
Hari mulai menjelang malam. Mereka semua telah membuat janji untuk berkumpul pada malam hari di kafe yang sebelumnya pernah direkom oleh Rey. Dari semua yang hadir, hanya Taki saja yang serius belajar.
“Taki, jangan memaksakan dirimu.” Sayaka melihat Taki sangat serius dalam belajar. Entah apa yang ada dipikiran Taki. Membuat dirinya menjadi lebih serius seolah – olah dia sedang menghadapi sesuatu yang berat.
“Taki…” panggil Sayaka sekali lagi.
Dirinya kemudian menoleh ke arah Sayaka. Lalu kembali menatap bukunya.
“Astaga apa yang sedang kamu pikirkan, Taki?” tanya Ryan yang kesabarannya sudah habis.
“Tidak ada.”
“Lalu, mengapa sejak tadi kamu terlihat kesal?”
“Tidak ada, semua baik – baik saja. Musuh kita besok adalah SMA A, jadi kita harus lebih sedikit serius dalam menangani hal seperti ini,” jawab Taki.
Ryan kemudian berdiri dari bangkunya. Dia merebut buku yang dibaca Taki lalu melemparnya. Perasaan Taki mulai bercampur aduk kesabarannya sudah menipis. Dirinya kemudian berdiri.
“Baiklah.” Taki kemudian memukul wajah Ryan dengan keras hingga dia terjatuh. Sayaka kemudian berusaha melerai mereka.
“Memangnya selama ini, kamu tidak menyadari jika di babak final. Kita akan melawan SMA A. Lagipula jika kita tidak melakukan dengan serius, klub kita akan kalah dan akan dibubarkan.” Jawab Taki.
“Lagipula, ini juga salahmu, Taki,” potong Ryan. “Kamu yang membawa semua masalah ini. Jika kita tidak mengikuti perlombaan ini, semua akan baik – baik saja. Tapi lihatlah apa yang kamu perbuat.”
Ryan kemudian berdiri, ia mengambil beberapa barangnya lalu pergi meninggalkan kafe. Taki kemudian memilih untuk keluar dari kafe. Sayaka berusaha mengejarnya. Tapi Taki sudah menghilang terlebih dahulu.
Sayaka pun berusaha keras untuk mencarinya. Setelah beberapa lama kemudian, Taki ternyata sedang duduk menyandar diatas tanah sambil mendekapkan kedua kakinya dengan tangannya. Sayaka kemudian mengampirinya dan duduk disebelahnya.
“Taki,” panggil Sayaka.
“Aku baik – baik saja.”
__ADS_1
“Masalah yang tadi,” kata Sayaka, ia kemudian menarik nafasnya lalu menghebuskannya. “Kamu memang ingin sekali menang?”
“Iya, jika tidak klub kita akan bubar,” jawab Taki. “Entah apa yang kupikirkan?, aku berharap bisa berubah menjadi lebih baik lagi. Tapi kenapa aku merasa sama saja.” Taki mulai meneteskan air matanya. “Aku tidak tahu harus berbuat apa, mungkin temanku akan marah jika dia akan melihatku seperti ini.”
“Menurutku tidak,” jawab Sayaka. “Temanmu tidak akan menyalahkan apa yang kamu perbuat.”
“Bagaimana kamu tahu?” tanya Taki dengan tidak percaya.
“Karena kamu sudah banyak mengalami perubahan. Tidak seperti dulu lagi. Meski kamu tidak menyadarinya. Aku yakin Jasmine sudah merasa senang melihatmu berjuang semampu mungkin.”
Taki kemudian mengusap air matanya.
“Kapan – kapan ajak aku ke makam temanmu ya…” pinta Sayaka sambil tersenyum.
Senyumannya mirip dengan Jasmine. Tiba – tiba saja ia memeluk Sayaka. Taki menangis dengan keras.
“Semua akan baik – baik saja kok.”
Keesokan harinya, Matahari kali ini bersinar lebih cerah. Taki merasa dirinya sudah baik – baik saja. Mereka semua berkumpul seperti biasa di sekolah. Taki kemudian meminta maaf pada Ryan.
“Tidak apa – apa sih, aku yang harusnya minta maaf.”
Mereka kemudian berangkat menuju Jatim Expo. Dengan keyakinan yang kuat mereka semua yakin bahwasanya hari ini akan menjadi hari yang tidak akan mereka lupakan. Taki, Sayaka, dan Ryan, mereka bertiga dan juga tim SMA lain sudah berada diatas panggung. Saat pertandingan sudah dimulai. Pada pertanyaan pertama, SMA X dengan cepat sehingga dia mendapat poin terlebih dahulu. Satu per satu pertanyaan ditaklukan oleh SMA X. Dan mereka pun akhirya berhasi menuju babak final dan melawan SMA A.
Tim yang maju pun berkumpul dibelakang panggung. Rey dan Yumi datang mengampiri mereka.
“Ini adalah pertarungan terakhir kita. Aku berharap kita tidak akan kalah.” Kata Taki.
“Taki, jika kamu mengatakan hal itu. Akan kuubah semuanya, kita jangan berfokus menang atau kalah. Kita kalah tidak apa – apa.” Jawab Ryan.
“Tunggu dulu…” potong Taki.
__ADS_1
“Aku juga sependapat dengan Ryan, aku dan Rey sudah mengikhlaskannya jika klub kita bubar.” Jawab Yumi.
“Aku juga, terima kasih, Taki. Jika bukan karena mu, kita mungkin tidak akan pernah sampai kesini. Jika klub kita bubar,” kata Sayaka. “Kita masih bisa berkumpul bersama kan?”
“Semuanya, baiklah. Kita akan mengalahkan SMA A.”
Pada babak final ini, musuh yang dihadapi oleh SMA X akan sedikit berat. Menang atau kalah. Semua akan baik – baik saja.
Lamanya pertandingan kedua belah pihak SMA membuat sedikit berat. Poin yang diterima oleh kedua SMA ini sangat ketat, sehingga SMA A susah untuk menyalip poinnya.
Begitu sampai dipertanyaan terakhir. SMA A dan SMA X tidak bisa menjawab. Juri kemudian memberi waktu untuk berpikir. Taki kemudian menekan tombol untuk menjawab. Lalu ia menjawabnya. Tapi jawabannya salah. Secara resmi, SMA A memenangkan lomba tersebut.
Taki dan timnya turun dari panggung, disambut oleh Rey dan Yumi.
“Selamat ya…”
Perasaan sedih bercampur aduk dengan kelegaan didalam hati Taki.
“Seharusnya, aku saja yang menjawabnya.” Jawab Rey.
“Iya, mengapa kamu tidak mengajukan diri?” tanya Ryan.
“Aku sedikit gugup.”
Mereka berlima pun berjalan meninggalkan lokasi panggung.
“Tahun depan kita akan mengalahkannya.” Kata Taki.
__ADS_1