang kalau tidak salah,” ujar Sayuki.
“Aku pernah melihatnya sekali.”
***
“Tunggu dulu, jika buku tersebut ada di gudang, berarti buku tersebut
masih ada,” ujar Taki yang sejak tadi menyimak Lisa yang sedang bercerita.
“Iya, tapi buku tersebut telah dibakar kalau tidak salah,” ungkap Lisa.
“Mau aku lanjut ceritanya?”
“Tidak perlu.”
Lisa kemudian berpamitan pada mereka berdua dan pergi meninggalkan mereka.
Taki kemudian menutup pintunya.
“Jadi?”
“Aku tidak dapat pencerahan,” jawab Taki sambil menyandari di depan pintu.
“Oh ya, kapan kamu akan mengajari adikku?”
“Bagaimana jika besok, seharusnya kan kita kosong besok. Jadi tidak perlu
datang ke sekolah.”
“Benar juga, baiklah besok di rumahmu ya?”
“Eh…”
__ADS_1
“Kau tahukan aku tidak boleh membawa teman cewek kerumah jadi…”
“Baiklah, apa katamu saja kalau begitu.”