Sebungkus

Sebungkus
15. Pov Penggemar SKU


__ADS_3


"Sasa ... ! Cepetan Mandi sana. Terus bantu Umi di dapur!" Seru Umiku dengan suara kencang.


"Iya ... Umi. Tanggung, Nih. Lagi seru-serunya!" sahutku pada Umiku yang sedang sibuk menyiapkan sarapan keluarga kami.


"Emangnya Sasa lihat apaan, kok gak kelar-kelar mainin HP-nya?" tanya beliau dengan suara lantang.


"Ini ... Mi, lagi baca kisahnya si Gio dan si Rosa!"


" Kisah apaan, sih? Sudah ... mandi sana. dilanjut nanti bacanya.!"


Perintah Umiku sudah tak bisa dikompromi lagi. Aku pun bergegas ke kamar mandi.


Di kamar mandi pikiranku masih terngiang dengan kisah "Sebungkus ****** Untukku" atau SKU yang ditulis oleh author ‘mbeling’ Saiful Rahiman.



Sebungkus ****** untuk Gio dari Rosa merupakan kisah yang tak banyak diketahui oleh kaum kolonial, tetapi, bagi mantan mahasiswa milenial seperti aku ini, kisah pergaulan bebas di dalamnya merupakan rahasia umum mahasiswa yang pernah ngekos dan jauh dari pengawasan orang tuanya.


Kisah SKU itu merupakan sebentuk realitas sosial seputar dunia mahasiswa yang hendak di hadirkan oleh penulis melalui tulisan fiksinya, namun rezim moral dan para pendukungnya selalu menutup-nutupinya atas nama ortodoksi dan kesempitan pengetahuan mereka.


Kira-kira begitulah ... pesan dan kesan di balik kisah SKU yang bisa aku tangkap.


Ada beberapa kata kunci di dalam kisah tersebut, antara lain candu black hole, poliandri, dan **** dalam spritualitas.


Aku sendiri tak punya kompetensi pengetahuan menjelaskannya secara ilmiah, tetapi aku punya


pengalaman tersendiri dan pernah menyaksikan langsung realitas sosialnya ala SKU sewaktu kuliah dulu. :D :D


Walaupun … kesaksian dan pengalamanku tersebut memang tidak sama persis dengan kisah SKU, tetapi kisahku ini sangat mendukung kebenaran kisah SKU itu



Oh, ya … perkenalkan dulu namaku Sasa. Aku baru saja lulus dari sebuah kampus di luar pulau Jawa. Aku tak perlu menyebut nama kampusnya. Sekarang umurku 25 tahun.


Aku adalah penggemarnya cerbung SKU ini. Dan ... aku tak pernah nge-share cerbung ini dengan berbagai pertimbanganku. :D :D :D


Setelah mengikuti alur ceritanya mulai part 1 sampai part 12, kesanku atas kisah cinta Si Gio dan si Rosa ini hanya menjadi lorong nostalgiaku ke jaman kuliah dulu.


Namun ada satu part yang bikin kepalaku puyeng, yaitu, ketika memasuki alur part 12-nya. Aku hanya bisa garuk garuk kepala. Pikiranku susah memahaminya. Pasalnya, statusku masih jomblo happy...gaes! :D


Mengenai karakter si Gio menurutku, sih, kekerenannya sebagai aktifis mahasiswa yang selevel dia, mah jarang, tapi kalau kemunafikannya, yang mirip ke-Gio-an, mah banyak...!


Rata rata mereka yang sok idealis itu tidak punya duit, gaes ..! :D :D Makanya aku bosan juga jika dekat dengan aktifis model sok idealis ini, paling enak ya, aku suruh ngerjain tugas kuliahku doang! :D :D


Hadeh ... namanya juga manusia munafik, pintarnya cuma memanipulasi, mendokrin dengan kata kata manis, umbar-umbar argumentasi, mengatasnamakan rakyatlah, ketidakadilanlah, segala macam pokoknya. Entar ... disogok pakai **** ... pakai uang ... pasti menjadi bloon juga ... kayak si Gio itu. Wkwkwk ... :D :D


Habis ... mereka kebanyakan munafik, sih.


Aku mengatakan demikian, karena waktu menjadi mahasiswi banyak kenal dengan anak organisasi yang aliran kanan, kiri, maupun tengah. Sosok aktifis mahasiswa macam Gio ini, bila aku simpulkan beraliran kiri.


Awalnya aku mikir, mereka yang berkecimpung di dalam organisasi mahasiswa itu tidak begitu kelakuannya, tetapi termyata ...ya Allah aku ngelus dada melihatnya.


Kesimpulanku waktu itu, mahasiswa yang ikut organisasi, entah itu yang aliran kiri atau kanan, rata-rata pasti pernah melakukan ****.


Suatu ketika ...


Aku pernah mau tertarik ikut organisasi mahasiswa yang beraliran kanan, karena aku begitu kagum sama sosok Amir, mahasiwa yang idealis itu. Selain ia pintar beorasi di depan umum, juga cerdas dan pandai. Pokoknya top banget, dah ...!


Awalnya sih, aku iseng ikut teman daripada duduk diem di kost-an sendirian. Tetiba di kampus ternyata yang menjadi pematerinya adalah Kakak Amir. Haduh ... langsung meleleh hatiku dibuatnya.


Aku mikirnya ... coba dia jadi pacarku, ya? Mungkin aku yang bodoh ini, bisa pintar dibuatnya.


Rupanya lamunanku bersambut. Cie ...cie ... Kak Amir memperhatikanku juga.


Namun ... perhatiannya di luar ekspektasiku. Ternyata ... ia memperhatikanku bukan terpana oleh kecantikanku, tetapi, ia malah menertawaiku.


Sebel banget aku ditertawainya di hadapan banyak kader mahasiswa lainnya.


Aku dikatakan pikun, lah. Eggak fokus mendengarkannya, lah. Dan yang bikin nyesek dadaku, aku di bilang tak cocok jadi anak kader, dibilang nggak sopan, nggak bisa menghargai lah, dan aku sombong sekali katanya.


Alhasil...hatiku pun jadi hambar. Aku menjadi tak kagum lagi padanya.


Tetapi ...


Waktu pulangnya, ternyata dia minta nomer HP ku lewat temanku. Sebenarnya, aku sudah malas sama si sombong Amir itu.


Namun apalah daya, jiwa penasaranku terpanggil untuk memberikan nomer HPku padanya. :D :D


Pada esok malamnya Amir sms aku.


"Sudah makan, Adinda?" tanya dia.


" Sudah, Kak," balasku. Batinku mengumpat, emamg kalau belum, dia mau belikan makananku?


"Jangan lupa, sholatlah tepat waktu, ya Adinda!"


Membaca nasehat-nasehat manisnya melalui SMS, akupun membalasnya dengan kata-kata termanisku.


Selain SMS, ia berusaha meneleponku, tapi tak pernah aku angkat. Barulah satu minggu kemudian, aku mau mengangkat panggilannya.

__ADS_1


"Kamu kok sombong gak mau.angkat teleponku, dinda!" kata Amir melalui HP.


Ya gak masalah, lah, aku dikatakan sombong. Aku sudah tak pedulikan dia, kok.


"Semingguan ini aku sibuk Kak!" balasku membela diri.


"Sibuk apa sih, Adinda?"


" Membantu galang dana buat korban banjir,Kak!"


"Ya ... Kakak pernah lihat siang-siang yang terik, Adinda di lampu merah sama teman-temannya. Apa gak merasa kepanasan Adinda?"


"Ya ..nggak lah, Kak! Aku kan cewek yang suka membantu orang lain, Kak!" jawabku agak sombong padanya.


"Ya ... Baguslah. Cuma Kakak takut kecantikanmu memudar disengat panasnya matahari..." kata Amir dengan menyelipkan rayuan mautnya.


Sejurus kemudian, aku dan Amir sering bertemu di Kampus. Ia bilang aku cantik, lah, bangga lah punya adik kader sepertiku. Pokoknya semua pujiannya diberikan padaku.


Banyak manfaatnya aku dekat dengan dia. Banyak tugas kampusku, dia yang mengerjakannya. Proposal-proposalku, dia yang menuliskannya dengan tangan sampai puluhan lembar.


Mungkin ... dia berharap simpati dariku, lalu aku jatuh cinta padanya.


Oh ... tidak semudah itu Furgoso! 😁😁


Hari hari berikutnya aku mulai memahami, ternyata seperti itu dekat dengan anak organisasi.


Tibalah waktunya malam minggu ...


Amir mengajakku keluar malam mingguan. Aku menolaknya. Alasanku sedang tidak enak badan. Padahal aku malas saja keluar bareng dia.


Mirip dengan si Rosa, aku tuh pintar akting, gaes. Sebelum diajak kencan Amir, aku tuh sudah janjian keluar karaokean sama teman-teman gank ku. Sekedar melepas rindu nongkrong manja di cafe, gitu..!


Masalahnya ...


Tiba-tiba, tidak sampai 15 menit si Amir sudah nongol saja, tepat dihadapanku saat aku bernjak pergi.


Apalah dayaku ..aku pun harus melayani tamuku ini ... 😭 dan hanya bisa mengelus dadaku sendiri. Pinginnya sih yang mengeluskan, si Gio ... :D


Melihatku Amir kaget ... pas aku buka pintu, lihat aku sudah rapi, dan cantik ala-ala syahrini.


"Lah, Adinda mau kemana?" tanya dia.


Ditanya begitu, aku gelagapan. Yah, terpaksa aku Bohong mau keluar sama Kak Amir. "Ya, kan aku mau keluar bareng, Kak Amir!" jawabku asal.


Karenanya .. Amir pun tersenyum penuh kebahagiaan. Dan bahagianya adalah penderitaanku. Hiks ...


" Lah ... Dinda ... Kakak kan nggak bawa motor, soalny tadi di pinjam teman, kan, kamu lagi sakit makanya aku ke sini minta di antar teman." kata Amir.


"Ya, sudah pakai motorku saja, Kak!" balasku memberi solusi.


Sampai di kedai dekat lapangan Amir memberi quote tentang bajuku.


" Adinda ...pakaianmu melambangkan perilakumu ..!" kata Amir sok bijaksana.


Aku menimpali omongannya dengan angguk-angguk kepala saja. Sementara pikiranku melayang ke serunya nongkrong bareng teman-temanku di cafe itu. Batinku, andaikan si Kunyuk ini tidak datang.


Apapun yang Amir omongkan


aku hanya angguk-angguk kepala.


"Hanya perempuan pelacur yang masih keluyuran lewat jam 12 malam, Dinda!" katanya lagi yang membuatku tersinggung.


"Adinda masih perawan, kan?" tanya Amir yang membuatku benar-benar muak meilhat tampangnya.


Belum sempat aku menjawabnya, dia menimpali, "yah... mana ada mahasiwa sekarang yang mampu menjaga mahkota kesuciannya!"


Lalu ia melanjutkan, " Ya ... kita harus bisa memaklumi, mengingat jaman sudah maju, arus globalisasi dan modernisasi yang tak terbendung. Apalagi pergaulan bebas itu dampak dari westernisasi yang begitu besar, sehingga kehidupan mahasiswa sekarang menjadi hedonis dan jauh dari kata agama." celotehnya.


Aku tercengang mendengarnya. Sungguh sosok si Amir ini cocok sekali kelak menjadi politisi yang hanya pandai bersilat lidah.


Pantas saja korupsinya para politikus dan para pejabat di tanah air ini tak bisa di berantas KPK. Rupanya selama menjadi mahasiswa organisasi, kelakuan mereka macam si Amir ini.


Sejenak aku hanya tercenung bercampur rasa teramat muak duduk di hadapannya.


"Dinda sudah berapa kali kau berhubungan sex? tanya dia lagi.dengan mimik wajah mesumnya.


Hadooh ...bingung juga aku. Kenapa omongannya mesti mengarah kesitu?


Lalu... dengan mantab aku bertanya balik kepadanya, " Berapa perempuan yang sudah Kak Amir tidurin?"


Bukan jawaban idealis lagi yang keluar dari mulutnya. "Semua pacarku pernah aku tidurin!" jawabnya dengan senyum tanpa ada rasa malu sedikitpun.


"Apa Kak Amir gak bosan dan merasa malu melakukan hal itu?" tanyaku memancing.


"Kenapa harus bosan, lha itu kebutuhan, dan harus malu sama siapa?" balasnya tanpa beban.


"Ya malu sama dirimu lah, Kak! Kan Kak Amir sendri yang bilang, jaga pergaulan jangan sampai terbawa arus!" timpalku menohok.


"Hu ..hahaha ...!" jawab Amir tertawa lepas.


Melihatnya tertawa, rasa muak dan jijik kepadanya sudah tak bisa aku tahan. Selekasnya aku ajak ia pulang.

__ADS_1


Sampai di kosanku, beberapa jam kemudia ia mengirim SMS ke HP-ku.


"Adinda sayang ... boleh nggak, Kakak tidur di kostmu? Besok malam Kak Amir rindu pengen coba sama kamu ..."


Uuek ...! Pingin muntah aku dibuatnya. Seketika dengan emosional aku membalas SMS-nya, "Sana, kamu cari pelacur!"


****************


Nah itu, Gaes! Eiits ... jangan tutup dulu. Mumpung suara hatiku di POV sama authornya. Aku lanjutkan lagi, ya?


Daripada si Gio, menurutku sih, yang perlu diacungi dua jempol itu si Rosa. Alasannya ... dia itu sosoknya lebih mirip sama aku. :D :D


Cuman bedanya, aku tidak memiliki latar bekalang dendam sama ayahku, dan alhamdulillah sampai sekarang aku mampu mempertahankan keperawananku walaupun aku sudah 20-an lebih gonta-ganti pacar waktu kuliah dulu... :D


Sedangkan Rosa ada unsur dendamnya pada laki-laki, dan ada hubungan intimnya setiap pacarannya. Kalau aku, bila ada diantara pacar-pacarku mulai mendekati zona laranganku, biasanya aku langsung kabur. :D


Pacaranku itu suka suka, gitu. Bila sreg, ya, sudah pacaran. Kalau sudah bosan, ya, sudah nyari lagi, gak perlu nunggu putusnya.


Tapi ... sumpah loh, aku masih perawan ting-ting sampai saat ini.


Sejak SMP sampai lulus SMA aku tidak pernah mengenal pacaran. Karena, didikan orang tuaku begitu keras dan ketat.


Aku anak perempuan satu-satunya di keluarga kami. Semenjak memasuki kuliah dan mulai ngekos, barulah aku mengenal dunia gonta-ganti pacar.


Awalnya, aku ikut-ikutan teman. Aku tuh penasaran, kayak apa rasanya pacaran itu? Sementara teman-temanki sudah punya pacar semua. Dan sering di bawa ke kosan-nya, bahkan tidur berduaan.


Ya akhirnya, aku terpengaruh juga untuk memiliki pacar.


Setiap pacaran aku tidak pernah ada kata putus, kalau sudah malas dan bosan, biasanya aku menjauh dan akhirnya menghilang darinya.


Aku mikirnya, bila lama pacarannya, ujung-ujungnya mereka minta berhubungan badan.


Jadinya aku malas menjalin hubungan serius sama laki laki, belum lama pacarannya sudah minta hubungan seksual. Kalau gak di turuti, aku-nya yang disalahkan.


Rata-rata temanku yang berpacaran sudah tak perawan lagi. Mereka terjebak kedalam hubungan layaknya suami-isteri.


Masalah ketidakperawanan bagi mereka sudah hal biasa. Malah kalau ada temannya yang masih perawan, akan menjadi bahan tertawaan dan dibilangnya cewek sok suci.


Pokonya, siapapun tak akan ada yang percaya ia masih perawan, bila statusnya telah memiliki pacar.


Di lingkungan kostku, umumnya teman-teman kosku orangnya individualis. Jarang yang bertegur sapa. Sibuk dengan urusan masing masing. Kepeduliannya sangat rendah. Pokoknya suasananya begitu tenang dan adem, ayem. Kalau ada pacarnya datang tinggal dimasukkan ke kamar, beres.


Habis bercinta... lalu ada adegan nangis-nangis, terkadang berantem sampai babak belur, sembari diiringi lempar piring sana-sini, eh... malamnya sudah adem ayem. Suasana pun menjadi hening kembali sampai esok pagi. Begitu saja setiap harinya.


********


Saat berpacaran, aku memang mati-matian mempertahanan keperawananku, walaupun lingkungan pergaulanku tak mendukungnya.


Sebenarnya pikiranku masih tradisional, sih. Aku masih takut kalau malam pertama ada masalah dengan keperawananku, kemudian sama suami aku dicerainya. Maka aku sudah berjanji sama diriku, tak apalah bagian tubuhku yang lain di jamah, cuma jangan sampai yang satu ini.


Suatu ketika ...


Aku pernah terjebak di sebuah situasi yang rumit dan memaksaku berdiri di ambang batas pilihan sulit.


Waktu itu malam minggu. Pacarku yang bernama Ridho menjemputku di kosan. Dia memintaku menemaninya di hotel.


Aku pikir dia bohong, makanya, ngikut saja kemana dia pergi.


Eh, tak tahunya dia serius, dan sudah memboking hotel sebelum menjemput aku.


Mau balik, nanti dibilangnya norak atau apalah. Tidak balik, aku takut keperawananku terenggut.


Yah, sebenarnya aku takut, tapi rasa penasaranku akan suasana hotel begitu tinggi. Ini pertama kalinya aku memasuki hotel. Jadi, aku pura-pura tegar dan kuat saja menghadapi situasi dilematis ini.


Sementara, si Ridho mengira aku-nya cewek yang sudah pengalaman begituan.


Pas ... masuk kamar hotel, aku melongo kebingungan, lah, si Ridho ini mau ngapain?


Sejurus kemudian, dia tarik-tarik aku sambil membisik kata cinta segala macam.


Aku menjadi lemas tidak berdaya dibuatnya. Mau teriak, tetapi takut dan malu akan jadi tontonan orang banyak. Akhirnya aku biarkan saja bibirnya mendarat sampai aku-nya merasa sesak dan sampai bibirku terasa dower.


Untunglah ...aku masih bisa kendalikan dia yang sudah buas itu. Aku pertahankan celanaku agar tidak dibukanya.


Aku menghiba memintanya jangan sampai lebih dari ciuman. Tapi Ridho-nya tetap tak percaya kalau aku masih perawan, sebab, katanya aku sudah banyak mantannya.


Dan akhirnya ...


Ketika mataku terbuka, aku lihat dia sudah telanjang bulat.


Haduh ... sungguh pemandangan yang luar biasa. Dalam hati aku cuma bisa berdo'a, semoga malam ini aku tidak terjebak dalam hubungan suami-isteri.


Untunglah ... dia keburu ingin keluar tanpa aku apa-apakan. Kemudian ia pamit mau ke kamar mandi untuk menyelesaikannya sendiri.


Nah ..sewaktu dia ada di dalam kamar mandi, saat aku mau mengambil lipstikku di dalam tas, tanpa sengaja aku menemukan sebuah pembalutku yang terselip di dalamnya.


Seketika itu ide berilyanku muncul...aku harus pura-pura sedang datang bulan kepadanya.


Lalu, selekasnya pembalut tersebut aku pakai sebelum Ridho keluar dari kamar mandi.


Selasai mandi, si Ridho pun kembali merangkulku dengan segala macam rayuan mautnya.

__ADS_1


Ketika tangannya mulai menurunkan celana dalamku, ia pun menjadi shock melihat sebuah benda ajaib tersebut. "Sasa ... kamu sedang datang bulan, kah?" tanya dia dengan mata terbelalak dan mimik wajahnya yang kecewa.


Demikian kesaksianku. Salam SKU ...


__ADS_2