
Beberapa hari kemudian. Taki sedikit malas pada hari senin untuk masuk ke sekolah. Sayaka kemudian mengampiri Taki yang tengah tertidur di bangkunya.
“Taki, jangan malas – malas. Kau tahu kan setelah ini, akan ada UAS.”
“Iya aku tahu, aku tahu.” Jawab Taki. “Ngomong – ngomong, setelah UAS, aku akan mengajakmu ke Jakarta.
“Baiklah, aku akan bilang ke orang tua ku.”
Hari pun menjelang sore, Taki dan Sayaka melewati ruangan klub bahasa Jepang. Ruangan itu sepi dan tidak ada yang keluar masuk. Hati Taki masih diselimuti oleh kekesalan saat melewati depan ruangan tersebut.
Sebulan penuh, kehidupan Taki kembali normal sebagai siswa biasa. Pasca perlombaan berakhir, mereka semua tidak pernah berkumpul lagi. UAS berakhir, dan terdapat jeda waktu kosong untuk para siswa. Saat Taki tengah ingin ke kantin tiba – tiba saja namanya dipanggil untuk segera ke ruangan wakil kepala sekolah.
Ia pun ditemani oleh Sayaka. Tidak hanya Sayaka tapi seluruh anggota klub bahasa Jepang.
“Ada apa ini, wakil kepala sekolah memanggil kita?” tanya Ryan.
“Entahlah. Mungkin ini masalah lomba cerdas cermat tersebut.”
***
Setibanya di ruangan wakil kepala sekolah.
“Jadi, sesuai perjanjian. Kalah sama dengan bubar.” Kata wakil kepala sekolah.
“Iya, itu kesepakatannya pak, lalu ada apa kami dipanggil?” tanya Taki.
__ADS_1
“Saya melihat kalian kemarin,” kata wakil kepala sekolah tersebut. “Saya tahu kalian semua telah berusaha semaksimal mungkin. Dan saya sedikit kagum dengan kalian yang sangat nekat sekali untuk menghadapi musuh yang lebih susah didepan sana. Poin kalian bisa dibilang nyaris mengalahkan SMA A meski pada akhirnya tetap kalah. Dengan ini saya memutuskan klub kalian sudah legal menjadi klub ekstrakulikuler.”
“Bapak, melanggar kesepakatannya?”
“Tidak, saya sudah berniat untuk melegalkannya sejak perlombaan kemarin. Dan saya pun memberikan laporan ini kepada kepala sekolah. Kemudian kepala sekolah pun setuju untuk meresmikan kegiatan klub ini.”
Setelah mendengar penjelasan dan nasihat dari kepala sekolah, mereka berlima pun pamit untuk meninggalkan ruangan. Saat itu juga mereka langsung berjalan menuju ruangan klub bahasa Jepang. Mereka berlima saling memandangi satu sama lain.
“KITA BERHASIL!!”
Mereka berlima pun mulai merenovasi ruangan klub. Dengan menata kembali barang – barangnya. Namun juga Lisa, Yura, David, dan April pun turut membantu merenovasi ruangan tersebut.
Meski hampir memakan waktu seharian, akhirnya pekerjaan tersebut telah berakhir dengan sempurna.
“Yosh, seperti biasanya bukan?” tanya Taki.
“Iya.”
***
Jakarta, 26 Juni 20XX
Taki dan Sayaka berdoa di depan makam Jasmine. Setelah berdoa selesai, Taki kemudian memperkenalkan Sayaka pada Jasmine.
“Sayaka Yukina, salam kenal,” Sayaka memperkenalkan dirinya.
__ADS_1
“Dia Jasmine, teman SMA ku dulu, aku harap kau akan senang.”
“Oh ya Taki, setelah ini kamu mau mengajakku kemana?”
“Aku tidak tahu, tidak ada yang menarik sih, aku lebih suka di Surabaya.”
Wajah Sayaka kemudian berubah menjadi cemberut.
“Kamu mengajakku jauh – jauh, lagipula ini baru pertama kalinya aku ke Jakarta,” kata Sayaka sambil mengembangkan pipinya.
“Astaga, kamu selalu saja…” kata Taki, “Aku memiliki beberapa rekomendasi, aku harap kamu mau kesana.”
“Baiklah.”
Taki kemudian berjalan terlebih dahulu. Namun tiba – tiba saja Sayaka menarik lengan Taki.
“Ada apa?” tanya Taki.
“Taki, lihatlah.”
Taki kemudian memutar badannya lalu melihat di samping makamnya terdapat sosok Jasmine yang tengah tersenyum melihat mereka berdua.
“Tadi, kamu melihatnya bukan?” tanya Sayaka.
“Iya,” jawab Taki.
__ADS_1
***