Sebungkus

Sebungkus
1. Ketika Aku Dibelikan Sebungkus Kondom


__ADS_3


Nama lengkapku Gio Agung Riawan. Sehari-hari aku dipanggil Gio.


Aku dikenal sangat pandai membaca segala karakter psikologi teman-temanku.


Aku juga terkenal pandai mendalami bidang pemikiran filsafat, terutama dari tokoh filsof aliran perancis- seperti Levi Strauss, Jackues Lacan dan Michel Foucoult.


Gara-gara mengenal gadis yang bernama Rosa itu, keadaanku kini menjadi manusia super bodoh, bahkan, paling bodoh sedunia.


Sebenarnya aku sudah tahu bagaimana sepak terjang Rosa dikampus, di kosannya, dan di luar sana. Ia memang gadis cantik dengan latar ekonomi keluarga yang lumayan, tetapi masih saja ia berwatak materialistik banget.


Dia punya pacar. Pacarnya, bila dibanding aku, kata teman-temanku, masih jauh lebih cakep aku. Kata teman-temanku pula, bila Rosa pas lagi berjalan berduaan dengan pacarnya, bagai majikan dan pembantunya.


Mungkin, karena pacarnya super tajir, hingga Rosa mau jadi pacarnya.


Cewek, kan rata-rata berprinsip: “Wajah nomer dua, masa depan gemerlap yang utama.”


Aku sama sekali tidak terlalu tertarik dengan sosok Rosa yang materialistik itu, walaupun si Rosa sendiri sering mencuri pandang padaku.


Aku juga tidak terlalu minder dengan pacarnya, walaupun, pacarnya anak orang kaya. Bila menjemput Rosa, pacarnya pakai mobil mahal terbaru, sedang aku hanya pakai motor Vespa butut.


Tetapi aku merasa lebih unggul darinya. Soal aku belum punya pacar secantik Rosa, itu karena tipologi cewek yang aku cari memang bukan seperti Rosa.


Aku merasa unggul, sebab aku sudah mampu hidup mandiri.


Sementara mereka masih sangat menggantung pada orang tuanya.


Sekali lagi, gara-gara Rosa jualah, kemudian, predikat cowok tolol itu seakan terus menerus melengket padaku sampai kini.


Saat kisah ini mengalir pada kalian, aku sudah benar-benar menjadi Gio tolol bin goblok bin bahlul bin stupid abis, dan seterusnya.


”Eh, Gio mau kemana?”


”Ke Matahari. Kenapa, Ros?”


”Bareng yuk? Kebetulan aku juga mau kesana.”


”Boleh. Tapi, aku gak mau numpang di mobil pacarmu itu. Dan aku juga gak mau kamu numpang dimotor Vespa kesayanganku. Jadi, kita ketemuannya disana saja, ya?


”Ya, pakai Vespamu donk! Ngapain bareng kalau masih pakai kendaraan sendiri-sendiri? Dia nggak cemburuan kok. Dia kan sudah kenal lama dengan kamu. Gimana, bisa kan?”


“Iya wis. Tapi aku hanya sebentar, gak sampai 15 menit, pulang”


".. .."


Rosa manggu-manggut tanda setuju.


Motor Vespa kuparkir diseberang jalan pertokoan.


Saat hendak menyeberangi jalan, entah reflek atau disengaja, tangan Rosa melingkari lenganku. Jantungku berdegup kencang. Langkah kakiku mulai gemetaran.


Aku pura-pura cuek, seakan itu tak berpengaruh apapun padaku. Aku melangkah setenang mungkin sampai kakiku telah menjejak ditangga pintu utama di mall itu.


Sekilas telunjuk tangan Rosa menggamit telunjuk tangan kiriku, setelah itu ia lepas lagi. Hatiku bergumam, ”bener kata teman-temanku selama ini, bahwa Rosa ini gadis tukang selingkuh.”


Bodoh sekali aku; sudah tahu Rosa sudah punya pacar, masih saja membiarkan tangannya melingkar kelenganku. Dan bodohnya lagi, aku sangat menikmati banget akan sensasi sentuhan tangannya.


”Aku mau kelantai dua, Ros. Karena barang yang mau kubeli tempatnya diatas, maka silahkan kamu memilih arahnya sendiri. Nanti, 10 menit lagi kita ketemu disini.”


”Nggak mau! Aku ikut kelantai atas juga. Barang yang aku cari juga disana, kok!” tukas Rosa dengan manja palsunya.

__ADS_1


”Kamu mau nyari barang apaan, sih?”


"Ada, deh!"


Aku sempat curiga dengan gelagatnya. Tidak seperti biasanya. Tumben ia ngajak belanja bareng aku. Apalagi saat menyeberang jalan tadi, ia pake gandeng-gandeng tanganku segala.


Saat kecurigaanku mulai menyeruak jauh, tiba-tiba tangan Rosa sudah menggamit lenganku naik ketangga eskalator.


Sekitar 15 menit, akhirnya barang yang kuinginkan sudah ada digenggamanku. Setelah tunai menyelesaikan urusan dengan kasir, aku menghampiri Rosa yang sudah menunggu didepan pintu keluar.


“Sudah yuk kita pulang. Aku sudah beli barang barang ini. Oh ya, Rosa sudah dapatkan barangnya, belum? Rosai beli barang apaan, sih!”


”.. ...”


Terdiam agak lama, Rosa tak menjawab pertanyaanku.


Setelah tengok sana sini, akhirnya ia menjawab sambil membisikkan sebuah kata ketelingaku.


”........******.”


”Oww.. buat tahun baruan dengan pacarmu, ya?”


“Bukaaan!”


“Loh, emang untuk siapa?”


“Ini....untukmu!” ucap Rosa berbisik lagi ketelingaku, sementara tangan kanannya sudah nyelonong kedalam tasku memasukkan barang haram tersebut.


“Kok untuk aku, Ros?”


“Sudahlah. Gak perlu banyak tanya. Emang bila dibelikan barang, mesti digunakan, gitu? Nggak, kan?”


”Iya, sih!”


”Iya, sih!”


”Tapi...terus apa gunanya buat aku, Ros? Isteri gak punya, pacar juga gak punya. Oww..ya ya aku paham sekarang. Jadi Rosa selama ini menilaiku sebagai cowok yang suka jajan, gitu kan?”


”Waduh, Gio sang pemuda idealis nan cerdas, kok jadi tolol gini, ya? ”


”Nah, terus untuk apa, Ros?”


”Kondom yang aku belikan dan sekarang ada didalam tasmu maknanya sangat dalam. Aku membelikan khusus untukmu bukan untuk kamu tiup, atau bukan untuk digunakan sebagaimana mestinya. Tetapi, untuk kamu simpan saja, Titik! Entah nanti kamu simpan atau kamu buang itu urusanmu. Paham?"


" Dan yang lebih penting lagi, aku sudah berniat baik kepadamu”


”Niat baik..? Niat baik, apa Ros? ” tanyaku melongo.


".. .."


Ku lihat Rosa menanggapiku dengan senyum indahnya.


” Hayo, Rosa. Jangan senyam-senyum saja, donk! Niat baik apaan, nih?”


”Ya, niat baik lah! Niat baik..... sudah membelikanmu sebungkus ****** hanya untuk disimpan! Bukan untuk digunakan sebagaimana mestinya..Hehe.. ”


*************


Peristiwa beberapa waktu lalu saat belanja bareng Rosa di Mall Matahari, haruslah menjadi kenangan yang wajib berlalu bagiku.


Tak perlu menjadi kesan bermakna.

__ADS_1


Selain hanya makna kebodohan seumur hidupku. Itu hanya permainan nakal dari gadis nakal yang tak menggunakan pertimbangan akal.


”Tetapi Ia berhasil mempermainkanku?”


Perdebatan dalam batinku mulai bergaung.


”Ia sudah membuat aku mati kutu menerima sebungkus ****** tanpa bisa menolak, bahkan aku masih menyimpannya dilaci rak buku ini sekarang.”


”Kenapa tidak aku buang saja ****** ini. Kalau teman-temanku ada yang tahu, pasti dikiranya aku sering melakukan hubungan seksual?”


” Dibuang atau tidak, ya?”


” Halah! biarin sajalah, biarkan saja ****** ini menjadi pengangguran abadi didalam laci ini...!”


” Aduh, kenapa aku menjadi lelaki bodoh dihadapan gadis nakal dan hedonis itu, ya?”


”Iya ya ya, aku akui Rosa cerdas dalam hal ini. Aku akui sudah dibuat bodoh olehnya. Tetapi tetap saja ia gadis nakal, tukang selingkuh, materialistik, hedonis, dan blabla yang membuatku takkan pernah simpatik dan tertarik.”


”Asal kalian tahu, aku adalah Gio Agung Riawan hanya simpatik dan tertarik dengan gadis seperti Nining Doang”


Sejak kehadiran ****** diruang laci rak buku ini pertengkaran demi pertengkaran didalam batinku sering tercipta karenanya.


Dihari yang lain, disaat jarum jam menunjuk pukul 5 pagi, dimana kebiasaanku masih dalam tertidur pulas, aku dikejutkan dengan nada panggilan HPku. Dengan keadaan masih terkantuk-kantuk dan rasa teramat malas aku meraihnya. Aku lihat nada panggilnya berasal dari nomor Rosa .


”Haalloo...oo...Iya, ada apa Ros?”


”Kok masih tertidur, sih? Ketahuan kalau nggak pernah subuhan!”


”Iya. Ada apa, Ros? Masih ngantuk nih!”


”Bisa nggak kamu kekosanku sekarang.”


”Hah...! masih pagi banget nih, Ros!”


”Penting banget”


Suaranya terdengar sangat manja sekali. Dan penuh nada menghiba agar aku segera datang.


”Emang gak bisa nanti, apa! Kalau teman-teman kosmu tahu, apa kata dunia, Ros! Dikiranya kita sedang apaan. Nggak, ah.”


”Nggak akan ada yang tahu. Mereka pada pulang semua, kok.”


”Ya sudah, kalau memang penting omongin lewat HP sekarang.”


”Nggak bisa. Harus diomongin langsung.”


”Oke, oke. Tapi cuma sebentar saja, ya?”


Antara rumah kos Rosa dengan rumah kosku jaraknya kurang lebih 50 meteran. Jadi beberapa langkah saja aku sudah sampai kesana.


Lantaran aku tak berniat jahat, agar para tetangga tak curiga, begitu sampai didepan pintu kamarnya, aku langsung saja panggil-panggil nama Rosa agak keras.


”Rosa, Rosa, Rosa!!”


Yang aku panggil tidak menyahut juga. Namun pintu kamarnya ia buka perlahan.


”Ada apa, Ros”


”Husstt, nggak usah teriak-teriak kenapa, sih?”


”Iya sori, ada apa?”

__ADS_1


”Kondom yang aku berikan padamu itu, masih ada nggak?”


Bersambung ...


__ADS_2